Sakura Yang Menangis

Sakura Yang Menangis
Bab 16 Drama Marina


__ADS_3

Warsana nampak gusar dengan sikap Naomi yang acuh denganya,  kini dia memikirkan rencana baru untuk membuat Sayaka menjauh dari Ken tanpa bantuan Naomi.


Sementara itu,  Naomi tampak kecewa dengan apa yang terjadi. “Kenapa semua orang terlalu peduli dengan urusan Sayaka,  apakah tidak ada yang perduli denganku.” Ucap Naomi kepada dirinya sendiri.


******


Disisi yang lain,  Dinda terus berusaha mencari tahu tentang Ken yang sudah tidak pernah menghubunginya lagi,  berbagai cara dia gunakan untuk bisa tahu kabar Ken,  tak peduli Ken sedang bersama wanita lain atau tidak.


Ponsel Dinda berdering,  ternyata Marina yang menghubungi Dinda. “Halo Rin,  ada apa?” Tanya Dinda kepada Marina.


“Bisakah kita bertemu Din,  aku ada perlu sama kamu.” Jawab Marina lirih.


“Oh begitu,  ya boleh saja Rin,  kapan dan dimana?” Tanya Dinda.


“Kalau sekarang,  kamu sibuk nggak Din?” ujar Marina.


“Boleh Rin,  datang aja kerumahku,  aku nggak kemana-mana kog.” Jawab Dinda.


Tak berselang lama kemudian,  Marina tiba dirumah Dinda,  tanpa basa-basi Marina langsung mengajak bicara Dinda tentang tujuannya datang kerumah Dinda.


“Din,  sebelumnya maafkan aku ya.” ungkap Marina mengawali pembicaraan.


“Maaf untuk apa Rin?” tanya Dinda penasaran.


Marina duduk berlutut sembari memegangi kaki Dinda,  hal ini membuat Dinda yang masih tidak tahu apa-apa menjadi terkejut dengan kejadian ini.


“Apa yang kamu lakukan Rin?... berdirilah,  jangan seperti ini.” Ucap Dinda seraya


mengangkat tubuh Marina yang masih berlutut di depannya.


Marina pun berdiri,  dan kini mereka berdua mengambil tempat di sofa yang nyaman. “Rin,  sebelum kamu mulai bercerita,  aku ingin membuatkan minuman dulu untukmu.” Ucap Dinda kepada Marina.


“Tidak usah repot-repot Din,  aku tidak haus.” Ujar Marina.

__ADS_1


“Sudah,  tunggu sebentar saja.” ujar Dinda seraya pergi ke dapur meninggalkan Marina sendiri di ruang tamu. Di saat Marina sendirian di ruang tamu,  tiba-tiba sebuah pesan singkat muncul di layar ponsel Marina,  pesan itu datangnya dari Ken,  yang meminta Marina untuk tetap menjaga ke rahasiaan cerita mereka berdua,  dan Ken berjanji akan memberikan uang lagi untuk biaya semesteran kuliah adik Marina.


Kini Marina berada di persimpangan,  dia bingung untuk memutuskan keputusan yang terbaik,  karena bagaimanapun juga,  dia membutuhkan uang untuk biaya kuliah adiknya,  sedangkan orang tua Marina sudah tidak ada lagi.


Sesaat kemudian,  Dinda datang kembali ke ruang tamu dengan membawa minuman dingin,  dia mempersilahkan Marina untuk meminumnya dulu.


Marina yang masih bingung dengan apa yang harus dia lakukan,  malah membuatnya terlihat melamun di depan Dinda.


“Rin. Kamu mau cerita apa?” Tanya Dinda sambil menepuk paha Marina,  Marina yang terkejut malah tanpa sengaja menyenggol gelas minuman yang ada di depannya.


"Pyarrrrr!!!!" Gelas itu jatuh,  pecah dan menumpahkan isinya ke lantai.


“Astaga!!!!.... apa yang telah aku lakukan.” Ucap Marina panik.


“Tenanglah Rin,  ini hanya air,  aku akan membuat minuman lagi untukmu,  dan akan segera membersihkan pecahan gelas ini.” Ucap Dinda ramah sambil bergegas pergi ke dapur lagi,  untuk membuat minuman yang baru


dan mengambil pel kain.


Marina menjadi begitu bersimpati kepada Dinda yang begitu sabar dan lembut, ‘Tak seharusnya,  wanita sebaik dan secantik Dinda menjadi korban perasaan si Ken.’ Gumamnya di dalam hati.


