Rumah Tak Berpintu

Rumah Tak Berpintu
Bab 9


__ADS_3

Saga bergegas untuk kembali pulang karena di kampus, ia sama sekali tidak mempunyai kegiatan. Ditengah perjalannya keluar dari gerbang, ia melihat Yasya sedang mengobrol yang sepertinya masalah tugas kuliah dengan seseorang.


Saga teringat bahwa ia membunyai utang pada Yasya. Saga pun menghampiri Yasya setelah ia mengobrol. Saat didekati, sudah pasti Yasya langsung merasa kesal. Tapi ia kencoba menanangkan diri dulu menghadapi lelaki yang sering membuatnya kesal itu.


"Sya..." Sapa Saga sambil mengangkat tangannya.


"Iya," Yasya menjawab sambil melipat tangan dan memalingkan wajahnya.


"Tuh. Lo mah gitu mulu!! Tadi gue liat ngobrol sama orang lain santai santai aja. Giliran ngomong sama gue, langsung berubah sifat gitu."


"Bodo!"


"Gue inget kalau gue itu punya utang sama lo."


"Yaudah mana?!" Yasya menadahkan tangannya.


"Lupa bawa uang. Habisnya gue kesini dadakan. Ambil dulu ke ATM gimana?"


"Yaudah lo ambil!"


"Sama lo lah. Gue males balik lagi ke kampus. Mau langsung pulang."


"Iya sih. Gue juga mau balik. Yaudah ayo!" seru Yasya tanpa protes.


Mereka berdua pergi menuju ATM terdekat untuk menarik uang. Saga bertanya berapa jumlah yang harus dibayar, Yasya pun memberitahunya. Setelah selesai menarik uang, Saga langsung memberikannya pada Yasya.


"Thanks, ya..."


"Iya."


"Ya udah. Selesai. Mulai sekarang lo jangan lagi muncul dikehidupan gue," Yasya memalingkan wajahnya.


"Oke. Tapi sebelumnya makan bareng dulu."


Yasya menatap Saga. Ia menarik napas panjang sebelum bicara, "Oke. Karena lo udah baik. Gue mau. Makan ke mana?"


"Udah ikut aja dulu," Saga menarik tangannya dan mengajaknya untuk pergi ke sebuah restoran.


"Bisa gak sih lo jangan pegang tangan gue terus setiap ngajak pergi?"


"Iya. Nih dilepasin," Saga melepas genggaman tangannya. Mereka berdua berjalan bersebelahan menuju restoran terdekat.


Baru saja sampai didepan restoran, Yasya langsung mengurungkan niatnya.


"Gue pulang aja lah. Mahal nih pasti makanan disini. Mending gue masak di rumah."


"Yaudah ayo!" Saga menarik tangan Yasya kembali.

__ADS_1


Yasya berdeham dan membuat Saga berhenti melangkah. Ia menatap wajah Yasya. Yasya hanya menatap kearah tangannya, Saga langsung sadar dengab apa yang dilakukannya.


"Sorry lupa! Hehe!"


"Mau kemana sih?"


"Ikut aja."


Saga mengajak Yasya pergi ke super market untuk membeli bahan bahan makanan. Saat Saga sedang memilah dan memilih, bertanya ini itu, Yasya hanya melipat tangan dan menatap sinis.


"Lo mau ngapain sih?" tanya Yasya saat melihat Saga sedang memasukkan bahan makanan kedalam troli.


"Beli bahan makanan. Terus nanti lo masak, kita makan bareng dirumah lo."


"Ogah banget!"


"Yah... ini udah terlanjur milih."


"Kan belum bayar."


"Udah nih sekarang mau bayar." Saga berjalan kearah kasir dan hendak membayar bahan makanan. Sementara Yasya, ia berjalan menjauh keluar. Saga tidak sadar sampai ia sampai didepan kasir. Sambil menunggu belanjaannya dihitung, Saga menatap bolak balik kearah Yasya dan kasir yang sedang melayaninya.


Setelah selesai Saga langsung berlari kencang untuk mengejar Yasya. Saat itu yasya sedang berjalan kearah halte. Saga berlari secepat kilat hingga ia tepat berada disebelah yasya dengan napas terengah.


"Sya. Kenapa sih? Katanya mau makan bareng."


"Gak. Gue batalin."


"Lo bawa pulang aja."


"Iya. Gue bawa pulang ke rumah lo."


Yasya hanya diam. Mereka tak saling bicara lagi setelah percakapan itu sampai mereka berdua naik bus. Didalam bus mereka duduk berdua karena bus tidak begitu penuh. Saga masih mencoba membujuk Yasya agar ia mau menerimanya untuk datang ke rumahnya.


"Sya, emang gue gak boleh ya tahu rumah lo? Kenal sama lo? Tahu isi dunia lo?"


"Gak."


"Sya. Hey. Boleh atuh Sya..." Saga terlalu bingung untuk membujuk Yasya sampai ia mengeluarkan bahasa sundanya.


"Hhhhh," Yasya geram. Ia memutuskan untuk turun dari bus meski tempat tujuannya masih jauh. Tapi Saga tetap mengikutinya dari belakang.


