
Saga dan Yasya duduk tidak jauh dari depan Rumah Sakit Jiwa itu. Mereka berdua duduk disatu bangku. Kesedihan Yasya mulai mereda. Ia mulai tenang. Sementara Saga, ia merasa seperti sedang menembus dunia baru yang belum pernah ia ketahui. Dunia yang sepertinya jika ia ada disana sendirian, ia tidak akan mampu bertahan.
"Sya... sejak kapan?"
"Sejak ayah pergi untuk selamanya," mulut Yasya mengucapkan kalimat barusan secara reflek. Sebelum ia sadar bahwa ia salah karena sudah memberitahu orang asing tentang semua ini.
"Sya, gimana kalau...."
"Ga... mending sekarang lo pergi."
"Gak."
"Kenapa sih lo itu bersikeras banget pengen masuk ke dunia gue?! Setelah lo liat dunia gue barusan, kenapa sih lo gak menjauh aja?!! Dunia gue udah gelap, Ga. Jadi tolong jangan ganggu gue."
"Justru, setelah gue tahu dunia lo tadi, gue makin mau memasuki dunia lo itu. Gue tahu lo butuh temen dalam menghadapi semuanya, kan?"
"Enggak."
"Udah deh Sya. Lo jangan..."
"Udah deh Ga. Mending lo menghilang dari dunia gue, atau gue yang menghilang!" Yasya berdiri dari tempat duduknya.
"Yasya!" ucap Saga dengan tangan yang langsung memegang erat lengan Yasya.
"Saga! Udah deh ya... gue males berdebat sama lo, gue mau pulang!"
***
Yasya memilih pulang menaiki bus. Ia meminta agar Saga jangan mengikutinya atau ia akan diteriaki sebagai orang jahat. Saga pun menurut. Tapi ia tidak menyerah, ia mengikuti bus yang Yasya tumpangi dengan taksi yang ia naiki tanpa meninggalkan dua kantong belanjaan yang sejak tadi ia bawa bawa.
Setelah Yasya berhenti, Saga menyuruh sang sopir taksi untuk mengikutinya dan memberikan belanjaan yang sudah ia beli. Karena sayang jika tidak termakan.
Sopir taksi itu pun mengikuti Yasya. Setelah Yasya sampai didepan rumahnya, ia memberikan dua kantong belanjaan itu dan berkata bahwa itu adalah titipan. Yasya tidak bisa menolak karena ia tidak tega jika menolak si bapak taksi mentah mentah.
"Oh iya pak. Terima kasih ya..." ucap Yasya sambil tersenyum. Ia melirik ke sekitar rumahnya. Tapi tidak ada Saga disana. Entah dimana ia berada. Yasya takut jika sampai Saga tahu rumahnya, mungkin ia akan datang ke sini.
"Dim... Dimas... buka..." teriak Yasya pada adiknya sambil mengetuk pintu.
Adiknya membukakan pintu dan menyapanya.
"Kak, abis dari mana? Bawa belanjaan banyak banget lagi."
"Oh ini. Ini dikasih tadi. Udah ayo gue masakin. Kita makan!" ajak Yasya sambil tersenyum riang membuat Dimas bersemangat. Yasya tidak suka memperlihatkan kesedihannya pada Adiknya. Karena menurutnya, Adiknya tidak perlu tahu tentang apapun yang bersangkutan dengan perasaannya apalagi luka lukanya.
Saat Yasya tengah memasak, Dimas berjalan menghampirinya. Ia seperti ingin mengatakan sesuatu tapi ragu ragu.
"Mmmm. Kak!"
"Iya."
"Uang sekolah gue... gimana? Udah ada?" tanya Dimas pelan.
"Oh itu, tunggu bentar. Potongin tuh bawang."
Yasya berjalan mengambil uang di tasnya dan kembali menghampiri Dimas dengan membawa sejumlah uang yang tadi diberikan oleh Saga.
"Nih."
__ADS_1
"Wah. Makasih ya kak. Lo emang kakak terbaik." Dimas memeluk Yasya begitu erat.
Yasya sangat menyayangi adiknya karena ia satu satunya keluarga yang ia miliki. Sebenarnya ia pernah diminta untuk tinggal dengan om dan tantenya dan dibiayai oleh mereka. Tapi Yasya menolak. Ia hanya meminta tolong untuk membantu biaya ibunya di Rumah Sakit Jiwa. Akhirnya, mereka hanya tinggal berdua. Dan Yasya harus bekerja keras untuk membiayai adiknya.
"Iya. Lo belajar yang bener!"
"Lo pasti cape banget ya kerja buat nyari uang sekolah gue?" mata Dimas berkaca kaca saat kalimat itu keluar dari mulutnya.
"Apaan sih lo? Jangan lebay deh. Lo gak usah mikirin gue. Pikirin aja pelajaran disekolah lo. Dan jangan ngecewain gue!"
"Siap!" balas Dimas dengan memberi hormat.
***
"Ka, lo dapet uang dari mana? Banyak banget beli makanan," ucap Dimas dengan mulut yang mengunyah makanan yang dimasak kakaknya.
"Ini makanan dikasih tadi."
"Dikasih siapa? Baik banget. Pacar lo ya?" tanya Dimas dengan memberi senyuman jail.
"Pacar? Pacar apaan? Ini dikasih sama Tuhan."
"Halah. Gak percaya gue."
"Ya udah kalo gak percaya. Udahlah. Gue mau cuci piring dulu."
"Eh... gak usah. Kali ini, biar gue aja."
