RUMAH BELANDA DI ATAS KUBURAN

RUMAH BELANDA DI ATAS KUBURAN
Episode 16, BUNUH DIRI


__ADS_3

Desa Rampah, siang. Adam dan Riri mengetuk pintu rumah Pak


Syafii. Seorang penjaga sekolah yang sudah puluhan tahun bekerja di SMU swasta


Medan.


“Saya


tidak tahu kejadian yang pasti, nak,“ Pak


Syafii berusaha berkelit.


“Bantu kami, Pak. Masalahnya arwah pelajar SMU


itu sudah menghantui sekolah.“


“Apa yang harus saya lakukan?“


“Bapak hanya menceritakan saja kejadian apa sebenarnya yang belum terungkap.“ Adam memperhatikan Pak Syafii dengan tajam. Sedangkan Pak


Syafii terdiam sambil menerawang jauh.


“Saya sudah berjanji tidak akan


menceritakan kejadian itu.“


“Pak, ini menyangkut keselamatan


kami,“ Riri


berkata serius. Pak Syafii kembali menatap keduanya secara bergantian.


“Baiklah, tapi saya tidak akan


memberitahu siapa pelaku itu.“


Riri dan Adam kembali


memperhatikan pak Syafii dengan serius.


Sepuluh tahun yang lalu… Syafii berusaha mengingat


kembali kejadian itu. Seorang


pelajar SMU yang baru saja pindah dari kota. Sore itu ponselnya ketinggalan di


sekolah. Ia kembali untuk mengambilnya. Karena ponsel itu pemberian papanya. Sangat


berharga.


Pelajar itu masuk ruangan dan


menemukan ponselnya. Tiba-tiba saja seorang guru menghampirinya. Dengan paksa


guru bejat itu menarik ke kamar mandi. Dibantu dengan seorang teman sesama guru.


Kejadian yang tidak diinginkan itu pun terjadi. Pelajar SMU itu diperkosa dengan kejinya.


Saat siuman dan mendapati


keperawanannya telah pecah, pelajar SMU itu pun putus asa. Takut pulang ke


rumah dan malu menanggung aib yang akan mencemooh dirinya, ia bunuh diri di


kamar mandi. Menjerat leher dan menggoroknya dengan sebilah pisau.


 “Saya tidak dapat berbuat apa-apa, karena saya


takut menjadi saksi. Mereka mengancam keselamatan saya,“


“Dan sampai sekarang bapak


menutupinya?“


Pak Syafii mengangguk pelan.


Sambil menarik nafas dalam.


“Saya tidak ingin mengingat


peristiwa itu.“


Riri dan Adam berpandangan. Riri


bergidik ngeri. Ia bergeser sedikit dari duduknya. Pandanganya kosong menatap


Adam. Pikirannya terus menerawang tentang kejadian tempo hari.


“Apakah ini ada sangkut pautnya


dengan kepala sekolah, Pak?” tanya Riri terus membombardir Pak Syafii. Pak


Syafii tercekat. Ia menelan ludah sejenak. Pandangannya tajam ke arah Riri,


lalu menunduk. Lama Riri mendengar jawaban dari Pak Syafii.

__ADS_1


“Ya, pelaku itu Fahmi.”


Riri menggeleng tak percaya.


“Pak Fahmi sudah meninggal


beberapa hari yang lalu, Pak,”


“Apa? Meninggal?”Syafii


terkejut.


“Pak Fahmi tewas mengenaskan.


Di bangunan tua itu. Apa sebenarnya yang


terjadi di bangunan itu, Pak?” Riri


kembali bertanya. Pertanyaan itu membuat Syafii seperti hujaman peluru dan


menembus jantungnya.


“Kejadian itu sudah lama sekali,


Nak. Sudah dua puluh tahun berlalu,”


“Kejadian apa, Pak?” tanya Adam


penasaran.


Pak Syafii terdiam, memperhatikan


Adam dan Riri yang tidak tahu apa-apa. Tak lama kemudian ia bercerita panjang lebar.


Pembantaian yang dilakukan warga terhadap janda beranak satu. Mereka


menguburnya hidup-hidup. Sebelum kejadian


itu, Broto memfitnah perempuan tak bersalah


itu dengan tuduhan berbuat zinah. Ternyata Broto lah yang menghamilinya dan tidak bertanggung jawab karena Brotosudah beristri dan punya anak.


Hati Riri bagaikan tersambar petir dan


tersayat pedih. Broto adalah kakeknya. Jadi pembantaian itu ada sangkut pautnya dengan


keluarga besar Bintara. Adam juga begitu. Papanya terlibat aksi pembantaian


itu.


mengerikan beberapa hari lalu. Kejadian yang membuat Riri lemas dan jatuh


pingsan. Sosok tubuh pelajar SMU yang mati gantung diri. Riri bergidik ngeri.


