RUMAH BELANDA DI ATAS KUBURAN

RUMAH BELANDA DI ATAS KUBURAN
Episode 20, PEMBANTU MISTERIUS


__ADS_3

Daun jendela mengepak tertiup


angin. Riri menatap ke arah jendela. Haru. Ia terpaku,


terdiam sesaat. Perasaannya semakin kalut. Belum lagi cerita–cerita yang bikin


bulu kudunya merinding.


Riri masih mondar-mandir di kamarnya.


Kemudian ia berbaring sesaat di tempat tidurnya sambil memperhatikan ke arah


daun jendela. Keringat dingin mengucur deras dari keningnya. Tiba–tiba saja dia


terkejut  ketika tiupan angin menghempas


daun jendela hingga terbuka dan  membentur  teramat keras.


Jeduarrr!!!!


Riri terkejut dengan jantung tak


menentu. Ia menatapi daun jendela dengan tajam. Padahal seingatnya ia tadi


sudah mengunci rapat–rapat daun jendela sebelum sore, tapi kenapa tiba-tiba


terbuka? Apa mungkin ini kerjaan kakaknya Gordi yang suka usil? batinnya.


Tidak, itu tidak mungkin. Sedari tadi Gordi ada bersama Riri. Jadi tak mungkin  itu keusilan kakaknya.


Riri tidak tahu harus berbuat apa.  Gordi sudah tertidur pulas di kamarnya. Samar


dia mencium buhu yang aneh. Bahu yang bikin bulu jadi merindinh. Bahu itu


semakin  memuakkan!!! Riri berusaha


menepis semua rasa ketakutannya, tapi bau itu semakin menyengat di hidungnya.


Bahu kemenyan dan darah segar!! Amis, amis sekali. Jantung Riri berdebar gencar


beberapa kali. Keringat dingin mengucur deras membasahi seluruh persendiannya.


Dia berdo’a semoga  malam cepat berlalu.


Dengan kaki bergetar dia beranjak dari


tempat tidurnya. Riri menghampiri daun jendela yang mengepak terbuka


tertiup angin. Berat langkahnya menggapai daun jendela. Ia berusaha menjulurkan


tangannya beberapa kali. Dengan cepat Riri mengunci daun jendela ketika


tangannya berhasil meraih  handel  jendela. Kemudian dia berlari lagi ke tempat


tidur, tapi begitu dia merasa ada yang aneh melekat di jemari dan telapak


tangannya, Riri menjerit sekeras-kerasnya. Lumuran darah!!! Darah segar yang


amis memuakkan!! Riri menjerit dengan histeris.


“Akhhh!!!!! ”


Mendadak saja kepala seorang bocah cilik


muncul dari balik jendela. Lumuran darah yang mengalir dari lehernya membanjiri


daun jendela. Riri menjerit sekuat–kuatnya. Kepala bocah cilik itu tiba–tiba


saja menggelinding. Menghampiri Riri. Terasa seluruh persendian lelah tak


berdaya. Kepala bocah itu bangkit dengan cepat. Wajah mengerikan itu sudah


pecah. Matanya hancur dan menjuntai keluar.


“Tolong saya, Kak. Saya tidak dapat bernafas…” selah


kepala bocah itu. Riri tak bergeming. Ia ketakutan.


“Jangann..ganggu saya,” ucap Riri gemetar.


“Kak…sakit….” rengek kepala bocah itu


lagi. Riri hampir tidak dapat bernafas menahan takut yang tiada terkira.


Perlahan kepala bocah itu mengeluarkan bau tak sedap. Bau bangkai yang


memabukkan. Kepala itu tiba–tiba saja berulat dan mengeluarkan lendir. Cairan


kental berwarna kekuningan meleleh dari kepalanya. Kontan saja Riri menjerit histeris.

__ADS_1


”Agkhhh...!!!”


Riri pingsan.


Pagi itu Riri melihat seorang pembantu. Ia berbenah dan bersih-bersih.  Menyiapkan sarapan pagi dan menyapu lantai.


Riri mengerutkan kening. Kapan pembantu itu ada di rumah? Seingatnya kemarin pembantu itu belum ada.


“Pagi, Non,” sapa sang pembantu dengan paras dingin.


“Pagi, kamu siapa ya?” tanya Riri penasaran.


“Saya Mariani, Non. Pembantu barunya enon.”


“Ooo…” Riri manggut-manggut.


“Sarapannya sudah saya siapin, Non,”


“Iya, terima kasih ya, Bik,” ucap Riri. Iamenuju meja makan. Sepiring


omelet dan segelas jus jeruk. “Kak Gordi dimana, Bik?” tanya Riri kemudian.


“Sudah pergi, Non. Katanya buru-buru.”


Riri manggut-manggut. Kemudian menyantap sarapan


paginya. Setelah selesai ia pun bernajak dari meja makan. Kemudian pergi ke


sekolah jalan kaki.


Aneh, batinnya. Sejak kapan pembantu itu masuk ke


rumah. Padahal sejak semalam Riri berada di rumah terus. Apa mungkin pembantu


itu datangnya tengah malam? Riri terus memutar otaknya.


