
Riri lagi-lagi mimpi mengerikan. Ia berada di depan bangunan mewah. Entah tahun berapa kejadian itu. Terlihat buram. Penuh kabut. Pohon-pohon rindang tumbuh subur.
Di halaman depan berumput hijau, ia melihat seorang gadis kecil berambut pirang. Rambutnya diikat satu memakai pita kuning. Berkulit putih kemerahan, bermata biru cerah dengan hidung yang bangir seperti boneka. Bibirnya tipis dan merah basah. Benar-benar gadis kecil yang cantik. Gadis kecil itu bermain boneka.
Riri terpaku menatapnya. ’Siapa gadis kecil itu?’ gumamnya? Ia pernah melihat gadis kecil itu. Di halaman depan. Ya, ampun gadis kecil itu? Riri kembali panik. Apakah ia bermimpi atau benar nyata.
”Maria...” tiba-tiba saja seorang perempuan dengan rambut kuning keputihan memanggilnya. Riri menoleh ke arah perempuan itu. Ia mengenakan gaun berenda. Seperti perempuan dalam lukisan. Perempuan itu pernah dilihatnya. Saat ia membuka pintu terlarang. Deg... jantung Riri bergemuruh kencang.
Gadis kecil itu beranjak. Mengibaskan rok rendanya. Ia berlari kecil sambil memegang boneka. Riri kembali terpaku, mengerutkan dahi. Mereka sama sekali tidak melihat kehadiran Riri disana. ’Apa yang terjadi dengan diriku?’ batinnya. Apakah ia telah mati?
Suasana mendadak hening. Kabut tipis menyelimuti sebagian halaman. Riri kembali memperhatikan rumah besar di depannya. Rumah itu benar-benar sangat identik dengan rumah barunya. Tak berapa lama seorang laki-laki berperawakan tinggi besar berkumis tebal datang menghadap. Entah apa yang mereka bicarakan, Riri tidak dapat mendengar begitu jelas. Laki-laki berambut pirang itu menembaknya.
Dor...!!!
Laki-laki tak berdaya itu terkulai dilantai bersimbah darah. Riri terkejut dan ingin menjerit sekuat-kuatnya. Ia menyaksikan kejadian-kejadian tragis berdarah lainnya. Perubahan itu sangat cepat seperti penggalan-penggalan film. Tragedi pembantaian berdarah!!!
Riri tercekat. Ia terbangun dengan nafas tersengal. Matanya mengedar ke seluruh kamar. Syukurlah hanya mimpi, batinnya. Jam dinding menunjukkan angka dua. Masih tengah malam. Riri beranjak dari tempat tidur. Membuka pintu kamar. Berjalan ke ruang tamu. Tv di ruang tamu menyala. Tidak ada yang menonton. Takut-takut Riri memperhatikan ruang tamu. Gelap. Cahaya remang-remang dari tv.
Di sudut kursi Riri melihat bayangan seorang perempuan baya. Perempuan itu mirip sekali dengan mama. Riri mengerutkan kening. Bertanya-tanya mengapa mama sampai larut malam menonton tv.
“Mama...” selanya pelan. Perempuan itu tidak menyahut. Pandangannya tertuju pada tv. Sudah tidak ada siaran lagi. Takut-takut Riri melangkahkan kaki.
“Riri...” tiba-tiba saja sebuah suara memanggilnya. Dengan refleks Riri menoleh ke arah kamar mama.
“Mama...?” gumamnya pelan. Mama keluar kamar sambil mengikat tali baju tidurnya. Riri bingung dan menoleh ke arah kursi tamu. Perempuan yang duduk di sudut kursi itupun sudah tidak ada. Riri ketakutan dengan kucuran keringat di keningnya.
“Kamu ngapain, Ri?” tanya mama heran.
“HH... Riri haus, Ma...” jawabnya gugup. “Mama kok sudah bangun?” Riri balik bertanya.
“Mama mau ambil air putih untuk papamu,” mama berlalu ke dapur. Riri masih terpaku sambil terus bertanya-tanya. Siapa perempuan yang duduk menonton tv? batinnya. Riri berjalan ke dapur mencari sosok mama yang mengambil air putih. Alangkah terkejut Riri, mama tidak ada di dapur. Apa mama sudah keluar? Pikirnya. Tidak mungkin. Kalau mama keluar pasti berpapasan dengan Riri. Bulu kuduk Riri merinding. Tengkuknya membesar, seperti ada sosok mahluk halus yang memperhatikannya. Buru-buru Riri meninggalkan dapur dan memanggil mama.
“Mama... mama...” Riri menggedor pintu kamar mama. Tak lama mama keluar dengan mata sayu.