Sekujur tubuhnya mendadak saja merinding.


“Kamu kenapa, Ri?“ tanya Adam


heran. Riri terkesiap. Dia menggeleng dengan pelan.


“Hhh, tidak ada apa–apa kok, Dam.


Kita pulang yuk,” ajak Riri kemudian. Setelah berpamitan mereka pergi


meninggalkan rumah pak Syafii.


 “Kejadian itu mengerikan sekali ya, Dam,“ selah Riri di tengah-tengah


perjalanan.


”Kita harus membebaskan arwah


gadis itu, Ri,”


”Bagaimana caranya?”


”Berkomunikasi dengan arwahnya,”


”Gila kamu, Dam. Aku gak mau ah.


Takut,”


”Kalau tidak sekolah kita akan


terus-terusan dihantui arwahnya,”


”Kita cari orang pintar aja, Dam.


Kita tanya dimana pak Fahmi mengubur jenazahnya,”


”Kita mau tanya kemana?”


”Ajeng... Kita harus menemui


Ajeng,”

__ADS_1


”Ajeng?” Adam mengerutkan


dahinya.


Ajeng pernah cerita.  Ia pernah melihat sosok gadis itu di kamar


mandi. Mungkin saja Ajeng tahu dimana sosok itu menghilang. Disitulah jasadnya.


Adam dan Riri mencari alamat Ajeng.


Ajeng diam saja saat ditanyai. Ia benar-benar bungkam. Tak mau mengingat


kejdaian itu.


”Jeng... ini demi sekolah kita. Berapa murid lagi yang harus jadi korban?”


”Aku benar-benar tidak tahu, Ri. Aku minta maaf,”


”Kamu ingin temen-teman kita tewas mengenaskan? Arwah gadis itu butuh


pertolongan, Jeng. Kalau tidak arwahnya terus gentayangan di sekolah,”


Ajeng menunduk. Kemudian menatap Riri dan Adam. ”Arwah gadis itu menghilang


di bak mandi,” ucapnya parau.


Riri dan Adam saling berpandangan.


”Sebaiknya kita laporkan saja ke kantor polisi,” usul Riri.


Mobil polisi memadati


halaman sekolah. Riri dan Adam member keterangan kepada wakil kepala sekolah. Di


kamar mandi ada tulang-tulang manusia. Wakil kepala menyetujui pencarian itu.


Mereka membongkar toilet satu per satu. Menyisir semua asbes dan genteng toilet.


Namun tulang belulang si gadis tidak juga ditemukan.


Adam dan Riri


berpandangan. Mereka bingung. Mengapa tulang-tulang itu tidak ada di sana.


Apakah Ajeng berbohong kepada mereka?


“Kami sudah menyisir


semua toilet, Pak. Tapi kami tidak menemukan apa-apa.”


“Coba sekali lagi, Pak.


Saya sangat mencemaskan anak-anak. Mereka sering melihat penampakan,”


“Baik, Pak. Kami akan


berusaha mencari tulang gadis itu,”


“Kalian tidak akan


menemukannya. Tulang belulang itu tidak ada disana,” tutur Ajeng. Semua mata


menatap ke arah Ajeng.


“Ajeng…” Riri bergumam.


“Aku melihat arwah gadis


itu disana,” kata Ajeng. Menunjuk kamar mandi yang sudah lama terkunci. Mata


mereka membelalak. Kamar mandi itu sudah sepuluh tahun di gembok.


Penyisiran dilakukan


kembali. Polisi membongkar kamar mandi di ujung gedung sekolah. Dindingnya


berlumut. Gembok di pintu sudah berkarat. Pihak polisi membongkar kamar mandi


itu dengan linggis. Pintu terkuak lebar. Bau busuk menyeruak dari dalam.


Sebagian mereka muntah-muntah.


Polisi menemukan


tengkorak kaki dan tangan di bak mandi. Tengkorak kepala di pembuangan kotoran.


Dulu mayat gadis itu dipotong-potong oleh Fahmi. Ia menemukan gadis itu


bersimbah darah. Takut aksinya diketahui orang, Fahmi menguburnya di bak mandi.


Ia meminta kunci gaib ke orang pintar. Agar arwahnya tidak menghantui Fahmi.


Tulang belulang itu


mereka kuburkan sesuai ajaran agama. Adam dan Riri merasa lega. Mereka berharap

__ADS_1


arwah gadis itu bisa tenang di alam baqa.


__ADS_2