Sebagian Dariku

Sebagian Dariku
Hanya pengganti


__ADS_3

Aku tak sepintar dia..


Aku tahu dan aku mengerti.


Seperti apakah aku?!


Aku memang tak seperti dia!


Aku jauh berbeda dari dia!


Tapi kenapa selalu dia yang diutamakan?


Dan aku yang di nomor duakan!


Aku tahu bahwa aku tak sebaik dirinya.


Aku mengerti pencapaianku dan dia kadang hanya bertukar nomor aku 6 dia 3 dan aku 3 dia 6 seperti itu terus saling berganti silih bertukar terkadang ingin rasanya berpisah dengannya karena tak ingin di sama-sama kan.


Ingin rasanya hidup menjadi diri sendiri, tidak menjadi bayang-bayang orang lain atau ditutupi oleh bayangan lain. Ingin rasanya dianggap ada, ingin rasanya dihargai, dan ingin sekali keberadaanku ini diakui.


Lelah rasanya jika harus jadi peran pengganti secara terus-menerus.


Terus-menerus jadi pengganti hati kecilku merasa sedih.


Aku tak bisa menjadi diriku sendiri karenanya.


Kecewa?


Iya jelas aku kecewa!


Kenapa aku tidak bisa menjadi diriku sendiri?


Aku dan dia jelas berbeda.


Aku milik diriku Bukan dia.


Aku tak ingin disamakan.


Aku tak ingin terus-terusan berada di bayang-bayangnya!


Aku lelah...


Ingin rasanya pergi jauh darinya.


Aku tak ingin jadi bayang-bayangnya atau aku tak ingin membayang-bayangi nya tapi ini seperti aku yang menjadi bayang-bayangnya. Seolah aku penyebab semuanya.


Aku sedih.


Aku kecewa.


Aku putus asa.


Aku merasa sendiri.


Aku tak ingin jadi dia karena aku bukan dia!


Tolong hargai aku!


Aku tak ingin terus menangis karena terus terbayang-bayang oleh bayangan dirinya.


Aku tahu mungkin ada kemiripan antara aku dan dia tapi AKU BUKAN DIA!


Ya AKU BUKAN DIA!

__ADS_1


Aku adalah aku!


Dan dia adalah dia!


Aku lelah jika terus seperti ini mungkin aku takkan jadi diriku sendiri, aku akan menjadi orang lain yang kalian inginkan bukan aku.


Keberadaanku tak ada artinya bagi kalian. Dia adalah aku dan aku adalah dia.


Sedih, kecewa, sakit hati.


Sungguh mengesankan! Aku terus-terusan dibanding-bandingkan dengan dirinya seolah aku adalah orang lain.


Haha...


Sungguh tak bisa dipercaya aku menangis karena hal konyol ini. Namun jujur saja aku tak ingin dibanding-bandingkan atau di sama-sama kan karena aku ingin jadi diriku.


Aku ingin jadi aku dengan caraku.


Aku ingin hidup sebagai diriku.


Bukan sebagai orang lain meski memang jika aku melakukan kesalahan dan aku dianggap dia lalu dia yang disalahkan bukan aku tapi sakit rasanya jika aku yang berbuat suatu kebaikan namun dia yang mendapatkan hal yang kuinginkan.


Kecewa!


Sungguh aku benar-benar kecewa.


Tak ingin rasanya aku terus disini.


Ingin pergi ketempat yang tak ada orang yang mengetahui bahwa itu diriku dan membuat namaku sendiri.


Ingin rasanya merubah tampilan ku.


Aku ingin merubah diriku.


Ingin ku rubah semua yang sama dengan dirinya.


Iya lelah, benar-benar lelah karena terus di sama-sama kan.


Aku hanya jadi peran pengganti saat dia tak ada namun tak ada yang menggantikan aku ketika aku tak ada, tak ada yang merindukan aku karena ada dia karena selama ini aku tak pernah dianggap.


Haha...


Lucu ya ketika aku berharap keberadaan diriku adalah sesuatu yang orang lain inginkan namun nyatanya keberadaan diriku bukan apa-apa.


Aku ingin saat aku tidak ada di sana mereka mencari ku, menanyakan dimana keberadaan ku namun semuanya bagai debu tak ada yang mencariku, ketika aku hilang tak ada yang menanyakan kabarku ketika aku tak ada.


Sungguh jelas jika aku terlihat lelah karena aku benar-benar kecewa dan benar-benar merasa tak diharapkan.


Pikiran ku kosong, jiwa ku tak sepenuhnya ada bersama ragaku. Aku bagaikan boneka dengan nyawa. Berjalan sesuai yang diinginkan oleh orang lain. Jika ada yang menyuruh ku berhenti maka aku berhenti jika disuruh diam maka diam.


Haha...


Sungguh aku benar-benar kecewa!


Lelah rasanya jika terus seperti ini.


Jika harus terus-menerus jadi peran pengganti lebih baik hilangkan saja perasaanku. Agar aku mampu mengatakan semuanya tanpa memikirkan perasaan atau suasana hati orang lain.


