
Sayaka duduk sendiri di crew mess, dia sangat terpukul melihat sikap teman-temannya yang selalu merahasiakan sesuatu darinya. Kenta yang pada saat itu melintas di crew mess, tanpa sengaja melihat Sayaka yang tampak begitu bersedih.
Kenta kini sudah berada di hadapan Sayaka yang masih melamun termenung tak memperdulikan yang lain. “Hey!... ada apa denganmu?” ucap Kenta dengan nada membentak, membuat Sayaka terbangun dari lamunannya.
“Hah Kenta… sejak kapan engkau ada disini?” ucap Sayaka terkejut.
“Aku melihatmu melamun dari tadi, jadi aku putuskan untuk membuyarkan lamunanmu” ucapnya bercanda.
“Ah tidak… aku hanya rindu dengan orang dirumah dan juga teman-temanku di rumah.” Ucap Sayaka.
“Kalau begitu, besok kita pergi keluar saja… bukankah besok kapal kita akan bersandar di Miyazaki?” ucap Kenta sambil membuka kertas jadwal informasi yang dia bawa.
“Aku rasa itu ide yang bagus… mungkin aku besok akan keluar untuk mengobati rinduku.” Ucap Sayaka.
Mayumi dan Chiharu secara tidak sengaja melihat Sayaka yang sedang mengobrol dengan Kenta, mereka memutuskan untuk mendatangi Sayaka. Namun Sayaka yang mengetahui kehadiran mereka segera berdiri pergi meninggalkan Kenta dan crew mess.
Mayumi merasa terkejut dengan sikap Sayaka yang tiba-tiba saja berubah seperti itu, Kenta juga kebingungan dengan sikap Sayaka yang tiba-tiba saja meninggalkan dirinya. “Apakah ada yang salah denganku?” ucap Kenta kepada dirinya sendiri seraya berdiri pergi meninggalkan mejanya.
“Aku rasa kita tidak bisa membiarkan situasi ini menjadi semakin tidak jelas.” Ucap Mayumi di ikuti anggukan kepala dari Chiharu.
Mereka berdua bergegas mengejar Sayaka yang sudah berjalan jauh meninggalkan mereka berdua, mereka tidak ingin salah paham ini akan menghancurkan persahabatan mereka.
“Sayaka tunggu… jangan tinggalkan kami!” teriak Chiharu, namun Sayaka seolah-olah tidak memperdulikan panggilan dari Chiharu, dia terus melangkahkan kakinya dengan cepat dan bergegas masuk kedalam lift.
Mayumi dan Chiharu kini telah kehilangan jejak Sayaka, mereka berhenti di depan pintu lift dengan kesal. “Apa yang harus kita lakukan sekarang?” ucap Mayumi dengan nafas terengah-engah.
“Aku juga tidak tahu Mayu… sebaiknya kita membiarkannya dulu, mungkin dia membutuhkan waktu untuk sendiri.” Ucap Chiharu menenangkan Mayumi.
Mayumi hanya menganggukkan kepalanya dengan lesu, mereka berdua kemudian bergegas pergi kembali ke crew mess.
Sayaka yang kini sudah berada di anjungan kapal, duduk terdiam sambil memikirkan nasib persahabatan antara dirinya dengan Mayumi, Chiharu dan Naomi.
__ADS_1
Dia masih tidak percaya, bahwa teman-temannya masih tidak percaya dengan dirinya, sehingga harus menutup-nutupi sesuatu darinya, padahal Sayaka sudah benar-benar terbuka dengan teman-temannya tanpa ada yang dia tutupi lagi.
Firman yang juga berada di anjungan kapal sedari tadi, terus mengamati Sayaka yang nampak murung dan bersedih, Firman coba mendekati Sayaka untuk menghiburnya.
“Hai Sayaka, lihatlah ikan yang ada disana, betapa indahnya mereka” ucap Firman sambil mengarahkan telunjuknya ke lautan luas.
Sayaka yang sedari tadi hanya terdiam melamun, seketika berdiri dan memperhatikan ke arah jari telunjuk Firman mengarah, Sayaka terus melongokkan kepalanya dan berusaha mencari ikan yang dimaksud oleh Firman, namun tak satupun ikan yang tampak.
“Mana ikan yang kau maksud… kenapa aku tidak melihatnya?” ucap Sayaka sambil terus melihat ke arah lautan luas, sementara Firman masih saja menunjukkan jarinya ke arah lautan yang luas, padahal dia sendiri pun juga tidak melihat ada ikan disana.
“Mana ikannya… aku tidak melihatnya… apakah kamu berbohong padaku?” ucap Sayaka jengkel.
“Aku tidak bohong kepadamu… bukankah lautan adalah tempat ikan hidup?” tanya Firman ramah.
“Iya memang benar, tapi mana ikannya kenapa tidak terlihat?” ucap Sayaka penasaran.
“Seperti itulah hati seseorang, yang setiap orang hanya bisa menyangka dan mengira sesuai dengan bayangan kita masing-masing” ujar Firman seraya mengarahkan pandangannya ke lautan.
Sayaka yang masih kebingungan mencari ikan yang dimaksud oleh Firman tadi, tiba-tiba seperti terketuk hatinya oleh ucapan Firman.
“Aku melihatmu bersedih, dan aku tidak tahu apakah kamu benar-benar bersedih atau tidak… maka seperti itulah ikan yang berada di lautan, karena sedih di dalam hati itu ibarat ikan di dalam lautan” ujar Firman seraya memperagakan ikan yang sedang berenang dengan telapak tanganya.
