
"Akhirnya aku senang sekali, aku sudah menunggu kamu bilang itu." Kata Fian.
"Tadi aku hanya.." Kataku.
"Hanya apa?" tanya Fian.
"Tidak ada." Kataku.
Mama, mami, papi, dan papa datang ke rumah kami. Mereka ingin membicarakan soal cucu. Sebenarnya aku juga sudah siap memiliki anak bersama Fian. Tapi aku belum berani untuk mengatakan ini kepada Fian. Kalau Fian tidak pernah membicarakan anak mungkin dia tidak ingin membuat aku tertekan. Dia pasti menganggap aku belum siap memiliki anak dengan dia.
"Keira.. Fian cepat kasih kita cucu." kata mama
"Iya mami juga ingin melihat bayi kalian pasti lucu banget" kata mami
"Kalau laki laki mirip dengan kamu Fian" kata papa
"Tidak menurut papi pasti perempuan dan mirip dengan kamu keira" kata papi
"Mm.. Papi mami mama papa kalian ingin sekali punya cucu" kataku
"Iya doakan saja" kata Fian
Aku pun mulai berpikir untuk memiliki anak dengan Fian karena perasaan aku sudah yakin dengan Fian. Saat orang tua kami pulang, aku menghampiri Fian. Aku dan Fian pun bicara berdua di rumah.
"Fian.. Aku sudah siap untuk memiliki anak dengan kamu. " kataku
"Kamu yakin? Aku tidak ingin kamu terpaksa hanya karena permintaan orang tua kita. Aku juga tidak masalah kalau kita hanya hidup berdua. Aku tidak ingin melakukan hal itu kalau kamu belum mencintai aku Ra..." kata Fian
"Kamu tidak boleh berpikir seperti itu. Kita harus mempunyai anak agar keluarga kita bisa lengkap. Aku cinta sama kamu fian dan sebenarnya sudah lama tapi aku terlalu takut untuk mengakui semua perasaan aku" kataku
"Serius.. Kamu cinta sama aku, sejak kapan? Kamu selalu bilang tidak pernah mencintai aku." tanya Fian
"Iya aku memang selalu bilang seperti itu. Aku mencintai kamu sejak kamu melakukan hal yang aku inginkan dan tidak menyerah untuk bertahan dengan aku. Dan saat kamu membela aku di depan papa kamu. Aku merasa sangat dihargai karena kamu lebih baik bersama aku dari pada meninggalkan aku." kataku
"Tentu saja.. Kamu yang terpenting dalam hidup aku. Meski kita tidak memiliki anak pun aku akan tetap mencintai kamu. Aku sangat bahagia mendengar kamu mengucapkan cinta terhadap aku. Ini seperti mimpi untuk aku. Aku tidak pernah membayangkan ini akan terjadi, Terima kasih Keira" kata Fian
"Ya.. Sama sama. Kamu senang sekali mendengar apa yang aku ucapkan?" tanyaku
"Pasti.. Aku sangat senang" kata Fian
Beberapa bulan kemudian, Aku hamil dan Fian sangat memanjakan aku. Dia sangat melarang aku melakukan pekerjaan apa pun.
"Kamu harus diam.. Tidak boleh melakukan itu" kata Fian sambil menyiapkan aku makanan.
"Dari tadi aku tidak melakukan apa pun" kataku
"Kamu tidak boleh bekerja aku tidak ingin kamu kecapean" kata Fian
"Aku tidak apa apa.. Aku harus kerja karena kalau aku diam saja di rumah aku akan bosan" kataku
"Tapi kamu harus janji kalau kamu lelah kamu harus pulang" kata Fian
"Iya" kataku
__ADS_1
Aku dan Fian mempunyai anak laki laki yang sangat gagah.
