Seindah Takdir

Seindah Takdir
8. Tak Kunjung Datang


__ADS_3

Steve sudah rapih mengenakan jas berwarna navy. Malam ini rencananya ia akan pergi ke Stewart Island.Itu rencananya. Rambutnya sudah ditata dengan baik, serta parfum yang melekat di bajunya. Penampilannya sangat perfect kali ini dibanding biasanya.


Steve memasang jam tangan berwarna hitam di pergelangan tangannya. Pria itu langsung menyambar kunci mobil.


"Wohin gehst du?"(mau kemana?) tanya seorang Wanita paruh baya berambut coklat susu berbahasa Jerman.


"Willst du Stewart Island." (mau ke Stewart Island)


Wanita yang diketahui bernama Eliosia itu tersenyum menggoda, "*si*cher willst du Lexy kennenlernen, oder?" (pasti kamu mau bertemu dengan Lexy, kan?)


Steve tersenyum lembut, "*n*ein, aber Citra." (bukan, tapi Citra)


Eliosia mengerutkan keningnya, "*we*r is,Citra?"(siapa Citra?)


"Ich sage dir später, ich muss jetzt gehen!"(nanti aku ceritakan, aku harus pergi sekarang!) Steve melenggang pergi.


Sedangkan Eliosia nampak kebingungan. Setahunya, Lexy lah yang menjadi kekasih Putranya. Wajar saja Eliosia tak tahu apa-apa, Steve saja belum bercerita mengenai hubungannya.


Steve meninggalkan perkarangan Rumahnya. Ia melajukan mobilnya,membelah jalan. Bibirnya terus mengukit senyum.


Entah mengapa ia terlalu senang akan bertemu dengan gadis berhijab itu.


Steve turun dari mobil ketika dirinya sudah sampai tujuan. Ia segera meraih kacamata hitam dari jasnya.


Perlahan ia melangkah. Menikmati laut ini. Cahaya aurora membentang luas di langit. Perpaduan warna yang bergabung menjadi satu menampilkan keelokan alam. Beberapa bintang bertaburan ke berbagai arah. Dipadu dengan bulan yang indah. Cahaya aurora terus menyombongkan keindahannya. Siapa saja yang datang ke sini, pasti akan menyeringai. Ditambah laut yang luas. Tempat ini benar-benar menjajikan akan keharmonisannya.


Steve melirik jam tangan yang berada di pergelangan tangannya. Gadis itu belum juga datang. Padahal ia sudah menyiapkan surat miliknya. Sepertinya ia tidak membutuhkan surat ini, batinnya.


Beberapa orang mulai berdatangan. Menikmati cahaya aurora. Ia memperhatikan setiap orang yang berdatangan. Matanya melirik ke berbagai arah.


Ia mengeluarkan surat itu. Rasanya ingin sekali ia menyobek kertas itu. Steve membuang nafas kasar. Ia menjatuhkan tubuhnya di pinggir pantai. Sungguh iri rasanya ketika melihat sepasang kekasih yang terlihat bahagia. Harmonis.


Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah ponsel berlogo apel yang sudah digigit di bagian kiri. Mengecek aplikasi chat berwarna hijau. Isinya hanya dari beberapa penggemar wanita yang minta nomornya di save. Namun, Steve hanya membacanya. Tak ada niatan untuk dibalas, bahkan nomor itu di block. Ia hanya fokus mencari nama gadis itu. Sepertinya gadis itu tak menyimpan nomornya.


Ini sudah larut malam. Tapi gadis itu tak kunjung datang. Steve kembali memasukan surat itu ke dalam saku jasnya. Ia bangkit dari duduknya. fix, gadis itu tidak akan hadir.


Ia kembali memasuki mobilnya. Dengan perasaan hampa. Sesampainya di Rumah, Eliosia ditayangkan wajah kusut Putranya.


" Warum?" (kenapa?)" tanyanya. Steve hanya memandangi wajah Ibunya sekilas, lalu melenggang pergi begitu saja.


Steve langsung menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang kasur miliknya. Ia tidur secara instan, padahal ia masih mengenakan jasnya.


                                                 


***


Matahari mulai hadir. Cahayanya sangat terang menyinari kota Auckland. Langit terpampang jelas berwarna biru muda. Begitu pun dengan putihnya awan. Sang cahaya mentari menerobos kamar Steve melalui celah-celah jendelanya. Kicauan burung terdengar merdu.


Mata Steve terbelalak sempurna. Ia telat. Steve lamgsung menyibak selimutnya. Bergegas ke arah kamar mandi. Hanya gosok gigi dan keramas. Kemudian berganti baju. Ia mengancingkan baju kemejanya.


