Rumah Pohon

Rumah Pohon
Pria Bertopi


__ADS_3

Semua orang sudah bersiap dengan barang-barang mereka. Tidak, mereka belum siap. Karena itu mereka memutuskan untuk shopping ke mall dan membeli beberapa keperluan.


"Liburan kali ini, bakal enjoy gak ya?"


"Kenapa? lo kepikiran tugas kita kemarin? tenang aja udah diberesin sama si beruang." Jeno menenangkan.


Yura yang mendengar itu langsung menarik sudut bibirnya sampai maksimal.


"Ahh, ternyata ada gunanya lo, chan."


"Ya kali lo, kaya koala, lama banget, eh koala si lebih mirip Jihyun tapi ...,"


Jihyun hanya tertawa tertahan. Jaemin juga, sebenarnya dari tadi dia melamun, bergelut dengan pikirannya. Mengingat kejadian semalam, udah panas-panasnya tapi ia gagal menjadikan Jihyun miliknya. Dia mulai menyalahkan diri sendiri.


"Jaemin, lo kenapa? Ga enak badan? Pasti gegara malem makan ramyeon, kan?" sindir Haechan.


"Salah siapa beli makan ga bilang-bilang. Ga bagi lagi!"


"Eh, bukannya sama Jeno dianterin makanan ke kamar kalian, nolak juga."


Jaemin pun bermain mata dengan Jeno. Mengisyaratkan untuk membantunya lagi.


"Iyalah, lo udah ke alam mimpi lagian."


Debat mereka berakhir disini. Jarak ke mall juga tidak terlalu jauh. Mereka turun dari mobil yang dibawa Jaemin. Di sebuah perbelanjaan besar mereka memutuskan membagi tim.


Tim yang suka masak, suka makanan, dan tahu bahan makanan bersatu. Tentu saja Jaemin kokinya, Jihyun pemakan, dan Yura yang paham tentang makanan.


Sedangkan dua sejoli ini, Jeno dan Haechan, mereka mencari barang-barang yang bisa bikin liburan mereka lebih have fun.


"Gua bakal bikin liburan kali ini mantep deh, percaya aja!" antusias Haechan.


"Jaem, hati-hati telinga budeg. Eh salah, Hyun-ah hati-hati telinga kamu ya, jauh-jauh dari mereka pas lagi ribut."


Jihyun pun hanya tertawa tertahan. Jaemin yang melihatnya pun tersenyum dan langsung mengerucutkan wajahnya, mengancam Haechan.


"Awas disangka suka sesama!" balas Jaemin.


Yura yang melihat mereka tertawa puas. Ia pun mulai mengeluarkan ponselnya dan melihat catatan belanjaan.

__ADS_1


"Masalah bikin BBQ jangan diraguin. Jaemin udah masternya," ungkap Yura. Semuanya pun menyetujuinya dengan terpaksa, emang bener si.


Setelah belanja beberapa makanan dan minuman, lalu menaruhnya di bagasi mobil. Yura mengajak mereka untuk jalan-jalan sebentar ke mall. Sedari tadi Yura juga entah kenapa banyak memainkan hp-nya.


"Kenapa? Kalian cape?" tanya Yura tak enak.


"Engga, kamu kenapa main hp mulu si?" adu Jaemin.


"Oh, sorry."


"Oke lagian mereka juga belum datang, tuh anak dua, lebih lama dari ibu-ibu kalo jalan ya," keluh Jaemin.


Mereka pun masuk langsung naik ke lantai dua. Saat Jaemin mengedarkan pandangannya untuk melihat-lihat, ia tanpa sengaja melihat seorang pria dengan topinya memasuki sebuah toko. Seketika itu juga tubuhnya ambruk. Kepala Jaemin pusing tak tertolong, ia semakin lemas. Jihyun yang menyadarinya, mengulurkan tangannya.


"Jaemin-ah, gak papa?"


tapi uluran tangannya ditepis langsung, seolah jijik. Berbeda ketika Yura menawarkan bantuannya, ia langsung menggapainya. Bahkan Jaemin enggan dipapah oleh Jihyun.


Jihyun tanpa sadar merasa sakit dengan perlakuan Jaemin. Apakah dia seburuk itu sampai Jaemin tak ingin menyentuhnya, seperti malam tadi. Bukan, bukan jalang. Hanya ... sudahlah.