“Ada apa sih, Ri...? Pagi-pagi buta begini sudah teriak-teriak...?”
Riri mendegut air liurnya. Mama masih berada di kamar, lantas siapa yang tadi bicara dengan Riri?
“Riri takut, Ma... Riri takut...” Riri menangis di pelukan mama.
Mama membelai rambut Riri. “Apa yang kamu takutkan, Sayang? Di rumah kita tidak ada apa-apa,”
“Ma, percaya sama Riri. Riri tidak berhalusinasi. Tadi Riri melihat mama masuk ke dapur, begitu Riri ikuti, mama menghilang...” Riri sesenggukan.
“Sudahlah, Ri... Kamu lupa berdoa ya? Kamu terlalu memikirkan hal-hal begituan. Mama masih di kamar, tidur di samping papamu,”
“Lantas siapa perempuan itu, Ma?”
“Perempuan? Perempuan yang mana?”
“Yang di dapur,”
Mama menghela nafas sejenak. “Sudahlah, Ri. Jangan mengigau. Lebih baik kamu tidur lagi sana. Masih terlalu pagi. Mama tidak ingin kamu terlambat ke sekolah,”
“Ma...”
“Sudahlah, Sayang. Mama antar sampai ke kamar ya,”
Riri mengangguk pelan. Setelah berada di kamar, mama kembali ke kamarnya. Riri tidak bisa tidur. Keringat terus mengucur dari keningnya.
***
Mama duduk di sisi tempat tidur. Papa terbangun dan menegur mama.
__ADS_1
“Kok mama sudah bangun?” tanya papa heran.
“Mama tidak bisa tidur, Pa. Tadi Riri ketakutan lagi. Mama bingung, sebenarnya ada apa sih di rumah kita? Kok mama tidak pernah melihat yang aneh-aneh?”
Papa bangkit dari tidurnya. “Ah... itu mungkin halusinasi Riri aja, Ma. Dia kan suka membuat cerita-cerita misteri. Akhirnya ketakutan sendiri,”
“Tapi, Pa... Riri selalu mengeluh ke mama. Mama khawatir Riri akan mengalami gangguan psikologis. Bukan sekali ini aja Riri merasa ketakutan,”
“Sudahlah, Ma. Besok kita tanyakan lagi ke Riri. Sekarang mama tidur dulu, masih jam tiga pagi,”
Mama menghela nafas dan menghembuskannya perlahan. “Papa tidur dulu aja. Mama mau sholat tahajut,”
“Baiklah, Ma. Papa juga masih ngantuk,”
Papa kembali tidur, sedangkan mama mengambil air wudhu. Setelah melaksanakan sholat tahajut, mama kembali tidur di samping papa.
***
Suasana pagi terasa dingin. Cahaya matahari memantul di balik jendela kamar. Riri menguak lebar. Kepalanya terasa pusing. Matanya sembab. Mama membuka pintu kamar Riri.
“Pagi, Sayang... bagaimana keadaanmu?”
Riri tidak menjawab pertanyaan mama.
“Ada apa? Kok putrid mama cemberut gitu?”
Riri melipat tangannya. “Kenapa mama tidak pernah percaya cerita Riri?”
“Ri, sebagai orang beriman kita harus percaya sama Allah. Jin dan setan itu memang sudah ada sejak zaman nabi Adam,”
“Lantas selama ini mama menganggap Riri hanya berhalusinasi?”
Mama menunduk.
“Sudahlah, Sayang... Mama khawatir dengan keadaanmu. Jangan ungkit lagi cerita-cerita itu. Sekarang kamu mandi. Mama sudah buat sarapan. Roti bakar dan kornet,”
Riri menoleh ke arah mama. “Riri lagi gak nafsu sarapan, Ma,” Riri beranjak dari tempat tidur menuju jendela. Menyampirkan gorden merah muda ke samping kanan. Mama menghampirinya. Mama memerhatikan wajah Riri dengan lekat.
“Mama tahu kamu tidak ingin pindah dari Jakarta, tapi ini demi masa depan kalian, Ri,”
“Dan kita menempati rumah ini tanpa harus tahu asal usulnya, Ma. Mama tidak tahu kan rumah ini dulunya bangunan apa?”
“Ri... kenapa kamu mempermasalahkan masalah itu lagi?”
“Riri hanya ingin tahu, Ma,”
“Mama tidak tahu. Tanya saja papamu,”
“Ma... ini masalah Riri. Setiap malam Riri selalu dihantui mimpi buruk. Apa mama tahu itu? Riri mimpi sosok yang sangat mengerikan. Riri takut, Ma...”
