
Handphone Riri berdering. Tangan kanan meraih Hp di atas meja.
“Halo,“ sapa Riri
datar.
“Riri, ini kamu, Sayang? Ini
mama,“ sapa
mama dari seberang.
“Mama, dari mana saja sih?“ tanya
Riri seraya merengek manja. Kemudian duduk di sofa dengan kaki berselonjor.
Memainkan kabel telpon dengan jari telunjuknya. “Riri takut tinggal di sini, ma.
Riri nggak betah. “
“Sudahlah, Sayang. Kamu kan bisa menyesuaikan diri.
Itu karena kamu tidak sepenuh hati menempati rumah kita.“
“Ughh, rumah apa-an. Rumah ini
lebih pantas disebut kuburan, ma.
Bayangin saja kalau setiap malam Riri seperti diganggu mahluk halus. Sunyi
seperti di kuburan. Belum lagi ada suara-suara aneh.“
Mama menarik nafas dengan berat.
“Kamu ini ada-ada saja, Ri. Semua
bangunan itu memang ada penjaganya. Mungkin saja itu sebagai perkenalan pertama
kita sebagai penghuni baru dan mama rasa tidak semua penjaga rumah itu jahat.“
“Mama ini apa-an sih? Keanehan-keanehan di rumah kita
itu nyata banget, Ma. Riri tidak mau mati ketakutan di tempat ini. Riri mau pindah saja ke Jakarta. Riri mau
tinggal di rumah oma saja,“ Riri cemberut.
“Sabar dong, Sayang. Tidak lama lagi mama kembali kok,“
“Tidak lama lagi..?“ Riri
menaikan alis matanya. “Ini sudah dua minggu papa dan mama pergi. Mau berapa
lama lagi, Ma?“
“Yah, paling-paling sampai urusan
tanah selesai. Kamu jaga diri baik-baik ya,“ pesan mama sekilas.
“Ughh, mama. Bete deh! Kapan sih
urusan tanahnya selesai?“ Riri kembali cemberut.
“Kira-kira beberapa hari lagi.
Setelah itu papa dan mama mau berkunjung ke rumah om Irfan di Surabaya.“
“Ke Surabaya lagi?“ Riri semakin
sewot. “Mama ini gimana sih. Kok tega-teganya meninggalkan anak sendirian di
tempat begini.“
“Riri, maafkan mama dong. Mama
tidak bermaksud meninggalkan kalian berdua begitu saja. Tapi ini urusan
perusahaan.“
Riri menarik nafas dengan berat.
“Pokoknya Riri tidak terima deh,
ma.“
__ADS_1
“Jangan begitu dong, Ri. Mama tahu
perasaan kamu. Tapi ini demi masa depan kamu juga nantinya.“
“Tapi janji ya, mama akan pulang
dengan segera.“
“Iya, mama janji deh. Kamu
baik-baik saja kan.“
Riri mengangguk.
“Ya."
“Yah, sudah, mama tutup dulu ya.
Dah, Sayang..” Mama memutuskan telponnya. Riri masih mengomel kecil.
Kemudian meletakan corn telepon sambil memanyunkan bibirnya. Mendengus kesal
seraya bangkit dan duduk di sofa. Meraih kembali majalah remaja dan membacanya
dengan tidak sepenuh hati.
Pagi itu Riri berjalan pelan sambil
memperhatikan sekeliling sekolah. Angin bertiup lembut. Riri kembali berjalan
menyelusuri koridor lantai dua. Keadaan disana sama saja. Bangunan yang hampir
usang kini menjadi sebuah teka-teki. Riri menghela berat, memperhatikan kamar
mandi yang sudah hancur.
“Hei, Ri, bengong aja.” Tiba-tiba saja Adam membuyarkan lamunannya. Riri
menoleh seketika.