Sudah cukup lelah untuk aku menetap disini dengan identitas dirinya. Ingin aku pergi jauh ketempat yang tenang tanpa gangguan dari dunia luar. Aku ingin hidup ditempat dimana aku bebas mengemukakan pendapat dan dihargai. Cukup singkat namun sulit dimengerti. Permintaan seperti ini seperti seolah ingin bunuh diri namun tak ingin mati. Ntah karena sadar masih banyak hal yang belum dilakukan atau karena sadar masih memiliki banyak dosa?!


Haha...


KALIAN SEMUA MUNAFIK AJIG!

__ADS_1


APA GUE YANG TERLALU NAIF HINGGA KALIAN TERUS-TERUSAN BIKIN GUE TERLUKA?!


GUE CAPEK!


PENGEN ISTIRAHAT!


GAK MAU LAGI DIGANGGU SAMA PROBLEM-PROBLEM KALIAN!


KALIAN AJIG! BASAT!


GAK ADA YANG NGERTIIN GUE!


TAPI PENGEN GUE MENGERTI!


GAK DA AKHLAK!


GUE BENCI KALIAN!


TEMEN MAKAN TEMEN!


BASAT!


GUE GAK MAU JADI PENGGANTI!


GUE PENGEN JADI DIRI GUE SENDIRI!


GUE GAK MAU IDENTITAS LU AJIG!


GUE PENGEN IDENTITAS GUE SENDIRI!


GAK MAU DISAMA-SAMAIN ATAUPUN DIBANDING-BANDINGKAN!


KALIAN SEMUA BASAT!


GUE BENCI!


Gue capek kalau harus terus-terusan jadi orang lain.


Gue rindu ayah, gue pengen dipeluk, gue pengen diperhatiin, gue juga pengen disayang, dielus-elus kepalanya. Gak papa kok klo disebut anak kucing asal bisa ngerasain rasanya diperhatikan.


Gue pengen nangis tapi gue butuh sandaran.


Ibu coba kasih gue sedikit kehalusan.


Jangan terus bentak gue dengan alasan mendidik!


Ibu asal lu tau ya gue juga pengen dipeluk kek orang lain.


Gue pengen ngerasain gimana rasanya dikasih sesuatu seperti pelukan tanpa harus minta. Ibu gue pengen ngerasain kehalusan lu. Gue tau lu dimasa kecil dididik pake cara itu, tapi gue mohon ini udah beda zaman. Bukan lu ngasih gue sport tapi yang ada lu bikin gue down seolah gue yang terus-terusan salah di mata lu.


Oke gue terima nada tinggi lu, tapi kenapa saat gue gak sengaja pake nada tinggi itu ke lu gue dimarahin?! Kenapa?! Gue cuma ngikutin cara lu, tapi gue yang disalahin.


Dimana? Dimana letak kesalahan gue? Gue cuma adaptasi sama diri lu. Gue cuma ngikutin lu. Gue gak da niatan bikin lu kecewa atau sakit hati sama kata-kata gue. Gue juga gak mau disebut anak durhaka.


Tolonglah sekali-kali ngertiin gue sebentar aja. Lu tau kan gue sering sendiri dan gak jarang menyendiri karena bagi gue apa gunanya di ke ramaian kalo ujung-ujungnya gue tetep sendiri?


Gue sendiri, sama alesannya kek gue bikin cerita ini gak terlalu banyak niatan buat bikin cerita ini jadi cerita teratas, karena gue tau udah alurnya gak jelas, nulisnya suka-suka gur, dan juga up nya semau gue. Toh gak ada yang minta buat cepet-cepet up.


Gue gak mikirin harus nulis alur kek gimana, ya itu terserah gue nanti aja, gue gak mikirin apa kesan para pembaca meski gue seneng kalo ada yang komentar, like bahkan vote karya gue.


Gue gak ribet kalo mereka gak mau baca ya udah gak papa itu hak kalian, gak mau like, komentar atau vote gak masalah lu udah baca aja bisa bikin popularitas cerita gue naik sedikit demi sedikit. Ya kali gue harus muluk-muluk minta, ngerengek gitu, bahkan sampe nangis depan kalian?! Eh sorry lah ya. Di pikiran gue biarin aja semua berjalan sesuai dengan takdir yang udah ditentuin.


Gue emang pernah minta bantuan buat share, like dan komentar di cerita gue ke temen gue. Karena gue ragu-ragu gue minta hapus balik tapi kata dia gak papa udah di share. Ya udah lah lagian nasi udah jadi bubur ngapain repot juga, yang udah mah udah lagian gak ada ruginya buat gue ini ...

__ADS_1


Haha..


Selama menimbulkan keuntungan tidak masalah tapi jika mengakibatkan kerugian ya minta pertanggung jawabannya aja gak susah juga. Dia bisa urus atau gak setidaknya gak mengusak tatanan hidup gue buat kedepannya.


__ADS_2