
Daun jendela mengepak tertiup
angin. Riri menatap ke arah jendela. Haru. Ia terpaku,
terdiam sesaat. Perasaannya semakin kalut. Belum lagi cerita–cerita yang bikin
bulu kudunya merinding.
Riri masih mondar-mandir di kamarnya.
Kemudian ia berbaring sesaat di tempat tidurnya sambil memperhatikan ke arah
daun jendela. Keringat dingin mengucur deras dari keningnya. Tiba–tiba saja dia
terkejut ketika tiupan angin menghempas
daun jendela hingga terbuka dan membentur teramat keras.
Jeduarrr!!!!
Riri terkejut dengan jantung tak
menentu. Ia menatapi daun jendela dengan tajam. Padahal seingatnya ia tadi
sudah mengunci rapat–rapat daun jendela sebelum sore, tapi kenapa tiba-tiba
terbuka? Apa mungkin ini kerjaan kakaknya Gordi yang suka usil? batinnya.
Tidak, itu tidak mungkin. Sedari tadi Gordi ada bersama Riri. Jadi tak mungkin itu keusilan kakaknya.
Riri tidak tahu harus berbuat apa. Gordi sudah tertidur pulas di kamarnya. Samar
dia mencium buhu yang aneh. Bahu yang bikin bulu jadi merindinh. Bahu itu
semakin memuakkan!!! Riri berusaha
menepis semua rasa ketakutannya, tapi bau itu semakin menyengat di hidungnya.
Bahu kemenyan dan darah segar!! Amis, amis sekali. Jantung Riri berdebar gencar
beberapa kali. Keringat dingin mengucur deras membasahi seluruh persendiannya.
Dia berdo’a semoga malam cepat berlalu.
Dengan kaki bergetar dia beranjak dari
tempat tidurnya. Riri menghampiri daun jendela yang mengepak terbuka
tertiup angin. Berat langkahnya menggapai daun jendela. Ia berusaha menjulurkan
tangannya beberapa kali. Dengan cepat Riri mengunci daun jendela ketika
tangannya berhasil meraih handel jendela. Kemudian dia berlari lagi ke tempat
tidur, tapi begitu dia merasa ada yang aneh melekat di jemari dan telapak
tangannya, Riri menjerit sekeras-kerasnya. Lumuran darah!!! Darah segar yang
amis memuakkan!! Riri menjerit dengan histeris.
“Akhhh!!!!! ”
Mendadak saja kepala seorang bocah cilik
muncul dari balik jendela. Lumuran darah yang mengalir dari lehernya membanjiri
daun jendela. Riri menjerit sekuat–kuatnya. Kepala bocah cilik itu tiba–tiba
saja menggelinding. Menghampiri Riri. Terasa seluruh persendian lelah tak
berdaya. Kepala bocah itu bangkit dengan cepat. Wajah mengerikan itu sudah
pecah. Matanya hancur dan menjuntai keluar.
“Tolong saya, Kak. Saya tidak dapat bernafas…” selah
kepala bocah itu. Riri tak bergeming. Ia ketakutan.
“Jangann..ganggu saya,” ucap Riri gemetar.
“Kak…sakit….” rengek kepala bocah itu
lagi. Riri hampir tidak dapat bernafas menahan takut yang tiada terkira.
Perlahan kepala bocah itu mengeluarkan bau tak sedap. Bau bangkai yang
memabukkan. Kepala itu tiba–tiba saja berulat dan mengeluarkan lendir. Cairan
kental berwarna kekuningan meleleh dari kepalanya. Kontan saja Riri menjerit histeris.
__ADS_1
”Agkhhh...!!!”
Riri pingsan.
Pagi itu Riri melihat seorang pembantu. Ia berbenah dan bersih-bersih. Menyiapkan sarapan pagi dan menyapu lantai.
Riri mengerutkan kening. Kapan pembantu itu ada di rumah? Seingatnya kemarin pembantu itu belum ada.
“Pagi, Non,” sapa sang pembantu dengan paras dingin.
“Pagi, kamu siapa ya?” tanya Riri penasaran.
“Saya Mariani, Non. Pembantu barunya enon.”
“Ooo…” Riri manggut-manggut.
“Sarapannya sudah saya siapin, Non,”
“Iya, terima kasih ya, Bik,” ucap Riri. Iamenuju meja makan. Sepiring
omelet dan segelas jus jeruk. “Kak Gordi dimana, Bik?” tanya Riri kemudian.
“Sudah pergi, Non. Katanya buru-buru.”
Riri manggut-manggut. Kemudian menyantap sarapan
paginya. Setelah selesai ia pun bernajak dari meja makan. Kemudian pergi ke
sekolah jalan kaki.
Aneh, batinnya. Sejak kapan pembantu itu masuk ke
rumah. Padahal sejak semalam Riri berada di rumah terus. Apa mungkin pembantu
itu datangnya tengah malam? Riri terus memutar otaknya.
