
Andri tengah fokus pada sebuah laptop yang terpampang jelas dihadapannya. Isi laptop itu, menampilkan sebuah dokumen. Entahlah dokumen apa. Dihadapannya ada dua orang teman pria yang juga tengah fokus pada laptopnya masing-masing.
Kini, mereka bertiga sedang berada di sebuah cafe untuk mengerjakan tugas. Andri, Ibrahim, dan Rizal. Mereka bertiga sudah suntuk berada di apartemen, maka dari itu mengerjakan tugasnya di outdoor.
Ponsel Andri menyala. Tapi ia hiraukan, pastinya ada notifikasi yang tidak penting. Rizal yang melihatnya, terheran-heran ketika wallpaper foto itu adalah Andri dan seorang wanita bule berhijab yang cantik.
Seketika, tangannya berhenti berlari-lari di atas keyboard laptop. Ia menatap Andri dengan lamat.
"Kayaknya adek lo itu wajahnya Asia, yah?"
Pertanyaan Rizal itu, sontak Andri dan Ibrahim fokus pada Rizal.
Ibrahim menggeleng, "adek gue udah meninggal."
Rizal sebenarnya bertanya pada Andri, tapi, kenapa Ibrahim yang menjawab. Ingin rasanya menjitak pucuk kepala Ibrahim, tapi ia tengah diselimuti rasa duka.
Rizal menghela napas dalam-dalam, "s**orry! Tapi gue nanya ke Andri,"
Ibrahim hanya cengengesan. Sedangkan Andri mengernyit bingung.
"Lo nanya ke gue tentang adik? Yaiyalah, keluarga gue mana ada yang bule. Nyokap sama Bokap gue aja orang Indo, kagak ada tuh yang keturunan bule,"
Rizal menatap ponsel Andri, "terus tuh cewek?"
Sepasang mata Andri mengikuti arah pandang Rizal, lalu ia kembali menatap Rizal, "itu Citra. Adek kelas gue. Sekarang dia lagi kulia-"
"Lo suka dia?" potong Rizal cepat.
Andri membungkam. Kini, Ibrahim yang mulai fokus pada layar laptopnya teralihkan oleh wajah Andri. Mereka berdua sama-sama ingin tahu.
"Iya," jawabnya sangat singkat.
"Bahkan gue jatuh cinta sama dia," sambungnya.
Ibrahim dan Rizal saling pandang. Kemudian mereka tersenyum penuh arti.
***
Citra menerima surat yang diberikan oleh Steve. Senyumnya merekah, "d**anke, Steve!" (terimakasih, Steve!)
Steve mengangguk. Kemudian memangkas jarak diantara mereka, "mau ku antar pulang?"
Citra menggeleng, "tidak perlu! Aku bisa pulang sendiri. Aku pamit. Permisi!"
Citra melangkah masuk ke dalam taksi yang tiba-tiba berhenti disampingnya. Setalah sampai apartemen, buru-buru ia menaruh surat itu di atas kasur. Ia membuang tasnya di atas sofa begitu saja.
Ia langsung membuka isi surat itu. Bahkan amplopnya sedikit sobek. Hampir juga suratnya ikut sobek.
*Dear Citra,
__ADS_1
Assalamualaikum wahai bidadari berparas cantik!
Aku sengaja menuliskan surat ini untukmu. Karena aku belum berani berbicara denganmu secara langsung. Kamu boleh menghinaku payah! Aku tidak akan tersinggung.
Wahai bidadari, apakah kamu mengizinkan aku mencintaimu? Tolong izinkan! Maaf aku memaksa! Tapi memang ini yang ada di dalam lubuk hatiku. Selalu terukir namamu.
Setiap sujudku, selalu hadir bayang-bayangmu. Aku tidak tahu kamu mencintaiku atau tidak. Tapi, aku sangat berharap, kamu membalas rasa cinta ini.
Aku harap, kita sama-sama berjuang demi meraih cinta yang halal. Aku khawatir jika hanya aku saja yang berjuang. Cintai aku, Citra!
Kamu gadis cengeng, aku tahu. Tapi aku tidak menilai itu. Cinta memang tak butuh alasan. Karena aku mencintaimu apa adanya.
Aku juga memiliki kekurangan, namun, pasti akan ada kekasih yang akan melengkapi kekuranganku. Aku ingin kekasihku adalah kamu. Kekasih hingga menuju Jannah-Nya. Menuju Ridho-Nya.
Aku mencintaimu, Citra...
I Love You...
Balaslah cintaku!
Jika kamu memang juga mencintaiku, aku tunggu kabarmu. Aku akan mengkhitbahmu. Aku tahu umurmu terlalu muda untuk itu, tapi percayalah! Kita pasti bisa melewati badai yang menerjang rumah tangga kita nantinya.
Cukup sampai disini isi suratku. Aku harap, semoga kita menjadi apa yang aku harapkan. Aamiin.
