
To. Kakak Tingkat Mark
Kak Mark, tolong minta izin ke dosen yang mengajar kelas hari ini untukku ya? Aku sudah izin secara pribadi, hanya saja ketika presensi takutnya terlupakan. Tengkyu sebelumnya.
Baru saja Jaemin mengirim pesan ini pada Kakak tingkatnya. Tanpa diduga dia tak memberitahu gengnya kalo dia bolos kuliah hari ini. Bukan kenapa, tapi ini memang masalah pribadi yang menurutnya belum bisa dia kasih tahu pada sahabatnya, bahkan Jihyun.
Ia meraih tas pinggangnya dan langsung melangkah pergi meninggalkan studionya. Padahal janji konsultasinya dengan psikiaterĀ berlansung dua jam lagi. Dan kemungkinan tak akan menghabiskan waktu lama. Tapi dia lebih memilih bolos seharian daripada menyempatkan waktu untuk hadir di kelas yang terbilang keburu jika dikejar. Entahlah.
Langkah kaki Jaemin lebih santai tapi dalam pikirannya penuh dengan kecurigaan tentang dirinya sendiri. Apakah ada masalah pada psikologinya, apa dia punya penyakit jiwa? Apa dan apa. Sampai di sebuah klinik psikiatri terkenal dan terpercaya rekomendasi ibunya.
Jaemin tak bilang dia yang membutuhkan psikiater pada ibunya. Alibinya ia memiliki teman yang sedang depresi karena tugas akhir dan sepertinya butuh tanganan ahli. Tentu saja ibunya merasa lega, karena itu bukan untuk anaknya. Bagaimanapun ia harus membantu mencarikan psikiater terpecaya.
Ia membuka pintu klinik yang terkesan modern minimalis itu. Tidak terlalu banyak barang tapi tidak terkesan kosong. Ada perasaan tenang dan kesejukan karena tanaman-tanaman yang menghiasi setiap sudut ruangan.
"Na Jaemin, silakan masuk ke ruang Dokter Shin."
Tak lama ia pun masuk setelah mengetuk pintu tiga kali. Ruangan yang cukup luas dan rapi. Ia diarahkan untuk duduk di kursi terapi. Tanpa banyak pertanyaan Jaemin hanya mengikutinya.
Dokter pria itu tersenyum manis dan ramah. Ia memulai percakapannya dengan perkenalan ringan tanpa membebani.
"Sudah merasa nyaman untuk bercerita?" tanya dokter yang duduk mendekat di hadapan Jaemin.
Jaemin menceritakan semua yang terjadi kemarin. Tanpa rasa malu karena sesama orang yang berkecimpung di bidang keahlian kesehatan.
"Apa ada kejadian di masa lampau yang meninggalkan luka kepada Nak Jaemin?"
__ADS_1
Jaemin akui dia samar-samar mengingat masa kecilnya. Ia bercerita pernah mengalami kasus pelecehan saat kecil tapi dia merasa sudah bisa mengatasinya.
Pak Dokter yang dipanggil Mr. Shin ini bernama lengkap Shin Hyun Joong. Mr Shin terus bertanya berusaha mengungkap rahasia kesadaran Jaemin.
"Mungkin saja ada potongan ingatan yang bersembunyi Nak Jaemin."
Mendengar ucapan Mr. Shin, Jaemin malah bergelut dengan pikirannya, kira-kira kenangan apa yang ia lupakan?
"Kalo begitu apa yang harus saya lakukan, Mr. Shin?"
"Metode yang sering digunakan adalah hipnosis. Dari hipnosis ini saya akan berusaha membantu Nak Jaemin untuk menelusuri alam bawah sadar Nak Jaemin. Ini juga butuh kesiapan Nak Jaemin untuk melihatnya."
Penjelasan yang cukup panjang dan dapat dimengerti olehnya. Apakah dia siap mengetahui alasan dirinya seperti kemarin.
"Dokter Shin, saya ingin melakukannya," tegas Jaemin.
Dokter Shin yang mendengarnya tersenyum simpul. Ia melihat tekad kuat Jaemin untuk sembuh. Tapi dia juga tahu kalo ini pertama kalinya Jaemin melakukan sesi konsultasi seperti ini, biasanya tak semudah itu untuk membongkar rahasia dalam diri manusia.
Bisa dikatakan setelah proses hipnosis sejauh ini, Jaemin masih menyisir pintu di lorong ingatannya. Ia belum menemukan pintu yang menjadi tujuan utamanya. Sebagai pemanasan, beberapa pintu ia buka. Ia bisa melihat kenangannya saat kecil. Saat ia satu kelas dengan Jihyun di kelas 3 SD sebelum pindah rumah.
