
Aku tak punya siapa pun di dunia ini. Kemana pun aku pergi rasa asing selalu menyeruak ke dalam hatiku. Tapi di sana selalu ada kamu, seorang yang seharusnya menghindariku sampai ke ujung dunia. Dia selalu tersenyum kepadaku dan itu menambah rasa sakit di hatiku setiap harinya.
Di antara banyaknya mahasiswa di Fakultas ini, mataku langsung terpusat kepada pria yang sedang menyandar di tembok di lorong kelas. Aku dapat melihatnya dari dalam kelas melalui pintu dengan sudut 35 derajat karena aku duduk di belakang dekat dinding yang sejalan dengan pintu. Dengan pakaian santainya dan rambut poninya terurai ke depan, ia memberikan kesan hangat dan bersahabat. Ia tertunduk sambil membenturkan punggungnya beberapa kali, satu, dua, dan sampai aku menghampirinya.
"Jaemin-ah, kenapa di sini?"
Ia mengangkat kepalanya cepat menghadapku. Bibirnya yang sedari tadi mengerucut langsung tertarik seperti sembilah bulan. Matanya senang sekaligus terasa gelap. Baru pertama kali aku menatap matanya yang seperti itu. Aku menghampirinya, mengajaknya melangkah bersama keluar dari gedung fakultas tempatku belajar itu.
"Jihyun-ah, sebenarnya aku punya sesuatu untukku ceritakan."
Ini terkesan baru untukku. Aku tak pernah benar-benar menjalin hubungan dengan Pria. Bisa dibilang semua mantan kekasihku selalu dalam hubungan LDR denganku. Jadi aku tak perlu bertemu langsung karena sifatku yang tertutup.
"Apa? Hmm... jika tak ingin cerita jangan cerita. Tapi jika kamu butuh penghibur bisa cari aku. Meski aku gak jamin."
Aku selalu penasaran, bagaimana orang lain bersikap ketika situasi seperti ini. Kata-kata apa yang baiknya disampaikan kepada lawan bicaranya.
"Hmm, nanti aku akan cerita. Hari ini aku butuh waktu untuk diriku sendiri. Tapi aku ingin kamu juga ikut denganku."
Tiba-tiba seorang mahasiswa cowo datang menyenggol Jaemin dengan suara tawanya.
"Yo, Whats up? Kenapa ga masuk kelas lo? 15 menit lagi juga? Masa lo bakal bolos seharian padahal ada di kampus?"
Aku yang mendengarnya hanya tertegun dalam diam. Jaemin bolos? Ada apa dengannya? Aku melihat mata Jaemin saling melirik dengan cowo itu.
"Em, hari ini gue gak kelas dulu Kak," jawab Jaemin sambil merangkulnya paksa. Mereka saling berbisik pelan entahlah membicarakan apa.
Pukul 2 p.m aku dan Jaemin turun dari mobilnya. Pohon rindang juga dedaunan yang hijau subur memenuhi tempat ini. Kami berjalan jauh sampai di sebuah danau yang di atasnya dibangun jembatan selebar dua meter untuk para pejalan kaki. Tumbuhan teratai dan lotus juga menghiasi danau yang airnya ikut menghijau oleh dedaunan.
Alam adalah tempat terbaik untuk penyembuhan. Energi alami yang akan menyapu segala keresahan di hati dan memberikan rasa tenang. Aku selalu ingin pergi ke tempat seperti ini, tanpa berkata-kata dan hanya perlahan-lahan menarik nafas dan menghembuskannya, segala penatku hilang. Jika begitu, aku yakin Jaemin sedang tidak baik-baik saja.
"Jihyun-ah, bukankah tempat ini begitu sejuk? Di langit yang cerah ini."
"Heueum, rasanya begitu menenangkan, merasakan angin pelan-pelan menyapa kulitku."
Dia hanya tersenyum dan aku kembali diam. Keheningan yang nyaman. Dia yang selalu hype bersama teman-temannya dan terus tersenyum dalam diam. Kini matanya hanya menatap jauh hamparan rumput-rumput yang tingginya lebih dari sepaha.
Aku menenggelamkan pikiranku dengan berhitung. Resah, seberapa lama ia akan berdiam diri disini. Apa yang harus ku lakukan. Aku tak punya apa pun untuk dikatakan.
"Jihyun-ah sepertinya hari makin gelap. Kita pulang."
