Rumah Tak Berpintu

Rumah Tak Berpintu
Bab 11


__ADS_3

Pagi pagi sekali, Yasya dan Dimas bersiap siap untuk sarapan. Mereka meletakkan makanan yang sudah dimasak Yasya ke atas meja.


"Dim nanti gue nitip tolong fotokopi in ya," ucap Yasya sambil meletakkan air putih yang dibawanya.


"Oke."


"Oh iya. Gue mau jenguk ibu. Lo mau ditungguin atau gue sendiri aja?"


"Lo sendiri aja lah kak. Gak apa apa."


"Oh ya udah. Gue berangkatnya agak pagi."


Mereka pun mulai makan berdua seperti hari hari kesepian lainnya. Hanya berdua.


Tok tok tok... pintu rumah Yasya diketuk. Yasya menyuruh Dimas untuk membukanya. Dimas pun berjalan ke arah pintu dan langsung membukanya. Disana tampak seorang laki laki bertubuh besar, deengan rambut belah pinggir yang tertata rapi, memakai kemeja kotak kotak, celana jeans dan membawa sebuah tas.


"Siapa?" tanya Dimas.


"Saga. Ini bener kan rumahnya Yasya?"


"Oh. Lo mas mas yang semalam itu ya? Masuk, masuk."


Saga pun berjalan masuk kedalam rumah bersama Dimas. Sambil berjalan kearah meja makan, Dimas berteriak pada kakaknya, "Kak. Ada gebetan lo tuh!" teriak Dimas.


Saat Yasya melihat seseorang yang berjalan mengikuti Dimas, ekspresinya langsung berubah marah. Yasya berjalan kearah Saga dengan cepat. Lalu ia tarik tangan Saga agar ia berjalan keluar. Dimas yang melihat hal itu hanya menatap heran dan berjalan melenggang ke meja makan.


Didepan pintu, Yasya langsung memarahi Saga dengan suara pelan.


"Lo ngapain kesini sih? Gue udah bilang kan jangan dateng lagi ke kehidupan gue, oke?! Lo gak tahu bahasa indonesia atau gimana? Oke gue jelasin pake bahasa sunda. TONG DATANG DEUI KANA KAHIRUPAN URANG, SAGA... KADANGU?!" tegas Yasya menekankan kalimat bahasa sundanya yang 'berarti jangan datang lagi ke kehidupan gue, Saga. Kedengeran?!'


Saga hanya tertawa kecil, "lo lucu deh kalau ngomong bahasa sunda gitu. Denger ya. Gue kesini karena mau nagih utang, makan berdua sama lo. Dan sebelum utang itu dibayar, gue akan terus gangguin lo."


"Oke. Kalau utang itu dibayar lo akan berhenti gangguin gue?"


"Iya. Dan gue akan mulai menjadi teman baik lo, membantu lo ketika susah, dan berusaha menghilangkan kesedihan lo. Oke?" tegas Saga dengan suara pelan dilanjutkan dengan membuka pintu dan masuk kembali kedalam rumah.


Yasya hanya menatapnya sinis. Sambil berjalan masuk, ia menggelengkan kepala dan mengusap keningnya. Ia tidak paham lagi dengan laki laki asing itu. Laki laki yang semula membencinya tiba tiba berubah menjadi aneh.


Yasya pun mempersilakan Saga untuk ikut makan. Saga pun segera duduk dan ikut memakan makanan yang ada diatas meja bersama Yasya dan Dimas. Yasya tidak peduli lagi sehabis itu. Ia memilih untuk fokus bermain HP daripada harus berurusan dengan si buta ijo itu.


"Mas, sejak kapan kenal sama kakak gue?" tanya Dimas pada Saga.


"Sejak SMP sih. Tapi dulu gak terlalu kenal gitu."


"Apaan sih Dim lo tanya-tanyain dia segala? Mending lo cepet makan habis itu berangkat nanti telat," tukas Yasya.


"Gue kan kepo, sebagai adik lo yang kelak akan menjadi wali jika lo menikah. Gue harus tahu asal usul dari laki laki yang deket sama lo," jelas Dimas dengan nada ceramah.


