
"Sya beli eskrim dulu yuk!" ajak Saga.
"Pulang deh Ga. Jangan buang buang duit. Lo udah habis berapa nih buat beli buku."
"Eskrim doang Sya."
"Ya udah. Oke."
Yasya pasrah kali ini. Toh Saga juga sudah membuatnya senang hari ini. Tapi tetap saja dalam hatinya ia berharap semoga tidak ada lagi hari dimana Saga datang ke kehidupannya.
Mereka berjalan ketempat minimarket terdekat untuk membeli eskrim. Yasya memilih eskrim cokelat sementara Saga memilih rasa vanila, setelah itu mereka berjalan kearah kasir dan membayar.
"Mba. Tambah cokelat yang ini satu," ucap Saga sambil membawa cokelat yang ada didepan meja kasir.
Smbil berjalan menuju halte, mereka berdua sibuk menjilati eskrim masing masing. Tapi Saga tidak sesibuk itu, ia masih sempat sempatnya mengganggu Yasya yang sedang mengharapkan ketenangan.
"Sya, mau rasa vanila gak?"
"Gak lah! Udah dijilat sama lo gitu! Jorok!"
"Ya udah bentar. Gue beli lagi," ucap Saga yang hendak berbalik tapi langsung ditahan oleh Yasya.
"Eh gak usah. Ini juga belum abis. Lo jangan suka hambur hamburin uang deh!"
"Iya. Habis ini kemana?"
"Ya gue balik lagi lah je kafe. Kalau lo mah ya pulang!"
"Kita makan dulu yuk Sya?"
"Ga. Udah deh lo. Waktu gue udah terbuang banyak."
"Sekali."
"Sekali yang ada dihidup lo itu artinya berkali kali, Ga."
"Hehe."
__ADS_1
"Udah pulang! Pulang! Pulang!" ucap Yasya yang langsung menarik tangan Saga.
Sampai mereka duduk di halte, Yasya tetap memegang tangan Saga tanpa sadar. Sambil menengok ke kiri dan kanan, tangannya tetap menunci tangan Saga. Dan tentu saja hal itu dibiarkan saja oleh Saga.
"Ini.... maksudnya apa ya?" tanya Saga sambil mengangkat tangannya yang sedang di pegang oleh Yasya erat.
Dengan gegas Yasya melepaskan tangannya, ia salah tingkah dan memalingkan wajah cantiknya berlawanan arah dengan Saga. Saat bus datang, ia segera naik dan berdiri membelakangi Saga yang menghadapnya.
"Sya..." panggil Saga. Tapi Yasya tidak memedulikannya.
"Yasya!"
"Hey!"
"Nih cokelat!" Saga menodongkan cokelat yang tadi ia beli kehadapan wajah Yasya.
"Kenapa dikasih ke gue?"
"Karena gue gak suka cokelat. Eskrim aja gue sukanya vanila."
"Biar gue gak makan cokelatnya terus dikasih deh ke elo," Yasya tidak merespon apa apa dengan ucapan Saga barusan. "Sya. Kalau gak mau, gue akan ikutin lo sampai lo nerima cokelatnya," bisik Saga.
Dengan terpaksa, Yasya membawa cokelat yang ada dihadapannya itu. Tapi itu bukan bersrti ia menerima. Ia hanya tidak mau Saga terus mengikutinya. Setelah cokelat itu ia ambil, Yasya memberikannya pada seorang anak kecil yang sedang duduk bersama ibunya. Anak itu menerima dengan senang hati. Sementara Saga, ia kecewa tapi merasa senang juga karena Yasya memberi kejutan pada Saga dengan sikapnya.
***
Untuk kali ini, Saga menurut. Ia tidak mengikuti Yasya. Yasya cukup merasa lega akan hal itu. Akhirnya hama yang ada dihidupnya bisa hilang juga. Semoga dapat hilang selamanya. Dengan membawa kantongnyang berisi dua buku yang tadi dibeli, Yasya kembali ke kafe dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat terjeda.
***
Yasya baru pulang malam setelah kafe tutup. Ia bekerja sampai selesai karena tadi ia sempat meminta izin untuk keluar. Hari ini benar benar melelahkan. Setelah turun dari bus ia teringat bahwa ia belum memasak dirumah. Dimas pasti sudah sangat kelaparan. Ia lekas berlari melewati jalanan menuju runahnya dengan cepat. Sesampainya dirumah ia langsung membukanya dan hendak berjalan ke dapur sambil kemanggil Dimas.
"Dim... sorry ya... gue belum masak. Sekarang gue masak. Lo tunggu..." ucapan Yasya berhenti ketika melihat laki laki yang baru saja menghilang beberapa jam yang lalu dari hidupnya. Kini ia sedang duduk dan makan bersama adik laki lakinya.
