RUMAH BELANDA DI ATAS KUBURAN

RUMAH BELANDA DI ATAS KUBURAN
Episode 21, SIAPA MARIANI?


__ADS_3

Keesokan hari mereka bersamaan melihat kejadian malam itu.


Tidak ada sisa-sisa potongan daging secuil pun. Apalagi darah yang


berserakan. Riri bingung dan heran. Mengapa semuanya bersih seperti tidak ada


kejadian apa-apa.


“Itu perasaan kamu saja, Ri,”


“Tapi, Dam… aku benar-benar


melihat Bik Mariani memotong-motong kaki manusia. Aku  melihat sebuah kepala di panci besar,”


“Jangan mengigau, Ri. Sekarang kita harus banyak-banyak


berdoa. Mohon petunjuk yang maha kuasa. Minta semua pengganggu tidak diizinkan


keluar.”


Riri terdiam.


“Aku tinggal dulu, ya. Kalau ada apa-apa hubungi aku


segera, Ri,”


“Makasih ya, Dam”


Adam berlalu.


Malam


itu Gordi turun dari angkutan umum. Ia terhenti sejenak. Memperhatikan


jalan setapak. Nyalinya mulai ciut.


Senja


mulai menapak dan sebentar lagi magrib akan tiba.


Gordi menghela nafas dengan berat. Dengan jantung yang berdegup tidak teratur


Gordi berusaha memberanikan diri melewati bangunan tua itu. Sejenak ia


memperhatikan sekeliling. Semak. Rimbun. Gelap. Gordi bergidik


ngeri.


Samar dia mendengar suara decak telapak kaki di belakangnya. Gordi sedikit


menghela nafas dengan lega. Kemudian dia berpaling ke belakang. Seorang wanita


baya baru saja pulang dari kota sambil membawa belanjaannya. Gordi terhenti


menyapa wanita baya itu.


“Baru pulang, Bu?” sapa Gordi basa basi. Wanita baya itu


mengangguk pelan sambil tersenyum tipis. Rasa takut yang mendera pikiran Gordi pun


mulai berkurang.


“Mari saya bantu membawa belanjaan ibu,” ucap


Gordi menawarkan jasa. Dengan senang hati si wanita baya memberikan keranjang


belanjaannya kepada Gordi. Sepanjang perjalanan wanita baya


itu lebih banyak diam. Pandangan lurus ke depan.


“Kamu tidak takut pulang malam–malam begini?“ tanya wanita baya itu dengan


datar.


“Apa yang ditakutkan, Bu?” sahut Gordi sekenanya.


“Katanya daerah ini angker  loh…”


ucap wanita baya itu lagi.


“Ah, ibu ini ada-ada saja,” selah Gordi seakan tidak ingin membicarakan


keangkeran disaat situasi begini. Namun mendadak saja keranjang


wanita baya itu terasa berat. Keanehan–keanehan mulai terjadi


seketika saja. Wanita baya itu berjalan lurus tak berkedip sedikitpun. Dengan


pikiran kacau, Gordi sesekali menghapus keringat dingin yang membasahi


keningnya.


Gordi kelelahan membawa keranjang wanita baya itu. Kemudian ia berhenti


sejenak untuk mengatur nafasnya. ‘kenapa keranjang ini mendadak saja menjadi


berat?’ batinnya. Gordi membuka keranjang belanjaan wanita baya itu. Tiba-tiba


saja ia terkejut. Belanjaan itu berubah menjadi penggalan–penggalan


kepala seorang bocah dengan lumuran darah!!! Kontan saja Gordi menjerit


sambil menghempaskan keranjang itu.


“Bu….ke... kenapa keranjang  ibu..ada…” Gordi tak sanggup


berkata–kata. Seakan  rongga


pernafasannya terasa sesak. Wanita baya itu kemudian terhenti. Namun tidak

__ADS_1


berpaling ke arah Gordi.


