
Desa Rampah, siang. Adam dan Riri mengetuk pintu rumah Pak
Syafii. Seorang penjaga sekolah yang sudah puluhan tahun bekerja di SMU swasta
Medan.
“Saya
tidak tahu kejadian yang pasti, nak,“ Pak
Syafii berusaha berkelit.
“Bantu kami, Pak. Masalahnya arwah pelajar SMU
itu sudah menghantui sekolah.“
“Apa yang harus saya lakukan?“
“Bapak hanya menceritakan saja kejadian apa sebenarnya yang belum terungkap.“ Adam memperhatikan Pak Syafii dengan tajam. Sedangkan Pak
Syafii terdiam sambil menerawang jauh.
“Saya sudah berjanji tidak akan
menceritakan kejadian itu.“
“Pak, ini menyangkut keselamatan
kami,“ Riri
berkata serius. Pak Syafii kembali menatap keduanya secara bergantian.
“Baiklah, tapi saya tidak akan
memberitahu siapa pelaku itu.“
Riri dan Adam kembali
memperhatikan pak Syafii dengan serius.
Sepuluh tahun yang lalu… Syafii berusaha mengingat
kembali kejadian itu. Seorang
pelajar SMU yang baru saja pindah dari kota. Sore itu ponselnya ketinggalan di
sekolah. Ia kembali untuk mengambilnya. Karena ponsel itu pemberian papanya. Sangat
berharga.
Pelajar itu masuk ruangan dan
menemukan ponselnya. Tiba-tiba saja seorang guru menghampirinya. Dengan paksa
guru bejat itu menarik ke kamar mandi. Dibantu dengan seorang teman sesama guru.
Kejadian yang tidak diinginkan itu pun terjadi. Pelajar SMU itu diperkosa dengan kejinya.
Saat siuman dan mendapati
keperawanannya telah pecah, pelajar SMU itu pun putus asa. Takut pulang ke
rumah dan malu menanggung aib yang akan mencemooh dirinya, ia bunuh diri di
kamar mandi. Menjerat leher dan menggoroknya dengan sebilah pisau.
“Saya tidak dapat berbuat apa-apa, karena saya
takut menjadi saksi. Mereka mengancam keselamatan saya,“
“Dan sampai sekarang bapak
menutupinya?“
Pak Syafii mengangguk pelan.
Sambil menarik nafas dalam.
“Saya tidak ingin mengingat
peristiwa itu.“
Riri dan Adam berpandangan. Riri
bergidik ngeri. Ia bergeser sedikit dari duduknya. Pandanganya kosong menatap
Adam. Pikirannya terus menerawang tentang kejadian tempo hari.
“Apakah ini ada sangkut pautnya
dengan kepala sekolah, Pak?” tanya Riri terus membombardir Pak Syafii. Pak
Syafii tercekat. Ia menelan ludah sejenak. Pandangannya tajam ke arah Riri,
lalu menunduk. Lama Riri mendengar jawaban dari Pak Syafii.
__ADS_1
“Ya, pelaku itu Fahmi.”
Riri menggeleng tak percaya.
“Pak Fahmi sudah meninggal
beberapa hari yang lalu, Pak,”
“Apa? Meninggal?”Syafii
terkejut.
“Pak Fahmi tewas mengenaskan.
Di bangunan tua itu. Apa sebenarnya yang
terjadi di bangunan itu, Pak?” Riri
kembali bertanya. Pertanyaan itu membuat Syafii seperti hujaman peluru dan
menembus jantungnya.
“Kejadian itu sudah lama sekali,
Nak. Sudah dua puluh tahun berlalu,”
“Kejadian apa, Pak?” tanya Adam
penasaran.
Pak Syafii terdiam, memperhatikan
Adam dan Riri yang tidak tahu apa-apa. Tak lama kemudian ia bercerita panjang lebar.
Pembantaian yang dilakukan warga terhadap janda beranak satu. Mereka
menguburnya hidup-hidup. Sebelum kejadian
itu, Broto memfitnah perempuan tak bersalah
itu dengan tuduhan berbuat zinah. Ternyata Broto lah yang menghamilinya dan tidak bertanggung jawab karena Brotosudah beristri dan punya anak.
Hati Riri bagaikan tersambar petir dan
tersayat pedih. Broto adalah kakeknya. Jadi pembantaian itu ada sangkut pautnya dengan
keluarga besar Bintara. Adam juga begitu. Papanya terlibat aksi pembantaian
itu.
mengerikan beberapa hari lalu. Kejadian yang membuat Riri lemas dan jatuh
pingsan. Sosok tubuh pelajar SMU yang mati gantung diri. Riri bergidik ngeri.