Flashback on
Sekolah SD bernama SD TULIP itu memiliki bangunan yang sederhana tapi rapi dan dihiasi gambar anak-anak. Selama tiga tahun SD, ini pertama kalinya Jaemin satu kelas dengan Jihyun. Saat itu, anak-anak yang berbeda kelas jarang mengetahui satu sama lain. Karena jumlah siswa di kelas A tempat Jihyun berada berkurang tahun itu, dan di kelas B malah bertambah, terpaksa dua siswa dari kelas B harus dipindahkan. Jaemin bersama teman kecilnya Jihoon pindah ke kelas B dengan sukarela, dua anak ini meski pecicilan tapi termasuk anak penurut dan penuh pengertian.
Jihyun termasuk anak yang motivasi belajarnya tinggi. Tapi cara dia bermain dengan anak lain terlalu sulit dan pemalu. Kadang ada anak-anak cowo yang sengaja jail padanya, mungkin karena suka, tapi melihat balasan dan tanggapan Jihyun yang seolah tak mempedulikannya membuat beberapa anak cowo itu patah semangat. Dasar cinta monyet. Saat itu juara kelas masih menjadi prioritas utama seorang Shin Jihyun tentunya.
__ADS_1
Na Jaemin salah satu dari cowo-cowo itu. Jika harus diakui Shin Jihyun bukanlah anak yang cantik, wajahnya juga ga jelek, tapi beberapa anak merasa gemas dengan pipinya yang tembem saat itu, termasuk Na Jaemin. akan tetapi, bukan di hari pertama masuk kelas A dia jatuh hati pada Jihyun.
Hanya siklus keseharian anak SD seperti biasa, Piket Kebersihan. Hari Kamis adalah jadwal piket Jihyun dan Jaemin. Entah karena rajin atau apa, Jihyun selalu datang paling awal dan berusaha mengatasi piket yang harus dilakukan 5 orang, sendirian. Pagi-pagi dia sudah memberesken kursi dan menyapu lantai bahkan sebelum teman-temannya datang. Memang sistem piket di sekolah SD Tulip dilaksanakan di pagi hari. Jadi ketika anak-anak piket, yang lain harus berdiam diri di luar sebelum bel bunyi.
Jaemin juga terbilang anak yang datang cukup awal. Ia selalu melihat Jihyun sudah menyelesaikan separuh tugas piket, sisanya hanya yang mudah-mudah dikerjakan saja untuk anggota piket lainnya. Awalnya dia hanya kagum, entah beberapa kali ada kesempatan mereka berdua sedikit mengobrol. Meski singkat, Jaemin merasa nyaman. Padahal Jihyun tidak banyak berbicara dengannya.
Saat pagi hari Jaemin, hanya ada Jihyun di matanya. Seiring berjalannya waktu, ia pun selalu sengaja meminta dijemput sedikit telat oleh ayahnya karena ingin melihat Jihyun pulang meski sampai gerbang sekolah saja. Memang masa anak-anak itu selalu memiliki keunikan dan kehangatannya tersendiri.
Mungkin sejak saat itu perasaannya terhadap Jihyun mengakar sampai sekarang.
Flashback off
Jaemin merasa puas dengan kenangan masa kecilnya itu. Tanpa tahu pintu selanjutnyalah yang akan memberikannya kejutan.
Pintu kali ini berbeda, ia memiliki warna kelam. Hitam sedikit keabu-abuan. Tapi pintu itu terkunci rapat, seperti tak boleh dibuka oleh pemiliknya. Jaemin mengerahkan seluruh usahanya berkeliaran di lorong kenangan itu mencari kunci pintu suram itu. Hasilnya nihil, ia lelah dan merasa hilang kendali. Sampai akhirnya ia bangun dari alam bawah sadarnya.
Melihat wajah pucat Jaemin karena lelah, Dokter Shin mengetahui jauh dalam diri Jaemin, dia ragu.
"Tenang, Nak Jaemin. Pertemuan selanjutnya kembali kita coba. Saya harap Nak Jaemin tetap menjalani hari-hari Nak Jaemin dengan hati yang tenang. Jangan terlalu dipikirkan."
Jaemin hanya tersenyum sedikit dan meminta maaf karena dia tak bisa melakukannya saat ini.
Jaemin melenggang keluar klinik Mr. Shin dengan langkah berat. Ia masih merasa tenaganya terkuras habis karena proses pencarian kunci itu. Tapi hari ini, dia hanya membawa seperempat jawaban dari masalahnya. Karena ini, ia tak hentinya membuang napas kasar sepanjang jalan.
Setelah sekian lama, kenapa dampak dari peristiwa itu terjadi sekarang?
__ADS_1