
Di ruang tamu Bintara bincang-bincang dengan teman kecilnya. Riri mengintai dari balik dinding dan mendengarkan obrolan mereka. Riri keluar dengan ragu-ragu. Belum sempat Riri berlalu, Bintara memanggilnya.
“Riri...”
Riri terhenti dan menoleh ke arah Bintara.
“Iya, Pa...” sahutnya pelan. Riri berjalan sambil menundukkan kepala.
“Ini pak Fahmi, teman sepermainan papa waktu kecil dulu,” ucap Bintara seraya memperkenalkan Fahmi kepada Riri. Riri mengangguk-anggukkan kepala. Bintara ngomong lagi. “Pak Fahmi ini kepala sekolah di SMU yang ingin kamu masukin,”
Riri tersenyum tipis sambil mengangguk. Bintara kembali ngobrol ngalir-ngidul. Riri masuk ke kamarnya sementara mama sibuk membuatkan minuman di dapur.
Obrolan Fahmi dan Bintara awalnya hanya obrolan kecil. Selanjutnya mereka membuka cerita kenangan masa lalu. Cerita yang mereka lukis dengan tinta merah di atas kanvas kesadisan. Sejenak suasana menjadi hening ketika Fahmi menyinggung cerita dua puluh tahun silam. Cerita yang sangat tragis. Cerita itu menghantui kehidupan mereka.
Bintara terpaku, kemudian menghela nafas dengan berat. Fahmi terlihat tegang. Wajahnya pucat.
“Mengapa kamu kembali ke kota ini, Bin?” tanya Fahmi ingin tahu.
Bintara menatap wajah Fahmi dengan lekat.
“Entahlah. Seperti ada dorongan hatiku untuk kembali ke kota ini. Aku tidak tahu mengapa hatiku dihantui rasa bersalah, Mi,”
Fahmi menarik nafas.
“Aku takut sesuatu yang tidak kita inginkan akan terjadi, Bin,”
“Maksudmu?” Bintara mengerutkan dahinya.
“Kejadian itu, Bin,” Fahmi menahan kata-katanya.
“Sudahlah, Mi. Kejadian itu sudah lama berlalu, dan semuanya baik-baik saja,”
__ADS_1
“Tapi aku masih dihantui masa lalu,”
“Sudahlah...” potong Bintara sedikit cemas. “Aku tidak ingin memikirkan masa lalu. Masa lalu kita sangat hitam. Dunia sudah berubah. Kita jangan terlalu percaya dengan tahyul,”
Fahmi menghembuskan nafasnya sesaat.
“Semoga, Bin. Semoga semuanya baik-baik saja. Sebab akhir-akhir ini aku selalu dikejar bayangan masa lalu. Aku takut, Bin,”
“Pelaku itu bukan kita saja, Fahmi. Seluruh warga melakukannya,”
“Ya… dan kamu tahu sendiri. Mereka mati mengenaskan. Tidak wajar,”
Mata Bintara menerawang jauh ke masa lampau. Obor-obor api itu masih bermain-main di benaknya. Wajah-wajah beringas seperti dirasuki setan. Jeritan-jeritan pilu dan teriakan kesakitan masih mendengung di telinganya. Sesaat situasi menjadi hening. Ada guratan pedih masa lalu yang kini bangkit kembali.
“Aku pamit pulang, Bin. Sampaikan salam ku ke istrimu,”
“Ya… akan ku sampaikan,”
“Ada apa, Pa?” tanya mama.
Bintara menatap istrinya. “Hmm… tidak apa-apa kok, Ma,” Ia berusaha menutupi masalah.
“Kok wajah papa terlihat tegang?”
“Papa capek,”
“Mama buati air hangat ya,”
“He-em…”
Mama berlalu ke dapur. Lagi-lagi Bintara cemas. Ia tak habis piker mengapa hatinya dirasuki bisikan-bisikan gaib. Bisikan itu membawanya kembali ke kampong halamannya.
__ADS_1
***
Bintara teringat kata Fahmi. Ia duduk di kursi kamar. Pikirannya kacau. Bayang-bayang perempuan itu melekat di benaknya. Mama tertidur pulas. Bintara bangkit. Ia beranjak mengambil surat kabar di atas meja. Tangan kanannya menarik tuas lampu baca. Di luar angin bertiup kencang. Petir menyambar-nyambar di angkasa.
Bintara membaca koran dengan pikiran tak tenang. Lagi-lagi cerita itu mengusiknya. Diletakannya koran di atas meja. Ia mengambil sebatang rokok. Menyulutnya, lalu menghisapnya. Berharap pikirannya kembali tenang.
Suara petir bersahutan. Angin menghempas daun jendela. Riuh. Hujan deras disertai halilintar. Bintara mondar-mandir. Pikirannya makin kacau. Ia melumatkan putung rokok ke asbak. Kilatan cahaya terlihat dari jendela kaca. Bintara terkejut ketika melihat bayangan di sudut jendela. Sosok perempuan. Pakaianya berlumpur. Penuh sobekan. Rambutnya awut-awutan. Matanya melotot kehitaman. Kuku jari tangannya panjang.
Mata Bintara terbelalak. Ia kenal betul sosok wajah itu. Kilatan cahaya memantul di jendela. Sosok itu menghilang. Di pintu kamar bayangan itu berdiri tegak. Bintara dapat melihat jelas wajah itu. Mengerikan. Sebagian wajahnya terkelupas. Cairan kental merah kekuningan menetes. Bintara mendegut ludah.
”Tidak... tidaaakk.... Jangan ganggu aku,” Bintara menjerit. Suara-suara menyeringai memenuhi otaknya.
”Tidaaaakkkk..!!!!” Bintara ketakutan. Jeritan itu membuat istrinya terbangun.
”Papa? Ada apa, Pa?” tanya mama heran.
Sosok mengerikan itu menghilang. Keringat dingin membanjiri kening Bintara. Nafasnya tersengal.
”Ada apa sih, Pa? Kok teriak-teriak?”
”Hm... tidak ada apa-apa, Ma. Papa hanya bermimpi,”
Mama menatap wajah papa dengan lekat.
”Mama ambilkan air putih ya?”
Bintara mengangguk. Mama segera berlalu ke dapur. Tak lama mama membawa segelas air putih. Menyodorkan ke papa.
”Istigfar, Pa... Baca doa,”
Bintara menghela berat. ”Sudahlah, Ma. Papa tidak apa-apa. Papa mau tidur,”
__ADS_1
Mama meletakkan gelas di atas meja. Ia kembali ke tempat tidur. Bintara masih dibayangi sosok tadi. Namun akhirnya ia tertidur pulas.