Rumah Tak Berpintu

Rumah Tak Berpintu
Bab 8


__ADS_3

"Halo? Ga... lo ke kampus gak hari ini?!" tanya Adit diseberang telepon saat Saga terpaksa bangun untuk menangkat telepon darinya.


"Gak. Kita kan gak ada kelas. Udah ya. Gue mau tidur lagi."


"Lo ke kampus lah. Buruan!"


"Apaan sih, Dit?!" Astaga... gue masih ngantuk berat ini!" keluh Saga sambil menggosok matanya.


"Ini penting. Buruan lo ke kampus dulu nanti gue jelasin!"


"Akh... yaudah iya. Tunggu!!"


Dengan malas Saga berjalan ke kamar mandi untuk mencuci muka. Setelah itu ia hanya berganti baju dan berjalan malas menuju kampus. Baru saja ia masuk melewati gerbang, Adit menariknya dan langsung berbicara panjang lebar.


"Ga, lo bener-bener harus bantuin gue."


"Bantuin apaan sih?! Lo ngapain juga sibuk banget ke kampus?!"


"Ana, Ga. Dia udah deket lagi sama cowok lain," jelas Adit.


Saga hanya menatapnya kosong tanpa berkedip sama sekali selama beberapa detik. Ia benar benar kesal karena masalah genting yang Adit maksud ternyata tidak segenting itu.


"Gue kira lo nyuruh gue cepet cepet dateng ke kampus karena ada apaan."


"Buruan lah lo bujuk dia supaya bisa balik lagi sama gue."


"Dit. Udah deh. Kalian berdua itu udah selesai. Jangan berharap ada lagi lanjutan cerita."


"Tapi gue masih mau ngelanjutin ceritanya."


"Iya lo ajanyang mau. Ana nya enggak. Udah deh lo move on. Sekarang saatnya buat memulai sesuatu yang baru."


"Gue gak bisa."


Saga memejamkan matanya dan menggelengkan kepala. Beberapa saat kemudian ia tersenyum licik.


"Hmmm. Oke. Gue ada ide buat bantuin kalian berdua balikan."


"Gimana?!"


"Nanti gue kasih tahu."


***


Saga pun menghampiri Ana yang sedang duduk dan makan mie goreng kesukaannya dikantin. Sementara Adit, dia menunggu diluar kantin dan memperhatikan Saga.

__ADS_1


"Na!" tegur Saga.


"Apaan sih Ga?!"


"Lo katanya udah ada cowok baru ya?!"


"Iya. Lagi deket."


"Keren... beda sama si Adit dia sampe sekarang masih gak bisa move on. Dia masih aja mogok makan, mogok main game, dan juga dia suka ngomong sendiri kayak ngomong sama lo gitu. Serem," ucap Saga. Ia sevenarnya ingin sekali tertawa tapi ia tahan. Ia harus berbohong bagaimanapun caranya agar Adit dan Ana bersatu kembali. Karena kalau tidak, ia akan terus diteror oleh Adit yang minta disembuhkan dari patah hati.


"Bagus lah. Makin dia gila, makin dia gak inget siapa gue!" tukas Ana dengan mulut yang masih mengunyah mie goreng.


Saga tertegun diam. Ia kehabisan ide. Ia tidak tahu harus bagaimana cara agar Ana mau kembali pada Adit. Padahal masalah mereka sepele. Hanya karena Adit sering bermain game. Itu saja. Tapi kenapa Ana begitu sulit memaafkannya?


"Na..."


"Apa?"


"Kok lo gak maafin si Adit sih?"


"Gak."


"Kenapa? Masalah game doang. Lo maafin lah."


"Game doang?! Gara gara game, gue was was nungguin kabar dari dia. Gara gara game, dia telat nganter gue ke kampus. Gara gara game, dia lupa hari ulang tahun gue, lupa anniversary kita. Dia sibuk mabar tapi lupa ngasih kabar, dia sibuk mabar sampe gue lelah berkutat terus yang namanya sabar, udah ya? Jangan ngomongin dia terus. Capek," jelas Ana panjang lebar.


Saga masih duduk dihadapan Ana, ia masih bingung bagaimana cara membujuk perempuan yang terlanjur terluka itu. Sampai sebuah ide gila muncul dalam kepalanya. Ia ragu ragu mengikuti ide itu, tapi sepertinya ide ini adalah ide terbaik yang mungkin akan berhasil.


"Na..." Saga berbisik pelan.


"Apaan?"


"Sini deh."


Saga menyuruh agar Ana mendekat. Ana pun mendekatkan telinganya dan mendengarkan Saga berbisik. Adit yang melihat dari jauh hanya keheranan, apa sebenarnya yang sedang Saga bicarakan pada Ana?


