
Dengan Hp dan kertas yang berisi nomor telepon Yasya ditangannya, Saga tidak berhenti menatap bolak balik pada kedua benda itu. Ia ingin menelepon, tapi ia memikirkan tentang bagaimana reaksi Yasya nanti jika orang yang selama ini dibencu dalam hidupnya tiba-tiba menghubunginya dan bersikap baik?
Saga gemas sendiri. Karena pikirannya sedang buntu, ia menghubungi Adit untuk dimintai pendapat.
"Dit lo lagi dirumah gak?" tanya Saga melalui panggilan.
"Iya. Dirumah. Mau apa?" jawab Adit lemas.
"Lo kenapa? Lagi sakit? Lemes banget."
"Sakit hati, Ga."
"Ye..... sakit hati. Sakit hati. Udah lo kerumah gue aja!"
"Iya. Oke.... gue ke rumah lo!"
Telepon itu ditutup. Saga menunggu sambil terus memegangi HP nya. Sesekali ia mendengarkan lagu atau memainkan game dikomputernya. Lalu mengulang semua kegiatan itu.
Tok... tok... tok...
"Ga ... ini gue."
Setelah mendengar itu, Saga berlari kearah pintu dan membukanya dengan cepat. Ia menarik tangan Adit dan menyuruhnya untuk segera duduk.
"Dit, lo harus bantuin gue. Gue lagi bingung. Gue tadi ketemu Yasya. Terus ternyata dia itu orangnya baik. Akhirnya gue minta nomor telepon Yasya sama temen kerjanya. Dan pas gua mau nelepon dia, gue bingung. Gue harus apa ya?!" ujar Saga bertubi-tibu membuat Adit hanya terpaku dan menatap sinis.
"Gue aja gak ngerti apa yang lo omongin. Pelan-pelan bangke!"
"Intinya, gue udah bisa melihat sisi baik dari Yasya. Dia baik, Dit. Baik," jelas Saga sambil menatap kearah jendela.
"Tuh kan!" Bentak Adit membuat Saga kaget.
"Apaan sih?!"
"Kata gue juga apa. Lo itu cuma terlalu benci sama dia. Sekarang setelah lo melihat hal baik dari dia, lo jadi cinta kan?!"
"Cinta?! Enggak. Enggak. Cinta apaan?! Gue cuma mau ... mau ... buktiin aja ramalan itu."
"Halah. Gak percaya gue!"
"Terserah lo! Udah gue mau bawa cemilan dulu!" jelas Saga smbil berjalan keluar dari kamarnya meninggalkan Adit dikamarnya sendirian.
__ADS_1
Sambil menunggu Saga kembali, Adit mengambil kamera Saga dan melihat-lihat hasil fotonya. Saat Saga kembali, Adit masih fokus dengan kamera yang dipegangnya.
"Eh Ga! Ini foto yang di pasar malem keren dah, yang tenda merah tua tempat apaan sih?! Tempat permainan yang hadiahnya gede gitu ya? Gue kayak baru liat ada yang kayak gitu di pasar malam."
"Permainan apaan?"
"Iya itu ditendanya ada tulisan 'Sekarang saatnya, berjuang untuk mendapatkannya'. Jangan jangan hadiahnya mobil, Ga."
"Masa sih?!" Saga berjalan kearah Adit dan menyambar kamera yang sedang dipegangnya. Saat ia melihat foto yang Adit maksud, ia cukup kaget. Seingatnya foto itu telah dihapus. Dan juga mana mungkin tulisan ditenda itu bisa berubah lagi?
"Dit. Ini tuh gak gini...."
"Gak gini apaan? Gue gak ngerti."
"Iya. Pas gue foto, tenda ini tuh tulisannya gak kayak gini. Dan ini udah kedua kalinya loh tulisannya berubah."
"Ah masa. Mana mungkin!"
"Iya. Ini tuh tenda si peramal yang bilang kalau gue berjodoh sama Yasya."
"Kok serem sih?"
"Udahlah biarin aja." Saga mematikan dan melempar kameranya keatas kasur.
Saga mulai bertanya kembali tentang bagaimana cara agar ia bisa menghapus kebencian dari dalam diri Yasya. Selain karena ingin tahu kebenaran dari ramalan itu, ia juga ingin berteman baik dengannya. Ia ingin tahu kehidupan Yasya itu bagaimana. Ia benar-benar sangat penasaran dengan hidup perempuan yang semula sering ia caci maki dan kata katai itu.
