Rumah Tak Berpintu

Rumah Tak Berpintu
Bab 7


__ADS_3

Setelah perjalanan yang cukup lama. Bus pun berhenti, menandakan mereka sudah sampai ke tempat tujuan yaitu Orchid Forest Lembang. Saga bersiap untuk turun, tapi perempuan disebelahnya tertidur pulas, membuatnya tidak tega untuk membangunkannya. Selain tidak tega, ia juga takut kalau Yasya akan marah-marah seperti kucing yang ekornya terinjak.


"Sya.. Yasya..." ucap Saga sambil mengguncang tubuh perempuan itu.


"Eh iya! Apa? Udah sampe? Aduh gue ketiduran."


"Yaudah. Ayo keluar!"


Saga dan Yasya pun turun dari mobil. Lagi-lagi, saat berjalan Saga langsung memegang tangan Yasya dan menariknya. Tapi kali ini Yasya langsung protes.


"Bisa gak jangan pegang tangan gue."


"Nanti ilang gimana?"


"Gue bukan anak kecil yang lagi jalan-jalan di ramayana! Ah lo!!" tukas Yasya kesal membuat Saga tertawa.


"Hahaha. Yaudah. Iya. Nih dilepas. Oke ayo kita kesana!" Saga langsung melepaskan genggaman tangannya dan mereka berdua berjalan masuk.


Sebelum itu, semua orang komunitas berkumpul terlebih dahulu, sang ketua mengingatkan kembali tema fotografi mereka dan meminta agar berkumpul tepat waktu ditempat yang sama.


Saga dan Yasya pun berjalan berdua. Yasya cukup terkagum dengan tempat yang ia kunjungi. Ia menghirup napas panjang dan tersenyum lebar. Ini benar benar ketenangan yang ia butuhkan.


"Lo gak ngikutin sama temen-temen lo? Fotoin tuh model model nya!"


"Kan model gue itu elo!"


Seketika ketenangan yang tadi Yasya dapat berubah menjadi rasa marah.


"Lo jangan ngajak ribut disini!"


"Serius. Model gue itu lo. Udah ayo coba lo pose," Saga mengarahkan kameranya kearah Yasya.


"Gak mau! Apaan sih?!"


"Yaudah. Iya. Lo pergi kemana dulu gitu. Nanti kumpul lagi ditempat yang tadi. Gue mau ambil foto dulu."


"Oke," jawab Yasya singkat. Ia langsung berlari kegirangan.


Saga tidak pergi kemana-mana. Ia mengikuti Yasya dibelakang sambil bersembunyi. Ia benar benar ingin mengambil foto Yasya. Saat Yasya berjalan, Saga mengambil fotonya dengan cepat. Saat Yasya menghirup udara segar sambil tersenyum, Saga mengambil fotonya, bahkan saat Yasya duduk dan melamun, Saga mengambil fotonya.


***


Setelah cukup lama mengambil foto, Saga menghampiri Yasya yang sedang duduk diam dan meletakkan dagunya diatas telapak tangan.

__ADS_1


"Lagi mikirin apaan sih?!" tanya Saga sambil duduk disebelah Yasya.


"Eh enggak."


"Hmmm... bohong! Eh gue mau tanya. Tadi pas di kafe lo di telfon, tiba-tiba wajah li murung. Ditelfon siapa?"


"Sumpah lo berjiwa stalker banget. Sampe sedetail itu."


"Hehe. Kepo. Siapa yang nelfon."


"Ade gue. Dia bilang udah telat bayar uang sekolahnya."


"Oh... pantesan aja lo mau ikut gue dengan terpaksa banget. Hahaha."


"Lo nyinyirin gue?! Eh iya. Tadi lo kok bisa minta izin sampe gue bisa pergi? Jangan jangan gue dipecat. Atau gue disuruh kerja lembur tiap hari. Atau jangan jangan...."


"Sssssttttt....." Saga menutup mulut Yasya dengan satu jarinya. "Tenang. Lo gak dipecat, lo gak akan disuruh kerja lembur, dan lo gak akan dipaksa nikah sama bos lo. Tenang..."


"Ya terus lo bilang apaaaaa?!!"


"Gue cuma bilang kalau lo udah kerja keras buat ngumpulin puluhan orang yang datang ke kafe hari ini. Dan gue minta agar lo dibebaskan hari ini dan gue juga minta supaya gaji lo nanti dinaikin. Hahaha."


Yasya tertegun diam. Matanya menatap kosong pada lelaki disebelahnya yang sedang sibuk menjelaskan.


"Eh... e.... oke...." Saga mengangguk dan terlihat kaget mendengar ucapan Yasya. Karena ia memang tidak pernah mendapat ucapan baik dari Yasya selama ini. Ini pertama kali.


"Jadi... lo mau gak difoto, sekaliii aja. Sekali," pinta Saga memohon.


