
Sertibanya di Bandar Udara Internasional John F. Kennedy hampir tujuh jam perjalanan.
"Akhirnya aku kembali kesini. Untung saja kau menjemputku dua hari sebelum acara pernikahan Angela. Aku sangat merindukan sahabatku di sini." Ucap Alicia bahagia dan berjalan keluar dari bandara.
"Wow aku sangat tersanjung kau mengucapakn terimakasih padaku." Ucap Alex santai mensejajarkan langkahnya.
"Hahaha terserah kau saja."
"Baiklah aku akan mengantarkanmu pulang."
"Baik sekali, baiklah aku mau. Apa tidak keberatan untuk makan malam sebelum mengantarkan aku pulang?"
"Tidak usah sungkan. Katakan saja kau lapar dan ingin makan malam terlebih dahulu."
"Hei aku bicara begitu karena aku Alicia. Kau mengerti. Ayo celatlah aku mau makan."
"Hahahaha ini baru Alicia yang baru aku kenal. Baiklah kita akan pergi makan malam." Terlihat mereka Akrab seperti tidak memiliki kenangan kekanakan bukan.
"Hei kalian. Apa karena sudah bersama sejak di Paris hari ini aku dan Sahabatmu ini terlupakan hah?" Ucap Leo yang memperhatikan Alicia dan Alex sejak tadi.
"Sepertinya kau salah. Kau yang membiarkan aku bersama pria ini dan kau Emeli kau melupakanku dan terus saja bermanaja-manja dengan priamu terus" Ucap Alicia kesal dan mengarahkan jarinya selama bicara.
"Oh Alicia aku tidak bermaksud begitu. Maaf yaa. Percayalah." Ucap Emeli merasa bersalah kemudian menggandeng lengan Alicia erat.
"Aku tidak apa-apa kalian tidak salah. Aku yang salah karena aku jomblo." Ucap Alicia tidak nyambung.
"Hei kau akan menemukan pria yang sangat mencintaimu. Percayalah." Ucap Emeli menyemangati.
"Iya aku yakin. Hei tunggu! kau akan pulang bersamakukan Emeli?" Tanya Alicia yang hampir melupakan ini. Emelikan tidak ada koneksi di negara ini.
"Dia akan pulang bersamaku." Ucap Leo cepat.
"Jangan lakukan apapun padanya. Habis kau bila itu terjadi." Ancam Alicia seperti ibu Leo saja.
"Akan aku bawa dia ke Apart."
"Emeli gunakan saja kamarku. Aku akan beritau passwordnya. Kamar kami bersebelahan jadi kau tidak usah khawatir Leo meninggalkanmu sendiri."
"Aku bilang tidak usah. Ayolah kami sudah dewasa." Leo berusaha keras membantah Alicia. Alex hanya diam mendengarkan.
"Tidak apa Al, aku akan bersama Leo. Aku akan menjaga diriku. Percayalah." Ucap Emeli meyakinkan.
"Sudah aku katakan aku salah karena aku jomblo. Baiklah terserah kalian saja aku sudah muak. Aku percaya kalian tidak akan macam-macam. Leo aku mengawasimu ingat!. Awas saja kau!." Pasrah Alicia kesal pada keduanya karena merasa percuma saja.
"Hahahahha sejak tadi aku memperhatikan kalian bertiga tau. Berhentilah seperti itu kalian terlihat seperti peranan ibu dan anak laki-lakinya yang pulang bersama seorang gadis." Tawa renyah Alex terdengar.
"Diam kau!" Ucap serentak Alicia dan Leo yang membuatnya terdiam.
"Hahahaha baiklah ayo cepat kita harus segera makan malam."
"Kalian saja. Aku dan Emeli akan pergi hanya berdua saja."
"Terserah kau." Ucap Alicia acuh.
***
Setelah menunggu jemputan akhirnya tiba. Masing-masing mengambil posisi seperti semula. Leo dengan Emeli dan Alex bersama Alicia.
"Baiklah kau ingin makan apa? Tanya Alex ketika sudah dalam perjalanan makan malam.
"Sebenarnya aku akan pulang ke rumah dan makanan apa saja akan dihidangkan sesuai keinginan. Apa kau merasa nyaman bila diperlakukan seperti itu?" Tanpa menjawab Alex, Alicia membuka obrolan lain.
"Bukankah itu bagus. Itu merupakan bentuk perhatian orang tuamu. Mereka menyediakan fasilitas untuk keluarga agar nyaman berada di rumah."
"Seharusnya aku berfikir begitu. Tapi apakah
fasilitas akan sama dengan keberadaan mereka. Bukankah keberadaan meraka tidak dapat diwakilkan oleh apapun juga?."
"Sepertinya mereka tidak ada waktu yang cukup ya?"
"Apa aku terlihat menyedihkan sekarang?"
