
Alex POV
Hari ini adalah hari pertamaku terjun langsung keranah Bisnis menggantikan tunanganku sebagai CEO untungnya aku sempat merangkap mengambil pendidikan di fakultas ekonomi dan telah menyelesaikan pendidikanku. Diperusahaannya aku menjadi CEO sedangkankan Jenny menjadi sekretarisku. Untuk itu aku fakum dari dunia medis, tidak sepenuhnya fakum karena aku memiliki pasien pribadi. Siapa lagi jika bukan tunanganku sendiri yaitu Jenny.
Jenny menderita kelainan jantung dan aku sangat mengupayakan sekali jika ada manusia berhati malaikat yang menyumbangkan jantungnya untuk Jenny. Aku akan sangat bersyukur kepada tuhan bila itu terjadi. Sudah dua tahun aku berusaha mencari pendonor yang cocok untuk Jenny tapi sampai saat ini aku belum menemukannya.
Ada satu hal yang aku ingat tadi malam Alicia. Ya gadis itu datang bersama sahabatku Leo. Sebenarnya aku belum berkata jujur pada Jenny jika aku memiliki kisah cinta dengan Alicia bahkan aku masih memiliki rasa padanya namun aku malu mengakuinya. Aku hanya bisa memilih untuk menyendiri hingga aku bertemu dengan Jenny.
Alicia adalah gadis yang aku cintai sejak aku duduk di bangku Junior shcool hingga kini aku masih menyukainya.
Namun aku urungkan dan aku pendam sedalam-dalamnya. aku sangat mencoba untuk melupakannya dan fokus kepada Jenny.
Aku menyukai Alicia karena dia berbeda dan dia sangat menarik. Kegemaran kami hampir sama aku gemar mengoleksi komik dan Alicia gemar sekali mengoleksi Novel yang aku anggap buku tebal tak menarik. Kami Bertiga sudah berteman dari kecil bahkan orang tua kami saling mengenal satu sama lain. Tak aneh bila dulu kami selalu menghabiskan waktu bersama hingga aku memutuskan untuk menyatakan cintaku pada Alicia pada saat dia ingin memasuki Junior school.
Aku merasa selama dia bersamaku dia merasa tidak nyaman bahkan selalu bersedih karena banyak sekali yang tidak menyukai kehadiran Alicia bersamaku. Hingga pada saat itu dia memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengannya. Untuk pertama kalinya aku menolak dan membujuknya agar tidak memperdulikan mereka. Tapi keputusanku salah dan membuatnya merasa tersakiti oleh kata-kata dari para gadis yang membenci Alicia karena mereka iri dan benci. Untuk kesekian kalinya dia memintaku untuk menjauhinya namun aku tidak bisa Karena aku menyayanginya.
Hingga akhirnya aku jengah dan merasa sepertinya itu lebih baik kemudian aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami.
Alicia pernah mengatakan bahwa aku sangat cuek padanya dan tidak peka. Mendengar itu aku hanya tersenyum karena yang sebenarnya terjadi bukanlah seperti itu aku hanya tidak tau bagaimana cara memperlakukannya sebagai seorang kekasih dan pada saat itu kami masih remaja labil yang mementingkan ego kita masing-masing.
"Sayang, kamu sudah menyelesaikan tugas kantornya?" Tiba-tiba Jenny menghampiriku dan membuatku tersadar.
"Sudah, apa ada rapat hari ini?" Tanyaku sambil tersenyum.
"Tidak ada." Jawabnya kemudian duduk dipangkuanku.
"Alex, apakah kamu mencintaiku?" Tanya Jenny serius sambil menatap kedua mataku.
" Sayang pertanyaan macam apa itu? tentu saja aku mencintaimu." Jawabku padanya kemudian mecium keningnya.
"There is one thing I fear."
Ucapnya sambil memeluk leherku.