"Terima kasih istriku kamu sudah memberikan aku hadiah terbesar di dunia. " kata Fian
"Iya.." kataku
"Cucu kita lahir papi.. " kata mami
"Iya mami.. Sepertinya mirip Keira ya.." kata papi
"Memangnya sudah bisa dilihat siapa tahu mirip dengan Fian" kata papa
"Iya juga bayi baru lahir belum bisa dilihat mirip siapa" kata mama
"Mirip siapa pun yang penting sehat" kataku
"Iya benar.. Tapi sebenarnya aku ingin dia lebih mirip kamu. " kata Fian
"Kenapa kamu ingin mirip dengan aku?" tanyaku
"Supaya dia memiliki mata yang cantik seperti kamu" kata Fian
Sheila, Doni, kak Juno, kak Yudha, kak Yoga datang melihat bayi kami.
"Akhirnya lu sudah memiliki anak bro.. Selamat ya" kata Yudha
"Bayi kalian laki laki pasti mirip kamu, Fian" kata Yola
"Selamat bu Keira.. Pak Fian" kata Doni
"Selamat ya.. Keira.. Pak Fian" kata Juno
"Terima kasih semuanya" kata Fian
"Iya sampai kalian datang ke sini padahal kalian pasti sibuk" kataku
"Tenang saja Keira.. Kita pasti datang melihat bayi kalian, ganteng mirip om ya" kata Yudha
"Apa? Tidak mungkin.. Dia anak gue pasti mirip gue" kata Fian
"Sensitif sekali lo Fian, Ada yang menjadi bapak baru" kata Yudha
"Bahagia sekali gue.." kata Fian
"Pasti lo tidak pernah menyangka Fian? " kata Yudha
"Iya bisa hadir malaikat kecil di hidup gue" kata Fian
"Aduh jadi ingin punya anak juga gue" kata Yudha
"Menikah dulu.. " kataku
"Iya pasti.. Tapi belum ada yang cocok" kata Yudha
__ADS_1
"Kebanyakan memilih lokasi Yudha" kata Yola
"Tidak apa apa.. Setidaknya gue ada yang mencintai tidak seperti lo" kata Yudha
"Sialan.. Lo" kata Yola
Aku dan Fian menatap bintang di langit bersama anak kami.
"Kamu punya impian tidak ak? " tanyaku
"Impian? Ada satu hal yang sangat besar." kata Fian
"Pasti kamu ingin menjadi Pilot, bukan?" tanyaku
"Iya tapi bukan itu impian terbesar aku." kata fian
"Ada lagi? "tanyaku
"Ada.. Kalau kamu apa?" tanya Fian
"Kalau aku ingin menjadi koki" kataku
"Pantas saja.. Kamu jago masak ternyata mimpi kamu menjadi koki, sudah berapa lama belajarnya? " tanya Fian
"5 tahun yang lalu" kataku
"Kenapa tidak kamu lakukan? " tanya Fian
"Karena tidak ada yang mengurus kantor." kataku
"Iya kamu benar.. Kita ini anak satu satunya" kata Fian
"Kalau kamu? " tanyaku
"Aku? Kalau aku bisa memiliki dan mencintai kamu dalam hidup aku adalah impian terbesar dan akhirnya kamu bisa mencintai aku juga adalah kebahagian terbesar." kata Fian
"Aku tidak percaya kamu belum pernah berkencan dengan seseorang. Karena kamu sangat pandai dalam merayu" kataku
"Aku serius.. Aku belum pernah berkencan dengan wanita lain. Tapi untuk kamu aku akan berusaha jadi yang terbaik selamanya" kata Fian
"Masa? " tanyaku. Sambil ragu dengan ucapan Fian.
"Supaya kamu percaya aku harus apa?" tanya Fian
"Kamu harus memakai kostum badut sambil bernyanyi di hari ulang tahun anak kita nanti" kataku
"Baik.. Aku akan melakukan itu" kata Fian
"Pasti lucu.. Seorang CEO menjadi badut haha.." kataku sambil tertawa
"Kamu pasti senang dan tidak sabar melihat aku memakai pakaian badut" kata Fian
"Iya.. " kataku
__ADS_1
Aku tidak pernah menyangka akan bahagia sebesar ini bersama Fian. Dahulu dia adalah orang yang paling aku benci karena dia sudah memisahkan aku dengan Doni. Tapi sekarang dia adalah orang yang paling aku cintai. Hidup memang tidak bisa aku tebak. Kami hidup bahagia bersama dengan anak kami.
- tamat-