"Bukan. Bukan begitu."
"Baru saja aku mendapat pesan dari Juno tentang keberadaan orang tuaku mereka tidak ada di rumah."
"Apa kau tidak keberatan aku menjadi teman curhatmu?"
"Hei! Kau bukan hanya sebuah kisahku Alex. Aku sudah berteman baik dengan masalalu. Kau hari ini adalah sahabat kecilku yang baru saja kembali."
"Aku tidak berfikir kau sedewasa ini. Bahkan sejak awal beretemu aku menekan rasa canggungku. Bayangkan saja gadis yang pernah bersamaku dulu sudah menjadi gadis yang cantik."
"Apa kau menyesal pergi dariku?"
"Tuan putri kau mengigau. Tentu saja tidak. Hanya ada Jenny di hatiku."
__ADS_1
"Wah panggilanku kembali. Sangat senang melihatmu kembali." Ucap Alicia menyambut sahabat kecilnya.
"Kita sudah berjalan selama sepuluh menit. Apa yang ingin kau makan princess?"
"Aku ingin daging panggang dan jus mangga."
"Baiklah. Kita akan kesana. Hei Tito kau dengar princess ini ingin sesuatukan. Carikan tempat yang menyediakan makanan ini dengan rasa yang enak." Ucap Alex kepada tangan kanannya.
"Baik Pak." Mengerti dengan perintah.
***
Taklama kemudian mobil terparkir dan Alex sendiri yang membukaan pintu untuk Alicia.
"Silahkan Princess."
"Kau membuatku merasa tidak nyaman. Cepat kemari aku lapar." Ucap Alicia yang keluar dengan berjalan cepat memasuki restoran.
Sesampainya pesanan datang di meja makan. Selama sepuluh menit mereka menunggu.
"Ya tuhan aroma ini sangat menggugah. Jangan Kaget ya bila aku memesan ini lagi semenjak aku di Paris aku pernah makan banyak dan sekarang aku ingin mencobanya." Ucap Alicia mengingat perutnya yang penuh dan sulit berjalan karena malas.
"Benarkah?" Ucap Alex tidak percaya dan melahap Steak miliknya.
"Alex tolong jangan merasa jijik tapi sungguh aku menginginkan daging panggang ini lagi." Ucap Alicia lagi.
"Apa ini enak sekali?" Dijawab anggukan semangat oleh Alicia.
"Baiklah. aku akan memesannya lagi dengan porsi yang sedikit besar."
"Jangan tambahkan kentangnya. Aku tidak ingin makan kentang. Milikku ini sudah cukup." Menunjuk kentang goreng miliknya.
"Sepertinya setelah ini kau harus berolahraga." Ucap Alex setelah memesan Sapi panggang milik Alicis.
"Semenjak aku dekat dengan Emeli aku tidak takut gemuk seperti dulu."
"Kau sangat mengejutkan. Aku heran mendengarnya tapi itu bagus."
"Tapi begitulah kenyataannya."
"Baiklah selamat menikmati menu ini untuk kedua kalinya."
"Selamat makan. Terimakasih tuhan" Ucap Alicia riang dan memasukan potongan sapi panggang itu ke dalam suapan mulutnya dengan Semangat.
Princeas ini sangat menggemaskan. Kenapa aku begitu bodoh mengabaikannya dulu. Dia manis, cantik dan Imut walaupun dia seorang dewasa.
"Hei apa kau seorang psikopat?. Mengerikan sekali." Ucap Alex dan bergidik.
"Hahahahaha bukan hanya psikopat. Aku juga seorang kanibal. Lihat ini." Sambil memasukan potongan daging yang agak besar lalu mengunyahnya.
"Aku juga seorang kanibal. Lihat ini." Kemudian memasukan potongan daging yang sejak tadi belum habis dari piringnya.
"Hahahaha kau lucu sekali." Tawa Alicia terdengar.
Ya tuhan dia tampak sangat natural sekali. Terlihat tanpa beban. Ya tuhan,
Alex Sadarlah.
"Ekhmm." Dehaman upaya menekan rasa kagumnya terhadap Alicia saat ini.
"Ini minum. Sejak tadi kau belum minum." Seraya memberikan minuman yang di pesan Alex.
"Terima masih."
"Terimakasih telah meneraktirku kawan. Sepertinya aku akan pulang ke rumah tanpa memikirkan apapun dan langsung menuju kamarku untu beristirahat." Ucap Alicia ketika potongan daging panggang itu sudah habis tak tersisa.
"Tidak masalah princess. Tapi makananku belum habis. Tunggu aku menghabiskan ini. Aku ingin sepertimu." Ucap Alex dan memakan makanannya dengan cepat.
"Baiklah." Kemudia Alicia meraih ponselnya dan mengirimkan sebuah pesan di grup kesayangannya.
