
*Hai...
Namaku Bima, Sya....
Maaf karena tidak membalas pesanmu. Nomor itu khusus untukmu. Agar kamu bisa menceritakan apapun yang kamu mau dan aku siap untuk menerimanya.
Jadi nanti, setiap kamu bercerita, akan ada sepucuk surat sebagai balasan. Repot ya? Maaf. Hehehe.
Oh iya. Akhir akhir ini aku sering melihat kamu marah marah pada seorang laki laki.
Tapi, kulihat sepertinya dia orang yang baik.
Kenapa? kalau ada masalah apa apa, lebih baik bicarakan dan selesaikan secara baik baik. Agar tidak ada penyesalan jika suatu saat mungkin tiba tiba keadaan memburuk.
Oh iya satu lagi, jangan hanya melihat sisi buruk dari segala hal, lihat juga sisi baiknya agar tidak ada paham yang salah.
Salam kenal
- Bima, dimanapun kamu mau*.
"Oh Bima ya? Hmmmm...." Yasya tersenyum manis. "Eh tapi kata dia, Saga kelihatan baik?! Kalau dia tahu kelakuannya, mungkin dia udah nyerah duluan."
Yasya menyimpan surat itu bersama dengan surat yang kemarin ia terima juga. Setelah itu ia bersiap dan bergegas pergi ke kafe.
Saat sampai, Yasya langsung membuka pintu dan hendak masuk kedalam kafe. Tapi disana ia dihadapkan oleh bosnya yang bernama Romi itu. Dengan pakaian rapi dan tatapan tegasnya, ia berhasil membuat Yasya tergagap gagap.
"Ada apa ya pak?" tanya Yasya sambil mengangguk dan menunduk.
"Ini hari terakhir kamu kerja. Kamu dipecat!" tegas Pak Romi dengan tangan yang terlipat.
"Ta... tapi kenapa?"
__ADS_1
"Kata pegawai lain, akhir akhir ini kamu sering pergi keluar di jam kerja dan jalan jalan sama laki laki. Sementara dikafe, pegawai lain kewalahan! Saya memang sudah membolehkan kamu untuk izin, tapi haya untuk kuliah! Diluar itu...." Pak Romi menggelengkan kepala. Menandakan Yasya tidak sepatutnya melakukan kesalahan kesalahan itu.
"Pak. Tolong kasih saya kesempatan. Saya janji gak akan melakukan itu lagi. Tolong pak. Saya benar benar butuh pekerjaan ini, Pak."
"Keputusan saya sudah bulat. Kamu dipecat! Dan ini hari terakhir kamu kerja!" tegas Pak Romi.
Yasya tidak bisa berkata apa apa lagi. Ia tidak bisa membela dirinya karena memang ia yang salah. Ia bekerja dengan lesu. Memikirkan bagaimana cara agar ia mendapat pekerjaan yang lain. Karena jika tidak, bagaimana ia dan adiknya akan makan?
"Ini semua gara gara si Saga!! Coba aja dia gak pernah ngajakin gue pergi! Semuanya gak akan kayak gini!!" tukas Yasya.
***
Usai ditinggalkan oleh Yasya. Dalam bungkamnya, Saga berjalan kearah kelas dengan perasaan yang campur aduk, sedih, kecewa, kaget, semuanya ia rasakan.
Saat masuk ke kelasnya, Saga hanya menghela napas panjang dan menyisir rambutnya. Ia hanya malamun sepanjang kelas. Raganya diam dikelas tapi isi kepalanya jauh pergi keluar. Kearah lapangan, tempat dimana ia dimarahi habis habisan oleh Yasya. Ia memikirkan apakah ia harus diam dan membiarkan Yasya begitu saja? Apakah ia memang seharusnya pergi dari kehidupan Yasya? Tapi ia tahu bahwa Yasya sebenarnya membutuhkan orang lain. Tapi kenapa kehadirannya selalu ditolak? Kenapa Yasya begitu enggan menerima Saga dalam hidupnya?
***
"Ga! Lo kenapa sih?! Daritadi ngelamun terus?!" tanya Adit saat mereka berdua sedang berjalan keluar dari kelas.
"Lo gak ada abis abisnya mikirin dia terus. Pikirin juga diri lo! Dia udah nyuruh lo pergi berkali kali, dia udah mencaci maki lo, kenapa lo masih aja berusaha buat masuk kedalam kehidupan dia?!"
"Gue gak bisa ninggalin dia! Ada sesuatu yang rapuh didunianya yang kalau dia hadapi sendiri dia akan hancur, Dit!"
