Rumah Tak Berpintu

Rumah Tak Berpintu
Bab 16


__ADS_3

Yasya pulang sore menjelang malam. Ia tidak pergi ke kafe karena ia sudah meminta izin bahwa hari ini ia akan dikampus seharian. Jadi hari ini, semua pekerjaan dikerjakan oleh temannya sesama pelayan.


Di waktu pulang kali ini ia bersyukur karena tidak ada laki laki ngotot yang mengikutinya. Ia merasa lega, tapi disisi lain, ada perasaan dalam hatinya yang merasa bersalah. Ia takut jika ucapannya pada Saga tadi membuat Saga sakit hati.


Apaan sih Sya?! Anggap aja ucapan lo itu sebagai balesan dari ucapannya yang dulu. Batin Yasya.


***


"Dim... gue pulang..." panggil Yasya lemas.


Setelah Dimas membukakan pintu, Yasya langsung masuk dan merebahkan tubuhnya disofa. Dimas yang melihat hal itu merasa heran. Tidak seperti biasanya kakaknya murung seperti itu.


"Lo kenapa kak?"


"Enggak. Cape aja," balas Yasya. Dimas hanya mengangguk pelan.


"Eh iya. Nih ada paket. Gak tahu dari siapa. Kayaknya sama deh dari yang kemarin."


"Mana, mana liat!" Yasya langsung bangkit dan bersemangat.


"Yee lo dikasih ginian aja langsung semangat. Emang isi suratnya apaan sih?!"


"Ini urusan gue. Lo gak usah ikut ikutan."


Yasya langsung membuka paket yang berisi surat dan sebuah buku puisi. Ia keluarkan surat yang sepertinya telah mencuri hatinya itu dan langsung membacanya.


*Hari ini aku tidak memberimu puisi dengan kalimat indah. Aku hanya membawakan sebuah buku untuk kau baca. Tidak apa apa jika tidak dibaca juga, karena semuanya kalimatnya sudah kucoret dengan tinta.


Oh iya. Jangan lupa senyum. Aku suka melihatmu bahagia meski hanya beberapa detik saja. Karena dibeberapa detik senyummu terlihat, seisi dunia menatap terpikat karena melihat senyum perempuan cantik berhati malaikat.


Jangan biarkan sedih mencuri senyummu. Jangan biarkan sakit mencuri senyummu. Jangan biarkan luka mencuri senyummu.


Biarkan aku yang mencipta sabit indah itu dibibirmu.

__ADS_1


- Masih dari Orang yang Sama*.


Setelah selesai membaca surat itu, lagi lagi Yasya tersenyum lebar. Ia merasa seperti sedang berada didunia lain yang lebih meneyenangkan. Yang lebih membahagiakan. Seketika ia lupa dengan rasa kesal, marah, kecewa yang baru saja ia rasakan.


Setelah selesai membaca surat itu, dibalik surat Yasya melihat sebuah nomor. Entah nomor apa itu tapi Yasya berpikir itu adalah nomor HP. Tapi sebelum ia mencoba menghubungi nomor itu, ia melihat buku yang dari tadi tergeletak. Buku yang diberikan dari si pengagum rahasia. Ia buka buku itu dan benar saja, semua tulisan disana dicoret. Yasya juga merasa aneh.


"Eh tunggu! Ini ada yang gak dicoret," ucap Yasya saat melihat beberapa tulisan yang tidak dicoret.


Yasya membuka tiap halaman. Hanya ada beberapa kata yang tidak dicoret dalam buku itu. Yang pertama kali ia temukan adalah kata 'Aku'. Selanjutnya ia buka lagi beberapa halaman hingga ia menemukan kata 'akan' dibeberapa halaman berikutnya ia menemukan kata 'selalu' dan kata 'ada'.


Lagi lagi Yasya dibuat tersenyum. Ternyata didunia ini ada orang konyol yang hanya ingin mengungkapkan satu kalimat saja sampai harus mencoret tulisan dalam satu buku.


"Ada ada aja," ucap Yasya sambil tersenyum dan menggelengkan kepala.


Setelah itu ia beralih kembali pada sesuatu dibalik surat tadi yang terdapat nomor. Yasya pun mencoba menulis nomor itu dan memanggilnya. Tapi tidak berhasil. Teleponnya tidak diangkat. Yasya mencoba membuka whatsapp untuk melihat siapa dan bagaimana tampang si pengagum rahasia ini. Tapi nihil. Nomor itu tidak terdaftar di whatsapp.


