
Beberapa tempat sudah Yasya kunjungi. Tapi ia tak juga menemukan tempat dengan lowongan pekerjaan. Ia berjalan masuk ke kamarnya setelah makan malam. Ia duduk dan fokus menatap laptop. Disana ada surel yang memberitahunya bahwa naskah yang ditulisnya kemarin harus diperbaiki.
Yasya bersemangat. Karena mungkin sebentar lagi bukunya akan segera terbit. Dengan gegas ia membuka file naskahnya dan mulai memperbaiki apa yang harus diperbaiki. Baru juga ia hendak memulai, ada pesan muncul di HP nya. Nomor itu tidak diberi nama oleh Yasya. Tapi ada pesan pesan sebelumnya yang dikirim oleh nomor itu yang membuat Yasya mengetahui siapa pemilik nomor itu. Itu dari Saga.
"Sya. Katanya lo lagi cari kerjaan ya? Kenapa di kafe?" tanya Saga dipesan itu. Dengan kesal Yasya membalasnya.
"Gue dipecat gara gara gue suka jalan sama cowok diwaktu kerja!! Puas?!!"
"Sya, gue nemuin tempat yang ada lowongan kerjaan. Besok gue ke rumah buat anter lo kesana. Tapi kalau lo gak ngizinin gak apa apa. Gue gak maksa."
Yasya berpikir sejenak. Kenapa Saga tidak langsung saja mengirim alamatnya. Mungkin ini hanya akal akalan Saga saja. Tapi ia tidak memedulikan pesan itu. Ia kembali pada naskahnya yang sedang ia perbaiki.
Tapi ternyata ia tidak bisa fokus juga. Ia merebahkan tubuhnya di kasur. Memegangi HP nya. Menatap kelangit langit kamarnya sambil berpikir apakah ia harus menerima bantuan dari Saga lagi?
"Aaahhhhh.... bingung!!" tukas Yasya sambil menutup wajahnya.
Ia tidah tahu apa yang akan terjadi jika nanti ia menerima bantuan dari Saga. Bagaimana jika Saga akan mengejeknya atau menganggap ini sebagai utang?
***
Ditengah sarapan pagi, Yasya masih saja memikirkan tentang tawaran dari Saga. Ia benar benar bingung harus menerima atau menolaknya.
"Kak..." sapa Dimas membuyarkan lamunannya.
"Iya.."
"Kenapa? Ada yang dipikirin?"
"Eh enggak. Gak ada. Udah lo cepetan makannya keburu telat," seperti biasa Yasya harus menutupi semuanya dari Dimas. Ia tidak mau Dimas juga ikut memikirkannya.
"Oh iya kak. Dua minggu lagi gue studytour. Ini formulirnya," jelas Dimas sambil mengeluarkan formulir yanga da didalam tasnya. "Terserah lo apakah gue harus ikut atau enggak, nanti lo langsung aja tanda tangan dibawah," lanjut Dimas.
"Nanti ya Dim. Gue pikirin dulu."
"Kalau gak ada uangnya, gak apa apa. Gak usah aja kak," ujar Dimas yang sepertinya tahu jalan pikiran kakaknya.
"Apaan sih Dim? Kok lo pasrah gitu. Nanti gue usahain dulu, oke? Udah urusan lo cuma belajar aja. Jangan mikirin yang lain."
"Sorry ya kak. Gue cuma jadi beban lo doang."
"Dim... jangan bikin gue marah deh! Udah lo fokus aja belajar."
***
Setelah Dimas berangkat sekolah, pikiran Yasya terus berkecamuk. Apa yang harus ia lakukan? Ia benar benar butuh pekerjaan saat ini. Tapi menerima Saga sepertinya bukan keputusan yang bagus. Tapi jika menolaknya ia benar baner tak tahu lagi harus mencari pekerjaan kemana.
Sambil memegang HP nya, Yasya berpikir matang matang apa yang harus ia lakukan.
"Oke." Yasya menghela napas panjang. Lalu ia mulai memanggil nomor Saga.
__ADS_1
Setelah panggilannya diangkat, diujung telepon terdengar suara seseorang yang sangat bersemangat.
"Iya Sya. Kenapa? Tumben nelepon. Gue seneng banget.."
"Ga!" sapaan Yasya itu membuat Saga diam seketika.
"Iya."
"Lo jadi ke rumah gue buat nganterin ke tempat lowongan kerja itu? Sekarang aja lo kesini ya?"
"Aduh Sya. Sekarang gue gak bisa. Ada kerjaan photoshoot gitu. Paling pulang nanti agak sore. Soalnya ada di beberapa tempat gitu."
"Oh yaudah kalau gak bisa. Gak apa apa. Gue cari sendiri aja."
"Oke. Gue bisa. Nanti deh. Abis di tempat pertama, kerjaannya gue kasih ke temen gue aja."