Menata rambutnya asal. Namun rapih. Jas yang baru saja semalam ia pakai, Steve taruh di atas ranjang kasur. Namun, ia tak lupa dengan surat itu. Ia taruh surat itu di dalam laci nakas.


Ia langsung menyambar tas ranselnya dan kunci motor. Ia tahu, bahwa motor lebih cepat dibanding mobil. Mengingat situasi ini sangat darurat.


Ia melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Tersisa lima belas menit lagi. Ia benci terlambat.


Ia memarkirkan motornya di area parkir kendaraan bermotor. Saat ia berbalik badan, pria itu disuguhkan dengan gadis berhijab pashmina berwarna coklat susu dan gamis berwarna hitam, ditambah blazzer berwarna coklat.


Namun Pria itu menatapnya datar. Membuat gadis itu merasa bersalah, "i'm so so so Sorry, Steve! Aku ragu dengan ajakan kamu. Tapi Aku mohon! Surat itu milikku, hakku, tolong kembalikan!"


Steve mendekati gadis itu, membuat Citra memundurkan langkahnya, "*s*orry? Aku sampai telat karena kamu! Berjam-jam aku tungguin di sana tapi kamu tidak datang, itu percuma! Itu membuatku kesiangan. Aku benci kesiangan! Aku benci terlambat! Dan jangan harap surat itu akan kembali ke tangamu!"

__ADS_1


"Dan soal ragu. Kamu fikir aku ini pria pecundang? Hah? Aku tidak pernah melakukan sekotor itu!" Steve berjalan, melangkah lebar. Meninggalkan Citra yang masih berperang melawan fikirannya.


Citra berbalik badan. Menatap punggung Steve yang masih terlihat, "apa yang harus Aku lakukan untuk mendapatkan surat itu?" pertanyaan Citra itu benar-benar membuat Steve berhenti melangkah.


Steve menoleh ke belakang, "tunggu di taman sepulang kuliah ini!" Steve kembali melangkah.


Akhirnya gadis itu bisa bernapas lega. Paling tidak, masih ada harapan untuk bisa mendapatkan surat dari Andri.


                                    


                                                       


***


Citra tengah duduk manis di Taman. Menunggu kehadiran sosok pria yang telah berbuat janji untuk ketemuan di Taman ini.


Gadis itu memang merasa lelah menunggu. Namun, itu tak sebanding Steve yang menunggu kehadirannya semalam, membuatnya kesiangan.


Suara bariton itu berdehem. Membuat Citra mendongak. Tanpa aba-aba, Steve langsung duduk di sebelah Citra, menyisakan sedikit jarak antara Mereka. Namun, Citra bergeser ke sudut bangku itu, agar tak terlalu berdekatan.


"Aku butuh surat itu, Steve!" Citra menunduk.


Steve menoleh pada sang lawan bicara ,"aku mengerti.Kamu tenang saja! Surat itu akan aku kembalikan. Paling lama seminggu baru aku kembalikan."


Citra menatap mata Steve dengan tajam, "kenapa kamu selalu mengulur waktu?"


"Agar kamu mengerti arti menunggu. Agar kamu merasakan menunggu." Citra membungkam.


"Kamu mengerti maksud aku, kan?"


Tak ada jawaban. Lidah sang gadis kelu. Citra menggigit bibirnya.


Steve segera bangkit dari duduknya, "kamu mau ikut makan siang bersamaku?"


Steve mengangguk, "Lunch,"


"Tenang! Aku yang akan traktir," sambungnya lagi. Citra semakin tidak mengerti.


Steve membuang nafas kasar, "tidak mungkin kamu tidak bisa berbahasa Indonesia kan, Nona? Atau mungkin bahasaku yang salah?"


"Bukan itu. Kenapa kamu mengajakku?"


"Karena bukan Orang lain," jawab Steve seadanya.


"Kenapa bukan pacarmu saja?"


Steve terkekeh, "aku memutuskan hubungan itu,"


"Oh iya, mantan pacar kamu kuliah dimana?"


"Mau ikut makan siang atau tidak?" Citra mengetuk dagunya. Di fikiran gadis itu, Ia tak mau lagi mengecewakan Steve.


Citra bangkit, "baiklah, ayo! Tapi sesuai janjimu kan untuk traktir aku?"


Steve tersenyum lembut, lalu mengangguk. Namun, langkah Citra mendadak berhenti. Membuat Steve mengernyit.


Citra menepuk jidatnya, "Astagfirullah, aku lupa izin sama Bunda. Tunggu sebentar yah, Steve!" Steve mencerna kalimat Citra, ia tak paham. Namun, pria itu mengangguk sebagai balasan.


