
Selepas shalat isya, Citra memilih untuk makan malam bersama Jasmine. Jasmine yang datang ke Apartemennya. Temannya itu tak pandai memasak. Maka dari itu Citra mengajaknya untuk makan bersama.
"Ra," panggil Jasmine lirih. Citra hanya berdehem sebagai jawaban.
"Lo suka sama Kak Andri?"
Citra meletakkan sendok dan garpu di atas piring. Ia mengambil segelas air putih dan meneguknya menyisakan setengah.
Citra masih enggan menjawab, jari telunjuknya mengetuk-ngetuk meja itu.
"Lo boleh terbuka sama gue, gue sahabat lo,"
Citra menjilat bibir bawahnya, "ini serius pertanyaan?"
Jasmine mengernyit, "berarti pernyataan dong?"
Citra menggeleng, "No! Bukan itu maksud aku. Kamu serius nanya hal ini sama aku?"
"Kan gue nanya, Ra. Terus nanya sama siapa lagi supaya dapet jawaban dari hati lo?" Jasmine menunjuk dada Citra.
"Boleh aku jujur?"
Jasmine terkekeh, "gue bertanya untuk mendapatkan jawaban yang sebenarnya,"
Citra membuang napas dalam-dalam, "aku rasa cinta ini bertepuk sebelah tangan,"
"Kenapa begitu?"
"Kak Andri pasti lebih milih wanita yang dewasa,"
Jasmine membungkam. Ia tahu bahwa pemikiran Citra masih labil. Mungkin jawaban Citra benar. Andri lebih menyukai wanita dewasa.
"Lo yakin dengan ucapan lo?"
Citra mengangguk mantap. Tatapannya sendu. Pikirannya entah kemana. Citra menatap Jasmine begitu lekat.
"Aku gak cocok sama Kak Andri, yah?"
Jasmine menggedikkan bahunya, "kemana ucapan lo yang sok alim?"
"Maksudnya?"
"'Jodoh itu kan rahasia Allah'. Kemana semua pemikiran lo yang kayak begitu?"
Citra mengelum senyum membuat Jasmine menatapnya heran. Pipi gadis itu merona. Sesekali ia tertawa malu-malu.
***
Hari ini adalah hari senin. Dimana Citra dan Jasmine mulai memasuki dunia perkuliahan. Citra tampak begitu semangat. Berbeda dengan Jasmine yang biasa-biasa saja.
Mereka bertiga tengah berada di dalam gedung university of Auckland. Masih mencari-cari tempat yang akan mereka singgahi.
Mata mereka menyapu pemandangan kampus ini. Sangat luas. Satu wanita dengan pakaian yang sedikit terbuka dan memakai kalung salib itu menghampiri mereka berdua.
"Hi! Are you new students? "(hai! Kalian Mahasiswa baru?)
Citra mengangguk, "mo**re precisely just a student." (lebih tepatnya baru menjadi Mahasiswa)
__ADS_1
"You yourself? "(lo sendiri?) tanya Jasmine.
"Just like you guys." (sama seperti kalian)
Citra menyodorkan tangannya, "Citra. From Indonesia."
Gadis berkalung salib itu menjabat tangan Citra, "Caroline, from Australia."
Tangan Caroline beralih menjabat tangan Jasmine. Jasmine pun tersenyum, "Jasmine, from Indonesia."
Mereka bertiga berjalan menuju kantin. Caroline mengatakan bahwa, ia akan mentraktir dua gadis Indonesia itu. Citra dan Jasmine awalnya sedikit canggung, tapi Caroline begitu mudah akrab dengan siapa saja.
***
Citra tengah memesan kopi susu di sebuah cafe dekat kampusnya. Ia baru saja pulang. Hari ini hanya mulai orientasi saja.
Seusai membeli, ia berjalan di atas trotoar sambil menunggu taksi yang melintas.
Gadis itu mengernyit ketika ada pria bule yang menghampirinya sambil tersenyum. Tubuh Citra panas-dingin. Benarkah pria itu menghampirinya?
"Hi!" sapanya.
Citra tersenyum malu-malu, "hi!"
Steve terkekeh, "Still remember me?" (masih mengingatku?)
Citra mengangguk. Ia masih mengingat wajah pria yang ia temui di pesawat saat ia hendak terbang ke Auckland.
"Are you the one who helped me get my suitcase out of the cabin luggage**?" (kamu yang membantuku mengeluarkan koper dari bagasi kabin?) tebak Citra.
