Rumah Pohon

Rumah Pohon
Batal Liburan


__ADS_3

Mereka sudah siap di mobil. Kali ini, Jeno yang menyetir. Jihyun memilih duduk di depan karena takut Jaemin masih terpengaruh dengan traumanya.


Flash back on


Jaemin yang melangkah di samping Jihyun mendadak jongkok karena sakit kepalanya. Jihyun menghindar dan langsung memanggil Haechan dan Jeno yang ada di depannya. Ia tak ingin tangannya ditepis lagi.


Mereka berdua pun berbalik dan mulai memapah Jaemin ke parkiran ketika Jihyun menelisik arah pandang Jaemin. Ia menemukan sosok pria yang sedang bersama Yura. Mereka tengah mengobrol.


Sesampainya di parkiran Jeno langsung masuk ke tempat kemudi disusul Jihyun yang duduk di sampingnya.


"Lo gak di belakang?" heran Jeno.


Jihyun hanya tersenyum sedih, entahlah bagaimana Jeno mengartikannya.


Flashback off


"Yura lama juga ya ke toiletnya ..." bingung Haechan.


"Kita jadinya makan dulu apa langsung pulang nih?" tanya Jeno.


"Kalian lapar kan? Kita makan dulu. Gue udah gak papa, kok."


"Beneran lo? Muka pucet gituh!" serang Haechan.


"Beneran, ini gue lapar sebenernya."


"Alasan aja lo, biar kita pada makan. Yaudah deh kita makan."


Jihyun hanya diam, dia berpikir keras tentang apa yang terjadi kepada Jaemin. Semenjak kejadian itu, 13 tahun melihat Jaemin, ia tak pernah kesakitan seperti ini.


Tak lama pintu mobil pun terbuka, menampilkan wajah riang Yura yang mendadak sendu ketika melihat Jaemin.


"Jaemin sakit lagi?"


"Lagi? Emang, kapan dia sakit?" tanya Haechan.


"Tadi pas jalan sama kita dia juga mendadak roboh, ya kan Hyun?"


"Iyah," dengan senyum terpaksanya.


"Kayanya liburan kali ini batal dulu deh, tapi ... karena kita lapar boleh deh kita makan dulu," tawar Jihyun yang dibalas anggukkan oleh teman-temannya.


"Kalo gitu, liburan nanti gue ajak Ahyeon, deh!" senang Haechan.


"Terserah lo, bucin!" ejek Jeno.


Mereka pun melanjutkan perjalanannya ke restoran yang sering mereka kunjungi dekat rumah Jaemin. Jaemin orang paling kaya diantara mereka berlima, ia memiliki studio sendiri selama kuliah ini, bukan kos-kosan seperti temannya. Karena itu, selalu dijadikan basecamp oleh mereka, meski Jaemin sedang tak ada, dia orang paling sibuk soalnya.

__ADS_1


"Yup, kita udah nyampe, kalian turun duluan deh, gue pesen yang biasa, ya. Gue mau cari parkiran dulu," ucap Jeno


"Oke, lets go!" teriak Haechan.


Restoran sederhana dengan menu makanan rumahan yang sering dirindukan kebanyakan orang.


"Gue kimchiccigae, lo?"


"Gue gukbap," jawab Yura.


"Gue Bibimbap," ucap Jinyun.


"Gue ... sama kaya Jihyun," ucap Jaemin.


"Lo mau bibimbap? tumben. Oke. Permisi!"


Sang pelayan pun datang, membawa kertas catatan dan pulpen.


"1 Kimchiccigae, 2 gukbap, 2 bibimbap, dan 2 porsi samgyeopsal, Bi," minta Haechan. Jeno yang baru datang pun langsung duduk dan mendengarkan pesanannya. Memeriksa apakah yang ia inginkan dipesan oleh Haechan atau tidak, dan ternyata ya namanya sohib, ia tak mengecewakan.


Sang pelayan pergi setelah mencatatnya.


"Wah, ga kepikiran gue, lu bakal pesen samgyeopsal di siang hari," sewot Jeno. Haechan hanya memutar mata malas dengan sombongnya.


"Minum apa lo pada, gua ambilin."


"Okay, diterima," Haechan melengos pergi.


"Gue mau ke toilet dulu ya," izin Yura.


"Ikut, Ra," susul Jihyun.


"Dari tadi ke toilet mulu, dasar cewe," kekeh Jeno.


Mereka pun hanya menunggu makanannya hadir. Haechan yang mengambil minuman pun sudah bertengger di tempat duduknya. Sedangkan di toilet Jihyun mulai menanyakan apa yang ia ingin tahu pada Yura.