Aku hanya tersenyum menyetujuinya dan meraih ajakan tangannya padaku.
"Sepertinya kamu ada sesuatu yang ingin diceritakan, perlu aku menunggu lebih lama?" Akhirnya aku bertanya padanya.
__ADS_1
"Engga, aku cuma ingin menghirup udara sejuk aja. Masalah hari ini, aku hanya ingin menghabiskan waktu berdua."
Aku mengangkat alis dan mengerutkan bibirku. Percaya tidak percaya dengan perkataannya. Sebenarnya aku masih tidak percaya dengan hubungan ini. Hubungan yang lebih dalam dari seorang teman. Aku benar-benar payah dalam berhubungan ternyata.
Dalam perjalanan, langit semakin menghitam dan jalan yang dilalui pun bukan jalanan kota. Terbilang cukup sepi. Aku tak biasa dengan keheningan seperti ini. Padahal sepanjang hari aku bersamanya, seharusnya aku sudah lebih nyaman bukan?
Aku ingin menanyakan hal-hal kepadanya. Yang mungkin menjadi misteri untuk kami berdua. Apakah aku harus bercanda tentang yang aku sukai? Atau tentang yang dia suka? Kenapa rasanya begitu lelah hanya dengan memikirkan hal seperti itu. Aku tak kuat menahan diri dan akhirnya ...
"Jaem, malam itu apakah kau baik-baik saja?" tanpa pikir panjang, aku mengutarakan apa yang paling mengganggu pikiranku.
Matanya terbelalak, tertegun dengan pertanyaan yang terlontar dari mulut yang selama setengah jam ini hanya diam. Ia mulai berpikir panjang sepertinya. Jawaban apa yang baiknya disampaikan kepadaku. Tapi dalam kalutnya aku melihat cahaya putih datang dari jalur berlawanan sedang tak karuan. Ia meleok-leok tak terkendali. Jaemin kaget mobil di depannya tertabrak Truk lalu memblokir mobil Jaemin dan Truk itu masih melaju ke arah kami sedang kami terkunci.
Aku melihat sekilas korban di mobil yang menghimpit kami. Ia adalah gadis dewasa yang menyetir seorang diri. Aku teriak memanggil gadis itu dan juga Jaemin yang sedang berusaha membenarkan jalur mobilnya dan membuka pintu mobil. Tapi mobilnya tak bergerak sedikit pun sampai akhirnya Truk itu menghantam kami kencang.
Suasana mendadak sunyi. Aku tak mendengar suara apa pun. Tubuhku lemah dan mendadak seperti lumpuh. Mobil kami sepertinya menabrak pembatas jalanan dengan keras. Aku berusaha melirik ke kanan kiri. Memeriksa wanita di seberang dan juga Jaemin tapi mataku semakin mengantuk dan tertutup sebelum aku berhasil melihatnya.
Dalam mimpiku aku melihat kejadian tabrakan itu berulang-ulang. Hanya sampai aku menutup mata, aku tak tahu kelanjutannya. Bagaimana keadaan Jaemin? Bagaimana dengan wanita dalam mobil itu? Dan apa yang salah dengan truk itu? Pertanyaan itu selalu timbul dalam mimpiku. Juga rasa penyesalan kembali memasuki hatiku. Andai saja aku tak mengiyakan rencana Jaemin untuk pergi? Atau tidak seharusnya kami tak memiliki hubungan itu atau bahkan seharusnya aku tak pernah bertemu dengannya. Mungkin kenangan Jaemin akan lebih bahagia.
Setelah lama menangis dalam mimpi. Akhirnya aku bangun dari tidur lamaku. Menurut adikku yang sengaja menjenguk di rumah sakit. Aku sudah tidur selama tiga hari. Baru kali ini aku pingsan, sebuah pengalaman baru untukku. Dan kenapa tidur nyenyakku harus diisi dengan tangisan. Sungguh tak adil.
"Jisoo-ya, bagaimana keadaan yang lain."
"Kakak mau dengerin langsung sekarang? Ga mau apa dulu gituh, abis kecelakaan juga," sewotnya.
"Truk yang nabrak Kakak remnya blong, Kak dan pengemudinya juga setengah mabok. Terus mobil yang satu, ada korban cewe tapi sekarang udah mendingan, sepertinya orang kaya soalnya pake kamar pribadi," dasar adikku tahu-tahu saja.
