
Jalan hitam
terlihat becek. Hujan deras menyisakan gerimis kecil. Sebuah mobil melaju
kencang dengan sorot lampu yang redup. Dengan sedikit mata yang
mengantuk sang pengemudi berusaha menembus jalan agar tiba di rumah secepatnya.
Sesekali ia terhentak ketika melewati tikungan. Matanya juga masih terasa
sangat berat.
Di sebuah tikungan, ia mendadak saja menginjak rem dengan kuat. Roda mobil
berderit hingga mengeluarkan bahu karet terbakar. Sang pengemudi berusaha
mengelakkan dari seorang bocah yang melintas secara mendadak. Mata sang
pengemudi terbelalak dengan nafas tersengal. Kemudian memperhatikan jalan
hitam yang sepi. Ia membuka pintu mobil sambil berjaga-jaga.
‘Siapa anak itu, ya. Kok malam-malam begini keluyuran?’ pikirnya.
Sekelebatan bayangan putih melintas di depannya. Hanya sekilas, namun
membangkitkan bulu kuduk hingga berdiri tegak. Suara-suara rintihan aneh
membuat keributan dari balik pohon-pohon besar di pinggir jalan. Si pengemudi
cepat-cepat masuk ke dalam mobilnya. Kemudian menyalakan dengan gugup. Mendadak
saja sosok perempuan berbaju putih muncul di depan mobilnya. Tubuhnya terlihat
melepuh dengan usus terburai dan bahu daging terbakar. Rambutnya juga terlihat
seperti habis dilahap si jago merah. Si pengemudi terkejut dan
ketakutan. Sosok mengerikan itu melotot tajam ke arahnya. Bola matanya yang
menjuntai keluar mendadak saja copot dari kelopaknya.
Mobil tidak mau distarter. Kuncinya mendadak saja jatuh entah kemana.
Pengemudi itu panik dengan keringat dingin yang mengucur deras. Buru-buru ia
keluar dari dalam mobil dan berlari sekencang-kencangnya. Melewati jalan aspal
yang becek dan penuh dengan genangan-genangan air hujan.
Sosok mengerikan itu menghadangnya dari depan. Menebarkan bahu yang sangat
memuakkan. Sang pengemudi mundur dengan rasa takut.
“Siapa kau!!” pekiknya keras. “Jangan ganggu aku!! Jangan sakiti aku!!”
Sosok mengerikan itu menyeringai dengan suara melengking tinggi.
“Kau, telah membunuhku!!”
Sosok mengerikan itupun terus mengejar Prapto hingga
dia kelelahan. Nafas Prapto tersengal. Suara lolongan anjing terdengar
mengerikan.
***
Suriati masih duduk di ruang tamu. Menunggu suaminya yang belum
juga pulang. Sudah pukul satu malam. Suriati beberapa kali
menguap dengan mata berat. Adam menghampiri mamanya dengan perlahan.
“Sudahlah, Ma. Mama tidur saja dulu. Papa pasti pulang,”
“Tapi perasaan mama tidak enak, Dam. Tidak seperti biasanya papa kamu
pulang malam begini.”
__ADS_1
Adam menghela. “Tapi mama jangan cemas itu dong. Mungkin saja papa memang
masih ada keperluan lain,”
“Tapi, Dam…”
“Sudahlah, mama tidur saja. Biar Adam yang menunggu papa.”
Mata Suriati menatap Adam dengan lekat. Matanya sayu
karena menahan kantuk yang teramat berat. Suriati pun
beranjak masuk ke kamarnya
“Mama tidur dulu ya, Dam. Kalau papa kamu pulang tolong banguni mama.”
“Iya deh, Ma.”
Adam duduk di sofa sambil tiduran. Namun hingga pagi papanya belum juga
pulang.
Suriati terpaku di ruang tamu. Hatinya gunda gulana bercampur
cemas. Mengapa sampai saat ini suaminya belum juga kembali. Mendadak
saja Suriati tersentak ketika suara ketukan pintu dari luar.
Buru-buru Suriati membukakan pintu. Berharap papa kembali
dengan selamat. Tapi Suriatimalah mengerutkan kening ketika pintu
dibuka.
