
Hari ini adalah hari kebebasan. Setelah satu semester kami bertarung dengan banyak laporan, esai, artikel, dan beberapa rancangan masa depan. Hari ini kita rencanakan untuk we time.
Entah sejak kapan, aku mulai terbiasa dengan mereka. Ya, Yura, Jaemin, Haechan, dan Jeno. Setelah semua kisah pelarianku sembunyikan baik-baik. Mereka masih bisa bertahan dalam innercicle-ku.
Aku pun masih mematung, mengapa kami berakhir di kosanku dan Yura.
"Besok kita berangkat dari sini saja. Barang gue, Jeno, sama Jaemin udah di kamar Yura semua," seru Haechan. Beginilah aku yang suka ketinggalan kabar.
"Kalau gitu, Yura nginep di kamar aku ya," ajakku.
"Oh, ngga bisa. Gua ada kerjaan sama Jeno dan Yura. Tahukan project kita belum beres," jawab Haechan. Aku sempat iri karena mereka magang di satu tempat. Tapi tidak penting, toh aku duluan yang kelar.
"Aku nginep di kamu yah, Jihyun," izin Jaemin.
"Ya udah, daripada di sini kedinginan."
Semua hal tentang Jaemin mendebarkan bagiku. Kita memang pernah satu ruangan berdua tapi belum pernah berdua selama satu malam. Aku benar-benar salah tingkah. Semoga dia gak menangkapnya.
Saat masuk kamarku, aku mulai mencari yang aneh. Maksudku hal yang berantakan, bodohnya aku yang tak melihat kasur dan malah lanjut dapur. Aku lupa belum membereskan pakaianku.
"Hmm, harusnya aku terbiasa dengan ini. Sejak SMA, kamarmu selalu berantakan."
"Aku gak tau ya kalian bakal nginap di sini."
Aku melihat jaemin menunduk dan tersenyum kecil. Ah, tolong aku tak bisa menghilangkan kebiasaan ini. Aku terus menatapnya. Jihyun, ayolah sadar diri.
"Hmm, mereka gak akan makan malam? Aku cek dulu deh ke kamar Yura."
Belum juga melangkah, jaemin menangkap tanganku.
"Ada handphone, lebih praktis."
Ia pun merogoh sakunya dan langsung mengetik nama Nojaem di buku kontaknya. Tidak lama, Jeno langsunh menjawab telepon Jaemin.
"Jeno-ya, kalian gak bakal makan malam?"
"Lupa ngasih tau, kita udah delivery loh. Tapi kayanya gak ada jatah buat kalian. Sorry, tutup dulu ya, lagi mikir nih."
Suasana yang cuku awkward menurutku. Telepon pun ditutup. Aku terjebak, bersama dia.
"Makan ramyeon? Aku gak bisa masak," tawarku.
"Gak ada bahan lain? Aku bisa masakkin."
"Sayangnya, engga. Tapi tenang ramyeon aku enak, kok," ajak Jihyun santai, dia temenmu.
Kami pun membuat ramyeon dalam keheningan. Selera kita cukup berbeda tapi bisa saling menghargai.
__ADS_1
"Gak banyak cabenya? Kamu kan suka pedes?" tanya Jaemin.
"Ah, segini juga cukup. Takut sakit perut."
"Engga ada alkohol?"
"Ada kok, coba cek."
Jaemin pun melangkahkan kakinya sedikit menuju kulkas. Aku sering stok bir dan soju untuk malam panjangku bersama tugas.
"Jangan minum banyak-banyak. Nanti pagi susah ilangin pengarnya."
Jaemin bukanlah seorang peminum, dia anti minuman keras, tapi kenapa dia malah minum sekarang. Bahkan aku tak ditawari atau menawari diri untuk menjadi teman minumnya. Sudahlah yang penting malam ini aku gak kelaparan.
Setelahnya dia pun mencuci piring dan membereskan meja lipat yang kami gunakan untuk makan. Sedangkan aku sedang menyiapkan tempat tidur di lantai.
"Kamu mau tidur di bawah atau di kasur?"
"Aku ga mau di bawah," jawabnya dengan suara deep voice. Ah, jihyun luruskan pikiran.
"Kalo gituh, aku di bawah, kamu di kasur."
"Aku juga ga mau kamu di bawah."
Aku pun mengangkat sebelah alisku. Ada apa si dengan anak ini.
Tapi melihat Jihyun menggunakan pakaian tidur yang tidak terlalu terbuka dan santai, entah mengapa itu menggoda Jaemin.
