Seindah Takdir

Seindah Takdir
7. Mas?


__ADS_3

Citra menyampirkan tas ranselnya di pundak sambil berjalan masuk ke dalam bangunan sekolah. Awalnya Hamzah menawarkan Citra untuk sekolah di SMA swasta yang pasti fasilitasnya sangat elit.


Tapi Citra menolak, banyak sekali beberapa murid yang menginginkan sekolah di SMA Negeri. Mumpung nilainya juga besar, maka peluang untuk masuk ke SMA itupun besar.


Sebenarnya, mau saja jika Citra sekolah di SMA swasta, tapi ia berfikir. Biasanya jika sekolah di tempat itu, pasti banyak murid yang tidak memiliki etika. Mereka merasa bahwa mereka bayar di sekolah itu, maka dari itu mereka melakukan semuanya.


Ini bukan masalah negative thinking. Tapi, memang dari pengalaman teman-teman nya juga. Ia dulu punya teman yang umurnya jauh lebih tua darinya, temannya itu mengatakan bahwa, di sekolahnya dulu tak ada satupun murid yang sopan, ada sih, tapi jumlahnya dapat dihitung dengan jari.


Mereka tidak attitude yang baik. Bahkan mereka melakukan hal yang kotor. Pihak sekolah hanya memberi ancaman saja, tapi tidak ada buktinya. Itu semua hanya omong kosong. Bahkan, sekolah seperti itu seperti tempat pembullyan.


Kesimpulannya, untuk apa kita memilih sekolah yang mahal jika ilmu dan adab beda jauh. Jika kalian lebih bangga karena ilmunya tinggi daripada adab, maka setanpun ilmunya jauh lebih tinggi daripada manusia.


Dan, untuk apa pula kita sekolah di fasilitas yang enak jika itu hanya mengundang pembullyan.


Oke, back to the topic.


Citra sudah duduk di bangku yang sudah biasa ia booking.


Mata Citra tersorot pada sosok Jasmine yang berjalan ke arahnya. Gadis itu mengulas senyum.


"Jas-"


"Ra, PR bahasa Sunda udah, belom?" potongnya cepat.


Citra mengangguk sambil mengerucutkan bibirnya, "udah, tapi aku kesel tau, Jas. Aku tuh gak ngerti bahasa Sunda. Udah mah di keluarga aku gak ada yang bisa bahasa Sunda. Mau tanya Bi Sari, tapi dia asli Aceh. Mending kalau Jerman, aku bisa tanya Ayah langsung." dumelnya.


Jasmine hanya mengangguk sambil mengadahkan tangannya, "ya, ya, ya. Sekarang mana buku lo? Gue mau liat."


Perlahan, tangannya membuka ritlesting tasnya. Ia mengeluarkan buku tulis mata pelajaran bahasa Jepang dan menyerahkannya pada Jasmine.


Tanpa ba-bi-bu, Jasmine langsung menyalin jawabannya. Sedangkan Citra masih saja mendumel. Sebenarnya Jasmine ingin menyumpal mulut Citra dengan pisau, tapi ia harus tahu diri, sekarang ia tengah menyontek PR milik Citra. Sekarang ia hanya bisa menulikan telinganya saja daripada mendengar ocehan Citra.


"Udah mah ngerjainnya malem-malem, banyak banget lagi PR bahasa Sunda. Gak tau dah itu bener atau enggak, aku sampe nanya ke Abang, terus lebih keselnya lagi, Abangku slow respon. Kadang cuma di read doang."


"Terus dia nanya ke temennya yang bisa bahasa itu. Repot banget, kan?"

__ADS_1


Tak lama, suara bariton mengucapkan salam terdengar. Bukan! Bukan guru! Melainkan siswa sekolah ini juga.


Semua yang hadir di kelas itu menjawab salam. Semua mata tersorot pada sosok pria yang berdiri di ambang pintu.


Citra berusaha menahan napasnya ketika melihat sosok siswa yang disebutnya mirip Andi Arsyil.


Gadis itu langsung merapihkan kerudung cokelat yang ia kenakan. Ya, hari ini adalah hari Kamis. Tentu dimana di hari itu semua murid menggunakan seragam pramuka.


Tubuh Citra bergetar di saat Andri menghampirinya. Menghampirinya? Ralat, menghampiri siswa pria, yaitu Alex yang duduk di depannya. Mereka terlihat asyik berbincang. Membicarakan apa juga Citra tidak tahu.


Sungguh memalukan! Citra terlalu percaya diri!


