Rumah Tak Berpintu

Rumah Tak Berpintu
Bab 13


__ADS_3

Yasya melepskan pelukan Saga. Tapi ia masih menangis terisak.


"Hey... udah..." ucap Saga sambil mengusap air mata yang membasahi pipi Yasya dengan jarinya.


Yasya berjalan pelan kearah jendela. Ia menatap ibunya yang sedang terlelap dengan tangis yang tak bisa dihentikan.


Saga berdiri mendekati Yasya. Ia mencoba mengajak Yasya pulang agar ia tidak terus meluapkan kesedihannya disini.


"Sya. Udah ya... kita pulang."


Yasya tidak berkata sepatah kata pun. Ia berjalan pelan keluar dari rumah sakit. Saga mengejarnya dan langsung berjalan disebelahnya. Sesekali saga melirik Yasya setelah Yasya menatapnya, Saga langsung mengalihkan pandangannya.


"Sya habis ini kamu mau pergi kemana? Aku ikut!" tanya Saga saat mereka berdua berjalan menuju halte.


"Ih apaan sih lo? Pake ngomong aku kamu segala. Biasanya juga lo gue."


"Eh iya ya. Gak tahu sih. Pengen aja. Gak apa apa kan?"


"Lo gue aja kayak biasanya. Apaan aku kamu aku kamu?!"


"Kan biar kesannya aku bersikap baik sama kamu, Sya."


"Lo gak perlu bersikap baik sama gue. Tuhan juga gak pernah memperlakukan gue dengan baik."


"Hus! Kan udah aku bilang...."


"Stop ngomong aku kamu atau gue pukul!"


"Apa salahnya sih?!"


"Ya gue gak suka..."


"Oke kali ini aku..."


Yasya langsung mengepalkan tangannya dan menatap sinis ketika mendengar saga mengucapkan kata 'aku'.


"Iya. Kali ini gue akan bilang 'gue elo'," ujar Saga dengan wajah cemberut.


"Kenapa sih sikap malaikatnya hilang? Keluar dari rumah sakit malah balik lagi kayak knalpot RX king," bisik Saga pelan tapi Yasya masih dapat mendengarnya.


"Apa lo bilang?!"


"Enggak," jawab Saga yang langsung menatap lurus kedepan dan fokus berjalan.


Ya Tuhan, Kenapa sih dia gak terlempar aja ke bulan? Atau disedot masuk kedalam kerak bumi? Biar gak banyak ganggu! Batin Yasya kesal dalam hatinya.


***


Kali ini Yasya pergi ke kafe untuk bekerja. Tapi tetap, Saga mengikutinya mulai dari naik bus sampai ia masuk kedalam kafe. Yasya sudah mencoba sebisa mungkin agar Saga mau pergi dan tidak mengikutinya. Tapi sia sia, Saga tidak peduli. Ia tetap saja mengikuti Yasya hingga Yasya tak tahu lagi harus berbuat apa.


Saat Yasya sedang sibuk bekerja, Saga memesan sebuah minuman. Sehabis itu ia hanya duduk, minum, dan memotret. Hanya itu. Sampai ia bosan, bosan dan terlelap diatas meja.


Yasya yang melihatnya langsung mendekatinya. Sebenarnya ia tidak tega jika harus membangunkan Saga. Tapi ini kafe, tempat banyak orang berdatangan. Tidak mungkin kan jika ada orang lain yang mau minum disini harus diminta pergi hanya karena ada seseorang yang tidur?


"Ga... woy! Bangun!!"


Saga terbangun dari tidurnya dan langsung menatap Yasya.


"Gimana? Udah siap buat pergi?" tanya Saga yang topiknya masih itu itu saja.

__ADS_1


Saga hanya menggelengkan kepala sambil menutup mata, "kalaulo mau tidur. Dirumah! Ini kafe, tempat orang orang ngopi, makan, bukan tempat tidur!"


"Oh lo belum selesai? Yaudah. Gue pesen kopi satu. Apa aja. Yang penting gue bisa tetep diem disini!" ucap Saga yang dilanjutkan dengan menguap.


"Hadeeh.... lo aneh sumpah!"


Yasya berjalan untuk memesan sebuah kopi. Setelah pesanannya siap, ia mengantarkannya ke meja Saga. Baru ditinggalkan beberapa menit saja, Saga sudah terlelap kembali. Kali ini Yasya tidak membangunkannya. Ia duduk dihadapannya. Lalu menyandarkan kepala diatas lengannya dan pandangannya fokus kearah laki laki yang juga sedang melakukan hal yang sama, bedanya, Saga terlelap.


"Ga... lo cape ya? Kenapa sih lo pake bantuin ngepel rumah gue segala? Kenapa sih lo pake ngikutin gue ke RS segala? Kenapa sih lo pake nungguin gue cuma buat pergi seharian sama gue? Lo gak mau nyerah aja gitu? Pergi jalan jalan ke padang mahsyar gitu? Gue bingung mikirin cara agar lo pergi dari hidup gue, atau kalau bisa dari alam semesta!"


