Rumah Tak Berpintu

Rumah Tak Berpintu
Bab 5


__ADS_3

Saga turun di halte perhentiannya setelah bus membawanya pergi selama beberapa menit. Ia berjalan menuju kampus. Karena waktu kelasnya masih lama, ia kekantin terlebih dahulu untuk membeli makanan. Setelah membeli roti dan minuman, ia berjalan kesatu meja. Baru juga ia bersiap untuk duduk, sebuah kertas diatas meja mencuri perhatiannya. Kertas yang sepertinya sudah terlipat cukup lama.


Saga mengambil kertas itu dan berniat membuangnya. Tapi karena penasaran dengan isinya, ia membuka kertas itu dan hendak melihat apa yang ada didalamnya.


Dibalik senyum manisanya ada luka yang besar terbuka.


Dibalik rasa pasrahnya ada sesuatu yang sangat ia pinta.


Dia. Manusia kuat yang paling pandai berpura pura.


Yang menyimpan sakit dan bersembunyi dibalik kebohongan rasa bahagia.


Tulisan pendek itu mencuri hati Saga. Seseorang yang menulis tulisan itu pasti sangat merasa rapuh saat ini. Ia jadi penasaran, siapa seseorang yang menulis tulisan indah dikertas yang ia pegang?


Saga tidak jadi membuangnya. Ia membawa kertas itu keluar dari kantin sambil memakan roti yang daritadi baru ia makan segigit. Baru beberapa langkah ia keluar dari kantin, ia berpapasan dengan Yasya. Wajah Saga terputar kearah Yasya berjalan. Ia terus fokus melihat Yasya yang sedang menggeser kursi, menengok ke kolong meja, atau bertanya pada orang-orang disana.


"Ada yang liat kertas gitu gak disini?" Tanya yasya pada seseorang yang sedang duduk sambil menunjuk satu meja yang tadi sempat saga duduki.


"Enggak," jawab orang itu.


Kertas? Saga melihat kearah kertas yang sedang ia pegang.


Oh ini punya dia.... bagus juga tulisannya. Pikir Saga sambil mengangguk.


Yasya merasa kebingungan. Ia menggaruk kepala dan mendengus kesal. Ia berjalan kearah tempat sampah dan hendak mencari sesuatu disana. Tapi ia mengurungkan niatnya karena tempat sampah yang begitu kotor dan memiliki bau menyengat. Yasya keluar dari kantin dan otomatis ia berpapasan kembali dengan Saga yang dari tadi hanya diam dan memperhatikannya.


"Sya," panggil Saga membuat Yasya mendengus kesal.


"Apa? Gue lagi gak mood buat ribut sekarang."


"Bisa gak jangan marah? sekali aja."


"Denger ya, mau gue marah atau enggak itu urusan gue. Oke? Bye!!"


Yasya pergi dengan rasa kesal. Saat itu Saga ingin sekali marah sejadi jadinya. Tapi ia tahu, perempuan itu sedang menanggung beban yang berat dipundaknya. Ia tak mau mencari masalah lagi dan membuat beban perempuan itu bertambah.


***


Hari ini dosen yang mengajar dikelas Saga tidak masuk. Jadi saga berjalan keluar dan hendak pulang. Tapi ia langsung mengurungkan niatnya. Ia berpikir untuk menemui seseorang yang masih belum bisa bersikap baik padanya.


Saga menunggu didepan kelas Yasya cukup lama. Ia menunggu sepanjang kelas sambil duduk atau sesekali berjalan dan menengok Yasya dijendela. Hingga akhirnya Yasya keluar dari kelasnya dan Saga langsung menahannya agar tidak pergi.


"Apa lagi? Gak cukup ya lo gangguin gue akhir-akhir ini?"


"Lo masih punya utang sama gue. Minuman yang kemarin."

__ADS_1


"Oh oke. Gue bayar. Tunggu," Yasya membuka tasya dan hendak mengeluarkan uang. Tapi Saga segera menahannya.


"Eh. Gak usah. Gue gak mau dibayar pake uang."


"Terus maunya apa?!"


"E... gimana ya.... makan bareng gimana?"


"Gak!" jawab Yasya ketus dan hendak berjalan pergi.


Saga belum menyerah. Ia mengejar Yasya dari belakang dan tetao berusaha membujuknya.


"Gue udah nungguin lo dari tadi loh," teriak Saga sambil mengejar Yasya yang berjalan cepat.