"Kak Jaemin yang bareng Kakak belum bangun si, tapi katanya udah baik-baik aja kok."
"Tahu ruangannya?"
"Kamar khusus cowok seberang lorong ini, maksudnya ya itu depan pintu," sambil menunjuk lurus ke pintu seberang.
"Ah, deket juga ya. Oh iya karena Kakak udah mendingan kamu balik sana."
"Yey, aku minta mamah ga usah kesini karena aku yang bakal jagain Kakak."
"Sekolah kamu?"
"Masih libur nunggu tanggal masuk, jadi senggang."
"Terus uang sakunya?"
"Ada dikasih, kok."
__ADS_1
Duh, biaya rumah sakit harus dibayar darimana ya? Masa harus minta ke mamah lagi. Aku benar-benar anak ga tau diri, ya.
"Kak, kata dokter, Kakak bisa pulang sore ini ternyata. Tadi Kak Yura udah lunasin biaya rumah sakit Kakak."
"Yuranya mana?"
"Lagi nengok yang diseberang."
Heum, tentu saja. Yura suka Jaemin pasti lebih dulu menengoknya dari pada aku. Kenapa aku selalu iri dengan hubungan orang lain. Maksudku aku selalu cemburu ketika sahabatku lebih dekat dengan orang lain. Dasar Shin Jihyun. Tak lama Yura datang membawa buah-buahan dan roti.
"Aku denger kamu udah baik-baik aja. Bisa pulang sore ini, jadi sekalian aku lunasin biaya rumah sakitnya. Tapi kalo masih ngerasa ga enak nanti aku bilang dokter biar bisa nginep lebih lama."
"Engga apa-apa kok, kita beres-beres sekarang. Lagian barang aku gak banyak. Oh iya, aku mau liat Jaemin bentar ya Yura sebelum pulang."
"Oke, sekarang aja sana, biar di sini aku sama Jisoo yang beresin."
Tanpa lama aku langsung pergi ke kamar Jaemin. Kirain bakal ada Jeno dan Haechan ternyata Yura datang sendiri. Aku menelisik tempat Jaemin tertidur, di lemari ada bunga yang masih segar menghiasi ruangan ini. Aku rasa ini berkat Yura. Tanpa disadari ada suara yang kudengar.
"Siapa?" suara tebalnya yang lemah berbicara.
"Aku Jihyun, emm pasien di kamar sebelah." jawaban aneh yang keluar dari mulutku.
"Ah, aku jaemin. Kamu kenapa disini? Dan kenapa aku disini?"
"Kurasa kamu kecelakaan. Em, aku cuma liat kamar pasien-pasien di sini. Oh iya boleh aku tanya, hanya pertanyaan random," apalagi nih Shin Jihyun, ada apa dengan kepala kamu. Mungkin Jaemin hanya berpikir aku orang aneh yang tak dikenalnya.
"Silakan saja." Bahkan dalam kondisi lupa ingatan saja dia masih baik.
"Bagaimana jika kamu dalam posisi dimana kamu memiliki kesempatan untuk kembali ke titik awal dari situasi yang berantakan? Apa kamu bakal milih kembali atau diem di tempat melanjuti kekacauan itu?"
"Kenapa ga milih menghadapi kekacauan itu?" Jihyun tertegun mendengar ucapan Jaemin.
"Tapi kamu dikasih kesempatan untuk mengawalinya lagi, kamu udah tau apa yang akan terjadi dan bisa mengulang lagi dengan lebih baik bukan?"
"Kalo game, mungkin aku akan memilih kalah dan main lagi. Tapi... kalo di dunia nyata, seharusnya kita harus tetap menghadapi situasu itu."
"Tapi ga ada pilihan itu, gak ada lanjut. Kamu hanya dikasih pilihan diam atau lari ke titik start."
"Daripada diam lebih baik lari ke titik start," tegas Jaemin tanpa tahu maksud dari pertanyaan Jihyun. Dengan begini, membantu Jihyun untuk perlahan-lahan membuat Jaemin menjauh darinya.
"Hmm, oke. Kalo gitu aku pamit. Kamu segera sembuh okay. Sekedar info aku bakalan pulang hari ini. Aku pamit."
Bagi Jaemin mungkin Jihyun hanya teman asing di rumah sakit saat itu. Tanpa tahu kebingungan-kebingungan yang lain menghantuiya setelah ini.
__ADS_1