
Hari ini, Citra kembali berdedukasi di kampusnya. Ia berjalan melewati koridor kampus. Ia dapat melihat wajah-wajah yang identitasnya yang ia tak kenal disana.
Citra melirik jam yang berada di pergelangan tangannya. Satu jam lagi kelas akan dimulai. Sambil menunggu kehadiran Jasmine, Citra lebih memilih mengisi perutnya dahulu.
Citra tak berangkat bareng dengan Jasmine, karena Jasmine masih terlihat habis bangun tidur, kalau Citra menunggunya hingga rapih, itu membuatnya lama menunggu. Citra pun belum sempat sarapan.
Citra mengayunkan kakinya menuju kantin. Tiba-tiba, matanya tersorot pada sosok pria yang kemarin ia kenal. Pria itu adalah Steve. Steve Normand William.
Ia berjalan mendekati pria itu. Tatapannya sangat tak enak dipandang.
"Steve!" panggil Citra membuat pria itu terlonjat kaget.
"Citra? Oh, my God! You surprised me." (Citra? Ya Tuhan! Kamu mengagetkanku)
Citra tak menggubris, gadis berhijab itu malah menatapnya penuh tajam, "*w*here is my letter?" (dimana suratku?) tanya Citra to the point.
"Can you make small talk first?" (bisakah kamu basa-basi terlebih dahulu?)
Citra menggelengkan kepalanya, "*i d*on't like small talk." (aku tidak suka basa-basi)
Steve menggedikkan bahunya, "*t*hen you won't get an answer from me, miss." (kalau begitu, kamu tidak akan mendapatkan jawaban dariku, Nona.)"
Citra merotasikan bola matanya. Ia begitu jengah berbicara dengan Steve, "how are you, Steve?"
"If I'm sick, it won't be here." (kalau aku sakit, tidak akan berada disini.)
Lihatlah sekarang! Citra sudah basa-basi tapi Steve menjawabnya membuat Citra jengkel. Steve menepuk bangku yang berada disebelahnya, mengisyaratkan Citra untuk duduk disana. Lantas Citra duduk, tapi tidak disebelahnya, melainkan dihadapannya.
Pria itu terkekeh melihat raut wajah Citra. Namun ia tak peduli.
"I'm a German citizen." (aku warga negara Jerman)
Citra hanya mendengarkannya. Tak berniat bertanya atau berbicara.
"Are you from Auckland?" (kamu dari Auckland?)
"Not! I'm from Jambi, but I used to go to school and live in Jakarta." (bukan! Asalku dari Jambi, tapi dulu aku sekolah dan tinggal di Jakarta)
Steve mengernyit, "*a*re you from Indonesia? But your race-" (kamu dati Indonesia? Tapi rasmu-)" Steve memang sengaja menjeda kalimatnya. Ralat! Menghentikan kalimatnya.
"Yes, my grandfather is German. My father moved country when he married a woman from Jambi. So from that I lived there as a child. Then after finishing high school, we went to Jakarta." (ya, kakekku orang Jerman. Ayahku pindah negara ketika menikahi wanita asal Jambi. Maka dari itu aku tinggal disana semasa kecil. Barulah selesai lulus sekolah mengengah pertama, kami ke Jakarta)
Steve mengangguk paham. Tangannya mengaduk-ngaduk minuman dengan sedotan, "Ardi, right?"
Citra mengernyit, "Ardi? Who's that?"
"The letter,"
Mata Citra membola, "Andri!"
"Ya itu,"
__ADS_1
Citra menyipitkan matanya, "kamu bisa berbahasa Indonesia?"
"Sedikit," jawabnya datar.
Citra mengangguk, "ya, pemberi surat itu adalah Kak Andri,"
Steve merentangkan telapak tangannya di depan wajahnya, "Tunggu-tunggu-tunggu! Nama dia itu sebenarnya 'Kak' atau 'Andri'?" tanya Steve yang masih berlogat Inggris-Jerman.
"Nama dia 'Andri'. Panggilan 'Kak' itu kata dari 'kakak', bahasa Indonesia."
Steve menurunkan tangannya, "kenapa tidak memanggil namanya langsung saja?"
"Dia itu lebih tua dariku. Maka dari itu aku harus menghormatinya. Tidak sopan jika aku memanggil namanya langsung."
"Teori yang aneh."
Sesaat, mereka sama-sama terdiam. Keadaan semakin hening. Citra menundukkan wajahnya, sedangkan Steve, pria itu memandang wajah teduh milik gadis berhijab itu.
Cantik. Itulah yang ia fikirkan saat ini.
"Betul surat itu berada di kamu?" Steve mencerna ucapan Citra dengan baik, namun akhirnya ia mengangguk membenarkan pertanyaan Citra.
"Kapan aku akan mendapatkannya?"