Yura pun membawa Jaemin ke tempat duduk terdekat dan menyadari Jihyun sudah menghilang. Dia pikir Jihyun akan mengikuti mereka, tapi kenapa ia harus pergi tanpa bilang-bilang. Tidak bisa memikirkannya lebih lama, Yura pun berusaha menenangkan Jaemin.


"Lo kenapa?"


"Kayanya emang gue kecapean deh," ucapnya terengah-engah.


"Bentar ya, gue beli minum dulu."


"Kop--"


"Gak ada kopi ya, lo udah lemah gini."


Jaemin hanya bisa menghempas paksa nafasnya, menerima perkataan Yura. Dasar Coffe Addict.


Jaemin mencari sosok yang ternyata sudah tidak bersamanya. Kenapa Jihyun pergi ketika dia kehilangan kesadaran tadi. Apa dia benar-benar tak peduli padanya. Jaemin harus berapa kali merasa diabaikan oleh Jihyun.


"Nih airnya."


Di sisi lain, Jihyun sedang memikirkan nasibnya. Bukan, hanya bagaimana dua hari ini menjadi aneh gara-gara Na Jaemin. Ya, dia selalu aneh, pasti. Tapi kali ini benar-benar aneh. Apa Jihyun melakukan kesalahan? Entahlah.

__ADS_1


Mengapa waktu tiba-tiba berjalan lambat. Rasanya sudah lama semenjak Jihyun duduk di bangku tempat tenda ini berdiri. Benar kata Jaemin, Haechan dan Jeno lama banget kalo masalah belanja. Mereka beli apa sih? Bukannya hanya perlu membeli kembang api, lampu, pemanggang, apa lagi emang? Jihyun yang jarang berkemah pun, sangat awam tentang hal-hal itu.


Tiba-tiba suara mengagetkan milik dua orang yang baru dipikirkannya pun terdengar.


"Dor!"


Jihyun hanya menghela nafas dan mengerucutkan alis matanya.


"Loh kok, sendirian?" tanya Jeno dengan mata yang membulat.


"Kenapa, gugup ya, khawatir mereka nge-date?" todong Jihyun.


"Kenapa emang kalo mereka jadian, O lo suka Yura, Jen?" Haechan mulai penasaran.


"Iya, kenapa? Daripada lo lama banget pdkt sama Ahyeon."


"Udah, udah, kalian tuh!"


Kalo gak diberhentiin mereka bakal ribut lebih lama dan bikin mood Jihyun makin turun.


Tidak lama, Jaemin dan Yura pun datang. Jaemin udah lebih baikan dan gak kelihatan sakit seperti tadi. Jihyun rasa Yura benar-benar memberikan perhatiannya pada Jaemin.


Jaemin pun langsung menghampiri Jihyun dan berkata pelan, "Kemana tadi?" bisik-bisik lebih tepatnya.


"Aku mules," dengan senyum paling lebar yang bisa Jihyun lakukan. Jaemin yang melihatnya hanya mengusap rambut Jihyun, merasa gemas.


"Aku pikir kamu ngehindarin aku."


Jihyun terperanjat sendiri ketika menyadari percakapan mereka "aku-kamu". Sejak kapan?


"Engga, kok."


Jaemin pun tak ingin mempermasalahkan hal ini lagi. Ia tak ingin hari ini makin buruk karena emosinya.


Akhirnya mereka pun berjalan keluar dengan ramai. Tapi tiba-tiba Yura meminta izin ke toilet sebentar kepada teman-temannya. Ya, silakan saja, tentunya. Mereka jangan menunggunya, nanti Yura akan menyusul ke pintu depan biar langsung jalan pulang, begitu kata Yura.


Tapi setelah mereka berpisah beberapa menit, Jaemin lagi-lagi ambruk ketika melihat pria yang ia lihat sebelumnya. Kepalanya makin sakit dan pening. Jihyun berusaha mencari penyebabnya dengan melihat arah pandang Jaemin sebelum ia kesakitan.


Ia berusaha melihatnya lebih jelas dan jelas. Lelaki itu adalah masa lalu yang ingin ia hilangkan dari ingatan Jaemin. Tapi ia masih harus dikagetkan lagi dengan keberadaan Yura di sisi lelaki itu.

__ADS_1


Dia siapa Yura?


__ADS_2