
Sepoi-sepoi angin mengusap lembut khimar Citra. Gadis itu tengah duduk di balkon apartemennya sambil menyeruput teh hangat buatannya. Juga memakan sepotong pizza yang baru saja ia delivery.
Drrrrtt... Drrrrtt... Drrrrtt...
Ponselnya bergetar. Citra langsung mantannya. Terpampang jelas nama 'Kak Andri' dilayar ponsel itu yang menelponnya. Citra mengusap kedua telapak tangan sambil meniupnya. Mencoba menghilangkan rasa gugup.
Tangannya bergetar mengambil ponsel itu, ia pun mengangkat panggilannya.
"Assalamualaikum, Kak!"
"Waalaikumsalam! Kamu lagi apa?"
Citra memegang dadanya yang sudah berdetak sangat cepat, "Emm... Lagi duduk di balkon, Kakak udah balik ke Amerika?"
"Udah, dua hari setelah kamu pergi,"
"Kakak telpon aku ada keperluan apa? Tumben nelpon?"
"Kamu udah baca surat dari, aku?"
Mulut Citra seketika terkatup. Lidahnya langsung kelu, "Emm... Belum, Kak. Citra terlalu sibuk sama tugas. Tapi, akan Citra baca secepatnya, Insya Allah," bohongnya. Tak mungkin jika ia mengatakan bahwa surat itu tak ada ditangannya.
"Gak papa, Ra. Kakak juga gak kepengen kamu buru-buru baca surat itu. Santai aja!"
Citra tersenyum getir, "Kakak udah makan?" Citra berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.
Terdengar dari seberang sana ada suara kekehan, pastinya berasal dari Andri sendiri, "kemana Citra yang gak suka basa-basi?"
Citra menepuk jidatnya berkali-kali, "Cit-ra gak... basa-basi... kok," jawabnya gugup.
"Maksudnya kamu lagi perhatian gitu sama aku?"
Wajah Citra seketika pucat pasi, "enggak!"
***
Flashback
3 tahun yang lalu
Gadis berhijab putih yang menutupi dadanya, di padupadankan dengan baju seragam putih dan rok rempel abu-abu tengah berjalan ke kelas 12 MIPA 1 karena disuruh guru matematika yang mengajar dikelas itu untuk membawakan satu buku paket, map absen, dan sebagainya. Itu sudah menjadi hal biasa.
Citra mengetuk pintu sambil mengucapkan salam dengan malu-malu.
"Masuk, Ra!" titah guru itu.
Dengan langkah lambat, Citra pun masuk ke dalam kelas itu. Sungguh, ia malu sekarang. Bulu kuduknya berdiri. Telapak tangannya keringat dingin. Bagaimana tidak? Ia tengah masuk ke dalam kelas senior.
Semua mata tertuju pada gadis itu. Apalagi para kaum Adam. Ada yang melafalkan 'Masya Allah', ada yang menggodanya, tapi tak Citra gubris.
"Sejak kapan di sekolah kita ada bule?" bisik pria yang duduk paling pojok. Teman sebangkunya hanya menggedikkan bahunya.
"Bule? Muslim? Gak aneh sih. Cuma aneh aja."
"Widih! Masya Allah! Pemandangan indah macam apa ini?"
__ADS_1
"Putri, maafin aku telah memuji wanita lain."
Begitulah sahutan para siswa yang mata keranjang. Tak bisa melihat wanita cantik sedikit saja.
Citra menaruh beberapa buku itu di atas meja guru dengan telaten. Tak sengaja, matanya bertabrakan dengan pria yang memiliki kulit sawo matang, mata sipit, berlesung pipit, sungguh! Mirip Andi Arsyil.Ya, Citra menyukai artis bernama Andi Arsyil itu.
Citra langsung memutuskan kontak mata dengannya. Jantungnya bergedub dengan kencang. Suara Pak Tio, guru matematika itu menyadarkan Citra.
"Terimakasih, Ra!"
Citra tersenyum kikuk, "sama-sama, Pak. Saya ke kelas yah, Pak? Assalamualaikum!" Citra mengulurkan tangannya, berniat mencium punggung tangan guru itu.
"Waalaikumsalam!" balas Pak Tio yang akhirnya menyodorkan tangan ke arah gadis itu.
Citra mengangguk kecil kepada pria yang tadi sempat kontak mata dengannya dengan spontan sebelum akhirnya melenggang dari kelas itu.
Haidar, pria yang duduk disamping pria yang mirip Andi Arsyil itu menyenggol bahunya, "seorang Andri yang biasa menjaga pandangan, tergoyahkan juga imannya oleh wanita berhijab cantik dan bule." goda Haidar.
Andri berusaha menahan tangannya agar tak menoyor kepala Haidar di depan guru. Ya, posisi mereka duduk di depan.
Namun tak bisa dipungkiri lagi, bahwa Andri merasakan sesuatu dihatinya saat bertatapan dengan wanita itu. Mungkin bisa dibilang jatuh cinta pada pandangan pertama. Ya, Andri langsung bisa menyimpulkan itu.
***
Citra memainkan pulpennya. Tatapannya mengarah pada papan tulis putih. Kedua sudut bibirnya terangkat, membentuk sebuah senyuman.
Jasmine, teman sebangku Citra itu menyenggol bahu Citra, "gue gak mau punya temen gila!"
Seketika Citra tersadar dari lamunannya, ia mengerjapkan matanya berkali-kali, "kenapa, Jas?"
"Ish!" Jasmine berdecih kesal. Sedangkan Citra hanya menggedikkan bahunya.
