
"Gue gak akan langsung pulang. Mau ketemu ibu dulu," jelas Yasya pada Saga yang sedang berdiri dihadapannya didalam bus.
"Hmmm? Ya udah. Hati hati."
"Lo mau ikut gak?" tanya Yasya lembut.
Mata Saga terbelalak. Tidak pernah ia melihat Yasya bersikap seperti sekarang ini. Ia masih saja menatap kosong. Membuat Yasya kesal dibuatnya.
"Woy! Mau gak?!" tanya Yasya lebih keras.
"Kalau lo ngebolehin sih... ayo!" jawab Saga dilanjutkan dengan tersenyum manis.
***
Mereka pun berangkat bersama menuju RSJ tempat ibu Yasya dirawat. Saga merasa senang bukan main. Sepertinya, Yasya mulai mau menerimanya. Tapi ia masih saja takut kalau kalau Yasya tiba tiba marah. Kali ini ia tetap akan menepati janjinya untuk tidak mengganggu hidup Yasya lagi. Karena itu yang Yasya mau.
"Bu... Yasya kesini cuma mau bilang sesuatu sama ibu kalau Yasya sekarang kerja di tempat lain. Gak di kafe lagi. Oh iya. Yang bikin Yasya kerja disana juga temen Yasya. Namanya Saga. Dia juha pernah dateng ke sini waktu itu," tutur Yasya tanpa henti meski ibunya hanya menatap kosong.
"Halo tante... saya Saga. Semoga tante gak bosen ketemu sama saya. Hehehe. Kata Yasya saya suka bikin kesel. Padahal kan saya cuma mau bantuin dia aja. Eh iya tante. Saya juga...." belum sempat Saga menyelesaikan ucapannya, ibu Yasya langsung menatapnya dan memegang wajahnya dengan lembut.
Yasya dan Saga pun merasa kaget dengan reaksi ibu Yasya. Saga hanya tersenyum, memegang tangan ibu Yasya dan mengusapnya dengan lembut. Yasya pun ikut tersenyum melihat pemandangan dihadapannya itu. Hatinya terasa hangat. Ia senang karena ibunya semakin membaik.
"Sya, boleh gak kalau aku fotoin kamu sama ibu kamu," jelas Saga. Yasya hanya menatapnya dengan alis terangkat. "Eh gue maksudnya. Maaf," ucap Saga setelah sadar bahwa ia baru saja mengatakan sesuatu yang tidak disukai Yasya yaitu panggilan aku kamu.
"Iya. Boleh," jawab Yasya dengan senang hati mengiyakan permintaan Saga.
Saga pun mengeluarkan kamera dari dalam tasnya dan mulai memotret Yasya. Meminta Yasya memeluk ibunya, meminta Yasya tersenyum, meminta ibunya menatap kearah kamera, Saga memotret mereka berdua dengan rasa senang dalam hatinya. Hatinya terasa hangat. Baru kali ini ia melihat pemandangan seperti ini dalam hidupnya.
***
"Maaf ya Ga. Karena gue lo jadi ninggalin kerjaan lo. Dan makasih juga karena udah bantu gue buat dapet kerja."
"Iya. Gak apa apa. Gak kerja sekali gak akan gimana gimana. Hehehe."
"Lo itu jangan terlalu baik sama orang. Nanti bisa dimanfaatin."
"Gue kayak gini cuma sama lo doang!" ucap Saga yang langsung membuat Yasya diam.
Tapi ia tetap mencoba membalas ucapan Saga, "loh kok gitu?!"
"Ya karena cuma lo doang yang gak akan manfaatin gue."
"Dih yakin banget. Gimana kalau nanti gue manfaatin lo?!"
"Gak mungkin! Selama ini aja lo nolak gue buat bantuin lo. Sekarang aja gak tahu ada angin apa tiba tiba lo jadi aneh."
"Aneh?! Ng.... nggak. Gue biasa aja! Udahlah mending lo gak usah ngomong lagi!"
"Lah. Kan dari tadi lo yang ngajak gue ngobrol. Gimana sih?!"
"I... iya itu tadi. Sekarang udah. Gak usah ngomong lagi!!" Yasya berjalan menjauh mendahului Saga menuju halte.
Saga hanya menggaruk kepala dan berlari mengejar Yasya dalam kebingungan karena sikap Yasya yang jadi aneh.
__ADS_1
***
Penantian mereka tak juga berakhir. Tak ada bus yang datang. Saga sudah beberapa kali berganti posisi. Berdiri, berjalan bolak balik hingga tiduran sudah ia lakukan.
"Aduh ini lama banget sih!!" tukas Saga kesal sambil mengayun ayunkan kakinya saat tertidur terlentang. Ia lalu menatap kearah Yasya yang tepat berada diatas kepalanya. Yasya hanya duduk dan memainkan HP nya.
"Sya..." sapa Saga. "Eh iya lupa. Gue gak boleh ngomong," ucap Saga kemudian.
"Mau ngomong apa emang?"
"Gue mau tanya. Kalau Tuhan mengabulkan permintaan lo sekarang juga, lo mau minta apa?"
"Bener. Mending lo diem aja."
"Jawab dulu atuh Sya..."
"Mmmm. Mau minta... biar ibu sembuh," jelas Yasya dengan tatapan lurus kedepan.
"Oh kalau gue...."
"Gue gak nanya."
"Bodo! Kalau gue... gue mau minta supaya Tuhan mengabulkan sepuluh permintaan gue. Hehehe," jelas Saga sambil terkekeh.
"Serakah."
"Bukan serakah. Itu cerdas namanya!"
"Itu gak bersyukur!"
"Enggak."