"Hmmmm," Adit mengelus dagunya, ia seperti hendak berpikir. "Yaudah. Lo ajak dia makan aja," jelas Adit dilanjutkan dengan membuka HP nya untuk bermain game online seperti biasa.
"Lo udah gila apa? Mana mau si Yasya diajak makan!"
"Coba dulu!" tegas Adit dengan tatapan yang terfokus pada layar HP.
"Hhhh. Lo orangnya gak percayaan. Oke gue coba."
Saga memasukan nomor yasya dan bersiap menekan tombol untuk memanggil. Sebelumnya ia menarik napas panjang karena takut Yasya akan marah-marah seperti macan kelaparan. Saga sudah memutuskan. Ia mengangguk pelan, dilanjutkan dengan menekan tombol memanggil.
Tuuuut..... tuuuut... tuuut... dering telepon itu satu satunya suara dikamar Saga. Adit tidak lanjut bermain game, ia mendekat kearah Saga dan duduk dihadapannya. Saga dan Adit fokus menatap HP yang sedang berdering memanggil Yasya.
"Halo! Ini siapa?" tanya seseorang diseberang telepon.
"Nah! Buaruan jawab! Jawab!!" perintah Adit heboh dengan suara pelan.
__ADS_1
"Sya. Ini Saga," Saga menelan ludah setelah ucapan itu keluar.
"Lo... lo tahu dari mana nomor gue?!"
"Itu gak penting."
"Semua yang gue lakukan sama lo selama ini gak penting! Udah lah. Gak guna juga ngomong sama lo!!"
"Tanya sama dia. Mau gak makan bareng!" bisik Adit pelan dengan jari telunjuk yang terarah pada HP yang sedang dipegang Saga.
"Sya. Bentar!"
"Apa? Mau apa? Cepetan ah!! Gue mau ganti nomor abis ini."
"Lo mau gak... makan.... bareng!"
Aduhk... Saga menepuk jidat usai ucapan itu keluar. Dari seberang telepon belum juga ada jawaban. Hanya ada kesunyian sebelum akhirnya Yasya menjawab.
"Gak."
Tuuut ... tuuut ... tuuut .... telepon ditutup secara sepihak oleh Yasya. Saga Sudah menduga hal itu bahkan sebelum panggilan itu dimulai.
"Tuh kan Dit, kata gue juga apa!" tukas Saga sambil melempar HP nya kekasur. Adit hanya fokus memakan cemilan. Ia tidak memedulikan Saga yang ajakannya ditolak.
"Nah. Kan masalah lo udah kelar. Sekarang giliran gue. Gue juga butuh saran dari lo. Gimana caranya supaya gue bisa balikan?!" tanya Adit dengan mulut yang tidak berhenti mengunyah.
"Yeee kembang tahu! Masalah gue belum kelar, lo udah nambah beban pikiran dengan ngasih masalah lo! Tapi gue mau kasih tahu satu hal. Kalau lo mau balikan, yang harus lo lakukan pertama kali itu baikan. Coba minta maaf dulu sama dia dan akui semua kesalahan lo."
"Nomor dia gak bisa...."
"Ngomong langsung! Jangan banyak alesan!"
"Dia gak mau ketemu...."
"Gue bantuin!"
"Oke. Siap. Nih gue kasih cemilan sebagai rasa terima kasih!" ucap Adit sambil memberikan cemilan dan bersiap untuk pergi karena ia hendak ke kampus.
"Serah!!"
Masalah dua orang itu begitu pelik. Yang satu ingin menghapus rasa benci dari seorang perempuan yang sepertinya keturunan seorang panglima perang. Dan yang satu lagi ingin kembali pada seseorang yang enggan untuk diajak kompromi.
__ADS_1
Saga menatap layar ponsel. Disana masih terdapat nomor seorang perempuan yang benar-benar ingin ia cari tahu kehiduoannya. Entah bagaimana ia bisa sepenasaran ini pada kehidupan Yasya. Mungkin semesta yang sudah menuntunnya. Mungkin ramalan itu benar adanya. Mungkin Yasya memang tercipta untungnya. Puluhan kemungkinan sepertinya akan terus beunculan selama Saga belum sampai diakhir cerita.
Sya, mungkin lo emang bukan jodoh gue. Tapi gue cuma mau kita jadi dua manusia yang saling bersikap baik. Gue mau tahu setiap masalah lo. Gue mau bantuin lo dari kesulitan. Biarkan gue masuk kedalam dunia lo yang mungkin cukup pelik. Dan gue mau minta maaf atas semua hal yang pernah terjadi dimasa lalu, Sya. Tolong...