Mata Andri beralih pada Citra dan menghampiri meja gadis itu. Tentu Jasmine menggodanya dengan cara pura-pura batuk.


Andri menautkan alisnya, "kamu udah sarapan?"


Citra dan Jasmine saling pandang dengan tatapan heran. Namun, akhirnya Citra mengerti, "udah kok."


Andri mengangguk, ia padahal niatnya ingin mengajak sarapan bareng Citra. Namun, niatnya ia urungkan begitu Citra telah sarapan. Bahkan awalnya ia rela jika kekenyangan nantinya, karena ia sendiri sudah sarapan.


***


Kaki Citra melangkah ke arah meja Steve. Tatapannya datar. Pria itu juga tersenyum manis melihat Citra menghampirinya.


"Guten morgen!" (selamat pagi!)


Steve terkekeh, "guten Morgen! Sie haben noch nicht gefrühstückt? Du siehst heute uninspiriert aus." (selamat pagi! Kamu belum sarapan, yah? Kamu tampak tidak bersemangat hari ini)


Wajah Citra memelas, "oh, c'mon, Steve! Aku hanya menyapamu hari ini dengan bahasa negaramu. Hanya itu saja yang aku tahu dan 'danke'. Jangan membuatku bertambah kesal."


Steve menggedikkan bahunya, "Mana kutahu bahwa kamu tidak bisa berbahasa Jerman. You are the one who lured me, Miss." (kamu yang memancingku, Nona)


Citra membuang napas dalam-dalam. Cukup sudah! Ia menyerah, matanya sangat tajam ke arah Steve, "kapan aku bisa mengambil suratku?"


Steve menatapnya begitu lekat. Ia bangkit dari duduknya, mendekati gadis itu yang kini tengah berkacak pinggang, "kita ketemuan saja di Stewart Island. Malam ini. Jika kamu tidak datang, jangan harap dengan mudahnya kamu dapat mengambil surat itu."

__ADS_1


"Yah tapi, kenapa harus ketemuan segala? Kamu bisa mengasihku di kampus ini, jam ini, menit ini, dan detik ini."


Steve menggeleng, "terserah apa katamu! Pilihannya berada di dirimu sendiri."


"Bagaimana dengan pacarmu?" ya, Citra jadi teringat wanita yang duduk bersebelahan dengan Steve saat di pesawat. Dan, ia menyimpulkan bahwa wanita itu adalah pacarnya.


"Sudah putus."


Ingin rasanya Citra merengek saat ini juga. Mata gadis itu sudah berkaca-kaca. Bahkan ia meluruh ke lantai. Lalu bangkit lagi berdiri.


Saat ada Jasmine yang menghampirinya, barulah Citra menangis sambil memeluk Jasmine.


Steve mengernyit, dia kenapa?


Mata Jasmine menangkap sosok Steve yang posisinya sangat dekat dengan Citra. Ia langsung melepas pelukan Citra, ia menarik kerah baju pria bule itu, "*w*hat are you my friend?" (anda apakan teman saya?)


Steve tetap santai. Kemudian ia tertawa melihat berapa lucunya Citra. Gadis itu sangat cengeng.


"Apa aku berbuat kekerasan, sayang?" tanya Steve pada Citra.


Citra menggeleng lemah, "tidak."


Steve tersenyum sinis ke arah Jasmine, lalu menepis tangannya dengan kasar. Pria itu langsung merapihkan kerah bajunya yang sedikit lecek akibat diremuk oleh tangan kurus Jasmine.


Tangan Steve terulur hendak mengusap sisa air mata Citra yang masih mengalir di pipinya, namun secepat itu ibu jari miliknya mengusap air mata itu.


Steve kembali menarik tangannya, padahal hampir sedikit lagi tangannya menyentuh kulit putih nan mulus itu. Tapi gagal. You know 'gagal'? TIDAK BERHASIL!


Jasmine tertawa terpingkal-pingkal betapa menyedihkannya Steve yang tak berhasil mengusap air mata itu. Seperti ia menyatakan cinta padanya, lalu ditolak.


***


Oh iya guys! Ada beberapa part yang memang harus aku revisi. Mungkin semua part. Jadi, mohon bersabar jika ada kejanggalan dalam cerita ini. Awalnya mau nanti aja buat revisinya, tapi tangan aku udah gatel. Tapi, aku tetep update part baru kok. Insya Allah. Tenang aja.


So, pastinya Insya Allah cerita akan menjadi lebih baik.

__ADS_1


Selamat membaca semuanya!


__ADS_2