Rumah Tak Berpintu

Rumah Tak Berpintu
Bab 6


__ADS_3

Saga berjalan menuju halte. Ternyata, disana ada Yasya yang sedang duduk benunggu bus yang tidak juga datang. Saga akhirnya berlari dan menghampirinya. Saga duduk disebelah Yasya dan mengajaknya bicara.


"Udah lama ya nunggu?" tanya Saga.


"Bukan urusan lo juga."


"Oh yaudah," jelas Saga sambil menunduk dan tersenyum. "Hari ini kerja gak?" tanya Saga kemudian.


Kenapa sih, gue harus terjebak sama orang kayak gini? yasya mendengus kesal dalam hatinya dan memalingkan wajahnya.


"Ngomong-ngomong, ade lo itu kelas berapa?" tanya Saga yang belum juga menyerah untuk mengajak Yasya bicara.


"Lo inget gak tadi gue ngomong apa?" tanya Yasya kesal.


"Tadi lo ngomong 'bukan urusan lo juga'."


"Bukan. Tadi waktu di kampus gue bilang, lo jangan pernah terlihat lagi didepan gue, udah jelas?"


"Gue sekarang disebelah lo. Jadi gak masalah dong."


"Susah kalau ngomong sama orang yang kurang waras!" hardik Yasya berbisik dengan kaki yang diayun-ayun.


"Di rumah lo tinggal berdua sama ade lo atau ada orang tua?" tanya Saga lagi. Yasya hanya diam dan tak membuka mulutnya.


"Udah makan siang belum?" lagi-lagi Saga bertanya.


"Kenapa sih lo kepo banget sama urusan gue? Urus hidup lo sendiri aja bisa gak? Please, jangan ganggu kehidupan gue yang udah rumit ini, ya. Gue memohon dengan sangat," Yasya menempelkan kedua tangannya dan memohon.


Saga diam dan menatap fokus kedepan sebelum akhirnya ia berbicara.


"Dibalik senyum manisanya ada luka yang besar terbuka.


Dibalik rasa pasrahnya ada sesuatu yang sangat ia pinta.


Dia. Manusia kuat yang paling pandai berpura pura.


Yang menyimpan sakit dan bersembunyi dibalik kebohongan rasa bahagia," saga mengucapkan kalimat yang ia lihat dikertas yang ia temukan dikantin itu.


Yasya langsung memalingkan wajahnya. Mata Yasya terbelalak, ia menatap laki-laki disebelahnya yang sedang fokus menatap kedepan. Yasya tidak berhenti menatap sebelum Saga menyadarinya.


"Kenapa? Lo familiar ya sama puisi itu?" tanya Saga.


"Gak. Biasa aja."


"Bagus gak? Itu puisi yang gue liat dalam kertas lecek yang gue temukan di meja kantin."


"Eh, mana kertasnya sekarang?!"


"Please, jangan ganggu kehidupan gue yang udah rumit ini, ya. Gue memohon dengan sangat," jelas Saga mengulang apa yang diucapkan Yasya beberapa menit lalu.


Yasya tertawa kecil. Pun dengan Saga. Baru kali ini ia melihat senyuman bahagia dari seorang perempuan yang dari dulu ia benci itu.

__ADS_1


Bus datang dan bersiap mengatntar mereka ke tempat tujuan. Obrolan mereka berhenti dan tak juga menemukan inti. Apa yang akhirnya mereka putuskan? Apakah mereka sudah saling bersikap baik? Apakah tawa Yasya barusan berarti ia menerima kata maaf Saga?


Mereka berdua naik kedalam bus. Dan seperti biasa, bus sudah penuh dan sesak, memaksa mereka untuk berdiri bersebelahan. Saga sesekali menatap Yasya, jika Yasya menatapnya kembali, Saga langsung memalingkan wajahnya.


"Apaan sih?!" tanya Yasya.


"Enggak. Gue cuma mau ngomong. Gue itu sebenernya masih benci sama lo. Cuma karena keadaan lo yang gak baik baik aja, jadi gue memutuskan untuk mengajak lo baikan. Agar setidaknya beban lo berkurang dengan gak mikirin gue," ujar Saga percaya diri dilanjutkan dengan menodongkan jari kelingking kehadapan Yasya.


Yasya tidak peduli. Ia langsung memukul tangan Saga dan memfokuskan pandangannya kearah jendela.


"Aduh... gue kira gue udah diterima dengan baik," bisik Saga.


Mereka berdua saling memalingkan wajah. Mereka seperti bulan dan bumi yang jika dipersatukan akan menciptakan kekacauan. Mereka saling membelakangi, tapi saga tetap meyakinkan hatinya kalau suatu saat Yasya juga akan bersikap baik padanya.


Saga menghadapkan wajahnya kearah Yasya. Ia dekatkan mulutnya ke telinga gadis itu dan mulai berbisik.


"Katanya, kalau marahan itu gak boleh lebih dari tiga hari. Dosa. Dan lo tahu, kita udah marahan lebih dari tujuh tahun. Kepikiran gak dosanya udah segimana? Bisa jadi tiket masuk neraka bolak balik tuh, Sya," bisik Saga dengan nada bercanda.


Yasya tidak peduli. Ia langsung turun di tempat biasa ia turun. Ia meninggalkan Saga yang masih dibuat bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan Yasya? Hatinya itu terbuat dari apa? Kenapa hatinya begitu sulit untuk dibuka. Atau mungkin memang hatinya tidak memiliki pintu? Jadi bagaimana cara Saga untuk bisa membuka hati Yasya agar mau berbaik hati dan menghapus rasa bencinya?


