
Hari ini menjadi peresmian, beberapa tahun lamanya Citra akan menjadi Mahasiswa di kota Auckland. Ia juga akan tinggal disana hingga Citra resmi menyandang gelar S1 kedokteran.
Tapi, tahap menjadi dokter tak hanya itu saja. Sangat banyak. Setelah mendapatkan gelar S. Ked., lalu menjalani program Profesi atau KOAS, mengikuti ujian sertifikasi, dan melakukan internship agar mendapat Surat Tanda Registrasi atau STR untuk dokter. Jika ingin mengambil gelar spesialis, maka harus menjalani lagi pendidikan yang lebih panjang lagi.
Sungguh berat, namun mau bagaimana lagi? Ini sudah menjadi cita-cita gadis itu. Apalagi Citra menginginkan menjadi dokter spesialis.
Back to the topic.
Haidar dan Andri turut mengantarnya sampai Bandara. Jasmine sudah lebih dulu menuju kota Auckland. Biaya kuliahnya dibiayai oleh Hamzah. Karena, uang James, Papah Jasmine memiliki uang yang kurang untuk biaya kuliahnya, apalagi di luar Negeri. Yah, meskipun James kerja di perusahaan Hamzah dan posisinya sebagai sekretaris, namun, tak sanggup jika membiayai kuliah Jasmine jika di luar Negeri. Maka dari itu, Hamzah berinisiatif membiayai kuliah Jasmine tanpa mengharapkan imbalan.
Alasan Jasmine lebih dulu berangkat, karena pada saat kelulusan itu, Papah dan Mamahnya akan segera ke Lampung, ke kota asalnya beberapa hari di sana karena Neneknya sedang sakit. Maka dari itu, khawatir Jasmine tak ada yang menjaga selama di rumah, lebih baik Jasmine dulu yang berangkat.
Mereka semua sudah sampai Bandara. Citra tengah memeluk Raina yang sebentar lagi mereka akan terpisah. Citra akan menginap di Apartemen. Ia sendiri disana.
Citra melepaskan pelukannya. Ia bersiap-siap akan terbang ke Auckland. Citra membutuhkan waktu 10 jam 55 menit untuk mencapainya.
Pesawat akan terbang pada pukul 09. 00, maka Citra akan sampai pada 20. 00 untuk mencapai Bandara Internasional Auckland.
Andri mengeluarkan amplop berisi surat dari saku jaketnya. Perlahan, ia mendekati Citra. Gadis itu gugup setengah mati ketika Andri memangkas jarak diantara mereka.
Andri menjulurkan tangannya yang berisi amplop, "untukmu. Jangan sampai hilang! Tunggu aku! "
Citra mengernyit. Lalu ia mengambilnya dengan sedikit ragu. Tatapan Citra beralih pada keluarganya yang tersenyum ke arahnya. Citra menangis sambil menghamburkan pelukannya pada Hamzah. Hamzah mengusap punggung gadis itu.
Pelukan mereka tak berlangsung lama, Citra segera menarik kopernya. Citra tengah menyiapkan tiketnya. Ia tengah mengantre. Perlahan, kakinya melangkah begitu antrean satu-persatu telah selesai mengecek tiket. Kini giliran Citra. Ia juga menyiapkan paspor. Begitu selesai, petugas memberikan Citra tiket dalam bentuk fisik (kertas). Gadis itu menuju gerbang pemberangkatan.
Berikutnya, ia tengah melalui tahap pengecekan tas. Begitu selesai, ia kembali mengambil barang bawaannya yang tak banyak.
Citra memasuki boarding room. Beberapa saat kemudian, Citra diperbolehkan untuk memasuki pesawat. Ia mencari tempat duduk sesuai tiket. Berhasil. Matanya menatap tempat duduk yang berada dipojok. Ini memudahkan Citra untuk melihat pemandangan di langit.
Citra meletakkan kopernya di bagasi kabin atas tempat duduknya tentu dengan bantuan pramugari. Ia melirik ke sebelahnya, ia mendapatkan pria yang memiliki rasa kaukasoid dan sebelahnya lagi seorang wanita yang memiliki fisik sama sepertinya. Tiga bangku itu diisi oleh wajah kaukasian semua.
__ADS_1
Citra menggigit bibir bawahnya. Posisi pria itu diapit oleh dua wanita cantik. Yang satu memakai hijab dan yang satunya lagi rambutnya digerai.
Tanpa fikir panjang, gadis itu memakaikan sabuk pengaman. Ia melafalkan doa naik kendaraan.
Pria disampingnya menoleh sambil tersenyum, "i hope we are well."(aku harap semua baik-baik saja) ucapnya tiba-tiba. Citra hanya tersenyum tipis dan mengaamiinkan doa itu.
Pesawat mulai berjalan. Citra menatap jendela. Ia mulai rindu akan keluarganya. Citra masih menggenggam surat pemberian Andri. Ia melihat tulisan 'for you, Citra!'. Gadis itu tersenyum lembut. Ia mengusap tulisan itu.
