
Fahmi menengadah dengan mata perih. Dia seperti mendengar jeritan-jeritan histeris dari
liang kubur. Jeritan seorang perempuan yang dulu mati mengenaskan. Obor-obor
api itu terlihat jelas dimatanya. Kejadian dua puluh tahun yang lalu semakin
menghantui dirinya. Dulu anak perempuannya juga meninggal secara mengenaskan.
Dia tewas di sebuah bangunan tua yang dulu mereka jadikan tempat pembantaian.
Benarkah arwah itu ingin menuntut balas?
Fahmi mengingat lagi kejadian tragis
itu. Dimana ia melempari bongkahan batu ke wajah perempuan yang tak berdaya di
pasungan. Dia menyayat dengan potongan bambu yang tajam serta penyiksaan
lainnya. Tidak manusiawi. Waktu itu ia
berusia lima belas tahun.
Jeduarrr!!
Daun jendela mengepak keras hingga Fahmi
tercekat. Angin berhembus kencang. Kilat di luar membabi buta. Buru-buru Fahmi
bangkit dan menutup kembali jendela rumahnya. Istrinya sudah terlelap tidur
sejak dua jam yang lalu. Bahu amis menyeruak di ruang tamu. Bahu darah kental. Daging
terbakar.
Fahmi mual dan terhuyung. Sebuah kepala
terpelanting di depannya. Mata melotot tajam dengan lumuran darah di leher.
Fahmi tercekat. Ia bergerak mundur. Kemudian berlari menaiki anak tangga. Sosok
kepala tanpa badan itu mengejarnya dengan wajah bengis. Sosok kepala seorang
perempuan. Wajah pucat. Hancur. Dihinggapi belatung. Bahu bangkai menyeruak.
“Tolong, jangan ganggu aku. Ampun, aku
minta ampun...” pekik Fahmi.
Sosok kepala itu terus mengejar Fahmi.
Ia berlari menuruni anak tangga. Terjatuh di antara tangga dan vas bunga. Fahmi
berlari keluar sambil berteriak minta pertolongan. Namun warga yang sudah
terlelap tidak mendengar teriakan Fahmi.
Sosok-sosok mayat dari liang kubur pun
bangkit satu persatu. Fahmi menjerit histeris. Keringat mengucur deras. Langkahnya
tertatih. Ia terus berlari tak tentu arah. Jalan hitam terlihat lengang.
Sedikit kabut. Fahmi panik. Ia
ketakutan. Tiba-tiba saja suara klakson truk mengejutkannya.
BRAAKK...
Tubuh Fahmi terpelanting di sudut jalan.
Kepalanya pecah. Darah mengucur deras. Menggenangi aspal hitam. Lolongan anjing
di kejauhan terdengar perih. Suara
burung hantu berkoar. Malam hening.
***
Pagi itu sekolah geger. Fahmi tewas
mengenaskan. Guru-guru yang menyaksikan kematian Fahmi bergidik ngeri. Otaknya
berceceran. Bintara mendengar berita kematian Fahmi dari Riri. Dia mulai gelisah.
Pikiran-pikiran kalut menghantui kehidupannya.
“Teman
papa tewas, Ma,” ujar Bintara. Wajahnya terlihat sendu.
“Sudahlah,
Pa. Itu sudah kehendak yang maha kuasa,”
“Kematian
Fahmi sangat mengenaskan. Fahmi ditabrak truk,”
Mama
menghela. Papa bangkit dari duduknya. Beranjak menuju jendela. Mama menangkap
kegelisahan papa.
“Pa…
ada apa sih sebenarnya? Papa ada masalah? Cerita dong ke mama, jangan disimpan
sendiri,”
Papa
menoleh menatap mama. “Tidak ada apa-apa, Ma. Papa hanya tidak yakin aja Fahmi
begitu cepat meninggal,”
“Pa…
sebagai orang yang beriman, kita harus percaya. Kematian itu pasti datang
kepada setiap manusia,”
“Ma…
maafin papa ya. Papa sudah membuat mama cemas,”
“Sudahlah,
Pa. Sekarang kita ke notaris. Kita harus melengkapi berkas-berkas tanah itu,”
__ADS_1
Papa
mengangguk. “Baiklah…”
Riri bergidik. Ia melihat mayat Fahmi
yang masih mengeluarkan darah. Warga berduyun mendatangi kediaman Fahmi.
