
Jika aku berada dititik enggan bercerita atau berbicara hal yang ku lakukan adalah menulis dan menggambar apa pun yang terlintas di pikiranku, seperti saat ini karena tidak ada hal yang ingin ku ceritakan aku membuka kembali buku diary ku yang berisikan...
~flashback on
*Dear diary...
Rabu, 15 juli 2k15
Banyak impian banyak pula kemauan, aku juga merasakan aku memiliki banyak kemampuan untuk membeli inilah itulah untuk orang yang ku sayang tetapi aku juga ingin mewujudkan impianku dengan berbagai cara yang bisa aku lakukan*.
Aku menginginkan banyak hal tapi aku sadar tak mudah untuk mendapatkan semua itu. Aku harus belajar sabar, ikhlas dan bahkan aku harus sabar untuk menabung. Aku juga ingin mewujudkan cita-cita ku dengan dukungan orang tuaku.
Walaupun hatiku sakit karena sering dimarahi dan dibentak oleh orang tuaku. Aku selalu ingin terus sabar dan sabar tetapi sabar itu tidak mudah sudah ku akui bahwa belajar untuk sabar itu sangat susah tapi aku yakin aku bisa.
Banyak yang kuinginkan banyak pula yang harus ku pelajari dalam hidup ini aku sangat menginginkan kan semua dalam keadaan baik-baik saja namun kehidupan memiliki harusnya seperti jarum jam yang terus berputar. Jarum jam akan terus berputar lagi batu baterai masih bagus untuk digunakan, dan jam akan berhenti berputar ketika batu baterai sudah usang seperti layaknya manusia diisi dengan iman dan dan jika sudah waktunya pulang maka akan mati.
Ya Robbku tolong beri tahukanlah aku cara untuk aku bisa mewujudkan semua mimpiku.. Ya Robbku berikanlah aku kesehatan, keselamatan dan kesabaran atas semua yang kau cobaan yang kau berikan padaku. Aku percaya bahwa semua yang terjadi sudah menjadi jalannya dan akan berguna pada masanya.
~flashback off
Setelah selesai membalik halaman buku diaryku, aku mulai belajar beberapa hal dari masa lalu dan menjadikannya sebagai pengalaman walau pada saat itu mungkin aku lebih banyak mengeluh tapi saat ini aku bersyukur bahwa penciptaku memberikan aku ujian dan cobaan ini untuk membuka jalan bagiku di masa depan. Saat ini ku petik hikmah dari semua yang telah terjadi di masa lalu bahwa tak semua hal dapat diselesaikan dengan amarah kadang aku juga sadar bahwa ketenangan adalah solusi dari segalanya mungkin jadikan candaan bisa membuat kita lebih rileks.
__ADS_1
Saat ini banyak temanku aku atau orang-orang yang kukenal mengeluh tentang kehilangan pasangannya. Ingat pasangannya disini bukan pasangan suami istri atau yang lainnya tapi kalau bahasa anak mudanya itu pacaran. Mereka belum tahu apa arti sesungguhnya dari kehilangan. Aku ingin mengatakan pada kalian apa yang sesungguhnya yang dinamakan kehilangan. Kehilangan itu adalah saat dimana kita kehilangan jiwa dan raganya, saat kita dipisahkan dengan alam yang berbeda, dimensi yang berbeda ada dan hukum yang berbeda. Mungkin mereka tak pernah atau belum pernah merasakan arti kehilangan yang sesungguhnya. Aku yang merasakan kehilangan saat ditinggalkan oleh ayahku, aku merasa sedih ya walaupun awalnya aku tak paham karena bisa disebut aku masih kecil walau usiaku memang harus dipertanyakan. Kenapa dipertanyakan? Ya karena aku dan sifat ku berbeda dari kebanyakan orang. Aku yang sering dimanja menjadikan aku yang kekanak-kanakan di usiaku yang sudah cukup dewasa namun secara pola pikir kadang aku lebih dewasa dari orang lain.
