Rumah Tak Berpintu

Rumah Tak Berpintu
Bab 15


__ADS_3

Dikantin kampus, Yasya sedang mengerjakan tugas ditemani Ana yang sedang makan nasi kuning. Beberapa saat setelah Yasya mengetik, ia berhenti dan mulai fokus mengajak Ana bicara.


"Eh iya, Na. Gue mau cerita. Tahu gak, kemarin gue dapet surat gitu. Dari pengagum rahasia. Puisinya bagus. Gue suka," jelas Yasya sambil tersenyum lebar.


"Pengagum rahasia? Aneh deh lo. Kayak di film film aja."


"Serius Na."


"Emangnya siapa aja sih cowok yang lo kenal deket dikampus ini?" tanya Ana dengan tatapan yang terfokus pada Yasya.


"Hehehe. Gak ada."


"Tuh kan. Hati hati lo. Mungkin ini modus baru kejahatan."


"Ih, Naaaa.... lo jangan nakutin gue!"


Selang beberapa menit saat mereka sedang saling mengobrol, Adit datang menghampiri mereka berdua. Setelah duduk, Adit langsung memberikan sesuatu yang dibawanya pada Yasya.


"Sya. Ini dari si Saga. Buat lo katanya," jelas Adit sambil memberikan tiga buah buku.


Yasya ingat jika ketiga buku itu adalah bukuyang dipilihnya kemarin.


"Buat gue?" tanya Yasya yang hanya dijawab Adit dengan anggukan.


"Ada yang gue gak tahu nih tentang lo sama si Saga!" ujar Ana.


"Enggak. Gue gak ada apa apa sama dia."


"Masa gak ada apa apa pake ngasih hadiah segala."


"Gak tahu. Aneh. Masa ya. Akhir akhir ini dia jadi baik gitu sama gue. Kesetanan kali tuh orang!" tukas Yasya kesal.


"Ya dia pengen menyudahi perang antara dua raga yang udah terjadi selama beberapa tahun itu kali."


"Alesannya?"


"Gini Sya. Jadi. Waktu itu dia pernah datengin peramal gitu. Dan si peramalnya bilang kalau lo itu akan jadi jodohnya dia. Dan ya gitu, dia pengen buktiin ramalan itu bener atau enggak," tutur Adit menimpali obrolan antara Yasya dan Ana.

__ADS_1


"Ramalan?!" tanya Yasya heran.


Yasya langsung menutup laptopnya dan memasukkannya kedalam tas. Lalu ia berjalan cepat untuk mencari Saga. Ana mencoba memanggil Yasya dan menahannya. Tapi ia tidak berhasil.


"Kamu sih Dit. Dia jadi marah kan," keluh Ana.


Yasya yang sedang berjalan keluar dari kantin melihat Saga sedang berjalan kearah berlawanan, tepatnya kantin. Dengan cepat Yasya langsung berdiri dihadapan Saga dengan penuh amarah.


"Ga!" ucap Yasya dengan tatapan tajam.


"Iya Sya. Kenapa? Gimana bukunya?"


"Gak usah sok baik gitu! Gue udah tahu kalau lo itu baik sama gue cuma buat cari tahu ramalan bodoh itu kan?!"


"G... gue..."


"Gak usah banyak ngomong! Ternyata lo itu emang gak akan pernah bisa jadi orang baik ya, Ga! Lo itu sama aja.


Yasya berusaha untuk pergi tapi Saga langsung menahannya dengan berdiri dihadapannya.


"Sya. Awalnya gue emang cuma pengen buktiin ramalan itu. Tapi sekarang..." Saga mencoba menjelaskan dengan tatapan khawatir. Ia benar bemar takut Yasya akan semakin jauh dan benci padanya.


"Cuma orang bodoh yang gak mau nerima kasih sayang dari seseorang tulus," balas Saga tak mau kalah dengan tatapan yang beradu dengan mata Yasya.


"Dan cuma orang bodoh yang terus berharap balesan kasih sayang dari seseorang yang udah jelas ngasih dia penolakan!!" jelas Yasya mengakhiri obrolan diantara mereka berdua. Ia mendorong tubuh Saga dan segera pergi meninggalkan Saga disana dengan tanda tanya besar.


