RUMAH BELANDA DI ATAS KUBURAN

RUMAH BELANDA DI ATAS KUBURAN
Episode 18, TARI GANTUNG DIRI


__ADS_3

Handphone Riri berdering. Tangan kanan meraih Hp di atas meja.


“Halo,“ sapa Riri


datar.


“Riri, ini kamu, Sayang? Ini


mama,“ sapa


mama dari seberang.


“Mama, dari mana saja sih?“ tanya


Riri seraya merengek manja. Kemudian duduk di sofa dengan kaki berselonjor.


Memainkan kabel telpon dengan jari telunjuknya. “Riri takut tinggal di sini, ma.


Riri nggak betah. “


“Sudahlah, Sayang. Kamu kan bisa menyesuaikan diri.


Itu karena kamu tidak sepenuh hati menempati rumah kita.“


“Ughh, rumah apa-an. Rumah ini


lebih pantas disebut  kuburan, ma.


Bayangin saja kalau setiap malam Riri seperti diganggu mahluk halus. Sunyi


seperti di kuburan. Belum lagi ada suara-suara aneh.“


Mama menarik nafas dengan berat.


“Kamu ini ada-ada saja, Ri. Semua


bangunan itu memang ada penjaganya. Mungkin saja itu sebagai perkenalan pertama


kita sebagai penghuni baru dan mama rasa tidak semua penjaga rumah itu jahat.“


“Mama ini apa-an sih? Keanehan-keanehan di rumah kita


itu nyata banget, Ma. Riri tidak mau mati ketakutan di tempat ini. Riri mau pindah saja ke Jakarta. Riri mau


tinggal di rumah oma saja,“ Riri cemberut.


“Sabar dong, Sayang. Tidak lama lagi mama kembali kok,“


“Tidak lama lagi..?“ Riri


menaikan alis matanya. “Ini sudah dua minggu papa dan mama pergi. Mau berapa


lama lagi, Ma?“


“Yah, paling-paling sampai urusan


tanah selesai. Kamu jaga diri baik-baik ya,“ pesan mama sekilas.


“Ughh, mama. Bete deh! Kapan sih


urusan tanahnya selesai?“ Riri kembali cemberut.


“Kira-kira beberapa hari lagi.


Setelah itu papa dan mama mau berkunjung ke rumah om Irfan di Surabaya.“


“Ke Surabaya lagi?“ Riri semakin


sewot. “Mama ini gimana sih. Kok tega-teganya meninggalkan anak sendirian di


tempat begini.“


“Riri, maafkan mama dong. Mama


tidak bermaksud meninggalkan kalian berdua begitu saja. Tapi ini urusan


perusahaan.“


Riri menarik nafas dengan berat.


“Pokoknya Riri tidak terima deh,


ma.“

__ADS_1


“Jangan begitu dong, Ri. Mama tahu


perasaan kamu. Tapi ini demi masa depan kamu juga nantinya.“


“Tapi janji ya, mama akan pulang


dengan segera.“


“Iya, mama janji deh. Kamu


baik-baik saja kan.“


Riri mengangguk.


“Ya."


“Yah, sudah, mama tutup dulu ya.


Dah, Sayang..” Mama memutuskan telponnya. Riri masih mengomel kecil.


Kemudian meletakan corn telepon sambil memanyunkan bibirnya. Mendengus kesal


seraya bangkit dan duduk di sofa. Meraih kembali majalah remaja dan membacanya


dengan tidak sepenuh hati.


Pagi itu Riri berjalan pelan sambil


memperhatikan sekeliling sekolah. Angin bertiup lembut. Riri kembali berjalan


menyelusuri koridor lantai dua. Keadaan disana sama saja. Bangunan yang hampir


usang kini menjadi sebuah teka-teki. Riri menghela berat, memperhatikan kamar


mandi yang sudah hancur.


“Hei, Ri, bengong aja.” Tiba-tiba saja Adam membuyarkan lamunannya. Riri


menoleh seketika.