"Ya kenapa lo gak coba tembak dia aja!"
"G... gue gak nyimpen perasaan sama dia. Gue cuma mau jadi temennya, udah!"
"Gak mungkin! Gila, lo terus bertahan padahal dia udah nyuruh lo pergi itu namanya apa kalau bukan cinta?!"
"Ya gimana? Orang gue bener bener pure pengen jadi temen baiknya dia aja."
__ADS_1
"Halah! Ngomong doang kayak gitu! Dalem hati pasti lain lagi!" tukas Adit sambil mendorong tubuh Saga.
"Terserah lo mau berpikiran kayak apa juga!"
"Oh iya. Gue mau makan di kantin sama Ana, lo mau ikut gak?!"
"Enggak."
"Ya udah. Gue ke kantin. Jangan ngelamun mulu lo!!"
"Iya. Gue mau pulang."
Pulang. Hanya itu. Sekarang Saga tidak berpikir untuk berkunjung ke rumah Yasya. Atau datang ke kafe tempat Yasya bekerja. Saat sampai mungkin Yasya akan mencercanya habis habisan. Jadi ia memutuskan untuk pulang saja ke rumah.
***
Tapi ternyata diam dirumah tidak semudah itu. Kurang dari dua jam Saga diam dirumah, ia sudah merasa bosan. Padahal dulu ia selalu begini, tapi kenapa sekarang rasanya lain? Seperti ada yang kurang. Seperti ada sesuatu yang lebih menarik diluar. Tanpa basa basi, Saga langsung menyambar kameranya dan pergi keluar. Ia ingin mencoba menghilangkan ke tidak karuan pikirannya dengan mengabadikan beberapa momen diluar.
Ditengah kekacauan pikirannya, Saga memutuskan untuk menaiki bus kemanapun ia pergi. Tanpa arah dan tujuan. Ia berhenti dipinggir jalan dan turun dari bus.
Saga berjalan tanpa arah sambil memotret beberapa pemandangan yang bagus. Sesekali ia memotret bangunan yang artistik, pejalan kaki, atau jalanan yang sedang sesak dipenuhi kendaraan. Setelah cukup disatu tempat, ia pergi lagi ke tempat lain dengan menaiki angkot secara acak kemanapun ia mau. Lalu ia berhenti lagi ditempat yang tidak ia tentukan untuk mengambil foto ditempat itu.
Hal itu terus berlanjut sampai hari mulai menjelang sore. Langit terbakar memunculkan warna oranye yang sangat membara. Tak lupa Saga juga memotret momen itu.
Tidak terasa hari mulai gelap. Sebelum pulang ke rumah, ia memutuskan untuk mampir dulu ke sebuah restoran. Ia memesan dan duduk sambil melihat lihat hasil fotonya.
Lagi lagi Saga dibuat kaget dengan sebuah foto tenda merah. Tenda dari peramal yang sempat ia datangi. Kini tenda itu bertuliskan 'Kadang, sesuatu harus pergi dulu sebelum pulang'
"Gila. Ini udah gak normal sumpah!" tukas Saga sambil menghapus foto itu. Ia benar benar merasa aneh dengan peramal itu. Kenapa ia harus datang waktu itu? Andai saja ia tidak datang, foto foto ini tidak akan menerornya.
Saat makanan datang, ia langsung memakannya dengan lahap. Tapi tiba tiba, pandangannya tertuju pada seseorang yang berjalan ke arah meja kasir. Ia melihat Yasya sedang mengobrol dengan kasir itu. Beberapa saat kemudian, Yasya kembali dan matanya bertatapan dengan Saga yang sedang asyik makan. Saat itu, Saga tidak berani melakukan apaoun selain tersenyum tipis dan kembali menyantap makanannya.
__ADS_1
Sudah ditebak, Yasya lanjut berjalan keluar tanpa memedulikan Saga. Dengan cepat Saga menghabiskan makanannya. Lalu ia berjalan kearah kasir dan membayar. Tapi tak hanya itu. Ia juga menanyakan pada sang kasir apa yang dilakukan Yasya saat ia kesini. Kasir itu menjawab bahwa Yasya sedsng menanyakan lowongan pekerjaan tapi ditempat ini tidak ada lowongan.
Saga berjalan keluar. Ia berjalan kesana kemari dan menanyakan ini itu. Semuanya ia lakukan semata mata hanya ingin agar hubungannya kembali membaik dengan Yasya. Membaik sebaik baiknya.