Rumah Tak Berpintu

Rumah Tak Berpintu
Bab 3


__ADS_3

"Aku sayang sama kamu, Sya. Aku harap kita bersama mulai sekarang, besok dan selamanya," mata Saga berbinar saat ucapan itu keluar. Mulutnya tersenyum manis penuh harapan.


"Iya Ga, aku juga sayang sama kamu. Sayang banget. Jangan pernah pergi ya, Ga," mereka berdua saling memeluk dan tersenyum.


Saga terperanjat. Ia terbangun dari tidurnya. Mimpi barusan benar-benar membuatnya kaget sekaget-kagetnya.


"Untung cuma mimpi... kalau itu beneran, hiiii. Gak kebayang!" tukas Saga dengan tubuh yang menggigil seperti kedinginan.


***


Tepat pukul sepuluh pagi, Saga menaiki bus untuk pergi ke kafe tempat komunitasnya akan berkumpul. Ia memakai kemeja abu abu, celana jeans dan topi warna putih. Tak lupa juga ia membawa kamera kesayangannya dan beberapa lensa.


Bus membawanya berjalan perlahan menuju halte perhentiannya. Sesekali pengamen masuk dan menyanyikan lagu, lalu turun kembali setelah mendapat sejumlah uang didalam bungkus permen. Headset yang menempel ditelinga Saga, berhasil meredam semua suara sekelilingnya. Ia hanya terfokus pada lagu yang mengalun.


Setelah sampai dihalte perhentiannya, ia berjalan sedikit untuk menuju ke kafe tempatnya berkumpul. Saat sampai, disana belum ada teman teman komunitasnya dan kafe itu pun sepertinya baru buka. Jadi ia memutuskan untuk memesan minuman dan duduk menunggu disebuah meja yang kursinya menghadap tepat kearah jendela yang menghadap jalan.


"Ini mas, minumannnya. Selamat menikmati," Ucap sang pelayan sambil meletakkan minuman dihadapan Saga.


Saga menengadahkan wajahnya pada pelayan itu dan mengucapkan terima kasih. Sampai ia tertegun diam karena pelayan yang menyuguhkan minuman padanya itu seseorang yang sudah tidak asing lagi. Seseorang yang sudah mengganggu hiduonya akhir-akhir ini.


"Astaga.... lo itu ya! Kenapa sih disetiap tempat yang gue datangin, selalu ada elo?! Lo bisa gak, sembunyi gitu, sehari aja..." tegas Saga pada Yasya sambil menunjukan jari telunjuknya dan memohon.


"Ck," Yasya menggelengkan kepala dan berlalu pergi, tapi Saga menahannya dengan menarik lengan Yasya.


"Tunggu."


"Apaan sih? Jangan ganggu gue deh."


"Lo kerja disini tiap hari?!"


"Part time. Udah?"


"Kenapa harus kerja?!"


"Bukan urusan lo!!" tegas Yasya yang langsung berlalu pergi tanpa memedulikan Saga disana.


Setelah cukup lama menunggu, Saga akhirnya mendapat kepastian. Kawan-kawan komunitasnya mengirim pesan bahwa hunting foto kali ini akan dibatalkan karena satu dan lain hal.


Saga cukup kesal karena ia sudah menunggu cukup lama disini. Ia memutuskan untuk menghabiskan minumannya dan pergi dengan menyimpan uang diatas meja. Baru beberapa langkah ia berjalan mendekati pintu, langkahnya terhenti karena hujan yang tiba-tiba mengguyur deras disertai kilat dan gemuruh guntur.


Akkkhhh. Perasaan tadi cuaca cerah! Kenapa sekarang hujan deres?! tukas saga dalam hati sambil mengusap keningnya.


Ia berbalik kebelakang, disana nampak seorang perempuan yang sedang mengelap meja meski sebenarnya semua meja masih bersih karena kafe baru buka.


Semesta, kenapa aku dibuat terjebak dengan perempuan ini?!

__ADS_1


Saga berjalan malas kembali menuju mejanya tadi. Saat ia duduk dan bersadar dikursinya, pandangannya teralih pada perempuan yang dari tadi sibuk mengelap meja. Ia menarik napas panjang sebelum bicara. Ia mencoba memberanikan diri untuk mengobrol dengan Yasya.


"Sya..." tegurnya. Yasya langsung menengoknya dan berkata dengan malas.


"Apaan lagi sih?!"


"Gue mau bayar."


"Kan kasir ada... jangan manja deh lo ah!!"


Saga mendengus. Ia sebenarnya sedang mencari alasan agar ia bisa mengobrol dengan Yasya. Entah kenapa, mengetahui bahwa Yasya bekerja membuatnya sedikit tersentuh. Untuk apa dia bekerja? Apakah sebutuh itu ia dengan pekerjaannya?


Tunggu. Apakah Saga sudah mulai membuka hatinya? Apa ia berhasil menemukan sisi baik dari Yasya yang selama ini ia benci?


Oke. Gue cari tahu alesan dia kerja. Kalau alesannya itu baik dan dia menjelaskannya dengan tutur kata yang baik, berarti dia masih memiliki sisi manusianya. Kalau dia marah-marah, berarti dia masih saiton seutuhnya. Batin Saga.