"Dih sok banget lo! Lagian dia itu bukan siapa siapa gue."


"Gak percaya gue. Sejak kapan ada laki laki yang lo ajak ke rumah? Sekalinya ada, berarti dia pasti orang spesial kan?" tanya Dimas dengan alis yang naik turun.


"Gini Dimas, gue itu emang bukan siapa siapanya Yasya," jelas Saga.


"Tuh lo denger kata buta ijo ini oke?"


"Tapi bentar lagi dia juga mau," Saga terkekeh.

__ADS_1


"Tuh kak. Lo denger kata mas mas ini. Oke?"


"Hhhh," Yasya mendengus kesal sambil memukul piringnya dengan sendok.


"Ah lo kebiasaan kalau marah mukanya suka kelipet kayak baju belum disetrika!" tukas Dimas sambil tertawa membuat Saga juga ikut tertawa.


Baru kali ini Yasya melihat kehangatan dirumahnya. Melihat tawa lepas adiknya setelah sekian lama. Ia ikut tersenyum melihat adiknya tertawa lepas, meski adiknya sedang menertawakannya.


***


"Kak. Gue berangkat ya..." ucap Dimas setelah selsai makan.


"Iya... tunggu bentar. Gue ambil dulu dokumen yang harus difotokopi."


Yasya pun ke kamarnya untuk mengambil dokumen yang harus difotokopi lalu kembali lagi dengan tetap fokus menatap layar Hp.


"Dim... Dimas!!" teriak Yasya sambil berlari.


"Dimas...!!"


"Apaan sih kak?!"


"Naskah gue diterima Dim! Naskah gue yang bulan kemarin!"


"Serius?"


"Iya. Aaaaak!!" Yasya berteriak dan memeluk Adiknya sambil meloncat kegirangan.


Saga yang melihatnya langsung mendekati Yasya dan mengulurkan tangannya untuk memberi selamat. Yasya hanya menatap sinis kearah tangan Saga sebelum kemudian ia membalasnya.


"Oke. Thank you..." balas Yasya.


"Apaan sih lo?! Stop deh ngomong ngomong pdkt, atau gue gak kasih makan malem!"


Dimas mengulurkan tangan pada Saga dan saga membalasnya.


"Gue berangkat ya mas. Oh iya. Tolong jagain kakak gue. Jangan bikin dia nangis, bikin dia murung, bikin dia kecewa atau apapun itu. Atau gue bakalan pagerin sekeliling rumah ini pake laser sunat!" tegas Dimas dengan pandangan tajam pada Saga.


Yasya yang melihat itu hanya menutup mulut sambil tertawa kecil.


"Yaudah kak. Gue berangkat. Dah..."


"Dah... hati hati Dim! Jangan lupa fotokopi!!"


Baru saja Dimas berjalan keluar, ia sudah kembali lagi masuk dan menemui Yasya. Saat Yasya bertanya ada apa, Dimas memberikan sebuah surat.


"Nih kak dari tukang pos tadi. Gak tahu dari siapa."


"Oke. Udah lo cepet berangkat sana!"


"Hmmm."


"Surat apaan nih?!" tanya Yasya sambil membuka amplop berisi surat itu.


Melihat surat itu, Saga cukup malas. Itu sepertinya surat cinta. Karena tulisan didalam surat itu sangat indah. Tapi tunggu, untuk apa dia malas? Toh itu kan surat Yasya. Mau surat cinta atau surat apapun itu bukan urusannya.


"Surat apaan tuh?" tanya Saga penasaran sambil mengangkat kedua alisnya dan berusaha mengintip.

__ADS_1


"Kepo!" ucap Yasya sambil membaca surat itu. Dengan tidak memperlihatkannya pada Saga.


Untukmu perempuan cantik yang memikul beban berat, kamu kuat. Kamu berhasil menunjukkan pada dunia bahwa kamu mampu mengalahkan semua susah pemberiannya.


Dan lagi, kamu berhasil membuatku terpana hanya dengan cerita pilu yang kau hadapi dengan senyum cantik yang tak pernah luput dari pengelihatanku.


