
"Gila. Cape banget hari ini astagaaaa," keluh Saga. Seorang mahasiswa yang baru menginjak semester empat. Yang sedang sibuk dengan puluhan tugas yang menumpuk. Yang sudah sangat berharap akan hari libur atau apapun yang bisa menghalanginya untuk kuliah. Ia benar benar sangat lelah.
Sambil berjalan menuju halte, ia mengotak atik kamera yang dari tadi ia pegang. Kadang ia mengambil foto foto dari jalanan yang dipenuhi kendaraan yang berlalu lalang. Hobinya pada fotografi adalah satu satunya hal yang bisa membuatnya lebih tenang. Melihat foto foto pemandangan indah sangat cukup untuk membuat pikirannya yang sedang kalut itu lebih menenang.
Saat menengok kesebelah kanan, tepat diseberang jalan, disebuah lapangan yang luas, ada sebuah pasar malam dengan bianglala yang berputar yang memancarkan lampu berwarna warni. Juga sebuah komedi putar yang dinaiki oleh orang orang berwajah senang.
"Pas. Gue ambil foto dulu lah," ucap Saga sambil mengangguk.
Ia menyebrang jalan dan masuk kedalam pasar malam itu. Ia mengambil beberapa foto yang cukup menarik. Lalu kameranya terfokus pada sebuah tenda. Tenda berwarna merah gelap dengan papan yang bertuliskan "Cari Tahu Masa Depanmu."
Usa memotretnya, saga berjalan mendekat kearah tenda itu, "Zaman sekarang masih ada peramal? Heh," Saga terkekeh. Sebagai seseorang dengan prestasi baik semasa sekolah, ia tidak percaya pada sesuatu yang tidak masuk akal. Apalagi ramalan semacam zodiak, atau garis tangan. Baginya itu hanya bualan.
Tapi entah kenapa, tenda itu begitu menarik perhatiannya. Ia seperti tertarik untuk masuk kedalam sana.
"Yaudahlah. Hiburan doang. Seru kali diramal gitu," Bisiknya pelan.
Saat masuk kedalam tenda itu, ia menahan tawa. Ia melihat seorang perempuan dengan penampilan yang sangat nyentrik. Pakaian yang warna warni seperti seluruh warna cat ada dalam bajunya.
"Fiks. Ini peramal bodong," tukasnya pelan.
Ia duduk didepan peramal itu sambil mencoba menahan tawa.
"Mau diramal apa? Karir? Jodoh? Kematian?" Tanya sang peramal dengan suara berat.
Buset. Serem banget.
"Jodoh. Soalnya saya udah jomblo bertahun tahun nih. Kira kira kapan ya saya ketemu sama jodoh saya? Dan siapa jodoh saya itu?" Tanya Saga sedikit bercanda.
Tanpa basa basi, sang peramal menjawab dengan lugas, "Besok. Didepan gerbang. Perempuan kesepuluh yang kamu temui. Dia adalah jodohmu."
"Hah? Gitu doang?"
"Simpan uangnya dalam kotak. Terima kasih sudah datang," ujar peramal itu.
Saga berjalan keluar. Ia menyesal telah masuk kesana. Peramal itu hanya meramal beberapa detik. Tapi ia minta bayaran yang membuat Saga kaget. Tapi ia jadi berpikir. Apakah benar ia akan bertemu jodohnya besok?
Ya. Gue buktikan aja besok. Siapa tahu jodoh kan?
***
Esoknya, Saga benar benar menunggu didepan gerbang. Meskipun percaya pada sebuah ramalan itu konyol, tapi ia tetap penasaran, siapa wanita yang diramalkan itu. Ramalan itu berhasil membuatnya terhipnotis. Ia sangat tidak sabar menunggu wanita yang berlalu lalang.
"Apaan sih, Ga? Lo percaya sama ramalan murahan kayak gitu? Udahlah kekelas aja!" tukas Saga pada dirinya sendiri. "Eh gak apa apa lah. Liat doang. Abis itu kekelas."
Lagi lagi rasa penasarannya berhasil menguasainya. Entahlah. Ramalanitu terus terngiang dikepalanya.
"Wanita kesepuluh. Wanita kesepuluh. Nah itu udah ada cewek pertama masuk!" ujarnya.
"Satu...."
"Dua.... tiga....."
"Empat...."
__ADS_1
"Lima......"
"Enam..... tujuh...... delapan......"
"Sembilan......" dihitungan kesembilan, Saga membalikkan tubuhnya, ia membelakangi gerbang agar makin terasa kejutannya.
Lalu seorang perempuan melewatinya, hanya bagian belakang tubuh perempuan itu yang terlihat.
"Sepuluh.... nah. Itu dia," ucap saga yakin. Ia berlari kearah wanita itu sambil memanggilnya berulang kali.
"Hey! Kamu! Yang pake baju biru! Berhenti dulu!" teriak saga pada wanita itu. Wanita dengan kaos biru polos, celana jeans robek, dan sebuah tas hitam yang diselempangkan.
Wanita itu berbalik dan menjawab panggilan Saga. Mata saga menyipit dan dahinya mengernyit. Pun dengan wanita itu, ia sama kagetnya dengan apa yang ia lihat.
"Elo! Kok lo sih?! Mana mungkin?" tanya Saga.
"Dih apaan sih?! Manusia aneh! Lo yang manggil gue duluan hey! Ngapain lo manggil manggil gue?"