"Gak apa apa, Ga. Serius. Gue cari aja sendiri."
"Jangan gitu dong Sya. Oke deh. Gue gak jadi kerja. Sekarang gue kesana."
Saga menutup teleponnya dengan segera. Meski ia sudah berada didalam mobil bersama temannya, ia tidak jadi ikut. Ia memilih untuk datang ke rumah Yasya. Ini kesempatan baik untuknya.
***
Setelah cukup lama menunggu, Yasya melihat seseorang berlari menuju rumahnya. Itu adalah Saga. Yasya hanya menggelengkan kepala saat melihat Saga.
Yasya kembali kedalam rumah dan Saga mengikutinya dari belakang karena takut Yasya marah padanya.
"Sya! Jangan marah dong! Ini gue bela belain loh kesini."
Yasya tetap berjalan tanpa memedulikan Saga. Setelah sampai dapur, ia mengambil minum dan memberikannya pada Saga.
"Minum dulu. Lo gak cape lari lari gitu?!"
Saga terdiam selama beberapa detik sebelum ia menerima minum dari Yasya.
"Oh. Thank you..." Saga mengambil gelas yang ada ditangan Yasya dan langsung meminumnya.
"Ya udah. Ayo berangkat!" ajak Yasya.
Mereka berdua berjalan menuju halte tanpa bicara sepatah kata pun. Saga hanya tersenyum saat sesekali menatap Yasya. Sementara Yasya, ia hanya memalingkan wajahnya sesekali dan fokus kembali kejalan.
Didalam bus pun begitu. Mereka hanya saling diam meski berdiri berhadapan. Saga menatap kearah Yasya yang sedang memalingkan wajahnya ke jendela. Sebelum kemudian Yasya sadar dan langsung mengajak Saga bicara.
"Kenapa?!" tanyaYasya.
"Eh ng.... nggak. Gak apa apa," ucap Saga gelagapan.
"Sorry buat yang kemarin. Sejujurnya tadi gue malu banget buat menerima tawaran lo. Tapi gue bener bener butuh pekerjaan ini."
__ADS_1
"Iya. Gak apa apa. Gue juga tahu kok kenapa lo marah marah sama gue. Karena gue selalu bikin lo kesel. Hehehe."
"Kenapa sih lo gak ngasih alamatnya ke gue aja? Lo jadi ninggalin kerjaan lo. Sayang loh itu."
"Soalnya ini tempat temen gue. Dan gue bilang gue akan bawa orang yang mau kerjanya kesini. Dan dia udah ngasih kepercayaan sama gue. Jadi lo udah pasti diterima kalau sama gue. Tenang aja oke?"
"Iya. Thanks..." bisik Yasya pelan.
"Oh iya. Soal kerjaan. Gue jadi banyak job gara gara foto lo yang waktu itu di posting kan. Katanya fotonya bagus. Jadi banyak yang nawarin job."
"Masa sih?!"
"Iya terus juga ada yang....."
Saga terus berbicara. Dan Yasya mendengarkannya dengan senang hati. Sesekali mereka berdua tertawa jika ada cerita yang lucu dari Saga.
***
Tidak terasa bus sudah sampai ditempat tujuan mereka. Saga membawa Yasya sedikit berjalan ke tempat dimana ada lowongan pekerjaan itu. Sesampainya disana, Saga langsung mengenalkan Yasya pada temannya dan Yasya pun diwawancara.
Saga menunggu Yasya sambil duduk dan memainkan HP nya. Saat Yasya keluar Saga menyambutnya dengan pertanyaan.
"Gimana?" tanya Saga.
Yasya mengangguk sambil tersenyum. Lalu tanpa sadar, Saga langsung memeluk Yasya dengan erat.
"Gue udah yakin lo akan diterima," ucap Saga sambil memeluk Yasya dengan erat.
"I... iya... makasih karena udah bantuin gue," ucap Yasya tergagap karena ia kaget dengan reaksi Saga.
Setelah sadar, Saga langsung melepaskan pelukannya dan meminta maaf karena takut Yasya akan marah setelahnya.
"Eh sorry. Tadi gue..."
"Iya. Gak apa apa."
"Ya udah. Sekarang kita pulang."
"Ga! Gue gak mau lo...."
"Oh iya. Iya. Tenang aja. Gue janji gak akan ganggu lo lagi. Gak akan dateng ke kehidupan lo lagi. Serius!" jelas Saga sambil mengangkat jari tengah dan telunjuknya membuat lambang peace.
"Bukan..."
"Apa? Gue gak boleh menampakan diri gue dihadapan lo lagi? Iya. Gue gak akan. Tenang aja."
"Ish bukan! Udahlah pulang aja pulang!!" dengus Yasya yang langsung berlalu pergi.
"Eh Sya! Maaf Sya! Yah..." teriak Saga sambil berlari mengejar Yasya.
__ADS_1