Scandal With My Boss

Scandal With My Boss
Bab 9 - Pamer


__ADS_3

Satu kotak bekal berisikan sandwich buatan Anne telah ada di hadapan Darren, pria itu masih belum juga membuka ataupun memakannya ia masih memperhatikannya, ia khawatir Anne memberikan sesuatu ke dalam sandwich tersebut.


"Huh, kau pikir aku akan meracuni mu tuan Darren,"


"Bisa saja kan kau memasukkan sesuatu ke dalam sandwich itu,"


"Terserah kau mau memakannya atau tidak, kalau kau tak berselera buang saja ke tempat sampah, permisi." Anne keluar dari ruangan Darren menyisahkan pria itu yang masih duduk menatap kotak bekal itu.


Darren sengaja tidak memakannya ia akan akan memakannya pada saat waktu yang tepat, melihat tingkah Anne sepertinya padanya berhasil selalu membuat Darren tersenyum sekalipun Anne akhir-akhir ini selalu menekan setiap katanya ketika berbicara dengannya.


Sebenarnya, Darren sudah dari dulu mengagumi Anne sejak wanita itu masih kuliah, Darren adalah salah satu donatur di kampus Anne kuliah.


"Pak Darren mari ikut saya, ruangan dosen ada di sebelah sana." ujar pemilik kampus tersebut.


Darren yang waktu itu diajak berkeliling melihat sekitar kampus, ia tak sengaja melihat seorang wanita yang tengah tertawa dan tersenyum sumringah bersama beberapa kawannya di kelas bisnis management seketika entah kenapa ia merasa ada desiran di dalam dadanya.


"Manis sekali senyum dia," gumamnya sebelum akhirnya lamunannya di buyarkan kembali oleh pemilik kampus.


Sejak itu Darren menemukan wanita yang di kagumi nya, dan secepat mungkin Darren meminta asisten pribadinya untuk mencari tahu tentang wanita sang pemilik senyum manis itu dan setelah ia mengetahui segalanya bahkan ia rela menggeser posisi sekretarisnya demi memberikan kesempatan untuk Anne menjadi sekretarisnya.


"Kau harus menikah denganku Anne," ujar Darren seraya menyadarkan kepalanya pada kursi kebanggaannya.


***


Vanny di buat heran pada teman barunya ini sedari tadi menggerutu tidak jelas, bagaimana Anne tidak kesal pasalnya Darren tengil itu tidak menghargai sandwich buatannya pria itu tidak memakannya sama sekali. Padahal, Anne sudah rela bangun pagi hanya untuk membuatkan sandwich yang katanya spesial teruntuk Darren.


"Anne sudahlah lebih baik kau makan makanan mu itu, sedari tadi ngomel terus."


"Kau tidak tahu bagaimana kesalnya aku Van,"


"Bagaimana aku tau kau tidak memberitahuku sama sekali apa yang membuatmu kesal Anne,"


Mereka berdua yang sedang asyik makan siang seketika tiba-tiba Darren menghampiri mereka berdua bukan sendirian tapi melainkan Darren datang bersama Brian.

__ADS_1


"Aku dan Pak Darren bolehkan gabung bareng kalian?" tanya Brian gugup.


"Iya boleh, duduk saja." jawab Vanny yang bisa melihat kegugupan di wajah Brian berbeda dengan Darren yang sedang tersenyum manis pada mereka.


Brian menunduk ia merasa gugup atau ketakutan sebenarnya tadi saat di lobby ia berpapasan dengan Darren dan seketika atasannya itu mengajaknya untuk ikut bersamanya ke Cafetaria, ingin menolak tapi ia tak berani dan sekarang ia berakhir disini bersama mereka.


"Brian your ok?" tanya Anne yang di balas anggukan dari Brian.


"I'm ok nona Anne," jawab Darren yang berhasil membuat Anne memicingkan matanya. Tak ada yang bertanya padamu bodoh!


Seketika Darren menaruh kotak bekal yang berisikan sandwich itu di meja membuat Anne membulatkan matanya tidak percaya dengan apa yang dia lihat, Anne pikir pria itu sudah membuang makanannya.