***


Baru saja saga pulang, ia harus pergi lagi keluar karena acara komunitasnya yang waktu itu jadi dilaksanakan hari ini. Saga dan teman temannya berkumpul di kade yang sama dengan yang ia pernah kunjungi.


Hampir semua anggota komunitas ada disana. Beberapa sudah siap didalam bus dan beberapa lagi masih saling mengobrol didalam Kafe. Mereka belum berangkat karena beberapa orang belum datang.


Saat Saga tengah mengobrol, seorang pelayan yang sudah tak asing lagi baginya itu mendatangi mejanya dan meletakkan minuman.


"Apaan? Lepasin!" bisik Yasya.


"Lo mau ikut gak ke lembang. Refreshing. Gak bayar. Anggap aja ini sebagai penebusan utang lo."


"Gak. Lo gak liat gue lagi kerja?!"


"Oke bentar," Saga berjalan kearah meja kasir. Ia meminta sang Kasir untuk mempertemukannya dengan atasan mereka. Tapi kasir itu bilang tidak ada. Saga pun meminta agar atasan mereka ditelepon.


Setelah bernegosiasi cukup lama, Saga berjalan kearah Yasya dengan senyuman percaya diri, "Ganti baju, siap-siap!" perintah Saga.


"Gak. Gue gak mau!" Yasya berusaha pergi tapi Saga menarik tangannya kembali.


"Kenapa?"


"Mmmm. Ya gak mau aja."


"Gini deh. Lo ikut gue sekali. Dan gue gak akan gangguin lo selama seminggu, Deal?"


"Kalau selamanya baru deal."


"Gue gak gangguin lo, plus ongkos lo pulang pergi kampus gue ganti selama dua minggu."


"Ga... udah deh lo. Gue gak mau. Oke?!"

__ADS_1


"Ini tawaran terakhir. Lo ikut gue dan uang sekolah ade lo gue bayarin satu semester!"


"Lo kira gue cewek apaan? Mau ikut sama orang asing kayak lo terus dibayar pake uang sekolah ade gue satu semester. Gak banget."


Yasya benar benar tidak bisa dibujuk. Saga sudah membujuknya dengan segala ara, tapi ia tidak berhasil. Hasilya tetap sama. Jawabannya tidak. Saga masih menatap perempuan yang baru saja menolaknya itu. Yasya terlihat sedang mengangkat telepon. Wajahnya berubah sedih setelah telepon itu ditutup. Ia berjalan kebelakang dan mungkin disana ia melanjutkan kembali pekerjaannya.


Saga dan teman-temannya sudah bersiap untuk berangkat. Ia berdiri dari kursinya dan hendak berjalan keluar Kafe. Sampai ia dikagetkan oleh pegangan erat pada tangannya.


"Oke gue ikut!" teriak Yasya. Saga langsung menatapnya dan tersenyum manis.


"Oke..." Saga mengangguk.


"Tapi lo harus tepatin janji lo. Bayar uang sekolah ade gue satu semester!"


"Siap. Kan gue udah janji. Yaudah!" Saga mengangkat lengannya, membuat Yasya bingung.


"Apaan?!"


"Gandeng!" perintah Saga.


"Dih. Baru pertama kali jalan udah minta di gandeng, ogah banget!!" tukas Yasya sambil memukul lengan Saga.


"Gue kira udah baikan. Eh masih buas juga!!" tukas Saga saat melihat Yasya sedang berjalan meninggalkannya.


"Apa lo bilang?!" Yasya berbalik dan mengepalkan tangannya.


Yasya langsung berjalan menghampirinya, "Enggak. Udah ayo!" Saga memegang tangan Yasya dan menariknya agar Yasya mengikutinya. Yasya hanya menatap Saga kaget karena tiba-tiba lengannya digenggam.


Mereka berdua duduk bersebelahan didalam bus itu. Bus pun mulai berangkat, menyusuri jalanan menuju Lembang. Tempat hunting foto komunitas fotografi saga akan digelar.


"Ini mau kumpul komunitas atau mau karya wisata sih?! Kok pake bus segala!" ujar Yasya membuat Saga tertawa.


"Ya kan gak semua orang punya kendaraan pribadi. Jadi ya gini."


"Ini semuanya fotografer?!"


"Enggak. Ada juga yang jadi model. Termasuk lo!" ujar Saga bercanda.


"Apa?! G.... gue? Pulang! Gue mau pulang!!" Yasya marah dengan apa yang diucapkan Saga.


"Gak lah. Gue bercanda. Muka lo yang kayak Katak Zuma gitu mah mana bisa senyum depan kamera."


"Lo tuh ya, ngeselinnya minta ampun!! Hhhhh!!" dengus Yasya kesal.


Sepanjang perjalanan mereka berdua tidak banyak bicara. Saga selalu mencoba mengajak Yasya bicara, tapi hanya berakhir dengan kalimat, "jangan ganggu gue!"


"Bisa gak. Sehari ini aja. Bersikap baik gitu. Oke? Sehari," bujuk Saga pada Yasya yang sedang melipat tangan dan memalingkan wajah kearah jendela.


"Oke. Ini cuma karena lo mau bayarin sekolah ade gue. Gak lebih. Besok besok, lo gak akan gue kasih ampun kalau gangguin gue!!" tegas Yasya.


"Baik suhu..." ucap Saga sambil menempelkan kedua tangan dan menunduk pada Yasya, membuat Yasya tertawa kecil.

__ADS_1


__ADS_2