"Gue gak nyuruh!"


"Lo bisa gak sih jangan marah terus sama gue? Gue minta maaf kalau selama ini gue sering memperlakukan lo enggak baik. Gue minta maaf kadang gue marah marah sama lo. Maaf, Sya. Gue tahu lo udah banyak nanggung beban. Dan gue cuma mau meringankan beban lo dengan minta maaf dan janji akan bersikap baik sama lo!"


Ucapan Saga itu membuat Yasya menghentikan langkahnya. Yasya berbalik. Saga langsung berlari menghampirinya dan berdiri dihadapannya sambil tersenyum manis, berharap Yasya mau berbaik hati dan memaafkannya.


"Gimana?" tanya Saga.


"Lo mau mengurangi beban hidup gue kan?"


"Mau, Sya. Mau banget. Apa yang bisa gue bantu?"


Saga tidak mengerti, apa yang salah? Ia hanya ingin mereka berdua memiliki hubungan yang lebih baik, tidak saling caci, saling maki atau saling benci. Sudah itu saja. Tapi kenapa sangat sulit? Mungkin apa yang dilakukannya pada Yasya selama ini membuat Rasa benci Yasya padanya begitu kuat hingga tidak bisa dihancurkan. Andai ia tahu dari dulu bahwa Yasya tidak baik baik saja, sejak awal ia tidak akan mengganggu atau bersikap buruk pada perempuan itu.


***


"Woy Ga!" sapa Adit sambil menepuk pundak Saga dan memecah lamunannya.


"Apaan?!"


"Lo kenapa?"


"Enggak. Itu si Yasya."


"Kenapa dia?"


"Lo tau lah..."


"Oh oke. Sekarang lo bantuin gue buat bilang sama Ana kalau gue mau minta maaf."


"Loh. Si Ana kan tadi sama Yasya dikelasnya. Dan Yasya pulang. Berarti si Ana pulang juga dong pasti."

__ADS_1


"Dia di kantin. Gue liat dia tadi. Udah buruan. Lo udah janji mau bantuin gue."


"Oke... oke..."


Saga berjalan ke kantin dan masuk. Ia melihat Ana sedang duduk dan makan mie goreng. Saga duduk dihadapan Ana dan menyapanya.


"Na..." ucap Saga.


"Iya, kenapa?"


"Si Adit bilang ke gue..."


"Gak usah bahas-bahas dia. Kalau lo mau bahas dia. Bahas ditempat lain aja. Jangan sama gue."


"Tapi dia mau ngomongin...."


"Bilangin gue gak mau!"


"Sekali aja, Na. Dia cuma mau jelasin."


"Gak!"


"Na..."


"Kalau lo mau bahas dia terus, mending lo pergi deh, ga! Ganggu gue makan aja! Udah ah pergi!" tegas Ana sambil fokus terhadap HP nya.


Saga tidak bisa berbuat apa apa. Ana berhak atas hal itu. Jadi ia berlalu kembali dan menemui Adit sambil menggelengkan kepala pertanda bahwa ia tidak bisa membujuk Ana.


Saga pulang lebih dulu karena ia sudah tidak memiliki urusan. Adit tetap memaksa agar Saga mau membantunya, tapi Saga tidak bisa.


Adit pun memutuskan untuk menunggu Ana sampai Ana keluar dari kantin. Ana pun keluar. Adit langsung menghampirinya dan mencoba mengajaknya bicara.


"Na, aku mau..."


"Gak!"


"Tapi Na..."


"Mau apa lagi sih, Dit? Mau jelasin? Aku udah tahu kalau menurut kamu game itu lebih penting dari apapun didunia ini, kan? Aku tahu Dit."


"Aku udah hapus semua game di HP aku. Sekarang aku cuma punya game snake, Na."


"Aku gak peduli, Dit. Kita udah selesai. Cerita kita udah habis. Gak ada lanjutannya. Udah ya?"


Ana berlalu pergi. Meninggalkan ribuan harapan Adit yang tidak ia pedulikan. Adit masih menyimpan separuh hatinya pada perempuan itu, ia tak bisa lupa atau pergi karena sejak semuanya dimulai, ia sudah mempercayakan separuh hatinya itu pada seorang perempuan yang ia yakin akan ia miliki selamanya. Tapi ternyata ia salah.

__ADS_1


Perasaannya terlalu rumit, harapannya terlalu sulit, dan lukanya terlalu sakit


__ADS_2