"Hussttt jangan berpikir yang tidak - tidak. Sebaiknya kita makan siang dan tidak melupakan obatmu darling." Ucapku padanya kemudian aku peluk erat tubuh munyilnya. Rasa takut yang dimaksudkan aku sangat mengerti itu. Aku juga takut kehilangnya. Tuhan. Aku mohon berikan dia kesembuhan.
"Sayang?" panggilku disertai usapan lembut dipunggungnya.
"Ku mohon jangan tinggalkan aku." ucap Jenny kemudian.
__ADS_1
"Sayang aku ada di sini dan tidak akan pergi" ucapku menenangkan dan memang benar aku akan selalu bersamanya.
"Alex aku melihat matamu tadi malam saat kau melihat wanita yang bersama Leo."
Ucap Jenny kepadaku seketika membuat aku terdiam kaku.
"Benarkan Alex, aku tidak salah melihatmu menatapnya dengan tatapan memuja dan tatapanmu tak asing untuknya. Aku merasakannya." Ucap Jenny dan dia menangis.
Bagaikan daun kering yang rapuh jatuh tertipu angin aku tidak tau harus berkata apa. Yang aku lihat adalah tatapan terluka dan tubuh Jenny bergetar. Aku melukainya aku membuatnya menagis.
"Baby, I love you. Just you now." Ucapku dengan kekuatan yang kumiliki aku peluk dia.
"Honey please don't cry." Ucapku memohon.
Setelah aku tidak merasakan getaran tubuh Jenny aku melepas pelukannya dan dengan sangat terkejut aku menegakkan tubuhku dan mengguncangkan tubuh mungil itu Jenny tak sadarkan diri.
Dengan cepat aku mendorong meja dihadapanku dan berdiri mengangkat tubuh Jenny dari pangkuanku dan berjalan ke kamar khusus diruangan ini. Aku baringkan Jenny diatas ranjang kamar ini, kemudian aku bergegas mengambil peralatan medis yang sudah disiapkan di kamar ini bila terjadi sesuatu kepada Jenny.
Oh god. I beg you make her strong. I beg of you. Dengan sigap aku mengecek keadaannya.
Huft!. Syukurlah ternyata hanya syok.
Aku pasangkan alat pembantu pernafasan agar Jenny mendapatkan asupan oksigen dengan maksimal. Setelah memeriksanya aku langsung menghubungi supirku untuk membelikan makan siang untuk kami dan mengantarkan kesini. Sepertinya tidak akan mungkin bila kami makan keluar. Tiba-tiba aku mendapatkan email dan segera aku mengeceknya di meja kerjaku.
ari ini aku sangat bahagia karna Alex bersedia menggantikanku di perusahaanku ini. Saat ini aku berada di tempatku yaitu ruang sekretaris CEO. Setelah pekerjaanku selesai aku memutuskan untuk memasuki ruangan Alex. Setelah melangkahkan kakiku ke dalam ruangan itu aku hanya melihat Alex sedang bersandar pada sandaran kursi kerjanya dan terdiam dan sesekali tersenyum.
Dan tidak menyadari kehadiranku. Hingga aku mengingat senyuman itu dan kejadian tadi malam. Setelah mengingatnya rasa takut menghampiriku dan rasa takut kehilanganya.
"Sayang kamu sudah menyelesaikan tugas kantornya?" Ucapku yang sepertinya membuat Alex sedikit terkejut.
"Sudah apa ada rapat hari ini.?" Tanya Alex padaku sambil tersenyum.
"Tidak ada." Jawabku, kemudian duduk dipangkuannya.
"Alex apakah kamu mencintaiku?" Ucapku serius dengan menatap kedua matanya.
"Sayang pertanyaan macam apa itu? Tentu saja aku mencintaimu." Jawab Alex penuh dengan keyakinan kemudian mecium keningku reflek aku menutup mataku.
"There is one thing I fear." Ucapku pada Alex dan langsung memeluk lehernya. Aku sangat mengingat wanita itu dan Leo tadi malam.