"Sya... Yasya!!" Saga memanggil Yasya dengan kaki yang terus berlari mengejarnya. Yasya geram. Ia benar benar marah. Ia berhenti dan membalikkan tubuhnya.


"Berhenti ngikutin gue. Jangan datang lagi ke kehidupan gue. Berhenti berpikir kalau kita itu jodoh, oke?"


"Sya. Tapi gue cuma..."


"Kita gak akan pernah setakdir, Ga. Menyerah atau patah. Cuma itu piliihannya!"


"Gue gak akan menyerah dan gue gak takut patah. Gue tahu lo itu baik Sya. Lo cuma gengsi maafin gue. Gue tahu lo selalu ingin jadi seseorang yang lebih dari gue. Tapi sekarang, gue gak mau kita kejar kejaran lagi. Gue cuma mau ada, nemenin lo dan bantuin lo, Sya. Udah cukup!"


"Dan gue gak mau, Ga. Oke kita gak usah saling kejar kejaran. Saling susul. Lebih baik lo berhenti. Biar gue yang menjauh pergi!" Yasya melanjutkan langkahnya. Tapi Saga tidak berhenti bicara.

__ADS_1


"Gue tahu lo butuh seseorang yang nemenin lo!" teriak Saga.


"Gak usah nemenin gue karena gue udah punya pacar!!" balas Yasya berteriak membuat Saga bungkam.


Selama ini Yasya salah mengira. Ia kira Saga itu memang baik. Ternyata tidak. Saga hanya sedang bermain main dengan ramalan bodoh perihal jodoh. Keputusannya benar. Ia memang harus membuat Saga pergi dari hidupnya. Kenapa sejak awal ia harus membiarkan kehadiran Saga dihidupnya? Kenapa ia percaya begitu saja dengan Saga padahal sejak awal memang Saga itu membencinya. Kenapa ia tidak sadar kalau Saga cuma pura pura?!


"Gue benci! Gue benci! Gue benciiii!!! Kenapa sih harus ada makhluk kayak dia dimuka bumi?! Kenapa dia gak tinggal di mars atau terbang jauh ke neptunus aja? Gue cape ketemu dia terus!!" ujar Yasya kesal sendiri.


***


"Hey Ga! Sini ikut duduk!" ajak Adit yang tangan yang menunjuk kursi disebelahnya.


Saga yang sedang berwajah muram berjalan perlahan kearah Adit. Ia duduk dengan lemas dan langsung menadah dagunya sambil melamun.


"Kenapa sih lo lemes banget kayak tempe mendoan?!" tanya Adit.


"Yah... Yasya makin benci sama gue. Hehe."


"Sorry ya, ini pasti gara gara gue bilang sama dia soal ramalan itu."


"Gapapa. Mungkin ini emang takdir. Ramalan itu emang salah. Siapa juga yang percaya sama ramalan bodoh kayak gitu? Gue nya aja yang gak mikir!"


"Jadi sekarang lo gimana sama Yasya?!" tanya Ana.


"Gak gimana gimana. Udah. Selesai. Dia juga udah punya pacar."


"Serius?" tanya Ana kaget.


"Lo sebagai temennya emang gak tahu?" tanya Saga pada Ana.


"Enggak. Dia cuma bilang punya secret admire gitu yang ngirim surat sama dia."


"Wah gak bisa nih. Masa lo kalah sama orang yang sembunyi sembunyi sih Ga?!" timpal Adit.


"Ya kalau dia menang dihatinya Yasya susah juga. Lagian, gue itu cuma pengen bantu Yasya doang. Gak lebih. Gue gak peduli dia punya pengagum rahasia, dia punya pacar atau apapun itu. Gue cuma mau bikin dia baik baik aja."


"Gak percaya gue kalau lo gak ada perasaansuka sama si Yasya," ujar Adit ragu ragu.

__ADS_1


"Emangnya suka itu gimana rasanya? Kalau suka itu berarti gue pengen ngeliat dia baik baik aja, mungkin jawabannya iya. Tapi kalau suka itu berarti pengen terus bikin dia bahagia, jawabannya enggak."


Adit dan Ana saling tatap satu sama lain sebelum kemudian saling mengangkat pundak. Sepertinya memang benar. Saga dan Yasya itu dipertemukan bukan untuk dipersatukan. Mungkin Saga ada untuk Yasya hanya untuk menguatkannya, bukan memilikinya.


__ADS_2