"Kau tahu Brian ini sandwich buatan nona Anne untuk saya dia bilang ini sandwich spesial untuk CEO tersayang di kantor ini, pertama kali mendengarnya saya sangat merasa tersanjung." ujarnya panjang lebar.


Anne yang duduk di sampingnya berhasil menelan saliva nya sendiri, pria ini benar-benar sudah sinting ia tak pernah mengatakan hal itu kepadanya lagi pula untuk apa dia berbicara seperjelas itu kepada Brian.


Sandwich nya Darren makan sampai habis di hadapan Anne sekaligus, inilah yang di namakan waktu yang tepat untuk memperlihatkan jika sandwich ini memang spesial di buat untuknya.


"Wow, ini rasanya sangat enak sekali nona Anne besok kau bisa membuatkannya lagi untukku."


"Oh benarkah, aku sampai lupa hahaha.. " jawab Darren sambil tertawa.


Senyum manis Darren kepada Anne bisa mereka tebak jika memang Darren memiliki perasaan lebih pada Anne, mungkin Anne belum menyadarinya saja sedangkan Anne yang mendapatkan senyuman dari Darren berhasil membuat Anne merasa ilfil akan sikap pria tengil itu kepadanya.


***


Mereka kembali fokus pada rapat penting kali ini, mengenai Darren yang akan bertugas keluar kota pada 3 hari yang akan mendatang beberapa staf lain telah merancang susunan yang telah di sepakati Darren agar saat meeting nanti Darren berhasil memenangkan tender.


"Bisakah anda fokus pada rapat kita kali ini Pak Darren," bisik Anne yang duduk dekat di samping Darren, bukannya mendengarkannya pria itu malah mengedipkan satu matanya.


"Bagaimana Pak Darren dengan apa anda menyetujuinya?"


"Ya saya setuju, kalian siapkan saja apa yang di butuhkan saya pada saat meeting tender nanti." jawabnya acuh membuat beberapa staf menelan saliva nya.

__ADS_1


"Ok, kalau begitu rapat kali ini selesai, silahkan kalian kembali ke pekerjaan kalian masing-masing." mereka mengangguk dan memberikan salam hormatnya pada Darren.


Anne menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan sikap acuh Darren saat ini, bisa-bisanya pria itu tidak se perduli itu pada usulan dari karyawannya.


Seketika Anne memukul lengan Darren membuat sang empu merintih. "Kau ini kenapa sih tiba-tiba memukul ku?"


"Kenapa? Kau yang kenapa dari tadi seharusnya fokus pada rapat kita kali ini malah asyik melamun,"


"Aku tidak melamun, aku memperhatikanmu nona Anne." plak! Anne sekali lagi memukul punggung Darren.


"Jangan terus memukul ku atau ku cium bibir mu itu nona Anne," seketika Anne mendorong kursi Darren.


"Dasar pria omes!"


"Apa itu omes?"


"O-t-a-k M-e-s-u-m," Anne berlari keluar dari ruangan.


Saat Anne sedang berjalan di koridor kantor tiba-tiba Darren menyusulnya dari belakang berhasil membuat Anne di buat terkejut.


"Jangan terburu-buru jalannya, ayo pulang bersama ku,"


"Aku tidak mau, aku ingin pulang sendiri saja,"


"Jangan begitu ayo ku antar pulang, jika kau tak mau pulang denganku aku tidak akan mengikut sertakan kau dalam perjalanan kita keluar kota nanti," ancaman Darren berhasil membuat langkah kaki Anne terhenti.


"Aku ini sekretaris mu, mana bisa kau seenaknya tidak mengikut sertakan aku?" Anne menunjuk dirinya sendiri.


"Karena kau tidak mau pulang denganku, jadi itu konsekuensinya." ujar Darren yang tak tahu diri ini.


"Baiklah ayo antar kan aku pulang," jawab Anne seraya berjalan lebih dulu, ia bukannya buta akan perjalanan dinas keluar kota nanti tapi ini adalah pertama kalinya ia bekerja dinas keluar kota. Tapi, sialan si Darren itu selalu berhasil mengancamnya.


TBC.

__ADS_1


Di harap memberikan Like, Vote dan Komentarnya ya prend memberikan keempat poin itu sangat gratis. :)


Jangan lupa follow author juga ya.


__ADS_2