Yasya berlalu pergi kebelakang. Meninggalkan Saga yang tetap terlelap dengan segelas kopi yang ia pesan hanya agar ia bisa tetap diam di kafe.


Beberapa menit kemudian, Yasya kembali ke meja Saga. Kali ini ia membangunkannya.


"Ga... Saga! Bangun!" panggil Yasya sambil mengguncang tubuhnya.


"Eh Sya, udah selesai?"


"Belum."


"Oh yaudah. Gue pesen kopi lagi satu. Biar bisa tetep stay disini."


"Ck. Yang tadi aja belum diminum."


"Eh iya ya. Yaudah. Gue pesen. Yang ini gue abisin dulu," pinta Saga yang langsung menyambar gelas kopi.


"Ayo pergi!"


"Hmmmm?"


"Pergi. Lo kan daritadi mau ngajak gue pergi? Ayo!"


"Iya. Atau gue balik kerja lagi nih? Gue udah susah loh minta izin."


"Oke. Oke. Bentar. Gue cuci muka dulu."


Saga merasa senang saat berjalan ke belakang dan mencuci mukanya. Beberapa saat kemudian ia kembali lagi dan menghampiri Yasya.


"Yaudah, ayo!" ajak Saga.


"Oke. Kemana?"


"Lo maunya kemana?"


"Kalau gue ya mending kerja aja disini."


"Sya... jangan gitu lah..."


"Ya gue gak tahu mau kemana."


"Ke toko buku yuk? Kata ade lo lo suka baca buku."


"Boleh aja sih."


Mereka berdua berjalan keluar dari kafe dan hendak menuju halte. Tapi sebelum itu, Yasya menghentikan langkahnya.


"Tunggu," pinta Yasya.


"Apa?"

__ADS_1


"Lo jangan geer ya. Ini gue mau pergi sama lo cuma karena lo bantuin gue dirumah tadi. Setelah ini. Udah. Kelar. Gak ada pergi pergi lagi kayak gini!" jelas Yasya.


"Gimana nanti. Siapa tahu kan kita...."


"Gak ada. Ini aja udah ayo!"


***


Seperti biasa, saat duduk di bus, Saga akan berbicara panjang lebar mengajak Yasya mengobrol. Meski hal itu membuat Yasya kesal, tapi Saga tidak berhenti melakukannya.


"Sya... gue seneng tahu."


"Seneng kenapa?"


"Seneng karena akhirnya lo bersikap baik sama gue."


"Siapa bilang?!"


"Ini. Apa yang lo lakukan ini termasuk sikap yang baik. Cuma lo nya aja yang gengsi gak mau ngakuin."


"Terserah!"


"Sya... besok gue ke rumah lo lagi ya?"


"Gak!"


"Yah... sekali lagi deh Sya."


"Enggak ya. Gue tegesin sekali lagi. ENGGAK!!"


"Oke. Berarti lusa boleh."


"Gila!"


***


Setelah sampai di toko buku, Saga dan Yasya langsung berjalan masuk. Saga berkata pada Yasya bahwa Yasya boleh memilih dua buku yang ia mau. Tentu saja Yasya merasa senang. Ia memilah dan memilih buku yang menurutnya paling bagus dan paling ia inginkan.


"Mau kemana sih? Milih buku aja lama banget!" ucap Saga yang mulai kesal karena Yasya hanya berkeliling dan melihat lihat saja.


"Bentar ah! Banyak nih yang gue mau."


"Eh iya. Pilihin gue juga dong buku yang bagus. Biar gue ada kegiatan."


"Lo mau berapa?"


"Tiga lah."


"Oke. Mmm.... nah ini nih satu!" ucap Yasya sambil mengambil sebuah buku berjudul 'sepuluh dosa besar'


"Hhhhh," Saga mendengus kesal. Sementara Yasya, ia tertawa kecil.


"Nah ini nih satu lagi," Yasya mengambil sebuah buku berjudul 'Kisi-kisi Tes CPNS'


"Ck. Lo mah gitu... gak bener!"


"Ya udah iya. Ntar gue pilihin yang bener," ucap Yasya mengalah saat melihat Saga yang sepertinya kesal. Padahal ia tadinya ingin memberikan Saga buku yang lebih bagus semacam buku mewarnai anak. Tpi sepertinya Saga akan makin kesal.


Setelah cukup lama memilih beberapa buku, Yasya dan Saga berjalan kearah kasir. Dan Saga langsung membayar semua buku yang sudah Yasya pilih. Mereka berdua berjalan keluar dan bersiap untuk pulang.

__ADS_1


Tapi Saga tidak mau menyia nyiakan kesempatan pergi dengan Yasya kali ini. Ia ingin menculik Yasya lebih lama. Setidaknya sampai Yasya benar benar bersikap baik padanya. Dan kalau bisa menjadikannya sebagai teman baik yang bisa diandalkan. Itu lebih baik.


__ADS_2