Jihyun yang sedari tadi sibuk membenah tempat tidur pun, mendukung imajinasi liar Jaemin. Bagaimana jika dia secara tak sadar menyerang Jihyun. Padahal sedari tadi percakapannya dengan Jihyun benar-benar di luar kendalinya. Ia berusaha membelakangi Jihyun agar tak melihatnya dalam keadaan penuh nafsu.
"Jaemin, kenapa diem aja?"
Jaemin berjalan menuju tempat tidur. Duduk dipinggiran tempat tidur milik Jihyun.
"Selesai. Yaudah kamu tidur di kasur aku di bawah, deh."
Tanpa sadar jaemin menarik tangan Jihyun, menahannya untuk bergerak. Jelas sekali saat ini Jihyun kebingungan.
"Kamu juga di kasur, cukup kok, untuk dua orang."
"Engga, nanti kamu gak nyaman, aku juga."
"Jadi, tidur sama aku buat kamu gak nyaman?"
Lebih tepatnya gak aman, kedua makhluk ini sedang diterpa angin beliung di jantungnya, berderu kencang.
Entah, kesambet setan apa, Jaemin langsung menangkup leher jihyun dan menciumnya. Hanya diam beberapa waktu dan melepaskannya. Keduanya, masih saling gugup dan jantung mereka saling bersahutan. Tapi alkohol itu, sepertinya membuat adrenalin Jaemin bertambah. Ia langsung memautkan ciumannya lagi dengan Jihyun.
__ADS_1
Tak ada penolakkan. Sikap Jihyun membuat Jaemin berani bertindak lebih jauh. Tanpa sadar mereka sudah dalam posisi yang tak terkendali. Jaemin sudah berada di atas Jihyun.
Kenapa aku tak bisa menolaknya. Ini... apa... aku harus bersikap bodoh.
Hening, tak ada yang berbicara. Hanya tubuh mereka yang terus bergerak. Saling bersentuhan dan menyalurkan getaran-getaran aneh dan candu. Mereka larut dalam perasaan dan pergulatan tubuh mereka.
Jika orang itu Jaemin seharusnya utang budiku terbayarkan sedikit.
Jeno yang khawatir kedua temannya belum makan, hendak memberikan makanan sisa ke kamar Jihyun. Saat di depan pintu kamar kosan Jihyun, Jeno merasa ada suara aneh.
"Argh, Jaemin,...."
Langkah dan gerakan tangannya yang akan membuka pintu pun terhenti. Ia pun mendekatkan kepalanya dan telinganya ia tempelkan ke pintu.
"Jaem, argh, ...."
Wajah terkejut Jeno memberikan tanda mendalam, dari apa yang didengarnya. Wajahnya pun tambah terkejut ketika Yura memanggilnya, mendekat.
"Jen, kenapa belum dikasih makanannya?"
Jeno cepat-cepat menghampiri Yura dan menariknya pergi. Ia berusaha menyembunyikan apa yang terjadi di kamar Jihyun.
"Kenapa balik lagi?"
Jeno pun berusaha keras mencari alasan.
"Tadi aku udah tawarin, tapi kata mereka gak usah, mereka udah mau ke alam mimpi."
"Jadi gtuh alasannya kamu bungkuk kaya gtuh"
"Aku berusaha biar gak bikin suara berisik itu."
"Yaudah lanjutin lagi nih, biar bisa tidur dulu sebelum besok keluar."
Kamar Yura terbilang lebih luas dan lebih rapi. Cukup untuk tiga orang. Mereka juga tau Yura lebih rajin dan teratur dibanding Jihyun. Kepribadian Yura pun lebih ceria dibanding Jihyun. Jika orang-orang harus memilih, Yura lah yang akan dipastikan menang.
Sedangkan, Jihyun kehidupannya terlalu datar dan hati-hati. Ia lebih memilih diam atau menghindar ketika apapun terjadi. Yura pun kadang merasa Jihyun sangat membosankan, tapi di lain hati itu membuat Yura nyaman. Jihyun tak pernah berharap apa pun pada Yura sehingga ia tak perlu mewujudkan ekspektasi Jihyun terhadapnya.
Jihyun bangun terlebih dahulu, saat Jaemin masih terlelap. Posisi mereka benar-benar membuat Jihyun tidak nyaman. Ia tak pernah sedekat ini dengan Pria mana pun. Ketika melihat wajah Jaemin lekat. Ingatan malam tadi begitu jelas terputar.
Apa yang kulakukan semalam? Aku tahu aku suka Jaemin. Tapi, ada apa dengan Jaemin semalam?
"Morning, hyun-ah"
Arghh suaranya.
"Aku tau kamu udah bangun. Hari ini hari pertama kita, oke!"
__ADS_1
Aku langsung membuka selimut, memasang wajah tanda tanya, apa maksudnya?