
Apa yang harus aku lakukan? Mengapa seperti ini? Sebuah pelukan tulus yang memberikan rasa nyaman,tentu saja tapi aku tidak bisa menerimanya. Pria itu membuatku menangis karena aku tidak bisa membalas rasa yang telah bangkit kembali dari hatinya ,sehingga dia datang hari ini dan semua ini terjadi.
"Revan!."
"Alicia aku mencintaimu." seraya menarik kedua tangan Alicia kemudian digenggamnya.
"Aku menerimanya, tapi aku hanya sahabatmu. Hatiku telah kosong, aku tidak menginginkan apapun. Mengertilah untuk diriku."
Jujur saja aku tidak bisa memulai apapun saat ini, aku masih ingin seperti ini. Aku sangat lelah untuk merasakan hancur.
***
Revan Pov
"Alicia aku mencintaimu."
Aku memang sudah tidak waras saat ini, Aku mencintai gadis ini karena aku menyia-nyiakan kehadirannya dulu. Tapi aku tidak pernah berniat untuk menyakitinya hanya saja aku terlalu fokus pada dunia seni yang aku buat.
"Revan aku mohon."
Aku tau dia akan menolak. Setidaknya dia tau jika aku mencintainya.
"Alicia aku sangat mencintaimu."
"Kau membuatku ingin menangis."
Ya Tuhan, apa aku seorang penjahat yang memaksa hati seorang wanita untuk menerimaku?
"Rev-"
Sangat menyakitkan hanya saja sangat sulit menyiapkan diriku tapi aku mohon untuk kali ini saja aku meluapkan semua perasaanku.
"Syut...Aku mohon untuk saat ini saja."
Semua ini aku lakukan karena aku sungguh ingin memperbaikinya.
"Revan!" Sangat berat untuk melepaskannya
"Alicia aku mencintaimu." Sungguh bila hanya sebatas sabahat,asalkan aku dapat memperbaiki kisah itu.
"Aku menerimanya, tapi aku hanya sahabatmu. Hatiku telah kosong, aku tidak menginginkan apapun. Mengertilah untuk diriku."
"Maafkan aku Alicia. Baiklah aku menerimanya. Aku mohon jadilah Alicia yang tetap meresponku."
"Tentu Revan. Baiklah aku harus menyelesaikan sarapan yang tertunda."
"Ah iya, Sarapannya." segera melanjutkan sarapan yang sejak tadi menunggu untuk dilahap.
"Revan apakah kau tau sore ini aku akan pergi bersama Alex untuk menghadiri pesta pernikahan Angela?"
"Alicia apa karena Alex?"
"Ayolah Revan, Alex sudah bertunangan, kau tau itu. Aku hanya ingin seperti ini. Mungkin jika ada kisah baru untuk diriku, aku harap tidak ada rasa hancur yang aku rasakan."
"Maafkan aku."
***
Semuanya akan baik-baik saja, Beri semangat untuk dirimu Alicia sebab liburan panjangku menanti.
"Baiklah aku sudah selesai dengan makananku begitu juga dirimu. Sore nanti Alex menjemput, saat ini hanya tersisa tujuh jam lagi menuju pukul tiga sore."
"Hati-hati ya, well aku tidak diundang karena aku tidak kenal baik dengan sepupu Alex."
"Baiklah sekarang apa?"
"Aku ingin mengajakmu pergi tapi hari ini bukanlah hari yang tepat rupanya."
"Baiklah aku punya satu hutang jika begitu.".
"Tidak Al, aku tidak akan memaksamu untuk menemani aku."
__ADS_1
"Baiklah, terserah saja."
Sepuluh menit berlalu Revan hanya memperhatikan Alicia sedangkan Alicia hanya diam.
"Al"
"ada apa?"
"Sebelum aku pergi, aku bawakan ini untukmu." menunjukan kotak berwarna peace terlihat elegan.
Alicia menutup mulutnya terkejut, sepertinya akan sangat berlebihan jika Revan memberikanya.
"Lihatlah gelang cantik ini, Ini hanya milikmu. Aku memberikannya agar kau selalu mengingat diriku. Sebagai seorang yang spesial atau hanya sebatas sahabat lama tidak masalah." Ucap Revan membuka kota indah itu dan memasangnya di pergelangan tangan Alicia.
"Indah sekali. Apakah ini sangat mahal."
"Hanya buatan pengrajin amatir, bukan hal yang besar." Selesai memasangkan benda cantik itu tentunya terlihat sangat menawan.
"kau pikir aku bisa kau bodohi?"
"Gadis cantik tidak boleh berbicara seperti itu."
"Ya Tuhan indah sekali, Aku senang sekali hari ini,thanks to you." memperhatikan gelang indah itu dengan riang.
"Aku sangat bahagia jika kau menyukainya, aku mohon jangan kau berikan kepada siapapun."
"Tidak akan, aku menyukai gelang indah ini. Aku menduga jika ini buatanmu"
"Apakah seseorang yang memiliki hobby dengan kanvas akan bisa membuat gelang seindah itu, sepertinya mustahil."
"Terserah saja. Terimakasih Revan kau mengejutkan."
"Semoga harimu menyenangkan. Aku pamit ya."
"Hati-hati di jalan. Berikan pelukan persahabatan sebelum kau melangkah pergi."