Senja itu Riri tidak melihat pembantu barunya. Semua


pekerjaan sudah selesai dengan rapi. Mungkin saja pembantu itu tinggal di dekat


sini, batin Riri.


“Tapi, kenapa mama tidak bilang kalau pembantunya sudah


ada?” Riri terus berpikir. Apakah dia harus menghubungi mama dan menanyakan


tentang pembantu baru mereka, atau tetap diam sampai mama kembali?


Riri melihat pembantu itu berjalan ke dapur. Tapi aneh,


pembantu itu masuk dari mana? Padahal pintu depan sudah di kunci Riri.


“Biik…” panggil Riri pelan. Sang pembantu menoleh dengan


gerakan lambat,  namun tidak menyahut. Ia


hanya menatap Riri dengan tajam.


“Bibik masuk dari mana?” tanya Riri penasaran.


“Dari depan, Non. Pintu depan


tidak dikunci.”


Riri


mengerutkan keningnya.


“Permisih, Non. Saya ke dapur


dulu,” kata sang pembantu buru-buru ke dapur. Riri beranjak


dari duduknya menuju pintu depan. Pintu terayun terbuka. Pintu memang tidak di


kunci. Apa Riri yang lupa mengunci pintu. Tidak, Riri tidak pernah lupa.


Menjelang magrip ia sudah menutup semua pintu dan jendela. Buru-buru Riri


menemui pembantunya di dapur. Tiba-tiba saja Riri


terhenti ketika tiba di pintu dapur. Ia melihat bercak-bercak darah berserakan. Sang pembantu asyik memotong-motong


daging.


“Biiikk…” panggil Riri. Sang pembantu tidak menoleh. Ia diam saja. “Biiik….” Panggilnya lagi. “Bibik mau masak apa?” tanya Riri kemudian.


“Saya mau masak daging, Non,” sahutnya datar.


‘Daging..?

__ADS_1


Daging apaan?’ pikir Riri. Apa


bik Mariani tengah memotong-motong daging ayam? Riri


menghampiri sang pembantu dengan perlahan.


“Biar saya bantu, Bik,” tawar Riri.


“Tidak usah, Non. Biar saya saja,”


“Sudahlah, Bik…” kata-kata Riri terpotong saat melihat


potongan kaki manusia tengah dipotong-potong pembantunya.


“Agkhhh…” Riri menjerit. Ia bergerak


mundur. Wajahnya berubah pias. Keringat dingin mengucur dari keningnya. Sang


pembantu menoleh dengan pelan. Wajahnya berubah pucat.Kelopak matanya menghitam.


“Saya sudah bilang jangan ikut campur!!!” pembantu itu


mengacungkan pisaunya ke arah Riri.


“Tolooongg…” Riri berteriak sambil berlari ketakutan.


Nafasnya tersengal sambil mencari kunci pintu depan. Dengan tangan gemetar ia


membuka pintu dan berlari panik. Riri menjerit-jerit sambil menangis.


Angin di luar berhembus


kencang. Kilatan cahaya di langit seakan membelah perut bumi. Riri terus


berlari menembus malam-malam gelab. Wajahnya tampak ketakutan. Beberapa saat


kemudian Riri tiba di rumah Adam. Buru-buru ia mengetuk pintu rumah Adam. Lama


Adam baru muncul di bibir pintu. Adam pun bingung dengan dahi berkerut.


“Ada apa, Ri?” tanyanya ketika pintu di buka. Riri


berhambur di tubuh Adam.


“Aku takut, Dam…” gumamnya sambil nenangis.


“Kamu kenapa? Kamu takut apa?” tanya Adam sambil memapah


Riri. Riri masih sesenggukkan. Lalu duduk di kursi tamu. “Aku ambilkan air


putih ya.”


Riri mengangguk pelan. Tak berapa lama Adam datang


dengan segelas air putih. Lalu menyodorkan ke Riri. Setelah


meneguknya beberapa kali, Adam bertanya lagi.


“Ada apa sebenarnya, Ri?”


“Pembantu baruku, Dam…”


“Kenapa dengan pembantu barumu?”


Riri menggeleng. “Aku tidak tahu, Dam. Aku tidak tahu


siapa dia. Aku melihat dia tengah memotong-motong tubuh manusia. Aku takut,


Daamm…”


Adam menghela sambil memperhatikan wajah Riri yang masih


ketakutan.


“Sudahlah, Ri. Tenang... Istigfar...”


“Aku


takut, Dam...”


“Sudahlah, Ri… Kalau kamu masih takut,


kamu tidur di rumahku aja ya. Aku akan bilang sama mama kalau kamu mau menginap


di rumah. Besok aku mengantar kamu ke rumah. Kita lihat sama-sama bekas


pemotongan itu.”


Riri mengangguk pelan. Keringat dingin masih mengucur

__ADS_1


dari keningnya. Malam merambat jauh


melahap bintang-bintang dan rembulan.


__ADS_2