"Hhhhh. Oke deh oke... gue harus gimana nih pose nya?!" jawab Yasya malas.


"Nah gitu dong. Lo berdiri sambil satu kaki kebelakang, terus ngasih gaya gimana ya nyebutnya. Gaya cool gitu. Muka judes tapi bikin sayang gitu. Eh. Maksudnya..."


"Iya. Iya gue paham. Gini?!" Yasya langsung berdiri dan menunjukkan pose yang Saga maksud.


"Nah iya gitu. Tunggu... oke. Satu dua... ya, bagus. Sekali lagi dong ganti gaya." pinta Saga kemudian.


Yasya pun berganti gaya tanpa protes. Saga terus memotretnya. Sudah beberapa kali Saga berkata 'sekali lagi' tapi itu tidak pernah jadi yang terakhir sampai Yasya marah.


"Udah ah. Capek! Lo nyuruh gini, nyuruh gitu. Terus aja gue difoto kayak lumba-lumba sirkus!!" Yasya melipat tangannya dan memunculkan wajah cemberut. Membuat Saga tertawa kecil.


"Oke. Udah kok. Kita beli minum dulu abis itu balik," ajak Saga.


Mereka berdua membeli minuman dan beberapa makanan ringan. Senyuman Yasya tanpa sengaja merekah. Baru kali ini ia melihat laki laki yang paling ia benci itu bersikap baik padanya.

__ADS_1


"Udah? Ada yang mau dibeli lagi gak?!" tanya Saga memecah tatapan kosong Yasya.


"Eh. Udah kok. Udah."


***


Semuanya berkumpul kembali dan bersiap pulang. Sebelum itu, ketua komunitas mengingatkan untuk mengirim beberapa hasil foto untuk di posting di akun instagram komunitas. Setelah beberapa pengumuman, semuanya masuk kembali kedalam bus dan berlalu pulang.


"Sya."


"Iya, Ga, apaan? Lo udah mau pulang masih aja ngajak ngobrol. Gak cape ya?!"


"Hehehe. Jadi gimana? Gue udah di izinin buat kenal sama lo?!"


"Gak," balas Yasya dengan mulut yang mengunyah makanan ringan.


"Yah... buat masuk ke dunia lo? Jadi temen lo? Bantuin lo dari kesulitan?"


"Gak. Gak. Gak. Udah cukup sekali aja kita kayak gini, oke? Kedepannya lo gak usah muncul dihadapan gue lagi. Kalau bisa terbang sana ke pluto!"


Saga menarik dan membuang napas panjang. Ia mengira bahwa Yasya sudah membuka sedikit saja hatinya agar ia bisa mengenalnya. Tapi ia salah. Yasya benar benar tidak memberi celah. Tembok yang menutup dirinya benar benar sulit ditembus. Hatinya seperti rumah tanpa pintu yang takkan bisa dimasuki siapapun kecuali sang tuan rumah mau berbaik hati membuat pintu itu dan memperbolehkan tamu untuk masuk.


***


Setelah bus berhenti, semua penumpang turun dan saling berpamitan pulang kerumah masing-masing karena ini sudah sangat sore. Yasya berjalan masuk ke dalam kafe dan Saga mengikutinya. Yasya merasa bahwa ia sedang diikuti, jadi ia berhenti dan berbalik kebelakang.


"Mau ngapain sih? Udah pulang san! Jangan ngikutin gue. Oh iya lupa. Lo mau ngasih uang ya? Yaudah mana sini!" ucap Yasya sambil menodongkan tangannya.


"Besok aja ya. Gue gak bawa uang cash. Besok gue janji."


"Yaudah kalau gitu, silakan pulang Mas nya. Ini udah sore. Pamali. Nanti diculik wewe gombel kalau lama lama main diluar pas menjelang maghrib teh."


"Sya..."


"Ck. Apaan? Apa? Mau ngomong apa?!!"


"Setelah hari ini, gue baru tahu kalau lo itu..."


"Apa? Lo mau bilang gue cewek murahan karena mau diajak jalan cuma karena uang ratusan ribu buat bayar uang sekolah? Gitu? Yaudah. Bilang aja. Gak apa apa," ujar Yasya memotong ucapan Saga.


"Kalau orang ngomong itu jangan dipotong. Gue mau bilang kalau lo cantik dan baik. Udah lah gue pulang, bye!!" Saga berlalu pergi.


Yasya menatap lelaki punggung lelaki itu yang perlahan mulai menjauh. Hatinya dikagetkan oleh ucapan Saga. Baru pertama kali dalam hidupnya, Saga mengatakan hal itu padanya.

__ADS_1


"Dia kesurupan arwah Sangkuriang atau kenapa sih? Perlu diruqyah deh kayaknya. Ih serem," ucap Yasya sambil bergidik ngeri. Ia mengira kalau Saga telah membawa jin atau semacamnya dari lembang tadi karena sikapnya yang aneh.


__ADS_2