
Yasya duduk di perpustakaan sambil membaca buku yang ia beli bersama Saga. Novel yang kali ini ialah novel romantis tentang seseorang yang berusaha mendekati sahabatnya sendiri. Kadang rayuan rayuan dari si tokoh laki laki membuat Yasya tersenyum meski rayuan itu bukan ditujukan untuknya.
Ditengah ketenangannya membaca, laki laki paling menyebalkan dikehidupan Yasya itu datang dan langsung duduk dihadapannya. Duduk, menadah dagu dan menatapnya sambil memberi senyuman menjengkelkan. Yasya tak peduli. Ia hanya fokus membaca.
Syukurlah saat ini Yasya di perpustakaan. Jadi ia yakin Saga tidak akan banyak bicara. Karena sudah jelas bahwa di perpustakaan tidak boleh berisik.
"Sya, gimana kalau...." bisik Saga.
"Di perpus gak boleh berisik!" jawab Yasya memotong ucapan Saga yang tidak sempat rampung.
Saga tidak kehabisan cara. Ia mengeluarkan secarik kertas dan pulpen. Lalu ia menulis sesuatu disana.
"Sya, gimana kalau kita baikan aja? Jadi temen baik gitu...," tulis Saga di kertas itu. Lalu ia berikan kertas itu pada Yasya yang sedang fokus membaca.
Yasya mengambil kertas yang ada dihadapannya, membacanya, dan meremasnya dengan sangat kuat. Lagi lagi Saga tidak menyerah. Ia mengambil buku yang sedang dibaca oleh Yasya. Membuat Yasya memunculkan wajah kesalnya. Setelah itu ia tarik tangan kanan Yasya dan mulai menulis ditelapak tangannya.
"Mulai hari ini, Saga dan Yasya berbaikan. Yasya gak akan marah dan nyuruh Saga buat pergi lagi." Yasya tak bisa protes saat Saga menulis ditelapak tangannya. Sebenarnya ia ingin sekali memukul orang dihadapannya itu. Tapi ini perpus. Tidak mungkin ia membuat kegaduhan disini.
Setelah Saga menulis itu, Yasya makin kesal. Amarahnya memuncak. Ia menarik tangan Saga agar mereka segera keluar dari sana. Bukannya takut atau merasa bersalah, Saga malah merasa senang karena akhirnya ia bisa mengobrol dengan Yasya meski ia yakin Yasya akan memarahinya.
Setelah keluar dari perpustakaan dan berjalan jauh dari sana, Yasya memberhentikan langkahnya dan langsung meluapkan amarahnya.
"Ga! Udah deh, kalau lo masih mau membuktikan ramalan itu, jawabannya 'gak mungkin!!' Kita itu gak akan pernah berjodoh, Ga!"
"Gue cuma mau jadi teman baik lo. Udah cukup!"
"Dengerin sekali lagi. Kita gak akan pernah berjodoh. Entah itu dalam CINTA, PERTEMANAN, BAHKAN DALAM OBROLAN YANG KITA LAKUIN SEKARANG!! Kita gak mungkin dan gak akan pernah cocok! Jadi pergi Ga! Pergi!!"
"Gak!"
"Lo tuh gak bisa dibilangin ya! Disuruh pergi dari kehidupan gue malah terus aja dateng dan ngeganggu!" Yasya menegaskan kalimatnya dan berjalan pergi kearah berlawanan. Tapi Saga memegang dan menarik tangannya. Membuat wajahnya begitu dekat dengan Saga.
"Gue gak mau pergi, sekeras apapun lo memaksa. Karena gue tahu, lo butuh orang lain buat nemenin lo," bisik Saga.
__ADS_1
"Gue emang butuh orang lain, tapi itu bukan lo!!" tegas Yasya tak mau kalah. Ia berusaha melepaskan cengkeraman tangan Saga, tapi Saga memegang tangannya dengan kuat.
"Siapa kalau gitu?" tanya Saga menantang.
"Ya ada lah. Yang jelas bukan lo!" jelas Yasya sambil menunduk memalingkan wajahnya.
"Lo gak bisa kasih tahu kan? Karena emang gak ada."
"Ada!"
"Siapa?"
"Pacar gue! Udah deh lo. Gak usah deket deket sama gue lagi, nanti pacar gue cemburu!" ujar Yasya berbohong. Bagaimanapun, ia harus mencari alasan agar Saga segera pergi dari hidupnya.
Dengan senang hati, Saga melepaskan tangan Yasya. Yasya segera berlalu pergi tapi Saga masih mengikutinya dibelakang. Beberapa kali Yasya berhenti, Saga juga ikut berhenti. Saat Yasya menengok ke belakang, Saga hanya berpura pura menatap sekeliling atau membetulkan tali sepatunya. Yasya kembali berjalan, Saga pun mengikutinya. Tapi kali ini, Yasya sudah tidak tahan lagi.
