RUMAH BELANDA DI ATAS KUBURAN

RUMAH BELANDA DI ATAS KUBURAN
Episode 17, BALAS DENDAM


__ADS_3

Jalan hitam


terlihat becek. Hujan deras menyisakan gerimis kecil. Sebuah mobil melaju


kencang dengan sorot lampu yang redup. Dengan sedikit mata yang


mengantuk sang pengemudi berusaha menembus jalan agar tiba di rumah secepatnya.


Sesekali ia terhentak ketika melewati tikungan. Matanya juga masih terasa


sangat berat.


Di sebuah tikungan, ia mendadak saja menginjak rem dengan kuat. Roda mobil


berderit hingga mengeluarkan bahu karet terbakar. Sang pengemudi berusaha


mengelakkan dari seorang bocah yang melintas secara mendadak. Mata sang


pengemudi terbelalak dengan nafas tersengal. Kemudian memperhatikan jalan


hitam yang sepi. Ia membuka pintu mobil sambil berjaga-jaga.


‘Siapa anak itu, ya. Kok malam-malam begini keluyuran?’ pikirnya.


Sekelebatan bayangan putih melintas di depannya. Hanya sekilas, namun


membangkitkan bulu kuduk hingga berdiri tegak. Suara-suara rintihan aneh


membuat keributan dari balik pohon-pohon besar di pinggir jalan. Si pengemudi


cepat-cepat masuk ke dalam mobilnya. Kemudian menyalakan dengan gugup. Mendadak


saja sosok perempuan berbaju putih muncul di depan mobilnya. Tubuhnya terlihat


melepuh dengan usus terburai dan bahu daging terbakar. Rambutnya juga terlihat


seperti habis dilahap si jago merah. Si pengemudi terkejut dan


ketakutan. Sosok mengerikan itu melotot tajam ke arahnya. Bola matanya yang


menjuntai keluar mendadak saja copot dari kelopaknya.


Mobil tidak mau distarter. Kuncinya mendadak saja jatuh entah kemana.


Pengemudi itu panik dengan keringat dingin yang mengucur deras. Buru-buru ia


keluar dari dalam mobil dan berlari sekencang-kencangnya. Melewati jalan aspal


yang becek dan penuh dengan genangan-genangan air hujan.


Sosok mengerikan itu menghadangnya dari depan. Menebarkan bahu yang sangat


memuakkan. Sang pengemudi mundur dengan rasa takut.


“Siapa kau!!” pekiknya keras. “Jangan ganggu aku!! Jangan sakiti aku!!”


Sosok mengerikan itu menyeringai dengan suara melengking tinggi.


“Kau, telah membunuhku!!”


Sosok mengerikan itupun terus mengejar Prapto hingga


dia kelelahan. Nafas Prapto tersengal.  Suara lolongan anjing terdengar


mengerikan.


***


Suriati masih duduk di ruang tamu. Menunggu suaminya yang belum


juga pulang. Sudah pukul satu malam. Suriati beberapa kali


menguap dengan mata berat. Adam menghampiri mamanya dengan perlahan.


“Sudahlah, Ma. Mama tidur saja dulu. Papa pasti pulang,”


“Tapi perasaan mama tidak enak, Dam. Tidak seperti biasanya papa kamu


pulang malam begini.”

__ADS_1


Adam menghela. “Tapi mama jangan cemas itu dong. Mungkin saja papa memang


masih ada keperluan lain,”


“Tapi, Dam…”


“Sudahlah, mama tidur saja. Biar Adam yang menunggu papa.”


Mata Suriati menatap Adam dengan lekat. Matanya sayu


karena menahan kantuk yang teramat berat. Suriati pun


beranjak masuk ke kamarnya


“Mama tidur dulu ya, Dam. Kalau papa kamu pulang tolong banguni mama.”


“Iya deh, Ma.”


Adam duduk di sofa sambil tiduran. Namun hingga pagi papanya belum juga


pulang.


Suriati terpaku di ruang tamu. Hatinya gunda gulana bercampur


cemas. Mengapa sampai saat ini suaminya belum juga kembali. Mendadak


saja Suriati tersentak ketika suara ketukan pintu dari luar.