Aku yang di rumah bagaikan seorang ratu namun di dunia luar atau di lingkungan sekitar aku bagaikan anak tiri. Mengapa demikian? Karena banyak dari temanku merasa iri kepadaku karena kedekatanku dengan guru atau orangtua mereka apalagi yang dinamakan ayah atau laki-laki yang dewasa. Bukan apa, aku begitu karena aku kehilangan ayahku pada saat di mana aku sedang membutuhkan kasih sayangnya, pengertiannya dan kehadirannya yang menjadikan aku seolah cari perhatian. Aku tak marah pada mereka karena aku tau mereka iri padaku. Aku paham jelas sifatku yang ceroboh, sifatku yang usil dan jahil mempermudah aku untuk menjalin komunikasi namun sayang aku sudah dari lama memenjarakan diriku sendiri di dalam hatiku yang terdalam seandainya mereka tahu bahwa aku yang ada bersama mereka bukanlah aku yang sebenarnya. Aku yang sebenarnya sedang tertidur merenung mungkin bersedih namun tidak ada yang tahu karena mereka melihat aku yang ceria. Aku yang mudah berteman atau bergaul menjadikan mereka lebih iri kepadaku. Ada yang bahkan menyindirku, pernah sekali ada masalah sampai ada orang yang ingin mencungkil keluar mataku karena ya bisa dikatakan mataku bulat jadi mungkin dia mengira aku sedang meliriknya dan dia tidak suka itulah yang menjadikan dia seperti itu. Aku pernah berpikir untuk membunuh mereka dengan caraku karena sebenarnya aku bukan orang yang mampu menerima semuanya dengan baik aku memang tidak pendendam tapi untuk orang yang menyakitiku itu akan memberikan luka yang membekas di ingatan ku yang membuat aku mencari mereka dimanapun mereka berada untuk apa tentu untuk memberikan mereka bukti bahwa aku lebih mampu daripada mereka bisa dikatakan aku egois tapi biarkanlah. Ini diriku, ini aku. Aku memiliki hak untuk tetap berjalan di jalanku dan aku juga menghargai hak mereka untuk mengatakan apa yang mereka katakan aku selalu menerima rasa dari seseorang tapi belum bisa di pasti bahwa aku akan menerimanya dengan baik aku hanya mengatakan aku cuman menerimah bukan menerima dengan baik ataupun membalasnya.
Yang ku ketahui tentang perasaan adalah tidak menyakiti selama tidak diganggu atau tidak disakiti. Membalas jika tidak terima, menerima atau diam jika tak mau memperpanjang dan jangan lupakan ada beberapa orang yang tidak boleh kamu sentuh.
Ada kebahagiaan kalau kau memutuskan untuk menghilangkan rasa sedih mu. Ada pula kekecewaan ketika kau memutuskan untuk mempercayai.
Banyak hal yang akan terjadi jika kamu mulai mu itu kegagalan ataupun kesuksesan selalu memiliki resiko yang harus kau tanggung sendiri, karena kebanyakan orang hanya ingin tahu bukan benar-benar peduli tentangmu.
Seperti diriku yang ketika membantu lalu tidak sengaja membuat kesalahan, aku lah yang memegang resiko terbesar disalahkan. Mereka tidak peduli apa usahaku, mereka hanya tau hasilnya, mereka tak memikirkan bagaimana perasaanku yang peduli kepada mereka dan mereka abaikan. Sedangkan saat itu benar, aku seolah tidak ada. Aku dilupakan begitu saja, seolah bukan aku yang bantu, seolah bukan aku yang menyelesaikan dan seperti dia yang melakukan semuanya sendiri tanpa bantuan ku. Bahkan terkadang tak jarang mereka mengakui bahwa dirinyalah yang melakukannya dan menyelesaikannya sendiri. Di situlah aku hanya memilih diam dan tersenyum manis karena lagi dan lagi aku dilupakan dan diabaikan bahkan hasil karya aku diakui olehnya.
Tak jarang terlintas dipikiran ku berbagai macam pertanyaan.
Apa yang kau sesalkan ?
Apa yang hilang dariku ?
Bahkan aku saja tidak tahu siapa aku ?
Mungkin yang ku sesakan adalah acuh tak acuh pada hidupku sendiri sedangkan yang hilang dariku adalah jadi diriku.
__ADS_1
Aku hidup bukan untuk diriku.
Jauh dari kata aku yang sebenarnya.
Aku benci semua ini.
Aku tak ingin terus seperti ini.
Aku ingin cepat pulang.
Ayah aku merindukan mu.
Aku ingin bertemu denganmu.
Apa Aku ditakdirkan untuk menyendiri ?
Mencari kebahagiaan seorang diri lalu membagikannya dengan orang lain hingga aku kembali seperti ini sampai akhir aku mati ?
Ya robb ku tidak ada pilihan bagiku, aku hanya bisa mengeluh padamu, karena tak ada teman untuk bercerita apalagi memilih cerita. 08-02-2020
Kalian membiarkan aku seperti ini. maka jika suatu saat nanti akan datang hal buruk pada kalian, terima saja aku telah kalian abaikan. Untuk apa aku peduli pada kalian untuk saat ini kita jalani hidup kita masing-masing tidak mengganggu satu sama lain karena kita awalnya tidak kenal maka tidak masalah jika kita sekarang jauh dan kembali asing. 14-02-2020
__ADS_1