“Ah, kamu, Dam. Ngagetin aku aja. Utung jantungku nggak copot. Kalau aku


punya penyakit jantung, aku pasti sudah kejang berat,“


“Aku masih penasaran, Dam,“


“Udah deh, nggak


usah dipikiri.“


“Trus kalau arwah gentayangan itu menteror terus gimana?“


“Kita nggak bisa berbuat banyak, Ri. Kita panggil orang pinter saja. Siapa


tahu dia bisa membantu kita. Oh, iya, kapan kita nemui pak Marioto?”


“Hari ini, Dam. Tadi aku melihatnya bersih-bersih taman,”


“Oh, ok...”


Riri memainkan bibirnya. Kemudian mengikuti langkah Adam masuk ke kelas. Tiba-tiba saja Riri terhenti ketika melihat Tari menatapnya


dengan tajam. Adam memperhatikan pandangan itu dengan lekat. Tari yang


dikenalnya sangat arogan mendekati Riri. Sedangkan Riri bersiap-siap menerima


tantangan dari Tari. Namun firasat Riri lain. Tari tersenyum tipis seraya


mengulurkan tangan.


“Maafkan aku, ya. Aku memang tidak pantas merebut Adam darimu,“ ucap Tari sungguh-sungguh. Riri membalas jabatan tangan itu dengan lapang


hati. Namun dia masih bertanya-tanya. Apakah ini hanya jebakan Tari saja.


“Aku sungguh-sungguh minta maaf, Ri,“ ucapnya.


“Aku juga minta maaf atas kejadian tempo hari,“ balas Riri sambil tersenyum tipis.


“Makasih ya, atas pertolongan kamu. Kalau tidak ada kamu aku pasti sudah


tergeletak berhari-hari di kamar mandi.“


Adam tersenyum. Kemudian Tari menoleh ke arah Adam.

__ADS_1


“Maafkan aku ya, Dam.“


Adam mengangguk pelan. Tari menarik nafas dengan lega.


“Besok aku mau pergi. Aku pindah sekolah,“


“Pindah? Kenapa harus pindah?“ Riri bertanya heran.


“Papa dan mama-ku mendapat tawaran di Tebing-Tinggi. Jadi aku juga harus


pindah sekolah. Aku titip Adam ya, Ri,“ ucap Tari lembut. Hati Riri terhenyu. Ia mengangguk pelan. Merengkuh tubuh Tari sebagai tanda


perpisahan mereka.


“Aku pamit, Ri, Dam,“ ucapnya sendu, melepaskan rengkuhan


Riri. Tari berjalan pelan.


“Hati-hati, Tari,“ ujar Riri.


Tari menagngguk. Ia segera


melangkahkan keluar. Bel berdentang beberapa kali. Menandakan jam pelajaran


telah dimulai. Lagi-lagi pikiran Riri kacau.


***


Sekolah kembali geger. Mereka menemukan sosok Tari menggantung di tiang


kamarmandi. Tari bunuh diri. Semua terkejut melihat kejadian itu. Mengapa Tari


nekat melakukan hal itu.


Beberapa guru berusaha menurunkan mayatnya yang sudah memucat dan membiru.


Setelah itu mereka membawanya ke rumah sakit untuk divisum terlebih dahulu.


Riri menghela berat.


“Kenapa Tari bunuh diri, Dam?”


Adam menggeleng. “Entahlah, Ri. Aku juga tidak tahu.”


Dari saku pakaian Tari mereka menemukan secari kertas berisikan surat


tangan Tari. Mungkin sebagai tulisan terakhirnya.


setetes embun pagi membasahi


dedaunan


aku merasa kedinginan dalam sepi


yang gelap


sunyi senyap tiada kehidupan


sudah beribu kali kupendam rasa


itu


agar tidak menggangguku


tapi aku tidak mampu


aku terlalu mengharapkan dirimu


namun saat kutahu kau bukan


miliku


hatiku telah pupus


Sebuah puisi entah di tujukan kepada siapa. Yang jelas Tari merasa sakit


hati atas ketidak adilan cinta kepada dirinya. Mengapa cinta hanya


mempermainkannya saja. Riri dan Adam saling berpandangan.


Menatapi kertas putih yang bertuliskan puisi itu.


***

__ADS_1


__ADS_2