Sebuah Kisah Tentang Cinta Dan Kebebasan

Sebuah Kisah Tentang Cinta Dan Kebebasan
Ma Brother


__ADS_3

Hari- hari aku lewati seperti biasanya tentunya bersama Emeli dan beberapa kemanjaan Leo yang sangat ketara setelah mereka berdua memutuskan untuk menjadi sepasangan kekasih. Hari ini adalah hari kelulusanku dengan bangga aku kenakan pakaian togaku tentunya bersama kedua orang tuaku. Hari ini mommy dan daddy turut hadir dan kami bertiga berfoto bersama selepas pemotretan pelemparan topi ke langit. Sungguh sebuah moment yang membahagiakan sekali. Kejutan lainnya muncul. Devan menyempatkan diri untuk hadir. Adikku yang tampan memberikan pelukan hangatnya dan satu buket bunga yang indah.


"Selamat kak aku bangga padamu." Devan berkata seraya menepuk bahuku ringan.


"Terimakasih adikku sayang." kemudian menerima buket indah itu.


"Baiklah ayo kita berfoto bersama." Ucap daddy dan mengarahkan kamera miliknya kedepan.


"satu, dua, tiga!" Satu gambar hingga beberapa pengambilan gambar. Lagi dan lagi.


Selang tidak lama dari itu mommy dan daddy pamit pergi setelah menerima panggilan kerja dari perusahaan. Kini hanya aku dan Devano yang tersisa. Kehadiran mommy dan daddy sudah cukup untukku selepas itu kesendirian bukanlah masalah besar. Aku sudah terbiasa.


"Ini hari yang membahagiankan mereka hadir dan dirimu juga. Tidak ada yang lebih berharga dari pada ini. Aku telah menyelesaikan pendidikan formalku tidak lama lagi aku akan menjadi partner kerjamu. Bukankah begitu adiku sayang?"


"Hahahaha kakak iyah kita akan menjadi partner nantinya. Bersiaplah."


"Tentu saja aku akan mempersiapkan diri sebaik mungkin. Kau tenang saja aku tidak akan mengecewakan daddy." Kemudian meraih tangan Devan dan di genggamnya erat.


"Kak aku tidak merasakan seperti yang kau rasakan saat ini tapi aku tidak iri sama sekali. Pendidikan yang aku tempuh memang sangat berbeda sangat dikhususkan untuk itu aku akan membantumu untuk langkah awalmu di kantorku. Aku sangat takut ada duri yang akan melukai kita sebaiknya kakak menyembunyikan indentitas kita di kantor. Apakah kakak setuju?"


"Terimakasih atas sarannya. Tentu saja aku setuju. Aku juga ingin memiliki teman yang tulus tanpa melihat latar belakangku kau tau itu?"


"Sudah aku duga. Baiklah acaramu telah selesaikan. Ayo sebaiknya kita pulang."


"Pulang?." terdengar ambigu.


"Tentu saja ke apartmu kak aku berkunjung."


Kemudian bangkit dari duduknya.


"Ya tuhan. Aku cemas mendengar kata pulang yang kau katakan. Aku mengira kita terbang ke New york saat ini juga."


"Tentu saja tidak tapi itu tidak mustahil untukku."


cih! dasar anak kecil ini walaupun memang tidak mustahil.


" Baiklah tuan kaya raya mari ikut saya pulang." kemudian meraih pinggang adiknya.


"hahaha ada apa denganmu kak?"


"Tidak ada. Ayo aku sudah lelah." kemudian melangkah pergi menuju tempat dimana Mobil terparkir.


"Alicia ya ampun aku mencarimu tau. Kita belum berfoto." panggil Emeli ketika berpapasan dengan seseorang yang dia cari sejak tadi.

__ADS_1


"Ya ampun aku bahkan tidak mengingatnya Em. Baiklah ayo berfoto."


"Devan tolong ambilkan gambar kami. Em serahkan kamera milikmu itu."


"Baik ini adik tersayang." Ucap Emeli seraya memberikan kamera miliknya.


"Aku bukan adikmu!." Ketus Devano namun tetap menerima kamera yang disodorkan padanya.


"Ayo bersiap di posisi. Aku akan mengambil gambarnya." Ucap Devano santai kemudian memposisiakan kameranya dengan baik.


"satuu, dua, tiiigga." Setelah itu pengambilan gambar beberapa kali diambil. Kemungkinan banyak sekali potret yang sudah diambilnya.


"Coba aku lihat hasilnya." Ucap Emeli kemudian mengambil kameranya dari genggaman Devan dengan semangat.


"Hei pelan sedikit !." Ucap Leo terlihat kesal.


