
Sesampainya di dalam Apart.
'Drettttt....Drettttt...Drettttt.'
Getaraan yang berasal dari handphoneku menunjukan nama mommy di layar langsung saja aku tekan tombol hijau disana.
"Hallo sayang kamu sudah sampai?." Tanya mommy dari seberang sana yang sudah dipastikan tau jawabanya. Sudah pasti tau karena Pak Juno selalu memberikan laporannya.
"Baru saja aku tiba mom aku tidak terlambat pulang. Ini masih pukul Delapan malam." Jawabku seadanya.
"Iya sayang, Syukurlah" respon mommy yang terdengar ingin mengatakan hal lain padaku.
"Ada apa mom menelpon?" Tanyaku to the point.
"Mommy sudah bersiap Siang tadi baru saja mommy ingin melajukan mobilnya ke arah Apart daddy menelpon agar mommy ikut ke Jepang untuk Kontrak kerja sama perusahaan dan menyiapakan berkasnya. Siang tadi kami langsung pergi. Mommy sangat merasa bersalah padamu." Jelas mommy yang seketika membuatku lesu karena siang tadi aku merasa bahagia karena mommy malam ini bisa bersamaku tapi nyatanya sirna begitu saja. Ini sudah biasa untukku jadi seharusnya aku tidak seperti ini.
"Baiklah mom tidak apa. Mommy jangan merasa bersalah seperti itu ya." ucapku pada mommy agar mommy pikir aku tak merasa sedih.
"Maafkan aku. Aku mencintaimu."
"Iya mom tak apa. love you to mommy."
"Mommy bisakah aku bicara dengan daddy?."
"Oh tentu saja. Sayang putrimu ingin bicara."
"Baiklah. Hallo my princess. Ada apa sweety?." Terdengar suara Deddy dari seberang sana.
Oh daddy seharusnya dirimu tau aku bersedih saat ini.Alicia.
"Daddy kau tega sekali padaku."
Tak tau harus bicara apa aku sudah kesal.
"My Princess. Ayolah sayang kamu sudah beranjak dewasa harus lebih memahami kami yang sedang bekerja sayang."
"Tentu aku mengerti dad tapi dirimu tega merebut ibuku hari ini."
Setelah Alicia berkata seperti itu David menjauhkan Handpone Alana dan berbicara kepada istrinya kenapa tidak mengatakan jika Alicia ingin bersamanya hari ini dan alasan Alana adalah tidak ingin kerja samanya untuk kesempatan kali ini batal karena tidak memiliki kesempatan kedua kalinya. David yang mendengarnya kagum dan sedikit tidak tega kepada Putri pertamanya itu.
"Maafkan kami sayang maafkan kami." hanya itu yang dapat dikatakan David.
"Daddy mengapa aku bisa sesedih ini dad?".
"Aku berjanji padamu sayang akan aku bebaskan dirimu memilih pendidikanmu nanti dan berteman dengan siapa saja. Tapi maafkan aku akan aku buat jadwal libur agar kita berempat dapat bersama aku berjanji padamu."
"Dad kumohon jangan katakan jika memang dirimu tidak bisa melakukannya karena itu akan membuatku dan Devano merasa semakin merasa sendirian."
"Apa! Kalian merasa sendirian? Apa para Pelayan tidak bekerja dengan baik sayang?."
"Dad mengertilah yang aku dan Devano butuhkan hanya kalian. Aku tidak peduli dengan para pelayan yang patuh itu aku mohon pada kalian luangkan waktu tanpa tugas kantor menyebalkan itu."
"Putriku Alicia. Dengarkan ini semua yang kami lakukan hanya untuk masa depan kalian terutama Devano adikmu."
"Baiklah Dad aku lelah sekarang. Selamat malam. Aku ingin mommy yang bicara."
Percuma saja bicara kalian tidak paham apa mauku dan Devano. Alicia.
"Baiklah sayang Selamat Malam."
"Mommy?"
"iya sayang ini mommy jaga dirimu maafkan mommy Alicia. Ya sudah kamu jangan tidur terlambat dan besok jangan lupa sarapan dan makan siang tepat waktu."
"Baiklah mom aku mohon jangan lupakan janjimu padaku lagi mom jangan ulangi ini.