Citra merogoh saku blazzernya. Mengeluarkan ponsel berlogo apel yang sudah digigit dibagian atas sebelah kiri. Gadis itu segera mengirimkan pesan singkat kepada Raina, karena Ia pulangnya agak lambat dari biasanya.


Ya, meskipun Raina tak berada di New Zealand, tetap saja Citra izin kepadanya untuk berpergian kemanapun. Apalagi bersama Steve yang jelas-jelas bukan mahramnya.

__ADS_1


Citra kembali memasukan ponselnya ke tempat semula begitu pesan sudah terkirim, dan Raina pun mengizinkan putrinya.


"Ayo!" Mereka kembali berjalan beriringan. Memasuki area parkiran.


Steve menggaruk tenguknya yang tak gatal, "emmm...Citra, tapi aku bawa motor."


"Cari restoran yang dekat kampus saja. Ngapain pula jauh-jauh. Tinggal jalan kaki kok."


"Serius? Tidak ingin yang lokasinya lebih jauh?"


"Tidak usah!"


Mereka berdua berjalan beriringan menuju sebuah restoran yang memang lokasinya begitu dekat dengan kampus ini.


Citra dan Steve duduk berhadapan.Steve melambaikan tangannya sebelah, "Waiter!"(pelayan! ) panggilnya. Sang pelayan pun menghampiri mereka.


"I'll order foie gras with the avocado juice drink." (saya pesan foie gras sama minumannya jus alpukat) Steve menatap Citra, "kamu pesan apa?"


"Samakan saja!"


Steve mengangguk, "*tw*o foie gras and two avocado juice." (foie gras dua dan jus alpukatnya dua) Sang Pelayan mulai mencatat menunya, lalu melenggang.


Selang beberapa menit, seorang pelayan yang berbeda dari sebelumnya menghampiri mereka. Membawakan nampan yang berisi menu makanan yang dipesan Steve.


Steve mengulum senyum, "*t*hank you! " Pelayan itu mengangguk lalu bergegas pergi.


Citra tertegun melihat Steve yang ramah pada Pelayan Restoran ini. Kalau dari penampilannya, bisa dibilang Steve adalah tipe orang yang dingin, tetapi berbeda dengan hatinya yang sangat ramah.


"Steve, boleh aku nanya?"


"Silahkan!"


"Mantan pacarmu kuliah dimana?"


Steve menggedikan bahunya, "aku tidak tahu, tidak ada pembicaraan lagi semenjak dua bulan sebelum hubungan kami berakhir. Terakhir kami bicara ketika aku mengantarkannya pulang setelah dari Bandara. Kamu pasti ingat kan waktu pertama kali kita bertemu?" Citra mengangguk tanpa memotong ucapan Steve, "ya, pulang dari itu terakhir kali kami bicara. Besoknya, dia menghubungiku. Mengajak jalan-jalan, keliling kota Auckland. Tapi aku tolak."


Citra dirundung rasa penasaran, "kamu masih cinta sama dia?"


Steve menggeleng, "beberapa bulan sebelum putus, aku sudah tidak mencintainya lagi."


"Kalau boleh aku tahu, siapa nama mantanmu itu?"


"Lexy"


"Warga negara mana?"


"Sama sepertiku, Jerman" Steve kembali menyuap menu makanan itu. Begitu pun dengan Citra.


Citra menggeletakan sendok dan garpunya di atas piring. Ia menunduk. Steve menatapnya dengan tatapan heran, "*w*hy?"


Butiran bening keluar dari pelupuk mata Citra, "Aku minta maaf, Steve! Soal semalam."


Steve tersenyum lembut, "lupakan itu! Aku sudah memaafkanmu, bahkan aku memakluminya. Sudahlah! Jangan terlalu merasa bersalah!" Steve menarik selembar tisu, lalu memberikan tisu itu pada Citra, "ambil ini! Aku tidak suka melihat kamu menangis."


Citra meraih tisu itu, dan mulai mengelap pipinya yang dibasahi oleh air mata, "Thank you, Steve!" Steve tersenyum. Perlahan tangannya mendekati tangan Citra yang bertumpuk di atas meja makan. Dan ia benar-benar menyentuh tangan Citra yang bergetar. Mungkin gugup.


Steve terkekeh, "relaks!"


***


Oh iya guys! Ada beberapa part yang memang harus aku revisi. Mungkin semua part. Jadi, mohon bersabar jika ada kejanggalan dalam cerita ini. Awalnya mau nanti aja buat revisinya, tapi tangan aku udah gatel. Tapi, aku tetep update part baru kok. Insya Allah. Tenang aja.

__ADS_1


So, pastinya Insya Allah cerita akan menjadi lebih baik.


Selamat membaca semuanya!


__ADS_2