"Maaf ya adik tampan aku terlalu bersemangat. Aaaa ya ampun bagus sekali foto ini. ini juga. yang ini juga. Semuanya aku suka terimakasih kau pandai sekali memotret. Lihatlah Al." Ucap Emeli Senang. Tanpa Emeli sadari Devano sedikit tersenyum


"Tentu saja bagus karena kakak Alice ada di dalam foto itu." ucap Devano santai kemudiam memasukan satu tangannya kedalam saku celana.


cih menggemaskan sekali dia.Emeli


"Tentu saja. Dia memang pandai memotret. Apa itu salah satu hobbymu?" Tanya Alicia penasaran.


Huft Anak ini.


"Sudahkan acara pemotretannya mari pulang kak." Ajak Devano kemudian.


"Iyah ayo. Em mau pulang bersama?" Ajak Alicia kemudian.


"Sepertinya Leo akan kemari aku akan menunggunya dan mengambil beberapa potret gambar lagi aku rasa." Kemudian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Baiklah. Kami duluan ya bye." Pamit Alicia


"Bye sampai jumpa." Kemudian melambaikan tangan.


"Jangan lupa kirimkan foto tadi oke. " Ucap Alicia kemudian di jawab dengan tanggukan semangat oleh Emeli.


***


Di perjalanan pulang.


"Kak ?." Sedikit meremas sisi kemudi.

__ADS_1


"Hemm." menyimpan ponselnya ke dalam tas.


"Apakah di usiaku yang baru menginjak sembilas belas tahun ini sudah pantas memengang perusahaan daddy?" Topik pembahasan yang membuat Alicia menegakan tubuhnya. Alicia tau banyak sekali dari karyawan kantor daddy yang merasa tidak percaya bila Devano adalah Presdir mereka bahkan ada yang terang-terangan menyampaikan pendapatnya kepada daddy.


"Adikku dengarkan ini. Apapun yang kau dengar itu tidak akan mengubah apapun. Lagi pula kepantasan seseorang memimpin bukan dilihat dari berapa usianya tetapi dari Aspek yang dimilikinya, kemampuan, Visi, misi serta tujuannya. Mereka yang masih membicarakanmu bukan berarti membencimu. Bisa saja mereka masih merasa tidak percaya dengan kenyataan yang terjadi." Seraya mengusap bahu Devano lembut.


"Kakak benar seharusnya aku tidak merasa seperti ini." Kemudian menghembuskan nafasnya berat.


"Tentu saja. Kau itu atasan mereka Devan. Merekalah yang menggantungkan kehidupan mereka pada kita." Ucap Alicia yang membuka pola pikir Devan kembali.


"Maafkan aku kak aku sedikit tidak percaya diri." Kemudian membuka dua kancing bagian atas kemeja yang ia kenakan.


"Tidak Apa. Sebaiknya tunjukan dirimu yang seperti ini hanya padaku mommy dan daddy."


"Aku tau itu." kemudian tidak ada lagi obrolan di antara mereka.


Taklama kemudia mobil yang ditumpangi Alicia memasuki parkiran Apart.


"Ya tuhan Akhirnya sampai. Aku sangat menginginkan kasurku." Celoteh Alicia ketika menuruni mobilnya.


"Apa kau kira dirimu saja. Aku juga menginginkan Kasur." Sahut Devan kemudian mengikuti langkah kakaknya.


Lima menit kemudian mereka telah tiba di depan pintu Apart.


"Mari masuk!" Ucap Alicia semangat.


Setelah membersihkan diri Alicia sudah berada di atas kasurnya dan disusul oleh Devano kemudian.


"Oh tuhan kasur yang nyaman." Ucap Devano setelah menjatuhkan tubuhnya.


"ya ampun kedua kaki ini terasa pegal." Ucap Alicia seraya memijat kedua kakinya bergantian.


"Kak?" panggil Devano kemudian merubah posisinya menjadi miring menghadap Alicia.


"Hemm." Masih melanjukan pijatannya secara bergantian.


"Aku merasa lapar. Ini sudah masuk jam makan siang." Ucap Devano setelah melihat jam tangan yang ia kenakan.


"Bahkan aku tidak merasa lapar. Aku hanya ingin tidur." Ucap Alicia kemudian membaringkan tubuhnya.


Merasa percuma saja berbicara pada kakaknya akhirnya Devano memutuskan mengirimi pesan kepada pengawalnya untuk membawakan makanan ke apart.


"Baiklah terserah padamu. Tidurlah dulu nanti akan aku bangunkan setelah makanannya tiba."

__ADS_1


Karena tidak ada jawaban Devano membuka ponselnya lagi dan membalas beberapa pesan yang penting dari kantornya. Hanya seputar kerja sama dan projek lanjutan.


__ADS_2