Dengan surat ini, aku hanya ingin memberi semangat dan membuatmu kuat. Tapi maaf, aku belum berani menunjuk diri. Aku hanya ingin menjadi pecandu senyum rahasiamu.


Hey, semangat. Beban berat memang kadang ditujukan untuk orang orang yang kuat.


- Pemerhatimu dari jauh.


Yasya menutup surat itu dengan senyum tipis. Tapi dalam hatinya ia cukup merasa bahagia. Siapapun orang asing itu, ia berhasil memberi semangat pada Yasya dengan kata katanya untuk menghadapi semua beban yang dipikulnya. Ia jadi penasaran siapa pengirim surat itu. Tapi tidak ada identitas apa apa disurat itu.


Tapi ia tidak mau terlalu berharap pada si pengagum ini. Bahagimana jika ternyata ia adalah seseorang yang tidak sesuai harapannya? Bagaimana jika ia seorang pria tua? Bagaimana jika ia ternyata adalah seseorang yang ingin menipunya? Atau melakukan hal hal buruk lainnya? Tapi terlepas dari itu semua, Yasya menyukai surat itu. Jadi kemungkinan buruk yang tadi ia pikirkan mudah menghilang dari kepalanya.


"Kenapa lo? Kesambet ya?!" tanya Saga.


"Gak. Eh Ga, menurut lo gue cantik gak?" tanya Yasya tiba tiba dengan jemari yang merapikan rambut.


"Dih apaan sih lo? Aneh! Surat apaan itu, gue belum tahu?!"


"Surat cinta dari pacar!" balas Yasya yang langsung berlalu pergi kearah meja makan untuk mengambil piring kotor.


Mendengar ucapan Yasya barusan, Saga melongo. Ia tidak percaya dengan apa yang Yasya katakan. Ia langsung diam seribu bahasa sambil berjalan mengikuti Yasya dengan tatapan kosong.


***


"Mau ngapain?" tanya Yasya saat melihat Saga mengikutinya. Saga hanya diam. Mungkin ia masih memikirkan tentang surat itu. "Woy! Malah bengong!" tukas Yasya.


"Eh iya. Apa tadi?"


"Lo mau ngapain?"


"Ngajak lo pergi. Ayo berangkat!"


"Berangkat kemana? Hari ini gue gak ada kelas. Udah deh lo. Cepetan pergi dari sini!"


"Nah bagus kalau lo gak ada kelas. Kita pergi ke luar aja gimana?"


"Emang lo gak ngampus? Udah ngampus sana!"


"Ngampus sih. Tapi bolos sekali, buat pergi seharian sama lo gak apa apa lah. Biar lo ada yang nemenin," jelas Saga sambil tersenyum manis.


"Enggak ya. Udah pergi sana! Gue sibuk. Gue mau cuci baju, gue setrika baju, cuci piring, beres beres rumah, sibuk!"


"Nah itu lebih bagus lagi. Gue bisa bantuin lo dengan senang hati!"


"Susah ngomong sama orang kayak lo!"


Yasya melenggang pergi dan membawa piring cuciannya. Ia sudah tidak mempedulikan Saga lagi. Ia sudah lelah marah marah. Tapi semua belum selesai, Saga tidak pergi. Ia ikut membawa piring piring kotor itu dibelakang Yasya. Saat Yasya hendak berbalik, Saga menghalangi jalannya.


"Lo itu.... hhhh astaga..."


"Apa? Kenapa? Gue cuma mau bantuin lo."


"Satu satunya cara agar lo bantuin gue adalah dengan gak mengganggu gue, oke? Ayo keluar sekarang!" Yasya menarik tangan Saga agar segera keluar dari rumahnya. Tapi Saga menahan dirinya dengan kuat. Yasya mengerahkan tenanganya untuk menarik laki laki itu, tapi sia sia. Ia malah keleahan sendiri.

__ADS_1


"Yaudah deh," Yasya berjalan kembari kearah tempat pencucian piring.


"Gue boleh bantuin lo nih? Oke."


__ADS_2