“Maaf, Bu, kami dari kepolisian. Apa benar ini
rumah bapak Prapto?”
“Iya, benar. Ada apa ya, Pak?”Suriati balik
bertanya.
“Kami menemukan mobil pak Prapto. Berhenti di tengah jalan dengan pintu terbuka.
jauh dari mobilnya,”
“Oh…” wajah Suriati terlihat pias, panik. Matanya merebak. Nelangsa.
“Trus suami saya dimana, Pak?” tanyanya dengan suara
berat, jugapanik.
“Kami tidak menemukan suami ibu. Tapi kami akan berusaha mencari. Saya
khawatir suami ibu adalah korban perampokan,”
“Pak, saya minta tolong, carikan suami saya,” ujar Suriatimenahan
tangis.
“Tenang, Bu. Kami akan berusaha mencari suami ibu,”
Suriatimasih sesenggukan. Matanya kembali berlinang sambil
menggigit bibirnya.
Adam bingung melihat mobil polisi dan ambulance bertengger di rumahnya.
Banyak tetangga berkerudung memakai baju hitam. Adam pun segera berlari melihat
keadaan di dalam rumah. Suriatiterlihat
sesenggukan dengan tubuh terguncang. Di depannya terlihat sosok tubuh tak
bergerak, kaku dan pucat.
Adam melangkah dengan perlahan. Begitu Suriati melihat
Adam yang baru saja pulang dari sekolah, Suriati langsung
__ADS_1
menangis sejadi-jadinya. Adam pun segera menghampiri tubuh papanya yang sudah
menjadi mayat. Menangis sedih dan sesenggukan.
“Papaaa....” jerit Adam menahan kesedihan. Adam menangis sambil memeluk
papanya.
Setelah pemakaman, Adam
lebih banyak diamdi
rumah. Ia tak habis pikir kematian papanya begitu tragis. Ia juga tidak tahu
apa hubungan papanya dengan bangunan tua itu. Mengapa papanya bisa tewas
mengenaskan di sana.
Malam itu Riri memberikan ucapan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya ke
Adam.
“Aku turut berduka, Dam atas meninggalnya papa kamu,”ujar
Riri malam itu.
“Aku sedih banget, Ri. Papa pergi justru aku sangat membutuhkannya dan aku
tidak tahu mengapa papa sampai ke bangunan tua itu,”
“Sudahlah, Dam. Mungkin saja itu sudah menjadi takdir papa kamu harus
menemui ajalnya di sana?”
Adam tertunduk. Entah mengapa perasaanya selalu terusik dengan bangunan tua
yang sudah berumur ratusan tahun itu. Apalagi bentuk bangunannya yang memang
benar-benar membuat bulu kuduk merinding. Kejadian-kejadian
mengerikan yang pernah terjadi di sana, membuat Adam selalu dihantui rasa penasaran.
”Aku ingin tahu misteri apa yang ada di bangunan tua itu, Ri,”
Riri menatap wajah Adam dengan lekat. ”Jangan senekat itu, Dam. Sudah
banyak yang tewas di bangunan tua itu. Kamu gak maukan mati konyol seperti yang
lainnya?”
Adam tertunduk. ”Aku tidak mau makin banyak korban, Ri,”
”Ini ada sangkut pautnya dengan kejadian dua puluh tahun lalu, Dam,”
“Kejadian apa?”
Riri menceritakan kejadian itu. Dimana papa Adam terlibat pembunuhan sadis
seorang janda.
“Kita terkena imbas dari perbuatan orangtua kita, Dam. Kita harus
mengakhiri ini semua.”
“Bagaimana caranya, Ri?”
“Kita tanya Marioto,”
“Siapa Marioto?”
“Tukang kebun kakekku. Dulu dia mengabdi di kediaman kakek,”
“Kamu tahu rumahnya?”
“Mereka tinggal di belakang rumahku,”
“Sebaiknya kita tanyakan pak Marioto, Ri.”
“Dia tidak ada di rumah. Aku tidak melihatnya beberapa hari ini. Mungkin
__ADS_1
besok, Dam,”
“Baiklah, Ri. Kita temui pak Marioto besok,”