"Gue bilang jangan deket deket lagi sama gue!" tegas Yasya.
"Enggak. Ini jauh kok. Mmmm dua meter lah kira kira."
"Selamat pagi semuanya... itu yang duduk dibawah siapa?" tanya Dosen itu saat melihat Saga yang sedang duduk disamping Yasya.
"Saya temennya Yasya pak. Ini yang disebelah saya. Hehehe."
"Kalau tidak berkepentingan, silakan keluar! Jangan pacaran disini!"
"Eh enggak pak, saya sama Yasya cuma..."
"Kamu dan kamu juga Yasya, keluar dari kelas saya!"
"Tapi pak, saya kan..." sanggah Yasya berusaha membela dirinya karena ia memang tidak melakukan apa apa.
"Keluar!" tegas dosen itu lagi.
__ADS_1
Dengan terpaksa, Yasya mengaitkan tasnya keatas pundak dan membawa buku yang ada diatas mejanya. Ia berjalan keluar dari sana. Saga mengikutinya dari belakang. Sampai menuju ke arah gerbang, Saga tetap berada dibelakang Yasya. Tapi kali ini Yasya tidak diam. Amarahnya benar benar sudah berada dipuncak dan ingin segera dikeluarkan. Yasya memberhentikan langkahnya dan mulai berbalik ke arah Saga yang sedang berada dibelakangnya.
Yasya berjalan mendekati Saga dengan tatapan tajam. Kali ini amarahnya sudah benar benar meluap dan tidak bisa ditahan. Setelah berada tepat dihadapan Saga, ia menatap mata Saga dengan ekspresi marah sebelum kemudian ia mencaci maki Saga disana.
"Lo... lo kenapa gak bisa ngebiarin gue sehari aja ngerasa tenang. Dasar cowok aneh! Gak tahu malu! Sialan!! Pengganggu! Sok baik! Brengs*k!! Semenjak ada lo dikehidupan gue, hidup gue jadi ancur! Jadi sekarang... mending lo pergi! Pergi! Pergiiiii!!! Jangan pernah ganggu dan muncul lagi dikehidupan gue!!" hardik Yasya dilanjutkan dengan memukul mukul Saga dengan buku yang dipegangnya. Ia benar benar marah saat ini. Mungkin ini satu satunya cara agar Saga pergi dari hidupnya.
"Sya, tapi gue cuma..." jelas Saga sambil melindungi dirinya dari pukulan Yasya.
"Gak usah jelasin! Gue gak butuh penjelasan lo! Pergi sekarang juga, jangan muncul didepan gue lagi. Kalau lo gak mau, biar gue yang pergi dari hidup lo!" tegas Yasya dengan napas terengah. Air matanya keluar, menetes melewati pipinya. Yasya langsing berbalik dan berjalan pergi.
Kali ini Saga hanya diam dan melihat perempuan rapuh itu berjalan menjauh. Ia tidak tahu lagi harus dengan cara apa agar ia bisa diterima dengan baik dalam kehidupan Yasya. Sepertinya ia akan memutuskan untuk berhenti sejenak. Yasya benar benar marah padanya kali ini. Ia tak pernah melihat Yasya sebegitu marahnya. Mungkin kali ini Yasya serius ketika memintanya untuk tidak datang lagi dslam kehidupannya.
***
Sambul mencoba menyeka air matanya, Yasya berjalan cepat bergegas pulang menuju rumahnya. Kali ini ia benar benar perlu mengistirahatkan pikirannya. Sepanjang perjalanan, Yasya berpikir sambil menatap kearah jendela bus. Apakah ia terlalu berlebihan pada Saga? Apa apa yang ia ucapkan membuat Saga sakit?
Gak. Cuma ini satu satunya cara agar dia pergi dari hidup gue. Batin Yasya.
***
Baru juga ia sampai didepan rumahnya, ia melihat seorang tukang ojek sedang mengetuk pintu rumahnya.
"Cari siapa ya pak?"
"Oh ini mba... saya disuruh nganterin ini," ucap si bapak sambil menunjukan sebuah amplop.
"Sama siapa?"
"Katanya mba disuruh langsung baca aja."
"Oh iya kalau gitu. Makasih ya pak..."
"Iya mba..."
__ADS_1
Yasya segera berjalan masuk sambil memegang amplop yang sepertinya diberikan lagi oleh seseorang yang sama dengan pemberi surat dihari hari kemarin. Sambio berjalan masuk ia tersenyum dan mengira ngira apa yang ada didalamnya. Apa mungkin isinya adalah sebuah puisi yang indah? Atau mungkin kejutan yang tidak pernah ia duga sebelumnya?