Kok malah dia sih. Dia? Cewek jadi jadian ini? Musuh abadi gue? Astaga... mana mungkin dia jodoh gue. Peramal gadungan emang. Hahaha. Batin Saga sambil menggelengkan kepala dan tertawa kecil.
"Woy! Malah ngelamun! Udahlah gue mau kekelas. Lo ganggu tahu gak!" hardik wanita itu.
"Yaudah. Pergi sana yang jauh! Ke planet merkurius sekalian. Biar lo gak pernah muncul bahkan disudut mata gue sekalipun," tukas Saga.
"Hhhhhhh," wanita itu mendengus kesal. Ia berjalan gontai menuju kelas.
Yasya. Perempuan pandai yang bisa dibilang merupakan musuh bebuyutan Saga sejak SMP. Itulah yang membuat Saga kaget. Mana mungkin musuh abadinya itu akan menjadi jodohnya kelak? Ramalan bodoh mana yang bisa ia percayai jika Yasya benar benar jodohnya? Saga dan Yasya itu seperti bumi dan meteor yang jika keduanya bertemu, mereka akan hancur satu sama lain.
***
"Dit, gue kemarin diramal."
"Wait. Lo? Diramal? Serius orang se logis lo mau diramal?" tanya Adit bertubi tubi.
"Denger dulu bangke! Jadi kemarin gue iseng minta diramal jodoh gue. Dan ya, siperamal bilang jodoh gue itu cewek kesepuluh yang gue temui didepan gerbang."
"Buset! Detail amat. Terus?!"
"Terus. Cewek yang dibilang siperamal itu si Yasya. Gila gak tuh!"
"Yasya anak sastra itu?"
"Iya. Yang sifatnya kayak tukang cendol ditawar! Marah maraaaah mulu!"
"Eh siapa tahu ramalan lo itu bener, Ga. Kan kata orang orang dulu gitu. Benci itu bisa jadi cinta."
"Gue itu, levelnya udah bukan benci lagi. Ibaratnya nih, kalau sama orang tua tuh levelnya udah diatas durhaka!"
"Buset serem amat. Emang si Yasya itu senyebelin itu ya? Kalau diliat dia kayak cewek biasa ah. Cantik juga."
"Yah diliat doang mah emang gitu kayak kucing. Pas dideketin kayak macan kesurupan."
"Ck ada ada aja," ujar Adit sambil menggelengkan kepala.
__ADS_1
***
Saga melenggang menuju kantin, ia berjalan masuk dan mendekati penjual bakso. Saat sampai disana dan mengantri, seorang wanita yang sudah memesan berbalik dan menabraknya.
"Aduh! Panas!" Saga meronta kepanasan sambil memegang dan mengibas ngibas bajuya yang basah.
"Sorry! Sorry!" Wanita itu menyimpan mangkok yang sedang dipegangnya dan mengambil tisu dari tasnya. Ia mengelap baju Saga yang tersiram kuah bakso itu. Saat saga menatap kebawah, tepat kearah wajah wanita itu, wajahnya berubah kesal. itu Yasya.
"Astaga, lo!" tukas Saga. Yasya balas menatapnya.
"Elo?!"
"Lo itu bisa gak sih jadi manusia normal aja? Kalau jalan itu liat liat! Baju gue jadi basah gini!"
"Lo juga berdiri disana! Jadi ketabrak kan?! Udahlah gue mau makan!" Yasya berjalan gontai menuju meja dengantangan yang memegang mangkuk bakso.
"Mau kemana?!" Saga menarik tangan Yasya.
"Apaan lagi sih?!"
"Tanggung jawab dulu! Liat baju gue basah!"
"Ketumpahan segitu doang! Nih lap pake tisu!" Yasya mengambil tisu dan melemparnya pada Saga lalu ia kembali berjalan menuju meja dan mulai makan.
"Hhhhhh. Cewek sialan!" hardik Saga kesal.
***
"Gak ada bangku kosong!" ucap Saga saat ia duduk didepan Yasya.
"Serah!" Yasya fokus menatap dan memainkan HP nya. Meski kesal, Saga harus menerima perlakuan Yasya. Karena sudah tidak ada meja yang tersisa. Mana mungkin ia duduk dilantai?
Sambil memakan bakso, saga sesekali menatap Yasya dengan tatapan sinis. Meski sudah selesai, Yasya tidak juga pergi dari sana. Saga pun makan dengan cepat agar bisa segera pergi dari sana. Tapi sial, ia tersedak.
"Uhuk.... uhuk...." tanpa basa basi, saga langsung menyambar minuman yang ada didepannya yaitu minuman Yasya.
Sudah bisa ditebak. Yasya marah akan hal itu. Wajahnya berubah kesal. Yasya menatap minuman yang disedot habis oleh Saga.
"Itu minuman...... hhhhhh!!!" dengusnya kesal.
"Gue ganti!"
"Yaudah! Sana pesen! Jus mangga yang sama!"
"Iya.... sabar ah! Minuman doang!"
Saat saga memesan jus mangga, ia kehabisan. Ia kembali kearah Yasya, "Jus mangga abis!"
"Tuh kan! Lo sih pake abisin minuman gue!"
"Yaudah sih. Kan ada minuman lain!"
"Gue maunya jus mangga!"
__ADS_1
"Ck repot! Udahlah nih uangnya! Lo beli jus mangga kemanapun lo mau!" Saga menaruh uang diatas meja dan berlalu pergi.