“Aku semakin takut, Dam. Kok kematian
kepala sekolah tragis banget sih?”
“Sudahlah, Ri. Itu sudah takdir kepala
sekolah harus begitu,”
”Ngapain kepala sekolah di jalan?”
”Yah, mungkin lagi jalan-jalan malam, Ri,”
”Aneh,”
”Sudah, ah. Yuk pulang,” ajak Adam. Riri mengikuti
langkah Adam.
Riri lagi-lagi melamun di sudut kursi yang berhadapan dengan halaman
samping. Ia memperhatikan pohon-pohon rindang yang tumbuh di halaman.
Tangan Riri merogoh saku celananya. Ia mengambil sebuah giok antik yang diakui
sebagai kunci dari arwah-arwah gentayangan. Kening Riri berkerut memperhatikan
giok itu.
‘Apa benar ini kunci dari arwah gentayangan?’ bathin nya dalam hati. Pikiran
Riri terus berkecamuk. Gordi muncul dari pintu depan. Ia melihat Riri yang
duduk melamun dengan tatapan kosong. Gordi memperhatikan Riri dengan lekat.
Perasaanya mulai tidak tenang. Mahluk-mahluk lain mulai mengganggu mereka.
“Ri... jangan melamun terus,” tegur Gordi.
Riri terkesiap. Teguran itu membuyarkan lamunan Riri. “Eh, Kak Gordi...
Sudah pulang?”
Gordi menghampiri Riri. “Kamu mikirin apa lagi? Cerita konyol itu?”
“Bukan cerita konyol, Kak. Tapi ada sebuah misteri yang menyangkut keluarga
kita,”
Gordi terdiam sejenak. “Sudahlah, Ri. Tidak usah dibahas masalah itu,” ucap
Gordi memberikan saran yang baik. Dia tidak mau Riri semakin dihantui rasa
takut dan penasaran.
“Kak... Ini masalah kehidupan. Riri tidak mau setiap malam dihantui
bayang-bayang yang menakutkan. Setiap malam Riri mimpi buruk, Kak...”
“Bagaimana Riri tidak memikirkannya, Kak. Riri sudah masuk ke pintu
terlarang itu dan Riri melihat kejadia-kejadian mengerikan di sana,”
Gordi terkejut. “Apa? Jadi kamu sudah membuka pintu terlarang itu?”
Riri mengangguk pelan, lalu menunduk.
“Riri... Riri... kamu ini kenapa nekat membuka pintu itu. Bukankah papa
sudah berjanji jangan membuka pintu itu dalam keadaan bagaimanapun?”
“Riri gak tahu, Kak. Seperti ada dorongan untuk membuka pintu itu. Riri
juga menemukan giok ini di depan pintu,” Riri memperlihatkan giok antik
berwarna kehijauan itu kepada Gordi.
“Giok itu kunci dari arwah-arwah gentayangan itu, Ri. Kamu telah membukanya
dan artinya arwah-arwah itu telah bebas,”
“Bukankah kebebasan itu yang mereka harapkan, Kak. Sampai kapan mereka
harus terkurung dalam gelap?”
“Kamu tidak tahu apa-apa tentang cerita itu,”
“Cerita apa? Kenapa kakak tidak pernah berterus terang ke Riri?”
“Papa tidak mengijinkan kakak cerita sama kamu. Karena papa takut kamu
bertindak nekat, Ri...”
Riri terdiam dengan mata berkaca-kaca. Ia membayangkan nasip mereka
selanjutnya.
Di sekolah Tari lagi-lagi nyolot ke Riri. Tari menyikut
Riri sampai terjatuh. Mata Tari melotot tajam ke arah Riri dengan semua
emosinya.
“Kau harus berhadapan denganku!!
Langkahi dulu mayatku kalau kamu ingin mendekati Adam!!”
“Kamu apa-apaan sih, Tari. Sakit tahu!!”
Tari mencibir. “Aku akan buat kau lebih menderita lagi
anak baru!! Kalau kau masih macam-macam dengan Adam.”
Tari segera berlalu masuk ke ruangannya. Sedangkan Riri masih
membersihkan kotoran yang melekat di rok sekolahnya. Menghapus sedikit
luka di siku tangannya. Kemudian ia masuk ke kelasnya.
***
Setelah jam pelajaran pertama selesai, Adam dan Riri duduk di taman. Adam
__ADS_1
melihat luka Riri yang membekas kemerahan.