Yasya berjalan ditrotoar dengan cepat. Ia berpikir bahwa Saga akan menyerah dan berhenti mengikutinya. Tapi tidak, Saga terus berjalan dibelakangnya dengan kedua tangan yang membawa dua kantong besar berisi bahan bahan makanan.


"Sya. Naik taksi aja yuk? Cape."


Yasya tidak peduli. Keringatnya sudah mengucur dengan deras membasahi pelipisnya. Wajahnya sudah memerah dan napasnya terengah. Sampai seketika ia memberhentikan langkahnya.

__ADS_1


"Cukup! Cukup deh lo ngikutin gue. Pergi!"


"Gue cuma mau ke rumah lo, apa salahnya sih?!"


Yasya menghela napas panjang, "Oke."


"Yaudah. Kita naik taksi aja, ya. Cape."


Saga pun memberhentikan taksi. Mereka berdua masuk kedalam taksi dan kembali membisu. Tak ada percakapan diantara mereka. Setiap kali Saga mencoba membuka percakapan, usahanya gagal. Yasya tidak memedulikannya. Ia hanya fokus mengarahkan sang sopir taksi sesuai arahannya. Ia tidak memberitahu lokasinya.


"Sya. Ini kita mau kemana sih? Kayaknya daerah rumah lo udah kelewat deh."


"Lo mau tahu tentang gue kan? Lo mau ke rumah gue? Lo mau tahu dunia gue kan?"


"Iya."


"Yaudah. Diem!"


***


Setelah cukup lama mengarahkan, mereka pun sampai disebuah tempat. Yasya langsung keluar diikuti oleh Saga. Ia mencengkeram tangan Saga kuat-kuat dan menariknya.


"Sya, pelan-pelan."


Yasya tidak peduli dengan ucapan Saga. Ia tetap berjalan dengan cepat sambil mencengkeram tangan Saga kuat kuat.


Hingga mereka sampai disuatu tempat. Tempat yang membuat Saga merasakan sesuatu yang salah. Yasya mengajak Saga untuk pergi ke tempat yang mungkin akan membuat Saga berhenti mengikutinya. Mungkin dengan ini, ia tidak mempunyai urusan lagi dengan Saga karena Saga akan merasa asing dengan dunianya.


Mereka pun berhenti didepan sebuah ruangan dengan pintu terkunci. Tapi mereka dapat melihat kedalam ruangan itu dibalik jendela.


"Itu, Ga. Itu dunia gue," ucap Yasya dengan kepala tertunduk.


Saga hanya tertegun diam. Ia tak percaya dengan apa yang ia lihat. Ia meletakkan dua buah kantong besar yang daritadi ia bawa. Ia mendekatkan wajahnya ke jendela dan menatap seorang perempuan yang tengah duduk diam dan terlihat muram.


"Sya.. g... gue.." Saga tertegun dan tidak bisa berkata apa apa. Ia merasa kaget. Ia tak tahu harus memberi reaksi apa pada sesuatu yang ada dihadapannya.


"Lo udah tahu kan sekarang? Jadi, sekarang lo pergi, Ga! Pergi!" bentak Yasya agar Saga segera pergi dari sana. Tanpa Sadar pelupuk matanya dipenuhi air yang akan meluap.


"Tapi Sya. Gue..."


"Pergi, Ga!! Pergi!!" Yasya mendorong tubuh Saga agar Saga segera menjauh. Tapi Saga tetap bertahan dan ia mencoba menenangkan Yasya.


"Sya..."


Pertahanan Yasya roboh. Tubuhnya lemas. Tangisnya pecah. Air matanya mengalir dengan deras. Ia menangis tersedu sedu tapi ia tetap mencoba menyuruh Saga pergi dari sana. Pergi dari dunianya, "Pergi, Ga!! Gue bilang pergi!! Pergi!! Pergi!!!" ucap Yasya parau dengan tangan yang memukul-mukul Saga agar Saga pergi. Tapi Saga langsung memegang dan menarik tangannya hingga tubuh Yasya terbenam dalam pelukan hangat yang baru pertama kali ia rasakan. Pelukan yang datang dari seorang laki laki yang paling ia benci. Laki laki yang ia harap dihilangkan dari semesta tapi malah datang dan makin masuk kedalam kehidupannya.


"Sya, udah Sya," ucap Saga sambil memeluk dan mengusap lembut rambut Yasya.

__ADS_1


"Pergi, Ga... tinggalin gue di dunia gue yang udah gak berarah ini. Tinggalin gue, adik gue, dan seorang perempuan tua yang jiwanya sakit. Tinggalin, Ga," Yasya menangis dalam pelukan itu sambil tetap memukul dan mencoba menyuruh Saga pergi.


Tapi Saga tidak peduli sebanyak apapun Yasya menyuruhnya pergi. Ia tahu kalau saat ini Yasya benar benar butuh seorang teman baik yang mau menemaninya. Terlebih setelah ia tahu dunia Yasya yang ternyata begitu pelik dan gelap. Dunia dengan banyaknya kesulitan. Dunia yang dihuni olehnya, oleh adiknya, dan oleh seorang ibu yang memiliki gangguan dalam jiwa baiknya.


__ADS_2