RUMAH BELANDA DI ATAS KUBURAN

RUMAH BELANDA DI ATAS KUBURAN
Episode 22, ARWAH MENGAMUK


__ADS_3

Malam langit menghitam. Kilat


menyambar di langit. Angin bertiup kencang. Riri menghubungi Adam.Nyambung.


“Ada apa, Ri?”tanya


Adam.


“Aku butuh bantuan mu, Dam,”


“Bantuan apa?”


“Aku telah membuka pintu terlarang itu. Pintu yang disegel kakekku puluhan tahun lalu,”


“Lantas?”


“Arwah-arwah itu gentayangan. Mereka


menuntut balas. Mereka menginginkan kita, Dam… Aku tunggu di rumah,”


“Baiklah,”


Riri mematikan ponselnya. Ia


duduk di kursi dengan cemas. Gordi panik. Jendela terbuka dan mengepak.


Riri beranjak dari duduknya. Membuka laci dan mencari beberapa peralatan.


Senter dan untaian biji tasbih. Ia mengambil


giok antik yang


tergantung di dinding kamar.


Gordi semakin panik. Jendela membentur


sangat kuat.


JEDARR...


”Bantu Riri, Kak. Riri ingin


mengakhiri semua ini,” ucap Riri dengan terbata.


”Apa maksud kamu?”


“Pintu itu harus kita tutup. Temani Riri ke ruang bawah tanah,”


Gordi terkejut. Tak habis pikir


”Apa? Ruang bawah tanah? Untuk apa, Ri? Papa sudah memperingatkan jangan ke


ruang bawah tanah,”


”Tapi Riri sudah melanggarnya,


Kak. Riri sudah membuka pintu-pintu arwah gentayangan itu. Riri harus mengakhiri semuanya. Ayo,


Kak... sebelum terlambat,”


Gordi masih bingung. Ia mengikuti kata-kata Riri.


Malam itu Adam tiba di rumah


Riri. Adam ikutan bingung. Ia menghampiri Riri yang sibuk menyiapkan


perlengkapan.


“Ada apa sebenarnya, Ri?”


tanyanya kalut.


“Kita harus mengakhiri dendam


kesumat itu, Dam. Ini menyangkut hidup kita,”


“Maksud kamu apa?”

__ADS_1


“Kita korban dari kebejatan orang


tua kita, Dam...”


Adam sedikit bingung.


“Papaku dan papamu telah membunuh


janda itu,”


Adam semakin tidak mengerti


cerita Riri.


“Temani aku ke ruang bawah


tanah,”


“Ruang bawah tanah?”


“Iya. Cepat, Dam. Sebelum


semuanya terlambat,”


Di luar angin menggila. Menerbangkan dedaunan kering. Hujan turun deras.  Arwah-arwah


gentayangan itu seperti marah besar. Gordi, Adam dan Riri masuk ke ruang bawah tanah. Mereka berhenti di


depan pintu.


Gordi menelan ludahnya, mencoba


memberanikan diri. Gemetar tangannya membuka pintu itu. Ketika pintu terbuka


terdengar suara-suara aneh dari dalam sana. Suara-suara rintihan dan jeritan


kematian yang tragis. Gordi menatap Riri sesaat.


”Kamu yakin, Ri?” tanya Gordi


kalut.Wajah Adam juga terlihat tegang.


Kak. Riri harus mengakhiri dendam mereka,”


Riri masuk ke lorong-lorong gelap. Adam dan Gordi mengikuti langkah Riri.  Kaki Adam menendang tulang belulang


manusia. Berserakan di sepanjang koridor.


Gordi bergidik ngeri sambil mendegut ludahnya. Suasana lorong terasa lembab dan


memberikan atmosfer yang sangat menakutkan.


Nafas Riri tersengal. Keringat


mengucur deras. Adam bergidik memasuki lorong-lorong gelap. Mereka tiba di


pintu kedua bertuliskan “DILARANG MASUK!”  Ketiganya berhenti


sambil mengatur penafasan.


“Sekarang apa yang harus kita


lakukan, Ri?” tanya Adam kalut. Ada beberapa


pintu disana. Pintu yang menghubungkan dunia lain. Riri bingung tidak menemukan pintu


terlarang yang telah dibukanya. Semua pintu terlihat sama.


Sementara di luar petir menyambar


dengan kilatan cahaya yang menyilaukan. Riri berlari lagi dengan nafas


tersengal.


”Di mana pintunya, Ri?” tanya


Gordi kalut. Dia ketakutan luar biasa ketika melihat sosok mengerikan di sudut

__ADS_1


koridor.


”Riri gak tahu, Kak. Riri


bingung. Pintunya semua sama,”


”Ingat-ingat, Ri...” Adamsemakin


panik. Tangannya gemetaran memegang senter. Keringat mengucur deras. Tiba-tiba


terdengar suara pintu tertutup sangat kuat hingga menimbulkan suara yang keras.


Jeduaaarrr....


Riri, Adamdan Gordi saling berpandangan. Senter


yang dipegang Riri mati. Riri panik.


”Gimana nih, Kak?”


”Cari pintunya, Ri. Kita harus


segera menutupnya,”


Ketiganya berlari lagi menembus lorong-lorong pengap.


Bau busuk menyeruak. Di lorong yang mengarah ke


selatan, Riri merasakan ada hembusan angin. Tak ragu lagi ia menarik lengan Adam dan Gordi. Mereka menuju pintu itu. Pintu itu terkuak


lebar.


Mata Adam terbelalak. Diikuti


Gordi yang keheranan. Bangunan tua penuh pohon-pohon rindang ada di depan


mereka. Angin bertiup kencang. Daun-daun kering berguguran.


“Sekarang apa, Ri...?” teriak


Gordi. Suaranya tersapu angin. Riri panik tidak tahu berbuat apa. Riri


menghampiri bangunan tua di depannya. Adam mengikuti Riri. Mereka masuk ke


dalam bangunan angker itu.


Jedaaarrr...


Pintu terhempas. Tertutup rapat.


Ketiganya kaget dengan jantung tak menentu. Ruang terlihat gelap. Tiba-tiba


saja tiupan angin berhenti. Riri tersengal. Matanya mengedar. Memperhatikan


dinding-dinding hitam. Suara-suara mendesis terdengar dari balik pintu.


Tiba-tiba saja sosok perempuan muncul di anak tangga. Wajahnya pucat pasai.


Rambutnya awut-awutan. Sebagian wajahnya hancur. Darah keluar dari pipinya. Ketiganya


terkejut. Riri menjerit histeris.


“Akkhhh.....”


Adam bergidik. Suara-suara


jeritan terdengar menyayat hati. Sosok mengerikan itu mengejar mereka.


Ketiganya berlari terbirit-birit. Mayat-mayat bangkit dari liang kubur.


Tangan-tangan hitam, mengais tanah. Tangan busuk, terkelupas. Menebarkan bau


tak sedap.


“Dimana pintu itu, Ri..?”


Riri panik. Pandangannya mulai

__ADS_1


nanar.


__ADS_2