“Kenapa? kamu takut?” ucap wanita baya itu dengan tenang. Gordi tercekat


lagi dan terkejut untuk beberapa kali.


Wanita baya itu perlahan saja berubah. Wajahnya melepuh dan busuk!!


menjijikkan!! Dengan sigap Gordi bangkit dari duduknya. Wanita baya menatap ke


Gordi.


“Tidak!!! Tolooonggg!!!” jerit Gordi. Ia berlari sekencang mungkin. Gordi


tidak perduli semak belukar yang ia jajaki adalah tanah kuburan. Dengan nafas


tersengal Gordi terus berlari hingga perbatasan. Sesekali ia mengatur


pernafasannya.


 Nafas Gordi masih tersengal.


Tak seorangpun dia jumpai di malam itu. ‘Kemana orang-orang setempat?‘


bantinnya. Warga desa seakan tahu malam itu malam yang sangat menakutkan. Tak


seorangpun berani keluar rumah. Apalagi berpergian.


Gordi berlari dengan sedikit tenaga. Nafasnya tidak


teratur. Gordi membuka pintu rumah dan masuk dengan nafas tersengal. Kemudian


ia mengunci pintu rapat-rapat.


“Kenapa, Kak? Ada apa?“ tanya Riri heran. Gordi merusaha menenangkan pikirannya.


“Tidak ada apa- apa kok, Ri,” sahutnya dengan nada masih kacau.


“Minum dulu, Kak.” Riri menyodorkan air putih. Gordi menenggak


habis dan bernafas dengan legah.  Riri bertanya lagi pada kakaknya.


“Sebenarnya ada apa sih, Kak? Kok sampai ngos–ngosan begitu?“ tanya


Riri  ingin tahu. Gordi menatap tajam ke


arah Riri.


“Nggak ada apa–apa kok, Ri.” Gordi lagi–lagi memberi jawaban yang pasti.


“Ya sudah, kalau begitu kakak istirahat saja dulu. Riri mau menyiapkan


makan malam.” Riri segera berlalu ke dapur. Gordi terpaku.Kini


Gordi benar–benar yakin kalau desa ini angker dan mengerikan!!! Namun kenapa


warga desa tidak memilih pindah saja ke daerah lain? Riri bertanya


“Pembantu?”


“Iya, Kak.”


“Sejak kapan mama dapat pembantu. Dan sejak kapan pembantu itu bekerja di


rumah kita?”


“Sejak kemarin, Kak. Riri juga heran sama pembantu itu?”


“Trus kemana pembantu itu?”


“Sejak tadi Riri tidak melihat dia, Kak. Barang kali saja ia pulang ke


rumahnya.”


“Pulang…?”


“Iya, mungkin saja ia orang sini. Tapi aneh, Kak. Riri takut melihat


pembantu itu,”


“Memangnya kenapa?” Gordi bertanya heran.


“Kemarin Riri melihat pembantu itu memotong daging manusia,”


“Ah, kamu mengigau, Ri.”


“Sure, Kak. Riri nggak bohong. Riri takut sekali.”


“Sudah deh, kakak capek nih. Kita ngobrolnya besok saja, ya.”


Riri mengangguk. “Ya sudah, kalau begitu kakak istirahat saja dulu.”


Malam itu Gordi tidak bisa tidur. Pikirannya kacau. Kejadian


itu seakan meleburkan seluruh gairah hidupnya. Perlahan Gordi menuju kamar


adiknya, Riri. Dia memperhatikan Riri yang sudah tertidur pulas. Kali ini Gordi


sendiri yang ingin menemani adiknya. Atau Gordi sendiri yang merasa ketakutan.


Gordi duduk di samping tempat tidur Riri. Matanya menatap kosong ke sudut


jendela. Mengapa kejadian dua puluh tahun yang lalu menghantui kehidupan


mereka? Gordi bertanya–tanya lagi. Tak lama kemudian Gordi pun tertidur di


samping adiknya. Dengan pulas ia mendekap bantal guling. Tak ingin ia mengingat


kejadian mengerikan itu.