Senja itu Riri tidak melihat pembantu barunya. Semua
pekerjaan sudah selesai dengan rapi. Mungkin saja pembantu itu tinggal di dekat
sini, batin Riri.
“Tapi, kenapa mama tidak bilang kalau pembantunya sudah
ada?” Riri terus berpikir. Apakah dia harus menghubungi mama dan menanyakan
tentang pembantu baru mereka, atau tetap diam sampai mama kembali?
Riri melihat pembantu itu berjalan ke dapur. Tapi aneh,
pembantu itu masuk dari mana? Padahal pintu depan sudah di kunci Riri.
“Biik…” panggil Riri pelan. Sang pembantu menoleh dengan
gerakan lambat, namun tidak menyahut. Ia
hanya menatap Riri dengan tajam.
“Bibik masuk dari mana?” tanya Riri penasaran.
“Dari depan, Non. Pintu depan
tidak dikunci.”
Riri
mengerutkan keningnya.
“Permisih, Non. Saya ke dapur
dulu,” kata sang pembantu buru-buru ke dapur. Riri beranjak
dari duduknya menuju pintu depan. Pintu terayun terbuka. Pintu memang tidak di
kunci. Apa Riri yang lupa mengunci pintu. Tidak, Riri tidak pernah lupa.
Menjelang magrip ia sudah menutup semua pintu dan jendela. Buru-buru Riri
menemui pembantunya di dapur. Tiba-tiba saja Riri
terhenti ketika tiba di pintu dapur. Ia melihat bercak-bercak darah berserakan. Sang pembantu asyik memotong-motong
daging.
“Biiikk…” panggil Riri. Sang pembantu tidak menoleh. Ia diam saja. “Biiik….” Panggilnya lagi. “Bibik mau masak apa?” tanya Riri kemudian.
“Saya mau masak daging, Non,” sahutnya datar.
‘Daging..?
__ADS_1
Daging apaan?’ pikir Riri. Apa
bik Mariani tengah memotong-motong daging ayam? Riri
menghampiri sang pembantu dengan perlahan.
“Biar saya bantu, Bik,” tawar Riri.
“Tidak usah, Non. Biar saya saja,”
“Sudahlah, Bik…” kata-kata Riri terpotong saat melihat
potongan kaki manusia tengah dipotong-potong pembantunya.
“Agkhhh…” Riri menjerit. Ia bergerak
mundur. Wajahnya berubah pias. Keringat dingin mengucur dari keningnya. Sang
pembantu menoleh dengan pelan. Wajahnya berubah pucat.Kelopak matanya menghitam.
“Saya sudah bilang jangan ikut campur!!!” pembantu itu
mengacungkan pisaunya ke arah Riri.
“Tolooongg…” Riri berteriak sambil berlari ketakutan.
Nafasnya tersengal sambil mencari kunci pintu depan. Dengan tangan gemetar ia
membuka pintu dan berlari panik. Riri menjerit-jerit sambil menangis.
Angin di luar berhembus
kencang. Kilatan cahaya di langit seakan membelah perut bumi. Riri terus
berlari menembus malam-malam gelab. Wajahnya tampak ketakutan. Beberapa saat
kemudian Riri tiba di rumah Adam. Buru-buru ia mengetuk pintu rumah Adam. Lama
Adam baru muncul di bibir pintu. Adam pun bingung dengan dahi berkerut.
“Ada apa, Ri?” tanyanya ketika pintu di buka. Riri
berhambur di tubuh Adam.
“Aku takut, Dam…” gumamnya sambil nenangis.
“Kamu kenapa? Kamu takut apa?” tanya Adam sambil memapah
Riri. Riri masih sesenggukkan. Lalu duduk di kursi tamu. “Aku ambilkan air
putih ya.”
Riri mengangguk pelan. Tak berapa lama Adam datang
dengan segelas air putih. Lalu menyodorkan ke Riri. Setelah
meneguknya beberapa kali, Adam bertanya lagi.
“Ada apa sebenarnya, Ri?”
“Pembantu baruku, Dam…”
“Kenapa dengan pembantu barumu?”
Riri menggeleng. “Aku tidak tahu, Dam. Aku tidak tahu
siapa dia. Aku melihat dia tengah memotong-motong tubuh manusia. Aku takut,
Daamm…”
Adam menghela sambil memperhatikan wajah Riri yang masih
ketakutan.
“Sudahlah, Ri. Tenang... Istigfar...”
“Aku
takut, Dam...”
“Sudahlah, Ri… Kalau kamu masih takut,
kamu tidur di rumahku aja ya. Aku akan bilang sama mama kalau kamu mau menginap
di rumah. Besok aku mengantar kamu ke rumah. Kita lihat sama-sama bekas
pemotongan itu.”
Riri mengangguk pelan. Keringat dingin masih mengucur
__ADS_1
dari keningnya. Malam merambat jauh
melahap bintang-bintang dan rembulan.