"Baiklah, Oh Tuhan gadis ini bukan milikku." seraya menarik Alicia ke dalam dekapannya.
***
Kisah hidupku hari ini. Senang sekali mendapatkan hadiah indah walaupun hari ini bukan hari ulang tahunku.
Cantik sekali gelang ini tidak henti aku memandanginya, Pria itu membuatku banyak berfikir berapa harga benda seindah ini. Jika seperti yang dia katakan akan sangat mustahil jika benda seindah ini hanya sebatas karya amatir. Sangat meragukan.
Baiklah cukup dengan gelang ini.
Waktuku akan aku gunakan untuk melakukan beauty treatment saja. Aku mengajak Mira, aku tidak akan membiarkan Mira terlihat menyedihkan. Gadis itu cantik dan imut sangat di sayangkan jika dia menolak melakukan treatment bersamaku hari ini.
Rangkaian hari ini adalah Spa kemudian perawatan rambut dan terakhir perawatan kuku. Aku harus memilih warna yang cocok dengan gaun yang aku beli kemarin, kuku dan gaun bila serasi akan terlihat sangat memukau. Sebaiknya aku cepat menghubungi Mira.
Setelah aku menekan tombol panggil dari kamarku Mira datang dengan tersenyum hangat.
"Selamat pagi nona, ada yang bisa saya bantu."
"Hari ini aku Alicia dan Kau Mira akan melakukan treatment."
"Sepertinya akan sangat tidak pantas nona."
"Aku sudah menyiapkan pakaian untukmu nanti dan sekarang kita harus pergi untuk treatment. Tidak ada penolakan."
"Ba-ik nona."
"Ganti bajumu dengan pakaian santai, jangan ikat rambut seperti itu nanti. Kau harus coba untuk menggerainya. Aku tidak keberatan jika kau terlihat menawan Mira."
"Baiklah nona, Saya akan bersiap. Saya akan menunggu nona di ruang tamu."
"Baiklah. Aku hanya perlu cuci muka dan tasku saja."
"saya permisi." kemudian Mira pergi untuk bersiap.
***
__ADS_1
Lima menit aku bersiap menunggu Juno yang sedang dalam perjalanan. Di rumahku supir bukan hanya Juno, Kemal siap mengantar hanya saja Kemal tidak ditugaskan untuk mengantarku, Mira biasa pergi dengan Kemal untuk menjalankan tugas sebagai penanggung jawab rumah kami, seperti berbelanja.
"Mira kau sangat manis." Aku suka dengan tampilan sederhananya membuat Mira terlihat berbeda.
"Nona aku akan gugup jika nona seperti itu."
"Ya ampun gadis ini."
"Maaf nona sepertinya Juno sudah tiba."
"kau benar, ayo aku sudah tidak sabar untuk menikmati treatment bersamamu."
"Terimakasih nona."
***
Sesampainya aku dan Mira di dalam mobil.
"Jangan lupakan sabuk pengaman kalian nona-nona." Ucap Juno kemudian tersenyum hangat.
"Tentu Juno aku memakainya, Mira jangan lupakan sabuk pengamanmu."
"Baik nona."
Tanpa kedua gadis itu sadari Juno merasa senang jika ada Mira bersama dengan nona nya, bahkan terlihat sangat dekat.
"Nona kemana tujuanmu kali ini." Juno membuka obrolan.
"Kami akan melakukan berbagai treatment kecantikan dan berbeda tempat jadi setengah hari ini kau bersama kami."
"Baik nona."
"Sepertinya kau sudah tau aku akan pergi bersama Alex."
"Nona sudah tau jawabannya. Itu adalah tanggung jawab saya."
"sangat percaya diri sekali akan bisa masuk ke dalam pulau, Aku pikir tidak semua orang bisa datang Juno. Apakah kau memiliki undangan pernikahan Angela."
"Apa kertas ini yang nona maksud?" Seraya menunjukan undangan yang sama seperti yang Alex dan teman-teman miliki.
"Wow. Siapa yang mengundangmu?"
"Nona,aku adalah kepercayaan tuan muda Devano. Kalangan pembisnis besar mengenalku."
"ya tuhan pria ini sombong sekali."
"Hahaha nona yang membuat aku menjelaskan semuanya."
"Lihatlah Mira dia manusia seperti kita." Mira hanya tersenyum namun terlihat menawan.
"Nona aku menghawatirkan gadis manis disampingmu itu apakah dia akan bisa masuk ke dalam pulau tanpa kartu undangan?"
"Hey aku saja tidak ada kertas itu. Tapi aku bisa menghadiri pestanya."
"Nona sepertinya yang Juno katakan benar."
Alicia tau ini pengalaman pertama untuk Mira bisa sedekat ini dengan Juno, aku tau Mira menyukai Juno.
"Nona pergi bersama sepupu dari pemilik acara, sedangkan gadis itu hany-"
"Juno dia itu partnermu, Jelas Mira akan bisa menghadiri pesta angela."
"A-pa?" Jawab mereka serentak.
"Hahahah kalian menggemaskan sekali."
"nona ini pemaksaan."
Juno seperti mendapatkan kiriman Natal. Tentu aku sangat mengerti keadaan.
Aku tau itu hanya omong kosongnya saja, pria itu terus saja melihat Mira dengan senyuman. Mereka hanya perlu waktu.
__ADS_1
***