__ADS_1


Riri menelpon mamanya. Nyambung.


“Halo, Sayang… Gimana kabar kamu? Baik-baik aja kan..?”


“Ugh, apanya yang baik, Ma. Riri bisamati


ketakutan di rumah ini.”


“Loh, memangnya kenapa?”


“Banyak setannya,”


“Hust, jangan ngomong begitu ah,”


“Memang kenyataan kan, Ma. Riri ngerasa nggak betah aja di sini, ma. Riri


mau balik ke Medan.”


“Sayang… mama sebentar lagi kembali kok,”


“Sebentar lagi? Ini sudah seminggu, Ma. Apa mau pulang tahun depan? Jangan harap mama bisa menemukan Riri dengan utuh!”


“Waduh-waduh, anak mama ngambek nih… Iya-iya, mama akan pulang.”


“Tapi kapan, Ma?”


“Tunggu papa kamu. Urusannya sudah hampir selesai kok. Kamu yang sabar ya,


Sayang.”


“Uuuh, mama. Riri mau tanya nih,”


“Tanya apa?”


“Mama mengirim pembantu ke rumah kita?”


“Pembantu..?”


“Iya, pembantu baru kita, Ma,”


Mama terlihat bingung di seberang sana. “Tapi mama belum mengirim pembantu,


Ri. Kamu ini ada-ada aja deh,”


“Trus yang ngaku-ngaku pembantu di rumah kita siapa?”


“Ah, mungkin saja orang di sekitar situ yang memang benar-benar mau jadi


pembantu kita. Biarin saja, Ri. Kamu kan jadi punya teman di rumah.”


“Huh, Mama. Dibiari bagaimana? Pembantu baru kita itu orangnya aneh banget,


Ma,” Riri mengatur posisi duduknya. “Matanya itu dingin banget.. Riri takut, Ma.”


“Trus siapa nama pembantu itu?”


“Mariani, Ma,”


“Oh,”


“Cepat dong pulangnya, Ma...”


“Sabar dong, Sayang. Mama


lagi sibuk nih. Mama tinggal dulu ya, Sayang…”


Riri memerotkan bibirnya. “Iya deh, Ma.”


“Dag, sayang…”


“Daag, Ma,”


Klik. Riri menutup telponnya. Kemudian kembali menirukan logat mama yang


selalu saja memberi ceramah ke Riri.


Jakarta, petang.


Mama menyuguhkan segelas capucino hangat kepada papa. Kemudian duduk di


samping papa.


“Riri tadi telpon, Pa. Katanya ada pembantu baru di rumah


kita. Padahal mama kan belum mengirim pembantu.”


Papa menurunkan surat kabarnya. Menoleh ke arah mama. “Siapa, Ma?”


tanya papa heran.


“Mariani, Pa,” ucap mama seraya menyeruput capucinonya.


Papa tersentak kaget. “Mariani..??” Mata papa terbelalak.


“Iya, Mariani. Kenapa, Pa? Kok kaget begitu?”


Papa gelagapan. “Ah, nggak apa-apa kok, Ma,”


“Ah, papa ini. Bikin kaget mama saja.”


Papa terpaku sejenak. Mengingat nama itu yang terngiang-ngiang di benaknya.


Ia kenal betul dengan nama itu. Tapi apakah mungkin orang yang bernama Mariani


itu adalah orang yang sama?


Bintara tidak bisa memejamkan mata. Wajah


Mariani memenuhi benaknya. Jeritan-jeritan pilu kembali terngiang. Sejenak ia

__ADS_1


berpikir, siapa yang membuka pintu terlarang itu? Malam sudah semakinlarut. Suara jangkrik bersahutan.


__ADS_2