Night mom love you so much." Ucapku pada momy.
"Maafkan aku Putriku. Night sayang love you too." Respon mommy menanggapi. Setelah itu sambungannya terputus.
Huft! Hal seperti ini sering terjadi padaku, harusnya aku sudah siap menghadapi hal tak terduga seperti ini lagi. Agar hatiku bisa tegar dan tidak bersedih. Sebaiknya aku pergi mandi dan langsung menghamburkan diri keatas kasur nyamanku.
__ADS_1
Setelah aku menghabiskan waktu di kamar mandi. Disinilah aku sekarang berbaring di kasur dengan posisi televisi menyala serta dua potong puding coklat dingin dengan toping caramel.
Ting!
Nada pesan dari handphoneku.
Ting!
Berbunyi lagi.
Ting!
Langsung ku lihat pesan apa itu.
Strong__Teamπ₯
Araπ± : "Guysssss!!!!!!"
Ella_π° : "Hadiiiir,,,"
Arinπ : "iyeee,,,,,,?"
Al__π¦ : "napaaa,,,,?"
Aku pun ikut serta merespon obrolan via chatting tersebut.
Araπ± : "Pas tadi siang di toko buku
Alicia liat Alex lagi, dia sedang memilih beberapa komik."
Al__π¦ : "ya ampunπ ,,, jadi teringat."
Ella_π° : "Alex lagi? Makhluk beku yang kita jumpai di bioskop? Tak bosan ya dia muncul di depan Alicia. menyebalkan!"
Al__π¦ : "Bahkan jika aku dapat membuat sesuatu menghilang manusia yang akan aku hilangkan duluan adalah Alex. Tentu saja."
Arinπ : "pasti dirimu berusaha
menghindar dan mengutuknya dalam hati dan
Araπ± : "ππ Lucu sekali bahkan putus asa karena tidak tau harus melakukan apa."
Ella_π° : "Well alasan kamu seperti
itu apa sih Al ?"
Al__ π¦ : "Alasannya..........."
Arinπ : " Sudah pasti sih karena rasa
kecewa dan tidak suka."
Al__π¦ : " Pastinya kalau aku jelasin
via chatting seperti ini
akan sakit jari. ππππ"
Ella_π° : "ya tuhan anak ini membuat
penasaran saja."
Araπ± : "πͺπͺ aku nungguin dari
tadi eh kata dia bikin sakit
jari,,,"
Arinπ : "ππππ"
Ella_π° : "ππ"
__ADS_1
Al__π¦ : "aku pasti akan cerita
ko,tapi secara langsung ππ±ππ°"
Arinπ : "Ditunggu yaaa,,,"
Ella_π° : "iya Al, tapi jngan lupa
ya cerita ke kita."
Araπ± : "iya zeyeng,,,,π¦"
Al__π¦ : "Iyah,pastii"
Obrolan pun Berakhir.
***
Huft! Aku sandaran tubuhku di kepala ranjang dan melanjutkan memakan puding caramel yang tadi sempat tertunda. Tiba-tiba bel Apart berbunyi kemudian aku bangkit dan melihat siapa yang datang. Leo?
Setelah aku buka ya memang dia tapi ada apa dia kemari malam-malam begini?.
"Al Boleh aku masuk?." Tanya leo pada aku setelah aku mebuka pintu.
"Eittt, Apa maumu,?" Tanyaku padanya.
Aku hanya seorang yang kesepian dan ingin memiliki teman." Ucapnya padaku dengan dramatis.
"Huft baiklah, jangan macam-macam dengan barang-barangku." Tegasku padanya.
"Baiklah tuan putri silahkan masuk." Ucapnya seperti pelayan kerajaan lucu sekali.
Leo adalah temanku sejak kecil dia
merupakan orang yang sangat dekat denganku sebelum sahabatku saat ini bahkan pacarku sekalipun. Hal yang aku tidak sukai dari dirinya adalah dia suka menyentuh barang-barangku. Aku sendiri tidak merasa keberatan tapi Leo itu sangat kreatif ya yang seperti aku bilang sangat kreatif adalah dia merubahnya. Seperti hiasan di kamarku aku syok bukan main. Dia merubah desainnya dan sampai saat itu aku merasa kesal saja padanya. Padahal tempatnya hanya terhalang satu pintu dengan tempatku.