Sayaka terpukau dengan ucapan Firman yang begitu dalam dan juga puitis, membuatnya tersadar bahwa prasangkanya kepada teman-temannya juga sama dengan ikan yang dimaksud oleh Firman, karena dia hanya bisa mengira-ira apa yang dipikirkan oleh teman-temannya, sementara dia sendiri tidak bisa tahu secara pasti bagaimana hati teman-temannya yang sebenarnya.
“Maka kamu harus melompat kedalam lautan, untuk bisa benar-benar mengetahui ikan itu indah atau sebaliknya.” Ucap Firman memperjelas.
“Terima kasih Firman… Wow!... entah apa yang harus aku ucapkan.” Ucap Sayaka penuh kagum dan mulai tersenyum bahagia.
Firman hanya tersenyum melihat Sayaka yang kembali bahagia, sembari melihat jam tangannya, Firman kemudian berpamitan dan bergegas pergi meninggalkan Sayaka.
Kini Sayaka merasa perlu untuk memastikan teman-temannya, dia akan menemui Mayumi dan yang lainnya untuk menanyakan apa yang sebenarnya dirahasiakan oleh mereka, dan dia akan menanyakan hal itu untuk terakhir kalinya.
__ADS_1
“Benar apa yang dikatakan oleh Firman, aku harus memastikannya lagi sebelum aku benar-benar bisa menilai.” Ucap Sayaka didalam hatinya seraya bergegas menuju ke kabin kamar untuk menelpon teman-temannya.
Sayaka segera menelpon Mayumi untuk mengajaknya bertemu, namun sayang Mayumi tidak menjawab panggilannya, kemudian dia mencoba untuk menghubungi Chiharu dan juga Naomi, namun tidak seorangpun dari mereka yang mengangkat panggilannya.
Sayaka akhirnya memutuskan berkeliling kapal untuk mencari keberadaan mereka, hingga pada akhirnya dia bertemu dengan Pedro yang saat itu sedang mabuk di store room.
“Hai Sayaka… mau kemana kamu malam-malam begini?” ucap Pedro yang sedang teler.
Sayaka yang ketakutan, tidak menjawab pertanyaan Pedro dan lebih memilih untuk menghindari Pedro, namun Pedro yang memang sudah lama memendam hasrat kepada Sayaka tak mungkin menyiakan kesempatan itu.
Tangan Pedro mencengkeram pundak Sayaka dan menariknya sekuat tenaga, sehingga tubuh Sayaka yang lebh kecil daripada Pedro kini berada didalam pelukannya.
Sementara Tangan Sayaka berusaha untuk memberontak melepaskan diri dari dekapan Pedro, namun tenaga Sayaka jauh lebih kecil dibandingkan Pedro, dengan satu tangannya dia menutup mulut Sayaka dan menyeretnya ke dalam ruang chemical di store room.
“Disini tidak ada orang sayang, dan tidak ada CCTV yang menyala, jadi aku akan bebas melakukan apapun kepadamu.” Ujar Pedro yang sudah benar-benar tidak bisa menahan hasratnya.
Pedro kemudian membanting tubuh Sayaka ke arah lemari besi di dalam ruang chemical, yang membuatnya jatuh terhempas membentur lemari besi dan jatuh ke lantai.
Pedro kemudian melucuti satu persatu pakaian yang di kenakan oleh Sayaka, mulai dari baju hingga celananya, kini tinggal Sayaka dengan pakaian dalamnya yang melekat di tubuhnya, membuat hasrat Pedro semakin tak terkendali.
Tangan kasar Pedro mulai mencengkeram dan meraba bagian tubuh Sayaka yang sudah tidak tertutupi pakaian lagi. Di kesempatan inilah Sayaka berteriak sekencang-kencangnya berharap ada orang lain yang mendengar, dia sudah pasrah saat ini andai memang Pedro akan menggaulinya, karena tenaga Sayaka tidak cukup kuat untuk melawan Pedro.
Firman yang saat itu sedang berada storeroom untuk mengambil beberapa chemical laundry, tidak sengaja mendengar teriakan dari Sayaka dari balik pintu ruang chemical.
Firman bergegas berlari ke arah teriakan itu, dan betapa terkejutnya dia ketika melihat Sayaka sudah berada dalam keadaan tanpa busana lagi berada di bawah cengkraman Pedro, tanpa pikir panjang lagi, Firman langsung menendang kepala Pedro sampai pingsan.
Dan segera dia mengambil kain yang ada di ruang chemical untuk menutupi tubuh Sayaka, Firman berlari ke gudang pakaian yang ada di storeroom untuk mengambilkan Sayaka coverall.
“Apakah kamu baik-baik saja Sayaka?” tanya Firman khawatir.
“Terima kasih banyak Firman… terima kasih sebanyak-banyaknya.” Ucap Sayaka sambil membungkuk memegangi kaki Firman.
__ADS_1
“Hey ayolah jangan seperti ini, sudahlah Sayaka… yang penting kamu baik-baik saja.” ucap Firman sambil mengangkat tubuh Sayaka yang masih membungkuk di kakinya.
Mereka berdua akhirnya pergi meninggalkan storeroom dan membiarkan Pedro terkapar pingsan di ruang chemical, Firman meminta Sayaka untuk melaporkan kejadian ini kepada Kapten Kapal, agar orang seperti Pedro mendapatkan pelajaran.