"Oke. Eh iya. Jangan lupa, bahan makanan yang masih nyisa dimasukin ke kulkas."
***
Yasya kembali ke kamarnya. Ia membuka laptop dan melakukan hobinya yaitu menulis. Ia sangat bercita cita menjadi penulis. Ia sangat ingin sekali karyanya dibaca oleh orang banyak. Tapi cita-citanya itu belum bisa terealisasikan karena sudah beberapa kali naskahnya ditolak oleh penerbit. Tapi ia tidak patah semangat. Meski ia ditolak beberapa kali. Ia masih tetap menulis, karena menulis benar benar bisa menenangkan pikirannya.
Baru juga ia menuangkan isi pikirannya ke laptop, HP nya berdering. Ada panggilan masuk. Ia lekas mengangkatnya.
"Halo?"
"Sya..." Yasya mengenal suara itu, ia mendengus kesal. Dan lagi, darimana Saga tahu nomor Yasya. Ia sudah mengganti nomornya waktu itu.
Tanpa basa basi, Yasya langsung menutup panggilan itu dan melanjutkan kegiatan menulisnya. Lalu dari luar kamarnya, pintunya diketuk.
"Kak... gue bawain kopi nih..."
"Masuk. Gak dikunci!"
Dimas masuk ke dalam kamarnya. Disana terlihat kakaknya yang sedang tekun menulis. Ia meletakkan kopi yang ia bawa sambil duduk dan melihat kearah laptop. Lalu pandangannya teralih pada HP yang berdering karena sebuah panggilan.
"Kak... lo gak mau angkat?!"
"Gak usah. Gak penting!"
"Oh oke..."
Deringnya berhenti. Tapi semuanya belum selesai. Pesan pesan mulai bermunculan. Dimas mengangkat alisnya dan melihat kelayar HP. Karena penasaran, Dimas berniat membuka HP kakaknya yang terus bergetar karena pesan.
"Jangan macem macem!" bentak kakaknya dengan mata yang masih fokus menatap layar laptop.
__ADS_1
"Gue kepo. Sorry!" Dimas langsung menyambar HP Yasya dan membaca pesan pesan itu. Yasya hanya menatapnya dengan tatapan kesal. Ia tidak peduli atau berniat untuk merebut HP nya. Karena tidak ada apa apa juga.
"Sya, gimana, udah masak makanan enaknya? Selamat menikmati ya, Sya. Padahal gue pengen banget makan masakan lo," ucap Dimas membacakan isi pesan dari Saga. Yasya yang mendengar hal itu kaget. Ia langsung berdiri dan berusaha merebut HP nya kembali. Tapi Dimas menahan dan membacakannya makin keras.
"Sya. Bales dong."
"Dim. Siniin!! Dimas!!"
"Ya udah. Selamat istirahat Sya. Besok kita ketemu lagi. Bye..." lalu HP itu diberikan kembali pada Yasya yang sudah berekspresi muram.
"Bilangnya gak punya pacar. Terus itu apa?" tanya Dimas sambil tersenyum jail.
"Dia bukan pacar gue."
"Oh masih gebetan..."
"Bukaaaaaan."
"Oke. Kalau gitu gue pinjem HP lo!"
"Buat apaan sih Dim?"
"Pinjem aja!"
Dengan enggan, Yasya memberikan HP nya pada Dimas. Dengan cepat dimas menyambar HP Yasya dan memanggil nomor tadi, yaitu nomor Saga. Setelah panggilannya tersambung, Dimas mengeraskan volumenya.
"Halo!" sapa Saga diujung telepon.
"Dimaaaaas..." ucap Yasya gemas sambil mengepalkan tangannya.
"Diem!" tegas Dimas pada kakak perempuannya itu sambil mengacungkan jaritelunjuknya. "Halo. Ini Dimas. Ade nya kak Yasya. Ini siapa ya?"
"Oh. Gue Saga."
"Oh oke. Gini mas. Kalau lo mau deket sama kakak gue. Lo gak perlu beliin dia bahan makanan buat dia masak. Kasih aja dia buku buku puisi. Dia pasti suka. Serius. Dan please, kalau lo suka sama kakak gue. Buruan tembak karena dia udah kesepian banget kayak tukang jaga warnet."
Saga terkekeh diujyng telepon, "Gitu ya... besok deh. Besok gue ajak dia ke toko buku."
"Dimaaaas..." mata Yasya melotot seperti akan keluar. Tapi Dimas tidak peduli. Ia merasa senang saat menjahili kakaknya.
"Kata kak Yasya selamat malam. Selamat tidur, mimpi indah."
"Iya. Selamat malam kembali."
Panggilan berakhir. Yasya merasa sangat geram. Dimas hanya tertawa melihat kakaknya yang berwajah merah karena kesal.
"Ciaaaaa.... yang lagi jatuh cinta!"
"Sekali lagi lo kayak gitu, gue puter kepala lo 360 derajat!!"
"Urusin dulu tuh Mas Saga nya..."
Yasya mengambil bantal dan melemparnya pada Dimas sebelum kemudian Dimas berlari pergi keluar kamarnya karena takut Yasya akan semakin murka.
***
Malam ini, Yasya menghabiskan waktunya dengan berpikir bagaimana cara menjauhkan Saga dari hidupnya. Yasya tak ingin Saga semakin masuk dan mengacau di hidupnya yang sudah tak berarah. Bagaimana pun caranya, Saga harus segera pergi atau jika bisa ia menghilang ditelan segitiga bermuda atau terhisap lubang hitam agar tak bisa kembali mengacau.
__ADS_1