Sesampainya di kamarku.
"Al aku nginap di sini ya,?" Tanya nya padaku. Ihh apa-apaan dia ini.
"Leo yang baik. Ada apa dengan kamarmu sampai-sampai ada pemikiran menginap di sini apa kamu tidak takut bila Pak Juno melaporkanmu ke daddy?" Tanyaku padanya.
"Tidak ada masalah Al hanya saja di sini terasa nyaman. Juno supirmu itu ya sepertinya tidak ada yang aku takutkan." Ucapnya dengan santai.
"Leo kita sedang beranjak dewasa mana ada kau tidur di sini." Jelasku padanya.
"Aku berani sumpah aku tidak akan berbuat Aneh - aneh padamu. Lagi juga kau itu tidak menarik bagiku." Ucapnya padaku tanpa bersalah. Benar-benar anak ini.
"Terserah kau saja" Ucapku padanya karena merupakan hal yang sia-sia berdebat dengannya.
"Nyummy ini enak Al. Apakah ini buatanmu.?" Ucapnya sambil memakan puding caramel yang sejak tadi belum tersentuh olehku bahkan aku hampir melupakannya.
"Heyyyy itu milikku aku saja belum memakannya." Kataku kesal sambil mengambil puding itu dari pangkuannya.
"Hey sejak kapan kau pelit,?" Katanya kesal bahkan dia kesal padaku sudah jelas yang harus kesal itu aku. Anak Ini benar-benar menyebalkan.
"Hey manusia aneh ini milikku, kalau kamu mau sana ambil sendiri di dalam kulkas ambil semaumu." Celotehku padanya.
" Putri macam apa dia itu. " Ucapnya sambil melenggang pergi menuju dapur yang kurasa dia ingin mengambil puding caramel sepertiku.
Setelah membersihkan diri dari sisa-sisa puding. Aku dan Leo duduk disofa kemudian kami menonton tv bersama hingga aku merasakan kantuk yang membuat mataku terasa berat.
"Hey tuan putri kau merasa ngantuk ya.?" Tanya leo padaku dan dengan setengah sadar aku hanya menganggukkan kepala.
"Tuan putri macam apa kau ini seharusnya kau pergi ke ranjangmu itu jika rasa kantuk sudah menyerang." Ucapnya yang sayup-sayup terdengar dan gegelap menyelimutiku.
Leo POV
"Al.. Alicia, kamu itu berat. ayo bangun kita jalan ke kasurmu." Sepertinya percuma saja aku bicara dia sudah tertidur dengan kekuatanku aku pindahkan dia keatas ranjangnya dan ikut berbaring disampingnya dan menutupi tubuh kami dengan selimut.
Hey! aku bukan lelaki kurang ajar kami biasa seperti ini dari Alicia memasuki tingkat Junior shcool bahkan dia yang memintaku tinggal di Apartnya hingga tante Alana meminta mamah agar mengijinkan aku tinggal dekat Apartnya Alicia dan mommy mengijinkannya dengan syarat harus benar menjaga Alicia. Tentu saja aku akan dengan benar menjaganya alasannya aku tinggal karena pada saat itu dia takut tidur sendirian. Orang tua kami berdua adalah sahabat dan tante Alana mempercayakan Alicia padaku dan aku menjaganya hanya seperti itu tidak lebih karena aku sendiri memiliki kekasih hingga saat ini dan Alicia tau itu.
__ADS_1
Ada hal yang pernah terjadi padaku aku pernah menyukai Alicia. Pada saat itu Alicia sudah memiliki pacar dan dia adalah sahabatku Alex dan pada saat itu aku berusaha tidak menyukainya kemudian membuka hati berpacaran dengan Jenny hingga saat ini. Jenny adalah wanita yang baik dan dia tulus menyayangiku dan aku cinta dia. Bagiku Alicia saat ini adalah saudariku hanya sebatas itu untuk alasan aku ke sini adalah hanya memastikan keadaannya karena aku tau kalau tante Alana tidak jadi ke sini. Tapi tidak dapat dipungkiri hari ini aku merasa kecewa dengan cintaku.
'Baiklah hari sudah larut. Sepertinya aku harus segera menyusul Alicia untuk terlelap.'