"Di permintaan gue yang pertama, gue mau minta agar hidup gue baik baik aja. Dan di sembilan permintaan yang lain, gue mau minta agar hidup lo baik baik aja. Eh enggak deng. Buat lo delapan aja. Soalnya ada satu lagi yang mau gue minta. Gue mau minta agar hubungan kita membaik," tutur Saga sambil menatap keatas, tepat kearah wajah Yasya.
Yasya balas menatap wajah Saga. Tapi seketika ia memukul wajahnya, "ngawur!! Udahlah! Gue pesen ojek online aja kali ya."
"Kenapa gak dari tadi?!"
"Ya soalnya gue..."
"Mau bareng gue kan... ngaku deh lo!"
"Enggak. Soalnya gue gak punya aplikasinya. Jadi lo aja yang pesen. Oke?" tanya Yasya dilanjutkan dengan mengangkat jempolnya.
"Yaudah oke," jawab Saga yang memunculkan ekspresi murung karena perkiraannya salah.
Setelah Saga memesan, mereka berdua menunggu bapak tukang ojeknya datang. Setelah mereka menunggu, bukan tukang ojek yang datang, malah sebuah taksi. Ternyata Saga tidak memesan ojek. Ia memesan taksi agar bisa pulang berdua dengan Yasya tentunya.
"Kok taksi sih?"
"Ya kalau ojek kan gak bisa barengan pulangnya."
"Terserah lo aja. Gue mau nunggu bus lagi aja kalau gitu."
__ADS_1
"Yah Sya... yaudah deh lo naik taksi, gue yang nungguin bus," jelas Saga. Ia benar benar tidak mau membuat Yasya makin kesulitan.
Yasya berpikir sejenak. Tidak mungkin jika ia membiarkan Saga menunggu bus karena taksi ini dipesan olehnya.
"Ck yaudah. Yaudah. Pulang bareng! Ribet ah lo!!" tukas Yasya kesal sambil masuk kedalam taksi.
Tentu saja Saga senang karena ia bisa mengobrol lebih lama lagi. Dan tentu saja akan semakin besar kesempatannya untuk berbaikan dengan Yasya.
***
Didalam taksi, sudah pasti Saga tidak diam. Ia terus mengajak Yasya mengobrol.
"Sya..." baru juga Saga hendak menyapa, Yasya langsung menatapnya sinis.
"Diem!"
"Oke..." ucap Saga pasrah.
Saga lalu membuka HP nya. Ia membuka kamera di HPnya dengan mode selfie. Ia arahkan kamera kesamping agar ia dapat mengambil foto dirinya bersama Yasya. Sambil tersenyum, ia mengambil foto beberapa kali. Kemudian ia memanggil Yasya. Dan saat Yasya menengok, ia langsung menekan tombol untuk mengambil gambar. Membuat Yasya kesal dibuatnya.
"Lo udah bikin gue naik darah. Kalau sampe ni darah menyentuh ubun ubun gue, abis lo ntar!!" hardik Yasya.
"Oke sorry. Sekarang gue diem."
Saga semakin bosan. Ia tidak melakukan apapun. Ditambah dengan jalanan yang macet. Lengkap sudah kebosanannya.
"Pak! Udah lama kerja?!" tanya Saga pada sopir yang ada didepannya. Karena sangat tidak mungkin jika ia mengobrol dengan Yasya.
"Oh saya udah hampir setahun ini."
"Masih baru ya... udah punya istri?" tanya Saga lagi. Yasya yang melihatnya hanya menatap heran seakan ia ingin mengatakan ngapain sih ni orang?
"Udah mas. Udah punya satu anak juga."
"Kalau istrinya gimana? Satu juga?" tanya Saga kemudian yang membuat Yasya tertawa kecil.
Si bapak sopir terkekeh, "ya satu atuh mas. Setia saya mah..."
"Istri bapak suka kesel gitu gak? Atau marah marah gak jelas gitu. Gak mau ngobrol sama bapak misalnya," ujar Saga sambil mengarahkan matanya pada Yasya beberapa kali.
"Wah pernah tuh kayak gitu. Tapi dia luluh lagi. Jadi gak apa apa. Kalau kata lagu aishiteru kan marah itu tandanya sayang..." ucap si bapak sambil tertawa kecil.
"Oh. Marah itu tandanya SAYANG ya pak..." ucap Saga dengan menekan kata SAYANG dalam kalimatnya. Sambil mengucapkan kalimat itu, ia juga menatap Yasya mengejek.
Yasya menatapnya sinis dan tentu Saja Saga langsung diam dan menciut. Saga kembali menyandarkan tubuhnya dan terdiam murung seperti seorang anak kecil yang dilarang main oleh ibunya. Didepan Yasya ia benar benar tidak bisa melawan. Karena jika ia melawan, Yasya akan makin mengamuk dan makin sulit diajak bicara.
Ditengah kemacetan itu, mengalun sebuah lagu diradio dalam mobil. Lagu dari Jamrud berjudul Pelangi Dimatamu. Lirik pertama lagu itu benar benar menunjukkan keadaan Saga dan Yasya saat ini.
Tiga puluh menit kita disini. Tanpa suara...
"Gue bilang naik ojek biar cepet malah naik taksi, macet kan jadinya!" keluh Yasya kesal.
"Jangan ngomong gitu ih. Taksinya gak tahu apa apa. Bapaknya juga."
__ADS_1
"Gue lagi ngomongin lo! Lo yang gak pernah dengerin ucapan gue! Coba aja tadi lo nurut. Kita bakalan lebih cepet jalannya!!" tukas Yasya.
Saga seperti sudah terbiasa dengan amarah Yasya. Jadi saat Yasya memarahinya, ia hanya menanggapinya dengan tenang, "maaf..."