Buru-buru Suriati membukakan pintu. Berharap papa kembali


dengan selamat. Tapi Suriatimalah mengerutkan kening ketika pintu


dibuka.


“Maaf, Bu, kami dari kepolisian. Apa benar ini


rumah bapak Prapto?”


“Iya, benar. Ada apa ya, Pak?”Suriati balik


bertanya.


“Kami menemukan mobil pak Prapto. Berhenti di tengah jalan dengan pintu terbuka.


jauh dari mobilnya,”


“Oh…” wajah Suriati terlihat pias, panik. Matanya merebak. Nelangsa.


“Trus suami saya dimana, Pak?” tanyanya dengan suara


berat, jugapanik.


“Kami tidak menemukan suami ibu. Tapi kami akan berusaha mencari. Saya


khawatir suami ibu adalah korban perampokan,”


“Pak, saya minta tolong, carikan suami saya,” ujar Suriatimenahan


tangis.


“Tenang, Bu. Kami akan berusaha mencari suami ibu,”


Suriatimasih sesenggukan. Matanya kembali berlinang sambil


menggigit bibirnya.


Adam bingung melihat mobil polisi dan ambulance bertengger di rumahnya.


Banyak tetangga berkerudung memakai baju hitam. Adam pun segera berlari melihat


keadaan di dalam rumah. Suriatiterlihat


sesenggukan dengan tubuh terguncang. Di depannya terlihat sosok tubuh tak


bergerak, kaku dan pucat.


Adam melangkah dengan perlahan. Begitu Suriati melihat


Adam yang baru saja pulang dari sekolah, Suriati langsung

__ADS_1


menangis sejadi-jadinya. Adam pun segera menghampiri tubuh papanya yang sudah


menjadi mayat. Menangis sedih dan sesenggukan.


“Papaaa....” jerit Adam menahan kesedihan. Adam menangis sambil memeluk


papanya.


Setelah pemakaman, Adam


lebih banyak diamdi


rumah. Ia tak habis pikir kematian papanya begitu tragis. Ia juga tidak tahu


apa hubungan papanya dengan bangunan tua itu. Mengapa papanya bisa tewas


mengenaskan di sana.


Malam itu Riri memberikan ucapan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya ke


Adam.


“Aku turut berduka, Dam atas meninggalnya papa kamu,”ujar


Riri malam itu.


“Aku sedih banget, Ri. Papa pergi justru aku sangat membutuhkannya dan aku


tidak tahu mengapa papa sampai ke bangunan tua itu,”


“Sudahlah, Dam. Mungkin saja itu sudah menjadi takdir papa kamu harus


menemui ajalnya di sana?”


Adam tertunduk. Entah mengapa perasaanya selalu terusik dengan bangunan tua


yang sudah berumur ratusan tahun itu. Apalagi bentuk bangunannya yang memang


benar-benar membuat bulu kuduk merinding. Kejadian-kejadian


mengerikan yang pernah terjadi di sana, membuat Adam selalu dihantui rasa penasaran.


”Aku ingin tahu misteri apa yang ada di bangunan tua itu, Ri,”


Riri menatap wajah Adam dengan lekat. ”Jangan senekat itu, Dam. Sudah


banyak yang tewas di bangunan tua itu. Kamu gak maukan mati konyol seperti yang


lainnya?”


Adam tertunduk. ”Aku tidak mau makin banyak korban, Ri,”


”Ini ada sangkut pautnya dengan kejadian dua puluh tahun lalu, Dam,”


“Kejadian apa?”


Riri menceritakan kejadian itu. Dimana papa Adam terlibat pembunuhan sadis


seorang janda.


“Kita terkena imbas dari perbuatan orangtua kita, Dam. Kita harus


mengakhiri ini semua.”


“Bagaimana caranya, Ri?”


“Kita tanya Marioto,”


“Siapa Marioto?”


“Tukang kebun kakekku. Dulu dia mengabdi di kediaman kakek,”


“Kamu tahu rumahnya?”


“Mereka tinggal di belakang rumahku,”


“Sebaiknya kita tanyakan pak Marioto, Ri.”


“Dia tidak ada di rumah. Aku tidak melihatnya beberapa hari ini. Mungkin

__ADS_1


besok, Dam,”


“Baiklah, Ri. Kita temui pak Marioto besok,”


__ADS_2