Akhirnya Marina membalas pesan singkat itu,  dan memutuskan untuk menerima uang dari Ken,  untuk tetap menjaga rahasia sandiwara mereka,  karena Marina merasa jika Ken memang tidak pantas menjadi kekasih Dinda lagi,  jadi kini Marina ingin agar hubungan antara Ken dan Dinda benar-benar berakhir.


“Rin,  ini minumannya,  awas jangan ngelamun lagi lho.” Ucap Dinda sambil memberikan segelas jus


jeruk kepada Marina.


“Terima kasih Din,  maaf aku sepertinya dehidrasi berat.” Ucap Marina sambil meminum jus jeruknya.


“Jadi ada masalah apa Rin?  sampai membuat kamu jadi panik begitu.” Tanya Dinda penasaran.


Sejenak Marina terdiam sambil memikirkan alasan pengganti yang tepat,  untuk menggantikan alasan yang sebenarnya.


“Jadi begini Din,  aku sebenarnya mau pinjam uang ke kamu,  itupun kalau kamu ada,  soalnya mau aku buat tambahan biaya kuliah adikku.” Ujar Marina pelan.

__ADS_1


“Memangnya kamu butuh berapa Rin?  aku ada sih Rin,  tapi tidak banyak dan semoga bisa membantu.” Ucap Dinda lembut.


“Tapi setelah aku pikir-pikir lagi,  kayaknya nggak jadi aja deh Din,  soalnya juga kayaknya kamu lebih membutuhkan.” ujar Marina.


“Eh gimana sih Rin,  kamu kog berubah pikirannya cepet banget begitu.” Ujar Dinda heran dengan jawaban Marina.


“Iya Din,  udah kog Din. Yang penting aku sekarang merasa tenang sudah bisa ketemu sama kamu.” Ucap Dinda seraya mengeluarkan ponselnya dan berpura-pura menelpon seseorang.


“Dinda,  aku pamit dulu ya,  aku lupa hari ini ada janjian sama temenku juga.” Ucap Marina seraya berdiri dan bergegas pulang.


Dinda yang melihat gerak-gerik aneh dari Marina,  tiba-tiba memiliki firasat yang lain tentang Marina. ‘pasti dia menyembunyikan sesuatu dariku,  tapi apa ya?’ ucap Dinda bertanya di dalam hati.


Marina yang sudah berada jauh dari rumah Dinda,  kemudian mengirim pesan pendek kepada Ken,  dia mengatakan kalau Dinda sedang dekat dengan seseorang selain Ken,  Marina sengaja melakukan hal tersebut,  agar hubungan Ken dan Dinda benar-benar rusak.


Di kapal,  Ken yang membaca pesan singkat dari Marina,  tiba-tiba merasakan sesak di dadanya,  dia


terkejut bukan main,  tapi Ken juga bingung jika dia ingin menanyakan langsung kepada Dinda,  maka dia harus membuka blok kontaknya terlebih dahulu,  dan itu akan membuat skenario sandiwaranya akan menjadi berantakan.


Di tengah kegalauan itu,  Gandhi teman sekamar Ken yang secara kebetulan berada di dekat Ken,  kemudian datang menghampirinya,  dia mengatakan kepada Ken untuk sebaiknya berkata jujur tentang keadaan yang


sebenarnya,  karena Gandhi sendiri merasa tidak enak hati,  jika harus berada satu kamar dengan seorang pembohong dan pengkhianat seperti Ken.


Tentu saja ucapan Gandhi semakin membuat hati Ken terasa sesak dan panas,  namun lagi-lagi Ken juga tidak bisa


mengatakan sepatah katapun kepada Gandhi,  karena apa yang diucapkan Gandhi adalah sesuai dengan kondisinya saat ini.


Ken meminta waktu kepada Marina untuk meneleponnya,  karena entah perasaan Ken begitu tidak enak manakala mendengar kabar bahwa Dinda kini sedang bersama dengan laki-laki lain.


“Rin,  benarkah apa yang kau katakan lewat pesan singkatmu itu?” tanya Ken dengan nada marah.


“Iya benar…. Dan kamu sendiri kenapa masih peduli dengannya... bukankah kamu sudah memiliki wanita yang lain?” jawab Marina dengan ketus.


“Aku adalah kekasih Dinda!,  tentu saja aku peduli dengannya?” ujar Ken dengan nada tinggi.

__ADS_1


Tanpa sengaja,  Mayumi melintas tepat di belakang Ken,  disaat Ken menyebutkan bahwa dia adalah kekasih Dinda.


__ADS_2