Sekujur tubuhnya mendadak saja merinding.
“Kamu kenapa, Ri?“ tanya Adam
heran. Riri terkesiap. Dia menggeleng dengan pelan.
“Hhh, tidak ada apa–apa kok, Dam.
Kita pulang yuk,” ajak Riri kemudian. Setelah berpamitan mereka pergi
meninggalkan rumah pak Syafii.
“Kejadian itu mengerikan sekali ya, Dam,“ selah Riri di tengah-tengah
perjalanan.
”Kita harus membebaskan arwah
gadis itu, Ri,”
”Bagaimana caranya?”
”Berkomunikasi dengan arwahnya,”
”Gila kamu, Dam. Aku gak mau ah.
Takut,”
”Kalau tidak sekolah kita akan
terus-terusan dihantui arwahnya,”
”Kita cari orang pintar aja, Dam.
Kita tanya dimana pak Fahmi mengubur jenazahnya,”
”Kita mau tanya kemana?”
”Ajeng... Kita harus menemui
Ajeng,”
__ADS_1
”Ajeng?” Adam mengerutkan
dahinya.
Ajeng pernah cerita. Ia pernah melihat sosok gadis itu di kamar
mandi. Mungkin saja Ajeng tahu dimana sosok itu menghilang. Disitulah jasadnya.
Adam dan Riri mencari alamat Ajeng.
Ajeng diam saja saat ditanyai. Ia benar-benar bungkam. Tak mau mengingat
kejdaian itu.
”Jeng... ini demi sekolah kita. Berapa murid lagi yang harus jadi korban?”
”Aku benar-benar tidak tahu, Ri. Aku minta maaf,”
”Kamu ingin temen-teman kita tewas mengenaskan? Arwah gadis itu butuh
pertolongan, Jeng. Kalau tidak arwahnya terus gentayangan di sekolah,”
Ajeng menunduk. Kemudian menatap Riri dan Adam. ”Arwah gadis itu menghilang
di bak mandi,” ucapnya parau.
Riri dan Adam saling berpandangan.
”Sebaiknya kita laporkan saja ke kantor polisi,” usul Riri.
Mobil polisi memadati
halaman sekolah. Riri dan Adam member keterangan kepada wakil kepala sekolah. Di
kamar mandi ada tulang-tulang manusia. Wakil kepala menyetujui pencarian itu.
Mereka membongkar toilet satu per satu. Menyisir semua asbes dan genteng toilet.
Namun tulang belulang si gadis tidak juga ditemukan.
Adam dan Riri
berpandangan. Mereka bingung. Mengapa tulang-tulang itu tidak ada di sana.
Apakah Ajeng berbohong kepada mereka?
“Kami sudah menyisir
semua toilet, Pak. Tapi kami tidak menemukan apa-apa.”
“Coba sekali lagi, Pak.
Saya sangat mencemaskan anak-anak. Mereka sering melihat penampakan,”
“Baik, Pak. Kami akan
berusaha mencari tulang gadis itu,”
“Kalian tidak akan
menemukannya. Tulang belulang itu tidak ada disana,” tutur Ajeng. Semua mata
menatap ke arah Ajeng.
“Ajeng…” Riri bergumam.
“Aku melihat arwah gadis
itu disana,” kata Ajeng. Menunjuk kamar mandi yang sudah lama terkunci. Mata
mereka membelalak. Kamar mandi itu sudah sepuluh tahun di gembok.
Penyisiran dilakukan
kembali. Polisi membongkar kamar mandi di ujung gedung sekolah. Dindingnya
berlumut. Gembok di pintu sudah berkarat. Pihak polisi membongkar kamar mandi
itu dengan linggis. Pintu terkuak lebar. Bau busuk menyeruak dari dalam.
Sebagian mereka muntah-muntah.
Polisi menemukan
tengkorak kaki dan tangan di bak mandi. Tengkorak kepala di pembuangan kotoran.
Dulu mayat gadis itu dipotong-potong oleh Fahmi. Ia menemukan gadis itu
bersimbah darah. Takut aksinya diketahui orang, Fahmi menguburnya di bak mandi.
Ia meminta kunci gaib ke orang pintar. Agar arwahnya tidak menghantui Fahmi.
Tulang belulang itu
mereka kuburkan sesuai ajaran agama. Adam dan Riri merasa lega. Mereka berharap
__ADS_1
arwah gadis itu bisa tenang di alam baqa.