__ADS_1
"Hussttt jangan berpikir yang tidak - tidak. Sebaiknya kita makan siang dan tidak melupakan obatmu darling." Ucap Alex dan seketika aku ingin menagis karena aku bukanlah wanita sempurna aku sakit dan aku merasa takut kehilangan Dokter sekaligus tunanganku ini. Ya tuhan aku sangat takut sekarang. Tetesan bening itu mengalir deras dari pelupuk mataku. Aku hanya bisa memeluk Alex erat takut kehilangnya dan aku merasa tak berdaya saat ini tubuhku bergetar dalam tangisku hingga aku merasakan sakit di dadaku dan merasa sesak. Seketika aku merasa melayang dan taksadarkan diri.
"Alex.?" Panggilku parau ketika aku sadar bahwa aku sedang berbaring di kamar. Aku mengingat bahwa tadi aku menagis dipelukan Alex dengan rasa sesak didadaku.
"Darling are you awake?." Tanya Alex dan aku jawab dengan menganggukkan kepala.
Alex POV
Email ini harus segera aku buka. Ketika aku sedang membaca Email dari Perusahaan Leo. Aku mendengar seperti Jenny memanggilku.
"Alex.?" Suara Jenny memanggil.
Dengan segera aku meninggalkan meja kerjaku menuju kamar dan benar saja Jenny telah membuka matanya.
"Darling are you awake?."
Tanyaku pada Jenny dan dia menganguk. Syukurlah.
"Sayang, sudah bisakah benda ini kamu lepas. Aku tidak nyaman." Ucap Jenny yang membuatku terkekeh.
"Apakah kamu sudah bisa bernafas dengan leluasa.?" Ucapku dan dia mengangguk.
"Finally, come on baby I want to hug you."
Ucap Jenny dan membuatku terseyum ketika aku sudah melepas alat bantu pernafasan itu Jenny menarikku cepat dan sekarang kami sedang berbaring berhadapan dengan tanganya memeluk pinggangku sedangkan Aku mengecup kepalanya beberapa kali dan mengusapnya lembut.
"Honey please don't be like that." Ucapku lembut padanya dan dia hanya mengangguk dalam diam.
"I'm sorry alex." ucap Jenny meminta maaf.
"Iya sayang aku tau pemikiran kamu tadi. Sudah ya kita saat ini hanya kamu dan aku tidak ada yang lain. Maafkan aku bila tadi malam aku membuat perasaanmu sakit." Ucapku tulus padanya.
"Iya sayang." Ucap Jenny kemudian 'Cup' kecupan itu mendarat tepat dibibirku. Hal ini membuatku kaget kemudian tersenyum. Kudengar Jenny terkikik dalam dekapanku. Kemudian aku menariknya lembut agar wajahnya berhadapan lagi denganku.
"Kamu nih ya nakal cium-cium aja" ucapku kemudian 'Cup' kecupan lain yang diberikan Jenny didahiku.
"Sayang kamu yang memulainya jangan salahkan aku bila kamu nanti kehabisan nafas." Ucapku padanya dan langsung mendekatkan wajahku pada wajahnya dan menempelkan bibirku lama karena tidak ada penolakan reflek aku menutup kedua mataku dan merasakan sensasi ketika aku ******* bibirnya yang membuat diriku merasakan banyaknya kupu-kupu terbang di sini, seketika itu aku mengakui satu hal penting dalam hidupku saat ini aku mencintainya. Aku mencintaimu darling dan aku akan bertahan untukmu.
"I love you more Jenny" ucapku setelah aku melepaskan tautanku darinya. Dalam benak aku berjanji untuk selalu melindungi dan menyayanginya. Aku akan segera memilikimu seutuhnya. You're mine, Jenny.
__ADS_1
"Love you too, Alex" jawabnya kemudian menenggelamkan wajahnya ketika memelukku.
Aku balas tak kalah eratnya. Aku tidak akan membiarkannya pergi. Aku akan berusah agar dia cepat pulih.