“Kamu kenapa, Ri. Siku kamu kok berdarah?”
“Aku nggak apa-apa, Dam. Aku tadi terjatuh di koridor,”
“Makanya hati-hati dong. Koridor sekolah ini sudah licin sejak tidak
dibersihkan. Aku belikan
betadin ya?”
“Nggak usah, Dam. Aku nggak apa-apa kok,”
“Trus, kalau luka kamu infeksi bagaimana?”
“Aku nggak apa-apa. Lukaku cuma luka ringan saja kok,”
“Ya sudah,kalau begitu aku beliin makanan di kanti sebelah
ya. Kamu tunggu di sini saja.”
Riri mengangguk. Adam segera berlaru ke kantinsebelah. Ini kesempatan Tari untuk memberi pelajaran bagi Riri. Tari menghadang
Riri sambil berkacak pinggang. Bersama dua orang temannya.
“Hei, anak baru! Kau masih nggak jerah juga ya?”
“Apa maksud kamu?”
“Aku tidak mau kau dekati Adam lagi. Lebih baik kau jauh-jauh dari Adam.
Atau… aku akan…”
“Hei, memangnya kamu siapa pakai ngancam aku segala! Kamu kira aku takut
sama kamu?” tantang Riri kemudian.
Tari memberi aba-aba kepada kedua temannya. Mereka menarik tangan Riri dan
membawanya ke belakang sekolah. Riri berusaha merontah tapi tidak sanggup
karena tangannya masih terasa sakit.
“Lepasin!! Tari kamu apa-apaan sih?!!!”
Tari menghempaskan tubuh Riri di sudut dinding.
“Hei!!! Aku peringatkan sekali lagi. Jangan dekat-dekat dengan Adam!!!”
“Memangnya apa urusanmu! Aku mau dekat-dekat dengan Adam kek, Dirga kek,
itu urusan aku! Kamu
tidak berhak melarangku!!”
“Sialan!! Kau berani menantang aku!!”
“Aku tidak takut sama kamu!!”
“Sialaaannn!!!”
Brrraaaakkk…plaaak…
Tari mendorong tubuh Riri hingga ia terjatuh. Riri tejerembab di antarabangku-bangku
yang telah rusak dan dikumpulkan di belakang sekolah.
Di halaman, Adam mencari-cari sosok Riri. Sambil membawa beberapa makanan
riangan dan softdrink.
“Riri kemana sih, kok ninggalin aku?”
Adam berusaha mencari ke ruangan, namun Riri tidak ada juga. Di
belakang sekolah, Riri masih merintih kesakitan. Tari dan teman-temannya segera
meninggalkan Riri begitu saja. Riri bangkit dengan berat. Badannya terasa sakit
karena hempasan Tari.
“Kamu kenapa, Ri?” tanya Adam ketika menemukan Riri
tersaruk masuk ke ruangan.
“Aku nggak apa-apa, Dam,”
“Nggak apa-apa bagaimana? Kamu sudah terluka kamu bilang
tidak apa-apa? Siapa yang melakukan ini sama kamu, Ri?”
“Aku tadi jatuh, Dam.”
“Kamu bohong, Ri. Kamu tidak mau terus
terang sama aku. Pasti Tari sudah mencelakai kamu, iya kan?”
Riri tertunduk. “Sudahlah, Dam, jangan bikin ribut,”
“Anak itu harus diberi pelajaran, Ri. Biar dia kapok!”
“Jangan, Dam,”
“Akkhh, aku tidak perduli, Ri. Aku harus buat perhitungan
sama dia.” Adam segera berlalu menemui Tari di ruangannya. Membentak Tari dan
mengancam Tari habis-habisan.
“Kamu fikir kamu itu siapa? Ngaca dong dikit. Aku sama
sekali tidak tertarik melihat kamu! Aku jijik melihat kamu!”
“Daaamm!! Kau kok jadi kasar sama aku?”
“Kamu yang kasar Tari!”
“Daaam… Kau kenapa sih belain dia terus?”
Tari sewot.
“Karena aku mencintainya, Tari. Aku sangat mencintainya.”
Tari terdiam sambil menatap wajah Adam dengan tajam.
Matanya berkaca-kaca. Ia merasa telah dipermalukan di depan teman-teman
kelasnya. Tari menangis di ruangannya. Adam berlalu dan menghampiri Riri.
__ADS_1