Jasmine mengikuti langkah kaki Citra. Gadis itu mengayunkan kakinya menuju tempat penjual batagor.
"Bang, beli batagor lima ribu!" ucapnya bersamaan dengan pria yang ia temui di kelas 12 MIPA 1 tadi, mereka berdua sama-sama saling pandang. Lagi-lagi kontak mata.
Citra tersenyum kikuk, Andri menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Jatuh cinta pada pandangan pertama nih yee." siul Haidar.
"Gara-gara lo, gue di hukum. Ini hukuman pertama gue nanti pulang sekolah!" tutur Jasmine dengan suara lantang. Ya, karena Haidar, Jasmine mendapatkan hukuman. Awalnya, saat Jasmine hendak masuk ke dalam gerbang, ditahan oleh Haidar yang bertanya hal yang unfaedah. Karena itu, mereka berdua kena hukuman karena pagar sudah ditutup.
Haidar sempat kaget dengan suara Jasmine, "suara lo bisa buat orang budeg tau, gak?!" jawab Haidar yang tak kalah lantang.
Jasmine berdecak pinggang, "gue bersyukur banget kalo lo budeg,"
Haidar ingin mengumpati Jasmine, tapi mulutnya lebih dulu disekap oleh Andri. Haidar melepas paksa tangan Andri yang membekap mulutnya.
"Lo tuh berbanding terbalik banget sama sikap temen lo yang baik hati, ramah, sopan, muslimah, uwu banget dah." mata Haidar mengarah pada Jasmine dan Citra bergantian.
"Dar udah deh! Lo udah tua masih aja ngeladenin yang dibawah lo." kesal Andri.
Mata Andri kembali beralih pada Citra, "kamu yang tadi nganterin buku Pak Tio, kan? Kenalin, nama saya Andri." Andri mengulurkan tangannya.
Citra mengangguk sambil menerima uluran tangannya, "nama saya Citra, dari kelas 10 MIPA 1."
__ADS_1
Jasmine menjulurkan tangannya, "nama saya Jasmine, kak. Temennya Citra."
Andri menganggukkan kepalanya, "salam kenal."
"Dasar jomblo! Masih aja mau kenalan ama pacar sahabat lo sendiri."
Baik Andri maupun Citra bingung dengan ucapan Haidar yang asal ceplos itu. Pacaran darimana? Mereka saja baru kenal. Memang, Haidar itu tukang fitnah!
Kelopak mata Jasmine melebar, "Siapa juga yang demen sama Kak Andri? Gue udah punya pacar."
"Neng, aa! Nih batagornya," penjual batagor itupun memberikan mereka saling semangkuk yang sudah ada batagor di sana.
"Nih, Pak, sama sekalian bayar yang punya Citra," Andri menyerahkan uang bernilai sepuluh ribu rupiah. Sontak Citra membulatkan matanya.
"Gak usah, Kak! Aku punya uang sendiri."
Andri tak menggubris, ia tersenyum pada Citra membuat lesung pipit di pipinya, "gak masalah! Semoga kita bisa bersahabat dengan baik,"
Wajah Citra sudah merona, "makasih, kak!"
Andri kembali tersenyum, setelah itu membawa Haidar pergi dari kantin. Kalau tidak, bisa-bisa tambah berisik karena berdebat unfaedah bersama Jasmine.
"Gue belom jajan, gila!" protesnya.
"Lagian segala pake acara berdebat."
"Tungguin! Gue mau jajan cimol dulu," Andri menunggu Haidar di meja kantin.
"Kamu gak jajan, Jas?" tanya Citra.
"Ini udah jajan," Jasmine menunjukkan padanya martabak telor. Kapan Jasmine jajan? Setahu Citra dia di sampingnya sedari tadi sambil menunggunya beli batagor. Mungkin ketika Citra sedang berbicara dengan Andri kali, yah?
Jasmine melirik Andri yang sibuk mengunyah batagor di meja yang samping dan depannya masih kosong. Gadis itu melirik Citra dan Andri secara bergantian. Tanpa aba-aba, Jasmine menarik lengan Citra menuju meja yang ditempati oleh Andri.
"Jas, ngapain ke sini?"
Jasmine tak menggubris. Ia berdehem, "Kak, boleh kita duduk di sini, gak? Soalnya gak kebagian tempat,"
Citra menggelengkan kepalanya, "enggak, Jas! Kita di kelas aja!"
Andri terkekeh, "gak masalah, Ra! Boleh kok, tempat duduknya juga masih kosong kok."
Citra menatap Jasmine begitu kesal, "aku tetep di kelas," tanpa menunggu jawaban, Citra segera melenggang dari kantin itu.
Jasmine menggeram, "Maaf yah, Kak! Temen saya itu keras kepala. Belum pernah merasakan apa itu cinta, jadi wajar aja!"
Andri mengernyit, "Maksudnya?"
"Iya, dia itu canggung banget sama cowok. Hatinya harus dikuasai oleh cinta dulu, baru dia akan mencintai pria lain setelah pria pertama. Dan saat ini, masih belum ada pria yang mengganjal di hatinya,"
Andri tersenyum hangat melihat punggung Citra yang kian lama, kian menjauh.
***
Oh iya guys! Ada beberapa part yang memang harus aku revisi. Mungkin semua part. Jadi, mohon bersabar jika ada kejanggalan dalam cerita ini. Awalnya mau nanti aja buat revisinya, tapi tangan aku udah gatel. Tapi, aku tetep update part baru kok. Insya Allah. Tenang aja.
__ADS_1
So, pastinya Insya Allah cerita akan menjadi lebih baik.
Selamat membaca semuanya!