Steve memikir sejenak, ia tersenyum simpul, "akan aku beritahu nanti."
"Lama," rengek gadis itu.
Citra mengelum senyum, pipinya sudah merona, "Surat itu dari orang yang kucintai,"
"Dia mencintaimu?"
Citra mengangkat bahunya, "Entah!"
***
Citra tengah fokus pada dosen yang sedang memberi materi. Begitupun dengan Jasmine yang berada disebelahnya.
"So far, there are still questions?" (sejauh ini, masih ada pertanyaan?) tanya dosen itu.
"No, Sir!" jawabnya kompak.
Setelah menutup pelajarannya, dosen itu melenggang dari ruangan itu. Citra merapihkan buku-bukunya ke dalam tas ketika ia telah mencatat semua materi.
Caroline menarik tangan Citra, "let's go to canteen!" ajaknya. Matanya juga mengarah pada Jasmine. Citra hanya mengangguk pasrah.
Mereka bertiga berjalan menuju kantin. Mereka menuju meja yang kosong. Jasmine dan Caroline duduk berdampingan. Sedangkan Citra, sebelahnya kosong. Meja itu hanya diisi empat bangku. Citra duduk berhadapan dengan Caroline.
Jasmine memesan makanan hangi dengan daging ayam, bukan daging b*bi, Caroline memesan makanan seafood, sedangkan Citra hanya memesan es krim hokey pokey. Ia sudah kenyang terlebih dahulu melihat mereka menyantap makanan berat.
Mereka selalu berbincang-bincang mengenai kuliner khas negaranya masing-masing. Jasmine berasal dari Bandung, maka dari itu ia memperkenalkan makanan khas Bandung, begitupun dengan Citra yang memperkenalkan makanan khas Jambi dan Jerman. Caroline juga ikut memamerkan makanan khas Sidney, tempat tinggalnya. Ia juga memberitahu jika Ayahnya adalah seorang chef yang sekarang sudah membuka Restoran ke belahan dunia. Hampir mendunia.
__ADS_1
Di tengah perbincangan hangat mereka, Steve duduk bersebelahan dengan Citra. Sontak mereka bertiga terkejut.
Steve menatap Citra, "i want to talk with you alone." (aku ingin berbicara berdua denganmu) mata Steve mengarah pada meja yang masih kosong. Tak jauh dari posisi duduknya semula.
Citra mengangguk, ia izin kepada Caroline dan Jasmine, mereka mengangguk membiarkan Citra berbicara dengan Steve.
Caroline dan Jasmine masih bertanya-tanya tentang hubungan Citra dan Steve.
"Are they dating?" (apakah mereka berpacaran?) tanya Caroline yang matanya masih fokus menatap Citra dan Steve. Jasmine menatap teman barunya itu.
"You ask the wrong person." (lo bertanya pada orang yang salah?)
Tatapan Caroline beralih pada Jasmine, "*a*ren't you her best friend?" (bukankah lo sahabatnya?)
Jasmine mengangguk, "Indeed. But I don't know about that." (memang. Tapi gue gak tahu soal itu)
Citra dan Steve sudah duduk berhadapan. Gadis itu masih menikmati es krim. Steve menatapnya lurus.
"Bagaimana jika malam besok kita ketemuan saja?"
Citra berhenti menyuap es krim nya, "kenapa harus ketemuan? Kamu bisa memberinya disini."
Steve menggeleng, "itu keputusanku, letaknya masih aku fikirkan,"
"Tidak bisa!"
"Kenapa?"
Citra bingung harus beralasan seperti apa. Apakah ia harus menjelaskan pemahaman agamanya? Tidak mungkin! Bagaimana jika ada kata-katanya yang tersinggung.
Citra memijit pelipisnya. Ia menatap Steve yang kini juga menatapnya.
"Beri aku keringanan, Steve!"
"Apakah itu berat?"
"Sangat."
Steve tak lagi menyahut. Ia akan tetap pada keputusannya. Hal itu membuat Citra dilema. Bagaimana jika-
-Ah! Seharusnya Citra tak perlu membayangkan hal-hal aneh. Tapi, itu adalah antisipasi. Ia tak boleh sembarang memberi keputusan. Ia harus bisa negosiasi. Lagipun, surat itu adalah haknya.
Citra menggeram frustasi. Steve sangat menyebalkan!
***
Oh iya guys! Ada beberapa part yang memang harus aku revisi. Mungkin semua part. Jadi, mohon bersabar jika ada kejanggalan dalam cerita ini. Awalnya mau nanti aja buat revisinya, tapi tangan aku udah gatel. Tapi, aku tetep update part baru kok. Insya Allah. Tenang aja.
So, pastinya Insya Allah cerita akan menjadi lebih baik.
Selamat membaca semuanya!
__ADS_1