"Ra, tadi gue liat lo sama bapak-bapak di depan mall."


"Wah iyah? Itu Papa gue, maaf ya belum bisa ngajak kalian ketemu."


"Anak-anak yang lain ga pada liat si kayanya."


"Syukurlah, gue pernah cerita kan tentang Papa gue, nanti kalo gue siap, gue bakal cerita lebih jelas lagi,"


Jihyun hanya menyimpulkan bibirnya dan mengangguk.


Setelah mereka kembali, hanya ada suara tongteng alat makan dan gurauan mereka. Jaemin terlihat lebih baik dari sebelumnya. Mereka pun pulang dengan perut kenyang.

__ADS_1


"Barang belanjaan, kita titip di bagasi lo ya, kecuali makanan udah dirapihin ke atas tadi sama Yura dan Jihyun," pesan Haechan.


"Jaem, kita pulang ya, lo istirahat banyak-banyak, nanti kita bisa nentuin waktu buat liburan kita lagi," ucap Yura menenangkan.


Beberapa langkah mereka pergi, Jaemin menarik tangan Jihyun, berusaha menahannya tetap bersamanya.


"Kamu juga pulang?"


Jihyun yang kebingungan pun, hanya mengangguk.


"Bisa temani aku hari ini?" Jihyun tak memiliki alasan untuk menolaknya, dia pun tak bisa meminta Yura yang langsung pergi dengan taksinya barusan.


"Hem, oke. Tapi aku gak pandai rawat orang ya, jadi kalo ada apa-apa jangan nyalahin," ucap Jihyun yang hanya ditanggapi dengan kekehan tertahan.


Jaemin pura-pura sakit, bisa jadi. Sebenarnya tubuhnya hanya sedikit lemah dari biasanya. Ia pikir dirinya tak bisa istirahat jika sendirian dan hanya akan memikirkan hal-hal yang tidak-tidak. Maka dari itu ia mengajak Jihyun ke studionya.


"Oh iya, mulai kapan kamu magang?" tanya Jihyun yang sedang merapihkan belanja makanan yang tertinggal.


"Setelah semester ini berakhir. Mungkin setelah hari kelulusan."


Jihyun hanya mengangguk dan fokus merapikan barang kembali. Mata Jaemin hanya tertuju pada Jihyun, otaknya berputar keras apa yang harus mereka lakukan setelah ini.


"Wah, ada susu stroberi, setahuku kamu tidak menyukainya."


Jaemin tidak menyukainya tapi Jihyun suka, itulah alasannya. Ia selalu menyetok apa yang Jihyun sukai karena teman-teman mereka sering nongkrong di studio Jaemin.


"Ah, karena kalian sering main, aku belikan lumayan lagi diskon," Jaemin gagal merayunya.


Berbeda dengan Jihyun, ketika ia merapikan kulkas Jaemin, ia lebih banyak melihat makanan kesukaannya dibanding Jeno, Haechan, ataupun Yura. Ia merasa bodoh mengapa ia baru menyadarinya sekarang. Tapi kan Yura lebih sering merapikan kulkas Jaemin, apa dia menyadarinya juga? Semoga tidak.


Hari semakin sore, Jaemin sibuk di depan laptopnya sedari tadi. Jihyun sudah berusaha melarangnya, hasilnya nihil. Jaemin hanya bilang, "Aku harus segera menyelesaikannya agar liburan kita terjadi." Selalu begini.


Jihyun dan teman-teman selalu merasa paling jahat ketika kita ingin berkumpul, Jaemin harus bekerja dua kali lipat cepatnya agar bisa selesai dan memiliki waktu luang. Apalagi Jihyun yang merasa memiliki waktu luang paling banyak di antara mereka, ia tak enak hati.


"Jaem, udah hampir malem. Aku pulang ya, kamu jangan lupa istirahat," pamit Jihyun.


"Aku antar," ia langsung bersiap-siap.


"Engga perlu, please kamu masih banyak kerjaan kan, jadi kumohon jangan antar aku."


"Ini bisa aku tunda, kok."


"Aku mohon," pinta Jihyun dengan nada paksa.


Jaemin pun hanya menarik nafasnya kasar dan mengangguk, melihat pasrah sosok wanita itu keluar dari pintu studionya. Ia pu melangkah menuju jendela, melihat Jihyun yang berjalan santai menuju halte bus dibanding memanggil taksi.


"Dasar terlalu hemat," dengan senyum yang penuh kasih sayang. Tak lama ingatan hari ini berputar dalam pikirannya.

__ADS_1


"Besok aku harus ke psikolog," putus Jaemin.


__ADS_2