"Apa? Serius?!" tanya Ana setelah mendengar ucapan Saga.


"Iya, makannya lo temuin dia deh cepet!"


"Oke. Tapi bentar, gue abisin dulu mie goreng gue, sayang."


Saga menepuk jidat. Ia langsung mengirim pesan pada Adit bahwa Ana akan menemuinya. Adit hanya tinggal menunggu diluar perpustakaan tepatnya dilantai dua.


"Lo tunggu aja diujung lorong perpus nanti si Ana kesana," jelas Saga dipesan itu.

__ADS_1


"Kenapa harus diperpus sih?"


"Dia gak mau ditempat rame katanya! Udahlah nurut aja!!" jelas Saga.


Adit pun setuju. Ia pergi dengan segera dan menunggu diujung lorong perpustakaan. Adit hanya berdiri dan melihat ke langit yang sedang biru dan cerah. Seakan mewakili perasaannya yang kini membaik karena Ana sudah mau menemuinya.


Setelah cukup lama menunggu, ia dikagetkan oleh teriakan seorang perempuan yang sudah sangat ia kenal.


"Dit! Adit! Kamu ngapain sih?! Kalau soal yang kemarin, aku udah maafin kamu, sekarang kamu mau minta apa lagi dari aku? Apa Dit? Bilang aja. Aku pasti akan melakukannya kalau aku bisa," jelas Ana sambil memeluk Adit dari belakang. Ia sepertinya terlihat sangat sedih.


"Na, aku cuma mau minta maaf atas semua kesalahan yang udah aku buat. Maaf karena aku gak pernah perhatian sama kamu. Maaf karena lupa hari ulang tahun kamu, lupa hari jadi kita. Maaf, Na."


"Iya. Aku udah maafin," tiba-tiba Ana menangis dengan lengan yang masih melingkar dipinggang Adit."


"Sekarang, aku cuma mau kita balik kayak dulu lagi, Na," jelas Adit singkat sambil berbalik dan menatap mata Ana dalam-dalam.


Ana diam cukup lama. Ia menatap kearah Adit sebelum beberapa saat kemudian, Ana membalas ucapan Adit dengan tegas.


"Iya, Dit. Aku mau," ucap Ana singkat.


Adit langsung memeluknya dengan erat. Pelukan pertanda semuanya dimulai dari awal lagi. Adit yang harus bertahan dalam memainkan game snake, dan Ana yang harus berusaha untuk bersikap dewasa dalam menghadapi Adit yang tidak bisa selalu ada disampingnya.


"Jangan pergi lagi, Na."


"Jangan melakukan kesalahan yang sama, Dit. Dimaafkan dan dipercaya kembali itu mahal harganya."


"Iya... bawel. Jangan bikin makin sayang deh."


"Dit..." Ana melepas pelukan itu. Tatapannya menajam. Ekspresinya berubah marah. "Kamu jangan ngelakuin hal gal gila deh! Baru ditinggalin sama cewek aja udah sok jago. Menurut kamu kayak gitu tuh bagus? Enggak Dit! Nanti kalau kamu kenapa napa gimana? Jangan bikin repot semua orang deh!!" tukas Ana.


Adit tidak mengerti apa yang Ana maksud. Tapi ia mulai mencurigai bahwa sepertinya ini adalah ulah dari Saga. Sepertinya Saga telah menceritakan hal-hal yang aneh tentangnya.


"Iya Na. Gak akan," jawab Adit singkat meski ia tidak paham dengan apa yang Ana maksud.


Adit dan Ana pun berjalan sambil bergandengan tangan. Ana menyuruh Adit segera pergi ke kantin dan makan yang banyak agar Adit tidak sakit. Ini semua ulah Saga yang berkata bahwa Adit sudah mogok makan dan bualan lainnya.


***


"Ga, thanks ya... gue udah balikan lagi sama Ana. Gila. Lo emang paling bisa diandalkan. Eh iya. Lo ngomong apaan aja sih sama Ana? Kok dia bisa tiba tiba luluh?" tulis Adit dalam sebuah pesan.


"Oke Dit. Tenang aja sama gue mah. Gue cuma bilang sama Ana kalau lo mogok makan, mogok main game, suka ngomong sendiri,"


"Oh oke."


"Sama gue juga bilang, kalau dia gak mau balikan sama lo, lo akan loncat dari lantai dua."

__ADS_1


Adit yang membaca itu berubah kesal. Saga benar benar menyebalkan. Pantas saja tadi Ana sampai menangis tersedu-sedu. Ternyata gara gara itu.


"Sumpah, lo gila bangkeeee!!!! Sialaaaan!!!" tukas Adit kesal.


__ADS_2