Yasya memutuskan untuk mengirim sms saja pada nomor itu.


*Halo...


Ini yang kirim surat kan?


Saya suka puisi kamu.


Kenapa telepon saya gak diangkat*?


Pesan pesan itu terus dikirim. Tapi tak ada jawaban. Yasya menyimpan HP nya. Ia berjalan kamar dan menyimpan tas nya. Sambil merebahkan tubuhnya di kasur, Yasya menatap kedua benda yang dipegangnya. Ia penasaran siapa pengirim surat ini? Tulisannya benar benar membuat Yasya jatuh cinta.


Trrt... trrt... HP nya bergetar menandakan ada pesan yang masuk. Saat Yasya buka, itu ternyata pesan balasan dari nomor yang tadi.


"Tunggu surat berikutnya," balasnya dipesan itu.


Yasya kesal. Kenapa orang ini begitu menyulitkan. Kenapa ia harus mengirim surat sementara mengetik akan terlihat lebih mudah?! Sangat kuno!

__ADS_1


"Dia gak mau sekalian kirim sirat pake burung?! Kesel banget gue!" tukas Yasya kesal. Tapi ia kembali tenang ketika melihat kertas yang dipegangnya.


"Eh tapi... seru juga sih. Seru dikasih motivasi sama orang yang gak dikenal. Bikin tenang."


***


"Kak... paket!" Teriak Dimas saat Yasya sedang duduk dikamarnya dan memperhatikan surat yang ia dapat.


Yasya segera berjalan menghampiri Dimas yang memanggilnya. Ia berpikir mungkin paket itu balasan pesan dari pengirim surat tanpa nama itu. Tapi tidak mungkin secepat ini.


Setelah Yasya melihat paketnya. Ternyata memang bukan. Paket itu merupakan buku dari Saga. Tiga buku yang sempat dipilihnya kemarin. Dengan enggan Yasya membawanya ke kamar dan menyimpannya di rak begitu saja.


Kemudian pesan pesan bermunculan di HP nya. Itu dari Saga yang mencoba menjelaskan semuanya.


"Sya, gue mau minta maaf. Maaf soal gue yang mau membuktikan ramalan itu. Tapi itu adalah niat gue sebelum gue tahu kehidupan lo. Setelah gue tahu tentang dunia lo, niat gue berubah. Gue bener bener cuma pengen nemenin lo aja. Sya, tolong jangan menjauh. Tolong jangan benci lagi. Tolong izinkan gue ada buat lo. Meski gue gak pantes untuk itu. Tulis Saga di pesan itu."


Dengan rasa kesal Yasya membalasnya. Berharap Saga akan segera berhenti ikut campur dalam kehidupannya yang sudah cukup rumit.


"Menyerah, Ga! Menyerah. Kita kembali ke cerita awal dimana kita adalah dua orang yang saling benci. Itu lebih baik daripada berpura pura baik!!" balas Yasya tegas dalam pesan itu.


"Gue gak pura pura, gue bener bener mau berbuat baik. Gue serius mau bantu lo. Mau nemenin lo. Mau membuat lo merasa baik baik aja."


Yasya melempar ponselnya keatas kasur. Ia menggaruk kepala dan menjambak rambutnya dengan kesal. Ia mengutuk hidupnya sendiri. Kenapa ia harus mengalami semua hal ini?!/


"Aaaaaaaahhhhh. Kenapa sih gue harus kenal sama si Saga itu?! Kenapa harus gue yang dia bikin kesel?! Gak ada orang lain apa?! Hhhhhh..." tukas Yasya.


"Sya, jadi gimana? Gue masih boleh kan ketemu sama lo?"


"Sya..."


"Ya udah. Selamat istirahat. Buku yang tadi jangan lupa dibaca ya..."


Pesan itu berakhir. Yasya enggan membalasnya. Ia memilih untuk terlelap dan berharap semoga besok tidak ada lagi yang namanya Saga dikehidupannya. Sebenarnya semua akan terlihat mudah jika Saga mendengarkannya dan menuruti kata katanya. Tapi Saga ini terlalu sulit dipahami, entah harus dengan kalimat apa agar Yasya bisa membuat Saga pergi dari kehidupannya.

__ADS_1


Saga sepertinya sudah terlanjur masuk dan tertarik untuk semakin masuk kedalam kehidupan Yasya yang menurut Yasya tidak pernah menarik bahkan untuk diam disana saja ia tidak mau. Tapi Saga, entah kenapa ia begitu ngotot untuk masuk kedalam kehidupannya.


__ADS_2