“Ah, kamu, Dam. Ngagetin aku aja. Utung jantungku nggak copot. Kalau aku
punya penyakit jantung, aku pasti sudah kejang berat,“
“Aku masih penasaran, Dam,“
“Udah deh, nggak
usah dipikiri.“
“Trus kalau arwah gentayangan itu menteror terus gimana?“
“Kita nggak bisa berbuat banyak, Ri. Kita panggil orang pinter saja. Siapa
tahu dia bisa membantu kita. Oh, iya, kapan kita nemui pak Marioto?”
“Hari ini, Dam. Tadi aku melihatnya bersih-bersih taman,”
“Oh, ok...”
Riri memainkan bibirnya. Kemudian mengikuti langkah Adam masuk ke kelas. Tiba-tiba saja Riri terhenti ketika melihat Tari menatapnya
dengan tajam. Adam memperhatikan pandangan itu dengan lekat. Tari yang
dikenalnya sangat arogan mendekati Riri. Sedangkan Riri bersiap-siap menerima
tantangan dari Tari. Namun firasat Riri lain. Tari tersenyum tipis seraya
mengulurkan tangan.
“Maafkan aku, ya. Aku memang tidak pantas merebut Adam darimu,“ ucap Tari sungguh-sungguh. Riri membalas jabatan tangan itu dengan lapang
hati. Namun dia masih bertanya-tanya. Apakah ini hanya jebakan Tari saja.
“Aku sungguh-sungguh minta maaf, Ri,“ ucapnya.
“Aku juga minta maaf atas kejadian tempo hari,“ balas Riri sambil tersenyum tipis.
“Makasih ya, atas pertolongan kamu. Kalau tidak ada kamu aku pasti sudah
tergeletak berhari-hari di kamar mandi.“
Adam tersenyum. Kemudian Tari menoleh ke arah Adam.
__ADS_1
“Maafkan aku ya, Dam.“
Adam mengangguk pelan. Tari menarik nafas dengan lega.
“Besok aku mau pergi. Aku pindah sekolah,“
“Pindah? Kenapa harus pindah?“ Riri bertanya heran.
“Papa dan mama-ku mendapat tawaran di Tebing-Tinggi. Jadi aku juga harus
pindah sekolah. Aku titip Adam ya, Ri,“ ucap Tari lembut. Hati Riri terhenyu. Ia mengangguk pelan. Merengkuh tubuh Tari sebagai tanda
perpisahan mereka.
“Aku pamit, Ri, Dam,“ ucapnya sendu, melepaskan rengkuhan
Riri. Tari berjalan pelan.
“Hati-hati, Tari,“ ujar Riri.
Tari menagngguk. Ia segera
melangkahkan keluar. Bel berdentang beberapa kali. Menandakan jam pelajaran
telah dimulai. Lagi-lagi pikiran Riri kacau.
***
Sekolah kembali geger. Mereka menemukan sosok Tari menggantung di tiang
kamarmandi. Tari bunuh diri. Semua terkejut melihat kejadian itu. Mengapa Tari
nekat melakukan hal itu.
Beberapa guru berusaha menurunkan mayatnya yang sudah memucat dan membiru.
Setelah itu mereka membawanya ke rumah sakit untuk divisum terlebih dahulu.
Riri menghela berat.
“Kenapa Tari bunuh diri, Dam?”
Adam menggeleng. “Entahlah, Ri. Aku juga tidak tahu.”
Dari saku pakaian Tari mereka menemukan secari kertas berisikan surat
tangan Tari. Mungkin sebagai tulisan terakhirnya.
setetes embun pagi membasahi
dedaunan
aku merasa kedinginan dalam sepi
yang gelap
sunyi senyap tiada kehidupan
sudah beribu kali kupendam rasa
itu
agar tidak menggangguku
tapi aku tidak mampu
aku terlalu mengharapkan dirimu
namun saat kutahu kau bukan
miliku
hatiku telah pupus
Sebuah puisi entah di tujukan kepada siapa. Yang jelas Tari merasa sakit
hati atas ketidak adilan cinta kepada dirinya. Mengapa cinta hanya
mempermainkannya saja. Riri dan Adam saling berpandangan.
Menatapi kertas putih yang bertuliskan puisi itu.
***
__ADS_1