"Kak. Sini. Makan. Dibawain sama Mas Saga."
"Lo tuh ya. Kenapa sih lo gak menghilang juga? Malah terus aja ganggu hidup gue."
__ADS_1
"Duduk, Sya. Gue beli nasi padang. Gak tahu sih lo bakalan suka atau enggak. Mending cobain dulu sini!"
"Dim dokumen yang gue suruh fotokopi mana?" tanya Yasya tanpa memedulikan ucapan Saga.
"Oh di tas. Lo ambil aja dikamar gue."
"Sya. Jadi mau makan gak?"
Yasya tidak peduli. Ia berjalan cepat ke kamar Dimas untuk membawa dokumen yang sudah difotokopi. Lalu ia berjalan ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya dikasur. Ia tidak berani keluar sampai ia mendengar suara pintu depsn terbuka. Ia pun melihat kearah jendela. Akhirnya Saga pergi juga. Bebrrapa saat setelah itu, Dimas mengetuk pintu kamarnya. Yasya mempersilakannya masuk.
"Lo belum mandi loh kak!"
"Iya. Ini sekarang gue mau mandi!"
"Kak. Kenapa sih lo gak suka sama si Mas Saga?"
"Serius nih lo nanya?"
"Iya. Kenapa?"
"Dia sendiri Dim yang memaksa gue buat benci."
"Maksudnya?"
Yasya pun menjawab pertanyaan Dimas dengan menjelaskan semuanya. Semua ini berawal dari kelas dua SMP. Saat itu Saga menjadi murid baru disekolah Yasya. Sebenarnya masalahnya cukup sepele, dihari pertama Saga sekolah waktu itu, Yasya menabraknya dan tanpa sengaja menumpahkan minuman ke baju Saga. Saga langsung marah sejadi jadinya. Ia memaki Yasya dengan kata kata yang menyakiti hati Yasya.
Tidak sampai disitu, setelah Saga masuk kesekolahnya, prestasi Yasya terkalahkan oleh laki laki itu. Olimpiade yang biasa Yasya ikuti diambil alih oleh Saga yang bahkan baru disekolah.
Semuanya menjadi makin pelik ketika mereka masuk SMA. Karena mereka berdua bersaing untuk mendapatkan beasiswa disekolah terbaik. Sebenarnya banyak yang mendaftar, tapi mereka berdua sangat kompetitif bahkan saling menantang satu sama lain. Yang membuat Yasya kesal bukanlah hal itu. Tapi menurutnya, untuk apa orang yang sudah memiliki banyak uang harus mendaftarkan dirinya dalam beasiswa? Saga tidak memikirkan bahwa ada banyak orang tidak mampu yang lebih membutuhkan hal itu. Yasya makin kesal terhadap Saga semenjak itu.
Sudah dipastikan saat itu Yasya gagal. Sementara Saga, ia berhasil mendapat beasiswa itu. Yasya menjadi kesal pada dirinya sendiri dan juga Saga. Karena ia tidak mendapat beasiswa itu, ayahnya harus bekerja lebih giat lagi. Meskipun ayahnya itu seorang penulis, tapi menulis bukan sesuatu yang tetap. Tidak semua buku yang ditulisnya pasti laku terjual. Tidak semua buku yang terjual laris dalam satu tahun, akan laris pula ditahun kedua. Dan lagi, tidak semua naskah yang ditulisnya akan diterima oleh penerbit. Hal itulah yang membuat ayahnya bekerja lebih giat lagi. Tak peduli ia sedang sakit parah, ayah tetap bekerja.
"Andai gue gak pernah ketemu laki laki sialan itu dalam hidup gue, semuanya gak akan menyusahkan. Gak ada yang namanya ayah kerja keras banting tulang sampai dia sakit keras aja gue gak tahu. Coba aja dulu ketika ayah sakit, dia istirahat. Dia gak mikirin urusan sekolah gue. Mungkin sekarang dia gak akan pergi. Mungkin ibu gak akan sebegitu patahnya sampai dia sakit. Dan mungkin, ayah masih ngajarin gue nulis puisi disini," jelas Yasya dengan air mata yang sudah benar benar ingin keluar tapi berusaha ia tahan.
"Sorry ya kak. Gue gak tahu itu semua. Gue kira dia orang baik aja yang pengen bantuin kita."
"Gue juga gak tahu kenapa dia bisa tiba tiba berubah jadi baik dari dia yang semula benci total sama gue. Kan aneh! Udahlah gue mau mandi dulu. Lo cepet tidur!" ucap Yasya sambil menyeka air mata yang bersiap untuk turun melewati pipinya.
__ADS_1