Wassalamualaikum, wahai bidadari berparas cantik*!
From Andri,
Mata Citra berkaca-kaca melihat isi surat itu. Tangannya bergetar hebat. Senyumnya menghiasi wajah paras cantiknya.
Sebutir air mata, keluar dari pelupuk matanya. Gadis itu terisak ke dalam lubang bahagia. Dirinya bagaikan terbang ke awan di temani beberapa bintang dan bulan, jangan lupakan pria yang ia cintai!
"Terimakasih, kak!" ucapnya ditengah-tengah isakan. Ia memeluk surat itu sambil memejamkan matanya.
Citra melirik ponselnya di sebelah betisnya. Ia meraihnya. Gadis itu mencoba menghubungi Andri. Sungguh, tangannya terus bergetar. Lidahnya seketika kelu ketika panggilan telepon itu terangkat.
"Assalamualaikum! Ada apa, Ra?"
"Kak..." lirihnya. Suaranya ikutan bergetar karena isakan.
"Ra, kamu kenapa? Ada apa?"
"Makasih..."
"Makasih untuk?"
"Membalas ... Cinta ... Aku ..."
"Ra... Kamu?"
__ADS_1
Citra mengangguk, "iya, Kak. Aku cinta kamu,"
***
Andri tersenyum ketika telah selesai telponan. Ia menaruh ponselnya di sebelah laptopnya. Jantungnya memompa sangat cepat.
Ibrahim menatap Rizal sambil mengangkat dagunya. Rizal hanya menggedikkan bahunya.
"Lo kenapa, Dri?" tanya Ibrahim. Andri hanya menggeleng sambil tersenyum.
"Pasti Citra, yah?" tebak Rizal. Andri tak menjawab, ia pura-pura fokus pada tugasnya. Padahal, ia sedang tidak fokus karena ungkapan Citra melalui telepon tadi.
"Orang kasmaran emang begitu, yah?" ledek Ibrahim. Karena memang nyatanya, ia tak pernah mencintai wanita manapun kecuali Uminya.
Rizal menjitak Ibrahim saat itu juga, "bohong banget lo kagak tau rasanya orang lagi kasmaran."
"Emang gue kagak tau. Gue gak pernah jatuh cinta,"
"Lah? Sarah?"
"Just Friend! No more!" Ibrahim menekankan setiap katanya. Memang nyatanya begitu.
Rizal manggut-manggut, "gue percaya, sih. Tapi, kalau lo bisa jatuh cinta gimana, yah? Lo kan buaya darat! Bisa-bisa, lo nikahin semua cewek."
Terjadilah perdebatan antara Rizal dan Ibrahim. Memang, Ibrahim adalah raja gombal. Hampir semua wanita yang ia lihat, pasti pernah ia gombali.
Termasuk Sarah, teman semasa kecilnya yang ia anggap hanya teman. Bahkan ia merasa memiliki adik setelah kehilangan adik kandungnya.
Jika kalian berteman dengannya, sarannya hanya satu, jangan bawa dia ke tempat yang banyak perempuan! Memalukan!
Tapi, berita bahwa Ibrahim tak pernah jatuh cinta, itu adalah fakta. Yang memang mengejutkan semua orangmApalagi gadis-gadis yang pernah digombali oleh Ibrahim. Aneh sih. Tapi, faktanya yang terungkap memang seperti itu. Lucu juga, membayangkan buaya darat, yang menggombali hampir setiap wanita yang ia lihat, meskipun tak pernah merusak moral, bahkan tak menyentuhnya, tak pernah jatuh cinta.
Berita itu, patut diapresiasi. Apalagi jika berita itu datangnya dari mulut Ibrahim sendiri. Siapa yang menyangka? Tidak ada!
"Kalau Sarah cinta sama lo gimana? Misalkan."
"Yah, kan. Dia yang cinta sama gue. Kenapa lo nanya gue?"
"Lo bakalan nikahin dia, atau apa? Menjauh mungkin?"
Ibrahim mengetuk-ngetuk dagunya sok berfikir, "dia itu udha gue anggap sebagai adik sendiri. Kalau gua ngejauhin dia, otomatis gua ngejauhin adik gua sendiri. Jadi, bakalan gua rangkul dia sampai perasaan itu hilang. Hebat, kan, gua?"
Andri dan Rizal menautkan alisnya, apa yang mau dibilang hebat? Begitulah batinnya.
***
Oh iya guys! Ada beberapa part yang memang harus aku revisi. Mungkin semua part. Jadi, mohon bersabar jika ada kejanggalan dalam cerita ini. Awalnya mau nanti aja buat revisinya, tapi tangan aku udah gatel. Tapi, aku tetep update part baru kok. Insya Allah. Tenang aja.
So, pastinya Insya Allah cerita akan menjadi lebih baik.
__ADS_1
Selamat membaca semuanya!