Ia terpikir dengan ucapan Adit kemarin. Mungkin Adit benar. Selama ini saga terlalu ditutupi kebencian yang membuatnya tak bisa melihat kebaikan dari Yasya. Mungkin ia harus sedikit membuka hatinya dan berbicara baik-baik pada Yasya, mungkin Yasya juga akan bersikap baik padanya.


Saga berjalan kearah meja kasir lalu memesan dua gelas minuman. Setelah memesan ia kembali kemejanya dan duduk menunggu minuman itu datang.


"Nih minumannya." Yasya mengantarkan minuman itu kembali kehadapan Saga. Saat ia beranjak pergi, saga menahannya kembali.


"Duduk!" tegasnya.


"Duduk! Minuman ini buat lo!"


"Gue? Hhhh," Yasya memutar matanya dan berjalan kembali.


"Jarang-jarang loh gue baik gini. Buruan duduk!"


"Gak."


"Satu menit."


Yasya menatap kearah Saga dan minuman dihadapannya. Sebenarnya ia juga haus karena ia bekerja dari tadi pagi. Terlebih lagi minuman ini gratis.


Yaudahlah. Ngobrol sama si buta ijo sekali doang. Gak akan kesurupan, kan? Yasya membatin dan meyakinkan dirinya.


Ia berjalan gontai kearah meja Saga dan duduk dihadapannya dengan wajah yang terpaling.


"Gue ikut duduk dan ngobrol karena gue lagi bosen aja. Bukan karena tawaran lo."


"Iya. Udah minum dulu minumannya!"


Yasya menyedot minuman yang ada dihadapannya dengan ganas karena kehausan. Saga yang melihatnya hanya tertawa kecil.

__ADS_1


"Gausah ketawa. Gue tahu!" Yasya mendengus kesal dengan wajah yang menatap kearah lain.


"Iya. Maaf. Sya, kenapa sih lo...." belum sempat Saga merampungkan kalimatnya, Yasya langsung memotong.


"Kenapa sih lo jadi sok baik gini?! Biasanya juga kelakuan lo kayak buta ijo!" tanya Yasya.


Saga menahan rasa kesalnya. Ia mencoba menangkan dirinya, ia menarik napas panjang dan tetap bersikap baik.


Semesta, jika dia memang baik untukku, tolong beri petunjuk. Tolong biarkan aku melihat sisi baiknya sedikit saja. Saga membatin.


"Gue mau tanya. Apa alasan lo kerja?" tanya Saga.


"Bukan urusan lo!"


"Yaudah. Lo bayar minuman yang baru lo sedot. Minuman itu gue beliin biar kita bisa ngobrol."


"Oh jadi lo gak ikhlas ngasih minuman ini ke gue?!"


"Bukan gitu, Sya. Tapi..."


"Nanti gue ganti! Sekarang gue lagi gak bawa uang! Udahlah, gue mau kerja dulu. Kalau gue males malesan gini, gimana ade gue bisa bayar uang sekolah?!" ucap Yasya tegas sambil berjalan kebelakang.


Aduh. Kenapa gue malah bilang soal ini?! Yaudahlah si Saga doang. Dia gak mungkin urusin hidu gue juga. batin Yasya.


Saga tersentak dengan ucapan Yasya. Petir yang bergemuruh seakan mewakili perasaannya. Ia benar benar merasa kaget. Seketika dunianya seperti berhenti. Baru kali ini ia mengetahui sisi lain dari Yasya. Sisi yang sepertinya selalu Yasya sembunyikan dari siapa pun. Tapi beberapa detik kemudian, Saga tersenyum. Semesta berhasil memberi bukti bahwa masih ada kebaikan dalam diri seseorang yang selama ini ia benci. Mungkin benar, Yasya memang baik, hanya saja ia tak dapat melihat hal itu.


Perlahan hujan kembali mereda, meninggalkan sejumlah genangan dan kenangan dalam satu waktu. Saga berjalan kearah kasir dan membayar. Sebelum itu, ia mengobrol terlebih dahulu dan berbisik pelan.


"Mas punya nomor telepon Yasya gak?"


"Punya."


"Boleh minta?"


"Hmmm. Saya tanya dulu ya sama dia."


"Gak usah. Saya temennya dikampus. Dia udah kenal saya kok."


Kasir itu ragu-ragu. Ia berpikir kalau memang Saga adalah teman sekampusnya Yasya, kenapa ia tidak meminta nomornya sendiri?


"Kenaoa gak minta sendiri aja mas sama Yasya."


"Dia tadi marah. Saya di block sama dia dinomor lamanya. Ayo lah, bantuin saya ya?" Saga beralasan.


Akhirnya kasir itu luluh dan memberikan nomor Yasya. Setelah diberi nomor itu, Saga berjalan keluar dari Kafe dan menuju halte. Ia sudah memutuskan. Memutuskan untuk mengenal Yasya lebih dalam. Entah kenapa ia jadi penasaran tentang dunia Yasya. Apakah ramalan yang waktu itu diberikan padanya benar? Apakah Yasya merupakan jodohnya? Jika bukan, tidak apa apa. Setidaknya Saga sudah menghapus kebenciannya pada Yasya. Dan semoga ia dapat menghapus kebencian pada diri Yasya. Semoga.

__ADS_1


__ADS_2