Beberapa jam, Citra masih menggenggam surat itu. Sekarang pukul 08.00 waktu Auckland. Pesawat tengah landing.
Pesawat sudah aman. Seluruh penumpang diizinkan untuk membuka sabuk dari awak kabin. Setelah instruksi dari awak kabin disampaikan, Citra berupaya untuk mengambil kopernya. Tubuhnya tak terlalu tinggi hingga ia sulit untuk menggapai kopernya. Citra mencoba berjinjit sambil mendumel. Tapi tak berhasil. Ia menyerah.
Pria yang tadi duduk disebelahnya itu membantu Citra mengeluarkan koper.
"Thank's!"
Citra kerepotan dengan surat yang dipegangnya. Ia langsung memasukkan surat itu ke dalam saku outer yang ia pakai. Tak sadar, surat itu terjatuh. Sedangkan Citra sudah turun dari pesawat. Steve, pria bule yang tadi duduk disebelahnya itu menyadari. Ia langsung memungutnya.
Ia berjalan menuju Lobi. Ini sudah malam pukul 08. 35 waktu Auckland. Gadis berhijab sendirian mencari taksi yang sudah ia pesan sebelumnya. Taksi itu berhenti dihadapannya. Citra langsung masuk ke dalam taksi itu.
Taksi melaju menuju Adina Apartement Hotel Auckland Britomart.
Citra merebahkan tubuhnya diatas kasur begitu sampai di Apartemennya. Tak lupa mengabarkan pada keluarga dan sahabatnya ketika ia telah sampai dengan selamat.
***
Di dalam mobil, hanya keheningan yang melanda. Steve berinisiatif untuk mengantarkan gadisnya pulang. Yaitu Lexy.
Begitu sampai, mereka sama-sama keluar dari mobil taksi. Tak lupa membayarnya.
"Komm herein!" (ayo masuk!) titah Lexy. Steve menggeleng.
__ADS_1
Ia memberanikan diri menatap Lexy, "So können wir nicht weitermachen." (kita gak bisa seterusnya seperti ini) ucapan Steve itu membuat Lexy bingung. Ia tak paham arah tujuan pria itu ucapkan.
"Beenden wir einfach diese beziehung." (kita akhiri saja hubungan ini)
Mata Lexy membola. Ia menggelengkan kepalanya, "Im Ernst!" (jangan bercanda!)
Steve menatapnya begitu lekat, "es ist mein ernst. ich liebe dich nicht mehr." (aku serius. Aku sudah tak mencintaimu lagi)
Detik berikutnya, Steve langsung meninggalkan perkarangan rumah Lexy. Matanya mencari sebuah taksi. Lalu masuk ke dalamnya.
Lexy termerenung melihat Steve yang perlahan menghilang. Ia sakit hati ketika hubungannya berakhir. Air matanya menetes.
Steve menatap amplop yang berisi surat. Ia tersenyum lembut. Lexy dan Steve adalah warga negara Jerman. Steve akan melanjutkan study S1 kedokteran di University of Auckland. Lexy tak kuliah, ia hanya ingin menemani Steve disini. Ia akan membantu Tantenya membuat fashion design.
Mereka sudah setahun pacaran. Lambat laun, perasaan itu menghilang dari hati Steve. Dulu ia sangat mencintai Lexy, tapi tidak setelah tiga bulan yang lalu.
Taksi itu berhenti di sebuah Adina Apartement Hotel Auckland Britomart. Ia memasuki Apartemen itu yang sebelumnya sudah ia booking salah satu tempatnya.
Steve menaruh amplop surat itu di laci nakasnya. Ia beralih untuk membersihkan dirinya.
Beberapa menit kemudian, Steve keluar dari kamar mandi. Ia menyeruput teh hangat yang baru saja ia buat.
Ia termerenung memikirkan nasib Lexy. Yang baru saja menjadi mantannya. Apakah ia akan sakit hati? Tentu saja jawabannya adalah iya. Tapi, bukankah jika hubungan mereka diperpanjang sedangkan Lexy sudah mengetahui Steve tak mencintainya lagi membuat dia lebih sakit? Steve hanya bisa berdoa untuk kebaikan wanita itu.
Bayangan Steve beralih pada wanita berhijab beberapa waktu yang lalu ia jumpai. Sangat manis. Itulah yang di benaknya. Ia tersenyum sendiri mengingat Citra yang tak dapat mengambil sebuah koper karena postur tubuhnya yang sangat pendek. Gadis itu mendumel yang bahasanya tidak dipahami oleh Steve ketika Citra harus berjinjit berusaha mengambil koper itu.
***
Oh iya guys! Ada beberapa part yang memang harus aku revisi. Mungkin semua part. Jadi, mohon bersabar jika ada kejanggalan dalam cerita ini. Awalnya mau nanti aja buat revisinya, tapi tangan aku udah gatel. Tapi, aku tetep update part baru kok. Insya Allah. Tenang aja.
So, pastinya Insya Allah cerita akan menjadi lebih baik.
__ADS_1
Selamat membaca semuanya!