Mama terdiam sejenak. “Sudahlah, Ri. Mama tahu kamu mengalami guncangan, tapi jangan sangkut pautkan dengan cerita konyolmu itu,”
Riri menatap mama dengan lekat. “Rumah ini peninggalan seorang kapten Belanda yang tewas mengenaskan, Ma. Apa mama tidak tahu cerita itu?”
Mama kembali terdiam. Wajahnya terlihat cemas, lalu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
“Mama akan tanyakan ke papamu,”
Riri merungut, lalu menghembuskan nafas dengan kesal. Mama keluar dari kamar Riri. Ia berusaha meyakinkan Riri kalau rumah yang mereka tempati baik-baik saja.
***
__ADS_1
Sepulang sekolah Riri iseng memperhatikan foto-foto yang tersimpan di laci tua. Ada beberapa foto hitam putih disana. Foto kakek dan neneknya. Papanya masih berusia sepuluh tahun. Di foto-foto itu terselip sebuah foto seorang gadis berambut pirang. Riri terkejut saat memperhatikan foto itu. Gadis kecil itu pernah dilihatnya dalam mimpi. Mimpi yang sangat menakutkan.
Apa sebenarnya yang terjadi dengan gadis itu? Riri terus berpikir. Riri berusaha mencari tahu tentang misteri yang ada di rumahnya. Riri melihat ada tahun pembuatan foto itu di bawahnya. 1918. Dahi Riri berkerut. 1918? Bathinnya.
Riri menemukan data-data tentang 1918. Pada tahun itu terjadi musibah wabah penyakit yang menewaskan ribuan warga Amerika, German dan Belanda. Riri bergidik melihat foto-foto kematian itu yang ditemukan di sebuah laci kecil. Di laci bawah Riri menemukan secarik kertas koran yang sudah usang. Dia melihat foto seorang gadis yang tewas mengenaskan. Koran itu berada di tahun 1920.
“Jadi gadis kecil itu meninggal pada tahun 1920?” dahi Riri membuat lipatan-lipatan tegas. Riri buru-buru keluar dari gudang bawah.
“Ada apa, Ri?” tanya Gordi saat melihat wajah Riri yang berubah pucat.
“Hmm... gak ada apa-apa kok, Kak,”
Gordi mengerutkan dahi. “Kamu darimana? Seperti dikejar hantu aja,”
“Riri dari dapur,”
“Hhh... kamu ini ada-ada saja,”
“Riri ke kamar dulu, Kak,” ucapnya seraya berlalu.
Riri mondar-mandir di kamarnya. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Apakah menunggu sang penyelamat atau berdiam diri di rumah? Riri menemui Hari di belakang. Mereka tinggal di pondokan yang terletak dekat taman belakang. Mata Marioto tajam menatap wajah Riri.
“Sebaiknya kamu tidak mengganggu ketenangan kami,” ucap Marioto membuat Riri bingung.
“Mengganggu? Mengganggu bagaimana, Pak? Saya hanya ingin curhat saja dengan Hari,”
“Dia lagi sibuk, tidak bisa diganggu,” suara Marioto terdengar tidak bersahabat. Hari yang melihat kakeknya memarahi Riri hanya menundukkan kepala. Riri kembali ke rumah dengan hati kecewa.
***
Sore itu Boby menemui Riri diam-diam.
“Maafkan sikap kakekku. Dia memang begitu,” ujar Boby sambil menunduk.
Riri tersenyum tipis. “Gak apa-apa, Bob. Aku maklum,”
“Sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan?” tanya Boby ingin tahu.
Riri terdiam sesaat. Ia memperhatikan halaman depan lalu berujar. “Sejak pertama aku tiba di rumah ini, aku selalu mimpi buruk. Aku melihat seorang bocah di kamarku dan aku berada di tempat yang aku tidak tahu,”
“Lantas, apa hubungannya denganku?”
“Sedikit banyaknya kamu pasti tahu cerita itu,”
“Cerita apa?”
“Gadis kecil itu. Dia berambut pirang,”
Boby tertunduk. “Aku tidak tahu cerita tentang gadis kecil itu,”
“Apakah kamu tahu tentang ruang bawah tanah?”
Boby terbelalak. “Kamu tidak boleh membukanya,” ucapnya cemas.
“Kenapa?”
“Karena arwah-arwah itu akan gentayangan,”
“Arwah? Arwah siapa?”
Boby kembali menunduk. “Hmm... Arwah itu sudah dikunci kakekku agar tidak berkeliaran,”
“Boby..!” tiba-tiba saja Marioto menegur Boby. Wajahnya memerah menahan amarah. Boby yang mendengar bentakkan itu kontan beranjak dari duduknya, lalu meninggalkan Riri begitu saja. Keduanya benar-benar menyimpan cerita-cerita itu dari keluarga Riri. Ada apa sebenarnya?
__ADS_1
***