'Aku sudah kembali. Aku harap kita bisa bertemu besok.-Send-' Kemudian memasukan ponselnya kembali kedalam tas.
"Terimakasih tuhan. Aku merasa kenyang sekarang." Ucap Alex setelah meneguk tandas minumannya.
"Baiklah. Ayo aku sudah lelah." Kemudia Alex membayar tangihan mereka.
"Ayo kita pulang"
***
Diperjalanan Pulang
"Terimakasih Alex."
"Untuk apa princess?"
__ADS_1
"Untuk semuanya"
"Sepertinya tidak ada hal yang aku lakukan."
"Berhentilah bicara begini."
"Tidak masalah Alice. Kau sudah seperti Adikku."
"Baiklah Terimakasih. Well sebentar lagi kita akan sampai di kediaman orang tuaku. Apa kau ingin mampir?"
"Mungkin lain kali saja." Taklama Mobil telah sampai di depan gerbang masuk kediaman orang tua Alicia.
Penjaga yang baru melihat mobil Alex mengetuk kaca agar kaca mobil dibuka. segera Tito membukanya.
"Penjaga Ini aku. Maaf tidak memberi kabar jika aku kembali."
"Maaf nona. Silahkan masuk." Ucap Penjaga itu sopan dan sedikit terkejut.
Sesampainya di depan pintu masuk.
"Terimakasih ya. Titipkan salamku pada Jenny."
"Tidak usah sungkan Princess. Aku juga sudah merindukannya. Akan aku sampaikan. Aku pamit." Ucap Alex kemudian melangkah pergi.
"Hati-hati" Ucap Alicia tersenyum dan melambaikan tangan. Hanya bunyi klakson tanda mengiyakan.
***
Setelah mobil Alex tak terlihat lagi dengan cepat Alicia melangkah dan mendorong Pintu namun terkunci.
"Hei! ini rumah siapa? Apa aku tidak diizinkan masuk?" Teriak Alicia kesal karena sejak tadi yang ia bayangkan hanya kenyamanan kasurnya saja.
"Buka pintunya wahai penghuni rumah besar." Ucap Alicia menekan bell beberapa kali.
Taklama pintu terbuka dan munculah gadis muda yang memakai pakaian pelayan terlihat kelelahan seperti habis lari maraton.
"Maafkan saya nona maafkan saya. Saya baru di sini nona. Baru kali ini ada tamu nona. Maafkan saya." Ucap Pelayan wanita itu dan menunduk takut.
"Sedang apa kau di dalam?" Tanya Alicia penasaran.
"Maaf nona saja tadi sedang menghafal ruangan-ruangan rumah ini."
"Aku akan mengawasimu. Siapa namamu?" Sedikit curiga bisa saja ada musuh daddy yang menyamar bukan.
"Panggil saya Mira, nona." Melihat Wajah Mira setelah gadis itu menganggkat wajahnya. Sangat Familiar.
"Aku sempat curiga denganmu. Tapi setelah memperhatikan wajahmu kau mirip sekali dengan Metty kepala pelayan kepercayaan mommy."
"Maaf nona saya ditugaskan kemari oleh nyonya karena kepulangan anda. Nona benar saya mirip sekali dengan Metty. Dia ibu saya."
"Wah kau mengejutkanku. Aku menyukai Metty kau tau. Dia seperti ibuku walaupun aku sering menolak sarapan yang dia kirimkan langsung ke Apaterment pada saat aku masih remaja. Maaf mencurigaimu. Semoga kau bisa berteman denganku Mira." Melangkah masuk ke dalam rumah.
"Maaf nona, sepertinya saya tidak pantas untuk menjadi teman anda."
"Apa kau menolakku?"
"Ti-tidak bukan begitu."
"Panggil namaku saja. Sepertinya usia kita tidaklah jauh."
"Ba-baik nona eh Alice."
"Berapa usiamu.?" Tanya Alicia setelah mendaratkan tubuhnya di sofa ruang tamu.
"Dua puluh empat tahun."
"Wah kau bisa aku anggap kakak perempuanku Mira."
"Tidak perlu Alice. Aku sudah merasa bahagia untuk berteman denganmu."
"Baiklah tapi aku akan menganggapmu begitu."
"Apa ada yang ingin kamu lakukan?"
"Aku sudah makan malam. Sebenarnya aku ingin segera tidur tapi badanku lelah sekali dan merasa pegal."
"Aku akan siapankan ruangan untukmu Alice. Apakah kau mau melakukan Spa?"
"Kau sangat pengertian sekali. Tentu aku mau."
"Baiklah tunggu sebentar. Apa kau ingin meminum sesuatu?"
"Aku ingin teh hijau panas."
"Segera datang." Kemudian meninggalkan Alice di ruang tamu.
__ADS_1
Sepertinya akan menenangkan. Alicia