"Yes, remembering your short posture makes you have to stand on tiptoes. That's funny to me." (ya,mengingat postur tubuhmu yang pendek membuat kamu harus berjinjit. Itu lucu menurutku.)
"My name-"
"Citra?" tebak Steve.
Citra menautkan alisnya, "How do you know**?" (bagaimana kamu bisa tahu?)
"It's easy to know your name." (sangat mudah untuk mengetahui namamu)" jawabnya arogan.
"What is your name?"
"You started to get confused with my identity." (kamu mulai kepo dengan identitasku)
Citra memutarkan bola matanya jengah, "l**ater your love will be unrequited." (nanti disangka cintamu bertepuk sebelah tangan)
Steve menyipitkan matanya, "yo**u love me?"
Citra menggeleng cepat, "Not! That is not what I mean." (tidak! Bukan itu maksudku)
tawa Steve tergelak. Kemudian ia menghentikan tawanya melihat raut wajah Citra yang terlihat kesal, "Steve,"
"Steve?"
Steve mengangguk, "Steve Normand William,"
Citra manggut-manggut, "a**re you here for college or work?" (kamu disini kuliah atau kerja?)
__ADS_1
"University of Auckland," tanpa Steve jawab lebih jelas, Citra sudah yakin bahwa Steve sedang kuliah di tempat yang sama dengannya.
"Faculty of medicine and just entering the world of lectures." (fakultas kedokteran dan baru memasuki dunia perkuliahan)
"Same as me." (sama sepertiku)
Steve tersenyum menggoda, "l**ooks like you want to always be the same as me." (sepertinya kamu ingin selalu sama denganku)
Wajah Citra merona, "t**hrow away your high level of spiciness!" (buang jauh-jauh kepedean tingkat tinggimu itu!)
"Alright, Miss." (baiklah, Nona.)
Citra menyampirkan tasnya dipundak yang sedari tadi ia seret, "i have to go." (aku harus pergi)
"Where?"
"Return." (Pulang)
Steve menepuk jidatnya, "y**ou have to be able to distinguish where to go from where to go!" (kamu harus bisa membedakan mana pulang dan mana pergi!)
Citra mengangkat bahunya acuh, "Whatever you say!"
Citra hendak berjalan, namun Steve memanggilnya, Citra berhenti sejenak lalu kembali jalan dengan santai.
"You should check the jacket you wear when on the plane!" (kamu harus periksa jaket yang kamu pakai saat di pesawat!) peringat Steve yang sukses membuat langkah gadis itu terhenti. Citra membalikkan badannya menatap Steve.
"You mean?" (maksudmu?)
"I'm sure you will understand."
Steve melenggang pergi. Bersamaan ingatannya kembali tentang surat yang-
Ah! Bukankah Citra telah mencuci jaket itu tanpa mengeluarkan sesuatu di dalam sana? Tapi, mengapa Steve-
Citra berteriak memanggil nama Steve. Namun pria itu pura-pura tak mendengar dan tetap berjalan santai.
Citra memberhentikan taksi yang menepi di sebelahnya. Ia masuk ke dalam taksi itu sesuai arah tujuannya.
***
Citra memeriksa jaket yang baru saja kering. Namun tak ada surat itu. Seandainya surat itu keliling dan hancur oleh mesin cuci, pasti ada serpihan-serpihan kertas di saku jaket itu.
Tapi nyatanya jaket itu tak ada sampah sedikitpun.
Citra yakin, pasti jaket itu berada di tangan Steve. Ia hendak menemui pria itu, tapi tak mungkin sekarang. Mengingat ia saja tak tahu dimana tinggal Steve.
Citra menggeram frustasi. Kenapa Steve tidak to the point saja? Kenapa harus basa-basi dulu? Citra benci basa-basi!
Sekarang, ia hanya bisa tunggu sampai esok. Kalau saja Steve tak memberikan surat itu, kebangetan! Itu adalah milik Citra! Hak Citra!
Citra mengusap wajahnya dengan kasar, "Kak Andri, maafkan aku!"
***
Oh iya guys! Ada beberapa part yang memang harus aku revisi. Mungkin semua part. Jadi, mohon bersabar jika ada kejanggalan dalam cerita ini. Awalnya mau nanti aja buat revisinya, tapi tangan aku udah gatel. Tapi, aku tetep update part baru kok. Insya Allah. Tenang aja.
So, pastinya Insya Allah cerita akan menjadi lebih baik.
__ADS_1
Selamat membaca semuanya!